
Hari ini Halwa membawakan guru privat
untuk Noah, dia ingin putranya juga menguasai bahasa Belanda. Jadi setiap sore, Noah mendapatkan pelajaran tambahan dari guru privat tersebut. Noah anak yang sangat pintar dan cerdas. Dia sangat mudah menghafal pelajaran yang diberikan oleh Miss Amira.
Selesai belajar, Halwa menyuruh putranya untuk mandi dan bersih-bersih. Miiss Amira berpamitan kepada Halwa. Halwa mengucapkan terima kasih kepada Miss Amira, dan mengantarkannya sampai di depan pintu.
"Sayang, Apakah kamu sudah mandi?" tanya Halwa kepada putranya.
"Sudah, Mama," jawab Noah.
"Ehm, Bagaimana sekolahmu hari ini? Apakah kamu mempunyai kesulitan?" tanya Halwa.
"Iya, Mama. Terkadang Noah tidak mengerti mereka mengatakan apa, karena bahasa mereka berbeda dengan kita," ucap Noah sangat lucu membuat Halwa terkekeh geli.
"Iya, Sayang. Karena teman-teman Noah berasal dari sini. Mama sengaja mendatangkan guru privat buat kamu, agar kamu bisa belajar bahasa Belanda," jelas Halwa.
"Tapi, Ma. Mereka juga menggunakan bahasa Inggris. Untungnya di Sekolahan, Noah belajar," cebiknya.
"Kamu memang anak yang pintar. Mama yakin Mama kamu di sana pasti sangat bangga," ucap Halwa keceplosan.
"Maksud Mama? Mama kan Mamanya Noah?"
"Eh, maksud Mama. Mama dan Papa sangat bangga sama kamu, Boy," selorohnya sambil tersenyum.
Keesokkan Paginya
Setelah sarapan pagi, Halwa mengantarkan putranya pergi ke Sekolah. Dia menitipkan Noah kepada salah satu pengajar di sana. Setelah mencium kening putranya, Halwa pun meninggalkan Noah bersama teman-temannya. Noah anak yang sangat mudah berbaur.
Halwa melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, membelah jalan raya menuju Perusahaan tempatnya bekerja. Hari ini dia ada meeting penting. Dia akan bertemu dengan klien dari Indonesia. Dengan tergesa-gesa dia berlari menuju ruang meeting.
Meskipun masih kurang lima menit lagi. Halwa adalah sosok seorang Pengusaha yang disiplin, dia lebih suka datang lebih awal dari jam yang sudah dijadwalkan. Dia memasuki ruangan meeting, di depan ruangan meeting tersebut Adam sudah menunggu kedatangan Nonanya.
"Maaf, Apakah aku terlambat?" tanya Halwa kepada Adam.
"Tidak, Nona. Nona selalu datang tepat waktu," puji Adam.
"Terima kasih, Adam," jawab Halwa sambil tersenyum.
"Silahkan, Nona," Adam mempersilahkan nona nya masuk ke dalam.
"Apakah dia sudah datang?" tanya Halwa.
"Belum, Nona. Mungkin sebentar lagi," ucap Adam.
Dua orang pria tampan dengan gaya coolnya berjalan memasuki Perusahaan besar milik Halwa.
"Jadi ini maksudmu, waktu yang tepat untuk menemuinya?" tanya Antonio.
"He'em," jawab Reyhan.
__ADS_1
"Sejak kapan kau menawarkan kerjasama dengan Perusahaan milik Halwa? Kok gue nggak tahu?" tanya Antonio penasaran.
"Sejak aku tahu, kalau dia adalah seorang Pengusaha sukses," jawab Reyhan sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Lo hebat. Gue nggak nyangka Lo sangat pintar, Bro," puji Antonio.
"Kita harus menggunakan akal, Bro," ucap Reyhan sambil tersenyum.
Seorang security mengantarkan dua tamu atasannya ke ruangan meeting. Mereka masuk ke sebuah ruangan yang sangat besar dan mewah. Adam menyambut tamunya dengan hangat.
"Silahkan, duduk!" ucap Adam.
"Terima kasih," jawab Reyhan tidak kalah hangat. Halwa yang sedari tadi sibuk dengan berkas-berkas di tangannya, dia baru menoleh ke sumber suara. Betapa terkejut dirinya. Melihat pria yang sekarang berdiri di depannya.
"Reyhan?" ucap Halwa terkejut. Dia meraba mukanya sendiri. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Reyhan tersenyum melihat raut muka wanita yang berdiri di depannya.
"Jadi, klien dari Indonesia itu kamu, Rey?" tanya Halwa.
"He'em," jawab Reyhan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, sangat manis sekali.
"Astaga. Aku tidak percaya, ini kamu?" Halwa begitu terkejut dengan kedatangan Reyhan ke Belanda. Dan sekarang dia berdiri di depannya. Adam mengernyitkan alisnya melihat keakraban keduanya. Dia tidak menyangka, atasannya bisa bersikap hangat dengan orang lain. Setahu dirinya, Halwa hanya akan hangat dengan keluarga dan orang yang dikenal saja. Dia juga sangat irit sekali tersenyum. Namun setelah pulang dari Indonesia, ada banyak perubahan pada diri Nona nya. Adam ikut senang jika majikannya bahagia.
