Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 100 : The End


__ADS_3

Acara ulang tahun Noah diadakan di rumah. Tidak banyak yang diundang, hanya teman-teman sekolah saja. Noah sudah siap dengan jas berwarna hitam dan sepatu berwarna hitam juga.


Halaman rumah Dimas, direnovasi sedemikian rupa. Banyak balon, dan makanan berjejer rapi di sana. Kue ulang tahun, dengan bentuk mobil berdiri di meja besar.


Teman-teman Noah sudah mulai berdatangan. Mereka menyerahkan kado, dan memberikannya ucapan selamat kepada Noah. Noah nampak sengat bahagia.


Beberapa menit kemudian, satu buah mobil berhenti tepat dihalaman rumah Dimas. Reyhan dan istrinya keluar dari mobil. Disusul dengan si kembar, yang mengekor dibelakang mereka.


Noah sangat bahagia dengan kedatangan Halwa dan Reyhan, sekaligus kedatangan adik kembarnya. Dia menyambutnya dengan hangat.


"Mama?" panggil Noah.


"Noah," sahut Halwa memeluk putranya, "Selamat ulang tahun, Boy. Semoga panjang umur, tambah pintar, dan tambah ganteng,"


"Terimakasih, Ma,"


"Selamat ulang tahun, Boy," ucap Reyhan.


"Terimakasih banyak, Om," jawab Noah memeluk Reyhan.


"Kak Noah," teriak si kembar.


"Hey, Gabino, Gabrino,"


"Selamat ulang tahun, Kak,"


"Terimakasih banyak,"


"Ayo, Mah, Om, kita masuk! Tuh, mama Maya dan papa sudah menunggu kedatangan kalian!" ajak Noah.


Dimas dan Maya menyambut kedatangan Reyhan dan Halwa dengan suka cita. Mereka sangat bahagia tamu istimewa akhirnya datang juga.


"Silahkan duduk! Sebentar lagi acaranya dimulai," ucap Dimas.


"Terimakasih, Dim," jawab Reyhan.


Acara yang dinanti-nanti akhirnya telah tiba. Semua orang menyanyikan lagu ulang tahun untuk Noah. Dan acara tiup lilin serta potong kue ulang tahun. Potongan pertama ia berikan kepada mamanya, potongan kedua ia berikan kepada sang papa, dan potongan seterusnya ia berikan kepada sang nenek dan dua adik kembarnya.


"Selamat, Sayang! Semoga panjang umur, sehat selalu dan selalu menjadi kebanggaan kami," ucap Halwa kepada Noah.


Setelah potong kue, dilanjutkan dengan acara makan bersama. Ada band yang mengiringi acara ini, membuat acara semakin ramai. Banyak teman-teman Noah yang menyumbangkan lagu, bernyanyi dan bergembira. Mereka larut dalam pesta kecil namun sangat berkesan bagi Noah sendiri.


Selesai acara, satu persatu teman Noah berpamitan pulang. Noah nampak sangat bahagia dengan acara ulang tahunnya tahun ini. Lengkap sudah harapannya selama ini, berkumpul bersama dengan keluarga tercinta.


Ini adalah saatnya Reyhan dan Halwa memberikan kado ulang tahun untuk putranya. Sebuah kado besar dibungkus kotak besar dengan pita merah ditengahnya. Diantarkan oleh sebuah mobil box, sore tadi.


"Sayang, Ayo ikut Mama!" ajak Halwa kepada Noah.


"Kemana, Mah?"


"Ikut saja!" Halwa menarik tangan putranya.


"Taraaaa,"


"Ini untukmu!" ucap Halwa kepada putranya.


"Apa ini, Mah?" senang Noah.


"Bukalah,"

__ADS_1


"Noah buka ya!" dengan tergesa Noah membuka kado besarnya. Dan ternyata isinya adalah sepeda yang selalu diimpikannya.


