Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 75 : Reyhan Mulai Cemburu


__ADS_3

Halwa meminta izin kepada Cynthia untuk keluar sebentar. Awalnya Cynthia tidak memperbolehkan Halwa keluar, namun karena bujukan Reyhan akhirnya dia diperbolehkan untuk keluar sebentar.


"Terima kasih, Tuan!" ucap Halwa kepada Reyhan.


"Memangnya kau mau kemana?" tanya Reyhan.


"Bertemu seseorang," jawabnya.


"Siapa? Kekasihmu?" sinis Reyhan. Halwa menghela nafasnya.


"Iya, Tuan. Dia kekasih saya. Saya sangat merindukannya, dan saya harus menemuinya," ujarnya. Reyhan hanya memicingkan matanya.


Setelah bersiap-siap dan berdandan cantik, Halwa memesan taksi online menuju cafe, tempat biasa dia bertemu dengan asistennya. Diam-diam Reyhan mengikutinya, dengan menggunakan taksi.


Dia melihat Halwa sudah memasuki Cafe, dan duduk dekat jendela. Reyhan pun mengikutinya, dia duduk di sudut ruangan menghadap Halwa dan Adam yang sedang mengobrol. Halwa tidak menyadari kedatangan suaminya, karena dia duduk memunggungi Reyhan.


Halwa menceritakan semuanya kepada Adam, tidak ada yang ia tutup-tutupi. Adam bisa melihat, ada kesedihan besar di manik Nona nya. Namun, Dia juga merasa sangat kagum. Dia bisa melihat dengan jelas, Nona mudanya begitu tegar menghadapi masalah.


"Nona baik-baik saja?" cemas Adam.


"Iya, aku baik," jawab Halwa. Adam menyerahkan tisu yang ada didepannya.


"Terima kasih, Adam. Saya benar-benar sangat malu, harus menangis di depanmu!" jawabnya.


"Jika Nona mau, akan aku berikan pelajaran kepada Nyonya tua itu!" kesal Adam.


"Jangan Adam! Dia hanyalah orang tua. Orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia!" ucap Halwa.


"Baiklah, Nona,"


"Nona, Saya sepertinya melihat suami Anda. Dia sedang duduk di sudut ruangan, sedari tadi dia memperhatikan kita. Dan sepertinya dia sudah mengikuti Anda!" ucap Adam.


"Benarkah?"


"Jangan menengok, Nona. Pura-pura saja tidak tahu!" bisiknya.


"Sepertinya dia mengikuti Anda, Nona!"


"Dengan apa dia kesini?" batin Halwa.


"Adam, Cepat! Suapi aku makan! Aku ingin tahu apa reaksinya?" ucap Halwa. Adam pun menuruti kemauan Nona nya, yang menurut dia sangat aneh.


"Aaaaaaa." Halwa memakan satu sendok nasi yang disuapkan oleh Adam. Kemudian dia tersenyum, dan balik menyuapi Adam. Nampak Reyhan sedang menatapnya tanpa berkedip. Dibawah sana dia meremas bajunya sendiri. Entah kenapa melihat Halwa bersama dengan orang lain, perasaannya tidak begitu senang.


Lumayan lama mereka mengobrol, hingga jam menunjukkan pukul satu siang. Adam memutuskan untuk pergi, karena sore ini juga dia harus bersiap-siap datang ke event tersebut.


Setelah kepergian Adam, Halwa pun memutuskan untuk pulang juga. Dia menoleh ke sudut ruangan, ternyata suaminya sudah tidak ada di sana.

__ADS_1


"Apakah dia sudah pulang?" gumamnya. "Biarlah! Aku ingin berjalan-jalan sebentar. Sudah lama juga aku nggak jalan-jalan!" batinnya sangat senang.


Sebelum kembali ke rumah besar itu, Halwa berjalan-jalan sebentar untuk melupakan sedikit masalahnya. Dia masuk ke sebuah toko ice Cream, dan makan banyak ice Cream di sana.


"Andai saja ada Noah," gumamnya, "Dulu, aku, Noah dan Reyhan makan ice Cream disini. Kami sangat menikmati ice Creamnya, namun kebahagiaan itu sudah terenggut dariku," ucapnya di dalam hati. Tidak terasa air matanya mengalir. Halwa begitu sedih saat mengingat-ingat masa lalunya bersama sang suami. "Kenapa tiba-tiba aku ingin makan ice cream ya?" Halwa merasa aneh dengan dirinya sendiri.


Kenyang makan ice cream, dia memutuskan untuk pulang. Lumayan lama juga, Halwa berada di luar. Dia pulang menggunakan taksi.


Sampai di Mansion, Mansion nampak sepi. Memang Reyhan dan Nurul juga diundang ke event tersebut. Saat di Cafe, Cynthia mengirim pesan kepada putranya untuk menyusul ke event tersebut bersama Nurul. Dia pun bergegas pulang, dan mengajak Nurul menghadiri event tersebut.


"Kemana semua orang?" batinnya.


"Dari mana saja kamu?" suara Lastri mengagetkannya.


"Mba Lastri,"


"Ditanya kok nggak dijawab?" ketus Lastri.


"Saya sudah ijin ke Nyonya. Jadi, saya tidak perlu lagi meminta ijin kepada Mba Lastri," jawab Halwa.


"Oh, jadi kamu sudah mulai berani melawan saya?"


"Saya bukannya ingin melawan Mba Lastri. Tapi, Saya memang sudah meminta izin!" ujarnya.