"Apakah Nona mengenalnya?" tanya Adam penasaran.
"Iya, Asisten. Dia teman saya dari Indonesia," jawab Halwa. "Reyhan, perkenalkan. Ini adalah Adam, Asisten saya," ucap Halwa memperkenalkan Reyhan kepada Adam.
"Terima kasih, Saya juga senang," ucap Reyhan. "Perkenalkan, dia Antonio. Asisten pribadi saya," kata Reyhan memperkenalkan diri. Mereka saling berjabat tangan memperkenalkan diri.
"Silahkan, duduk!" Halwa mempersilahkan Reyhan duduk.
"Terima kasih banyak," jawab Reyhan. Reyhan dan Antonio duduk.
"Bagaimana kabar kamu?" tanya Halwa.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Kamu sendiri?" ucap Reyhan justru balik bertanya.
"Aku juga sangat baik," jawabnya. "Oya, jadi, Arsenio Group perusahaan milik kamu, Rey?" tanya Halwa.
"Iya, betul sekali," jawab Reyhan tersenyum.
"Boleh aku tahu alasan kamu ingin bergabung dengan Perusahaan ku?" tanya Halwa.
"Saya lihat dan saya dengar, Perusahaan ini sangat berkembang dan hebat. Saya ingin menawarkan kerjasama dengan Perusahaan Anda," jawabnya tegas dan singkat.
"Saya juga melihat Perusahaan Anda juga bagus, Pak Rey. Kredibilitasnya cukup bagus. Saya suka," jawab Halwa. " Dan saya juga sudah mempelajari semuanya. Jadi, saya menerima tawaran Anda," jawab Halwa.
"Benarkah?" senang Reyhan.
"He'em,"
__ADS_1
Cukup lama mereka bercakap-cakap membahas masalah pekerjaan, akhirnya kerjasama antara dua Perusahaan mendapatkan kesepakatan dari dua pihak. Masing-masing CEO menandatangani surat kerjasama tersebut.
Antonio dan Adam meninggalkan ruang meeting itu terlebih dahulu. Mereka memberikan kesempatan atasannya untuk mengobrol, sepertinya mereka juga membutuhkan waktu untuk melepaskan rindu.
Reyhan menatap lekat manik itu. Manik yang sangat ia rindukan. Reyhan langsung menarik pinggang Halwa, dan memeluknya dengan sangat erat. Dia begitu merindukan wanita ini. Wanita yang sudah berhasil mengisi hari-harinya. Sekarang dia sudah berada dalam pelukannya.
"Lepaskan aku, Rey! Nanti ada karyawan yang melihat kita sedang berpelukan," ucap Halwa. Seperti biasa, Reyhan akan memeluknya tanpa permisi.
"Aku sangat merindukanmu!" ucapnya.
"Jika kau merindukanku, kenapa kau tidak menyusul ku di Bandara?" tanya Halwa memberengut kesal.
"Aku menyusulmu. Tapi, kau sudah pergi. Aku terlambat," lirihnya.
"Benarkah? Kau tidak sedang membohongiku kan?" tanya Halwa penuh selidik.
"Tataplah Aku, Apakah aku seperti orang yang sedang berbohong?" tanya Reyhan. Halwa menatap manik itu dengan intens. Memang tidak ada kebohongan di mata Reyhan. Dia yakin, Reyhan berkata jujur.
"Sudah berapa hari, Kau berada di Belanda?" tanya Halwa.
"Tiga hari," jawabnya.
"Tiga hari di Belanda, Apakah kau tidak berusaha mencari ku?"
"Tentu saja, aku mencarimu. Aku juga sempat mengikutimu!"
"Benarkah?" tanya Halwa heran. Tiba-tiba saja Halwa mencubit perut Reyhan.
"Auw," pekiknya. "Kenapa kau mencubit ku?" sewot Reyhan.
"Kau mengikuti ku, lalu kenapa kau tidak berusaha menemui ku?" manyun Halwa. "Kau ini benar-benar tidak peka!" cemberut Halwa.
"Apakah kau berharap aku mencarimu? Jadi, kau sudah memiliki perasaan kepadaku!" bisik Reyhan tepat ditelinga Halwa. Pipi Halwa langsung memerah menahan malu. Reyhan mempererat pelukannya. "Aku hanya ingin mencari waktu yang tepat," jawabnya.
"Ck, alasan!" manyun Halwa.
"Sungguh. Aku sengaja datang kemari untukmu," jujur Reyhan.
"Kenapa?" tanya Halwa.
"Karena aku mencintaimu," lirihnya. Kata-kata Reyhan membuat pipi Halwa semakin merah merona.
"Ck, Kau ini tidak tahu malu!" cebiknya. "Sekarang kau tinggal di mana?" tanya Halwa.
"Di rumah teman," jawabnya.
"Kenapa tidak di hotel saja? Kalau kau mau kau bisa tinggal di rumah ku?" ucapnya.
to be continued....
__ADS_1