
*•••••••⊰❁❁🦋 Mutiara hikmah 🦋❁❁⊱••••••••*
Bagi sebagian manusia, jalan untuk taat tak selalu mudah. Adakalanya penuh dengan kesedihan dan kesusahan. Kenapa demikian? Karna pahala bagi mereka yang teguh dalam ketaatan begitu mulia. Yaitu berupa rahmat serta ampunan Allah, hingga bisa beroleh surga.
Alangkah beruntung bagi mereka yang bisa melakukan ketaatan tanpa banyak halangan, dan begitu ruginya jika setiap kelapangan yang dimiliki tidak diisi dengan ketaatan dan kebaikan. Ketika rasa enggan melanda, ingatlah bahwa diluar sana banyak sekali orang yang harus sembunyi-sembunyi untuk beribadah, bahkan ada yg bertaruh nyawa untuk menegakkan ibadah. Jika dibandingkan dengan itu semua, semestinya kita banyak bersyukur dan bersabar dengan kesusahan yang kita hadapi.
Sebuah pengingat diri, bahwa Allah Maha Mengetahui segala yang kita niatkan dan kita kerjakan. Tidak ada satu perkara pun yang lepas dari perhatian Allah. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk beramal shalih dan membimbing kita ke jalan yang diridhaiNya . Allahumma aamiin…
•••••••••••••••••••••⊰❁❁🦋❁❁⊱••••••••••••••••••••
"Saya Liechen pengecaranya Tuan Richard. Dan kedatangan saya ke sini, karena ingin menyerahkan surat perceraian untuk Nyonya Hidayah." Ujar salah satu pria yang mengakui dirinya adalah Liechen pengacaranya Richard. Dan tak berapa lama kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop berwarna cokelat.
Sedangkan Arsyad maupun Ibrahim tampak begitu terkejut ketika mereka mendengar tujuan Liechen yang sebenarnya. Ditambah lagi ketika Liechen menyodorkan sebuah amplop berwarna cokelat kepada Arsyad. Membuatnya langsung menatap wajah Ibrahim, seperti ingin meminta pendapat darinya. Ibrahim yang sepertinya paham ia pun langsung mengangguk kepalanya, sebagai isyarat agar Arsyad segera mengambil amplop besar berwarna coklat tersebut.
Arsyad pun langsung menyambutnya, seraya berkata. "Apa ini?" Tanyanya. Sambil menatap wajah Liechen dengan datar.
"Silahkan Anda lihat sendiri," balas Liechen dengan datar juga.
Setelah amplop di tangannya, tanpa ingin berbasa-basi lagi, Arsyad pun langsung membuka amplop tersebut. Dan seketika raut wajahnya langsung berubah tatkala ia membaca selembar kertas yang terdapat di amplop tersebut.
"Cih! Dasar brengsek kau Richard! Setelah mendapatkan semuanya dari Adikku. Dia mau membuang Adikku?!" Ujar Arsyad terlihat begitu marah.
__ADS_1
Melihat mantan murid yang mulai dirundung emosi. Ibrahim pun langsung menepuk pundaknya Arsyad. "Tenanglah Nak. Sebaiknya kita dengarkan dulu apa alasannya," katanya dengan penuturan lembutnya.
"Hah! Baiklah, sekarang katakan, apa alasan Bos kamu menceraikan Adikku, hah?! Apakah ini bentuk balas dendamnya karena aku sudah melaporkannya pada pihak yang berwajib?" Tanya Arsyad, masih terlihat amat kesal saat menatap wajah Liechen.
"Anda salah Tuan. Klien Saya memutuskan bercerai pada Adik Anda, bukan karena ingin membalas dendam pada Anda. Tetapi beliau melakukan hal itu, karena beliau ingin menjalani hukumannya dengan tenang tanpa harus memikirkan Nyonya yang pasti akan hidup sendiri. Sebab beliau juga sudah memprediksi kalau hukuman yang akan dia jalani pasti akan lama. Oleh karena itu beliau memberikan keputusan tersebut, agar Nyonya dapat menemukan orang yang tepat sebagai pendamping hidupnya. Dan beliau berharap semoga Nyonya bahagia. Nah begitulah yang beliau katakan pada Saya Tuan," jelas Liechen panjang lebar. Dan apa yang ia sampaikan itu, sesuai dengan yang dikatakan oleh Richard.
Mendengar penjelasan dari Liechen, Ibrahim pun tersenyum tipis. Dengan wajah tampak begitu senang. "Maa shaa Allah... Ternyata Anak itu benar-benar telah berhasil, mencairkan sebuah hati yang kerasnya seperti batu. Yaa, tapi itu semua juga atas izin Allah. Karena hanya Dialah, yang mampu membolak-balik hati manusia. Dan Hidayah hanyalah perantara-Nya saja," ucapnya, membuat Arsyad langsung menatap wajah gurunya itu.