"Tuh cucian baju banyak. Kerjakan itu semua! Dan jangan gunakan mesin cuci! Kamu mengerti!"


"Lho, ini kan sudah siang, Mba. Kalau dicuci sekarang takutnya nggak kering! Apalagi kalau dicuci pakai tangan!"


"Memang kemana semua orang?"


"Untuk apa tanya-tanya? Mereka semua pergi ke acara event Perusahaan!" jawab Lastri, "Sekarang kerjakan! Jangan banyak nanya!" ketus Lastri.


"Baik, Mba,"


"Wanita itu benar-benar tidak manusiawi! Jika bukan demi Suamiku. Pasti aku tidak akan mau melakukan ini!"


"Sabarlah Halwa. Kau wanita yang kuat!" ucapnya memberi semangat untuk dirinya sendiri.


Hingga petang hari mereka semua baru pulang dari acara Perusahaan. Sebenarnya acara Perusahaan selesai tadi jam tujuh, tapi sepertinya Cynthia mengajak putranya dan Nurul ke suatu tempat.


Sampai di rumah, mereka duduk di ruang tamu. Cynthia terlihat bahagia, wajah Nurul pun nampak berseri-seri. Halwa bisa melihat itu dengan jelas. Namun berbeda dengan Reyhan, suaminya nampak tidak senang, entah apa yang membuatnya tidak senang.


"Kenapa Papa dan Mamamu tidak menginap saja di sini?" tanya Cynthia. Mendengar ucapan Cynthia bisa dipastikan bahwa mereka diskusi keluarga di suatu tempat.


"Mama dan Papa akan mengunjungi saudara di Jakarta Selatan, Tante!" jawab Nurul.


"Oh, begitu!" jawabnya.

__ADS_1


"Oya, selamat ya sayang akhirnya tanggal pernikahan kalian sudah ditentukan. Mamih seneng banget!" ucap Cynthia kepada putranya yang sedari tadi diam saja.


"Iya, Mih!" Reyha memaksa untuk tersenyum.


"Apa tanggal pernikahan?" ucap Halwa begitu terkejut. Dia tidak sengaja menguping pembicaraan mereka bertiga diruang tamu. Tidak disengaja, dia menjatuhkan vas bunga.


PRANGG ......


Semua mata menoleh kepadanya. Cynthia menatapnya dengan nyalang dan kebencian.


"Kau menguping ya?" bentaknya.


"Tidak, Nyonya. Saya tidak sengaja mendengarnya!" jawab Halwa sambil memunguti pecahan beling.


"Mih, sudah! Jangan galak-galak!" tutur Reyhan.


"Iya, Tan! Lagipula Halwa tidak sengaja mendengarkan pembicaraan kita. Biarkan saja, Tante!" bela Nurul.


"Tidak bisa dibiarkan! Dia seorang pelayan yang lancang!" tegas Cynthia. Dia mendekat ke arah Halwa, dan menginjak tangannya yang sedang memunguti pecahan beling tersebut.


"Sakit, Nyonya!" tangan Halwa berdarah.


"Mih, Apa yang Mamih lakukan?" kesal Reyhan mendekat ke arah Mamihnya.


"Biarkan. Ini hukuman bagi pelayan yang lancang!" ucapnya.


"Tapi, Mamih keterlaluan. Dia hanya menguping, kenapa harus dengan cara seperti ini? Rey tidak suka dengan cara Mamih!" marah Reyhan sambil berlalu pergi ke kamarnya. Nurul menyusul Reyhan ke kamarnya. Halwa merasa senang karena suaminya membela.


"Ikut aku!" Cynthia menarik tangan halwa hingga ke ruang belakang.


"Kau sudah mendengar semuanya bukan? Aku akan menikahkan putraku dengan Nurul. Jadi, pergilah dari kehidupan putraku! Lagipula Reyhan sudah tidak mengingatmu, dia melupakanmu untuk selama-lamanya!" ucap Cynthia dengan sinis.


"Tapi, aku adalah istrinya yang sah. Dia tidak bisa menikahi perempuan lain, sebelum dia mendapatkan persetujuan dariku, Tante!" ucap Halwa.


"Oh, jadi kau mulai berani melawanku! Baiklah kita lihat siapa yang menang! Reyhan akan memilih istri sahnya atau aku sebagai ibu yang melahirkannya!"


"Kenapa tante begitu membenciku? Apa salahku, Tante?"


"Salahmu adalah karena kau anak seorang yang miskin. Kau bukan keturunan orang kaya. Kau dan Salwa memiliki darah yang sama, darah orang miskin. Jadi, sampai kapanpun aku tidak akan pernah merestui hubunganmu dengan anakku! Camkan itu!" ejek Cynthia. Kemudian dia berlalu pergi.


Sakit, itulah yang dia rasakan. Hatinya begitu sakit. Dia dihina, dicaci dan dimaki. Halwa terisak dan menangis sejadi-jadinya.


"Jadi, kau adalah orang yang hendak merebut Tuan Reyhan dari Nona Nurul!" ucap Lastri tiba-tiba datang. Tidak disengaja Lastri mendengar pembicaraan majikannya dengan Halwa. Namun dalam versi yang berbeda.


"Cih, menjijikan. Kau wanita menjijikkan! Sudah diberi pekerjaan, tapi, mau merebut kekasih Nona! Wanita murahan!"


"Kau tidak tahu apa-apa. Lebih baik kau diam!" bentaknya.

__ADS_1


"Kasihan sekali nasibmu!" ejek Lastri lagi, "Wanita menyedihkan!"


to be continued...


__ADS_2