"Sepeda,"


"Kau suka?"


"Iya, Mah. Noah suka banget," bahagiyanya.


"Kakak?" teriak si kembar. Noah memutar tubuhnya ke arah si kembar.


"Nanti kita balapan ya!" ujarnya sangat lucu.


"Memangnya kalian punya sepeda?"


"Tentu saja kami punya sepeda," jawab mereka serentak, membuat Halwa dan suaminya terkekeh, di susul tawa Dimas dan istrinya.


"Baiklah, nanti kita balapan," gelak Noah.


"Om juga mempunyai hadiah spesial buat kamu," ucap Reyhan. Halwa yang tidak tahu menahu, dia menautkan kedua alisnya.


"Taraaaa!" Reyhan menyerahkan dua empat tiket berlibur ke Singapura.


"Om memesankan tiket untuk kalian sekeluarga berlibur ke Singapura," ucap Reyhan.


"Apa?"


"Benarkah, Om?" kaget Noah.


"Iya. Kau bisa berlibur ke Singapura bersama Papa, mama, dan nenek," ucap Reyhan.


"Gabino ikut," celetuknya.


"Gabrino juga ikut," timpal satunya.


"Dasar Daddy pelit!" ucap keduanya, sontak orang yang mendengar tergelak geli.


"Semuanya sudah siap. Hotel dan segala perlengkapan sudah siap. Kalian semua tinggal berangkat saja!" ucap Reyhan.


"Terimakasih banyak, Rey," ucap Dimas menjabat tangan Reyhan.


"Sama-sama,"


Mereka bahagia menjadi satu keluarga yang utuh. Keluarga yang bahagia, yang selalu diimpikan banyak orang-orang diluar sana. Halwa menatap liontin yang selalu ia bawa ditasnya.


"Salwa, sekarang kau harus bahagia di sana. Karena Noah sangat bahagia disini. Dia tidak pernah kekurangan kasih sayang. Semua orang disekelilingnya menyayanginya. Aku akan selalu menjadi mama untuk Noah," monolognya sendiri.


The End ...


☄️☄️☄️☄️☄️☄️


Ayo bantu like karya Author yang lain, Dengan judul " KADARSIH ( PELET PENGASIHAN LINTRIK )


Penggalan Cerita :


Kadarsih menangis dipojok ruangan. Dia tidak menyangka kalau hari ini adalah hari tersialnya. Dia telah dinodai oleh seorang pria yang sepantasnya menjadi pamannya sendiri.


Dengan langkah tertatih dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Meskipun dia bukan seorang perawan, tapi, disetubuhi berkali-kali membuat bagian intinya merasa perih dan pegal. Dengan sisa tenaga, dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Selesai memakai pakaiannya kembali, sayup-sayup Darsih mendengar suara ribut diluar. Suaranya semakin keras, terdengar, ada bantingan benda-benda juga. Darsih semakin ketakutan. Dia berdiam diri di kamar mandi, tanpa berani keluar.

__ADS_1


Tok ... Tok ... Tok


Suara ketukan keras di kamar mandi. Membuat dirinya terhenyak, dan bergidik ngeri. Suara ketukan berganti dengan suara gedoran pintu, membuat Darsih harus membuka pintu itu. Nampak Bu Darno melototkan matanya dengan tajam.


"Dasar pel*cur! Wanita mur*h*n! Tidak tahu diuntung!" Bu Darno menarik rambut Darsih dengan sekuat tenaga.


"Aduh, sakit, Bu. Sakit!" pekiknya mengaduh kesakitan.


"Bu lepaskan dia!" bela Darno melihat Darsih kesakitan.


"Kenapa? Bapak mau membelanya?" marah Bu Darno menatap tajam ke arah suaminya, " Dasar pria tua bangka. Sudah tua, matanya masih juga jelalatan. Apa kau tidak malu, ketahuan selingkuh, hah?"