"Lalu bagaimana dengan ini Kyai?" Tanya Arsyad, sambil menunjukkan lembaran surat cerai pada Ibrahim.
"Sabar Nak, serahkan semuanya pada Allah. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Dan kita jugakan belum meminta pendapat adik kamukan? Sebab surat itu akan menjadi sah, apabila Adik kamu menanda tanganinya kan? Jadi sebaiknya kita tunggu keputusan adik kamu, ya Nak?" Balas Ibrahim. Setelah itu ia pun langsung mengalihkan pandangannya pada Liechen.
"Begini Anak muda, berhubung yang bersangkutan saat ini sedang dalam pemeriksaan dokter. Jadi kami tidak bisa memutuskannya sekarang. Dan karena kondisi beliau juga belum bisa diketahui. Jadi sebaiknya Anda kembali lagi saja nanti. Atau anda bisa juga meninggalkan kontak Anda agar kami bisa menghubungi Anda bila keadaan beliau sudah membaik, gimana apa Anda setuju Anak muda?" Lanjut Ibrahim, yang kali ini ia tujukan pada Liechen.
"Apa lagi ini?" Tanyanya dengan wajah terlihat penasaran.
"Sebaiknya Anda lihat sendiri, Tuan," balas Liechen dengan wajah datarnya. Dan kembali lagi Arsyad langsung membuka Map tersebut, tanpa berbasa-basi lagi.
"Surat hak kepemilikan pondok pesantren? Apa maksudnya ini? Apakah ini kompensasi dari perceraian ini?" Tanya Arsyad, yang pandangan langsung beralih pada Liechen.
"Tidak Tuan, pondok pesantren itu memang sudah direncanakan sebagai hadiah untuk Nyonya Hidayah, sebelum rencana proses perceraian ini. Tapi anda tidak perlu khawatir. Karena klien saya sudah menyiapkan satu buah mansion, satu buah mobil dan juga uang sebesar sepuluh miliar sebagai kompensasi dari perceraian ini Tuan,"
__ADS_1
Arsyad tampak tidak terkejut sama sekali setelah mendengar perkataan Liechen. Ia malah justru menyunggingkan senyuman sinisnya. "Heh... Kaya banget ya klien Anda itu. Tapi apakah itu semua dari perkejaannya halal yang dia dapatkan?" Tanyanya dengan nada sindiran.
"Astaghfirullah Nak. Kamu tidak boleh su'uzon begitu. Berprasangka yang baik saja Nak. Karena urusan halal dan haramnya, hanya Allah lah yang menentukan-Nya," tegur Ibrahim mengingatkan Arsyad.
"Aah... Maaf Kyai," balas Arsyad secara singkat.
"Hmm... Ya sudahlah, begini saja Nak. Sebaiknya Anda pergi dulu dari sini. Karena yang bersangkutan juga saat ini sedang sakit. Dan Anda bisa datang kembali setelah beliau sudah dinyatakan sehat, ya?" Ujar Ibrahim pada Liechen.
"Ooh... Baiklah Pak Kyai, kalau begitu Kami permisi," pamit Liechen. Seraya ia membungkukkan tubuhnya sedikit. Setelah mereka pun melangkah meninggalkan tempat itu. Kini tinggallah Arsyad dan Ibrahim.
"Aah... Bagaimana ini Kyai? Saya takut, Nisah semakin sedih melihat surat ini," tanya Arsyad, sambil menatap berkas-berkas yang ia pegang saat ini.
"Tenanglah Nak, pasti ada jalan keluarnya. Karena Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hamba-Nya. Jadi percayakan semuanya pada Allah ya Nak," balas Ibrahim, seraya menepuk pundak Arsyad. Dan saat bersamaan seorang pria berjas putih tampak keluar dari ruang pemeriksaan, lalu ia langsung menghampiri Arsyad dan Ibrahim.
"Permisi, apakah Anda suaminya pasien?" Tanya pria itu pada Arsyad.
"Aah, bukan Dok, tapi saya kakaknya. Bagaimana keadaan Adik saya Dok?" Balas Arsyad, lalu ia kembali bertanya.
"Oooh... Keadaan pasien sekarang sudah stabil Pak. Hanya saja kalau bisa hindari hal yang membuatnya syok. Karena itu bisa membahayakan bagi janinnya Pak. Tadi saja beliau hampir kehilangan janinnya," jelas Sang Dokter. Membuat Arsyad maupun Ibrahim tampak terkejut.
"Apa Dok? Janin? Apa maksud Anda Hidayah hamil Dok?" Tanya Ibrahim, tampak begitu penasaran.
__ADS_1
"Benar sekali Pak. Saat ini Nyonya Hidayah sedang hamil."