"Ibu salah paham,"


"Salah paham apanya? Dan kamu ... !" Bu Darno menatap nyalang ke arah Darsih. Darsih hanya menundukkan kepalanya dengan terisak.


"Bukan salah saya, Bu. Bapak yang memaksa saya untuk ... !"


PLAKKK ...


Sebuah tamparan keras berhasil mendarat dipipi mulus Kadarsih. Rasanya sangat panas dan perih. Ada cairan segar yang mengalir disudut bibirnya.


"Wanita mur*h*n, pel*cur. Mati Kau!" umpatnya. Saat Bu Darno akan menyakiti Darsih lagi, tubuhnya ditahan oleh sang suami. Darsih yang melihat kesempatan itu, dia berlari keluar. Dengan sisa tenaganya, dia berlari untuk pulang.


Bu Darno tidak habis akal, dia berlari dan berteriak sekencang mungkin, meneriaki wanita itu. Wanita yang sudah membuat amarahnya memuncak.


"Dasar pel*cur. Tangkap dia!" teriak Bu Darno. Membuat para tetangga yang kebetulan baru pulang sholat Maghrib, menjadi penasaran dengan keributan yang terjadi.


"Ada apa, Bu Darno?" tanya Bu Wati.


"Darsih, wanita pel*cur. Dia menjajakan dirinya untuk mendapatkan uang. Awas saja suami kalian bisa kena rayuannya. Cepat usir wanita hina itu dari kampung kita!" ucap Bu Darno kepada para ibu-ibu.


"Wanita hina harus diusir dari kampung, kalau tidak, kampung kita akan menjadi sial," ucap Bu Heni mengompor-ngompori.


"Usir! Usir! Usir!" teriak mereka ramai.


Satu persatu warga kampung bersatu dan marah setelah mendengar hasutan Bu Darno. Berbondong-bondong mereka mencari keberadaan Kadarsih yang lari kepersawahan.


"Usir wanita hina! Usir pel*cur dari kampung kita!"


"Usir!"


"Usir!" teriak para warga bersatu.


Kadarsih yang ketakutan lari tunggang langgang, bingung mau kemana. Karena warga meneriakkan namanya. Nyalinya begitu ciut, dia pasrah dengan apa yang dilakukan warga kepadanya.


"Itu dia!" teriak salah satu warga. Mereka mencegat Kadarsih untuk berlari. Salah satu warga melemparinya dengan batu, dengan mengumpat dan sumpah serapah.


"Pel*cur, pel*cur, pel*cur!"


"Usir, usir, usir!" teriak mereka serentak.


"Usir pel*cur ini. Dia sudah menggoda suami saya, agar tidur bersamanya. Jangan biarkan dia tinggal lebih lama didesa. Bisa-bisa suami kalian yang tidur dengannya!" teriak Bu Darno.


"Tidak, itu semua bohong. Saya diperkosa. Pak Darno yang memaksa saya!" isaknya.


"Suami saya tidak akan tergoda jika bukan kamu duluan yang menggoda!" hardik Bu Darno.


"Pak?" panggil Bu Darno. Pak Darno mendekat ke arah istrinya yang sedang menyidang Kadarsih didepan kerumunan warga desa.

__ADS_1


"Katakan kepada semua orang. Siapa yang menggoda terlebih dahulu?" tanya Bu Darno menatap tajam ke arah suaminya. Pak Darno bingung harus menjawab apa, dia mendapatkan tatapan memangsa dari sang istri.


"Kadarsih yang sudah merayu saya," jawab Pak Darno. Kadarsih hanya menatap lesu ke arah pria yang sudah menyetubuhinya. Dan sekarang pria itu malah memutar balikkan fakta. Hatinya sangat hancur dan sedih. Dia tidak menyangka nasibnya benar-benar sangat buruk dan memprihatinkan. Dia hanya pasrah dengan nasibnya.


__ADS_2