Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Bab 58 : Perpisahan Sementara


__ADS_3

Dret .... Dret .... Dret


Noah menerima panggilan video tersebut. Ternyata dari sang Papa. Dia sangat bahagia bisa melihat Dimas dilayar ponselnya. Halwa sengaja membelikan satu buah ponsel untuk Noah. Karena dia yakin bahwa sewaktu-waktu pasti Noah ingin menghubungi Papanya.


"Hallo, Papa," ucapnya sangat bahagia. "Papa, Noah kangen!"


"Noah anak Papa. Papa juga sangat merindukanmu, Sayang," ucapnya. "Bagaimana kabarmu, Sayang? Apakah kau sehat? Kau baik-baik saja kan? Sepertinya kau sangat baik, lihatlah pipimu semakin gembil!" cecar Dimas dengan banyak pertanyaan. Noah terkekeh geli.


"Noah baik, Pa. Mama sangat baik kepada Noah. Sekarang Noah sudah bersekolah. Teman-teman Noah baru semua, dan mereka sangat baik," jelas Noah. Dimas bisa merasakan kebahagiaan putranya.


"Kamu baik-baik di sana dengan Mama. Jangan bandel dan juga jangan nakal. Turuti lah semua kata-kata Mama, Nak," tutur Papanya.


"Iya, Pah. Noah tidak nakal kok. Noah akan menuruti semua perintah Mama," jawab Noah pada Dimas.


Lumayan lama mereka mengobrol, hingga Halwa memanggil Noah untuk makan malam, barulah mereka mengakhiri panggilannya. Di meja makan, Noah melihat ada Reyhan.


"Om Reyhan," panggilnya sambil berhambur ke pelukan Reyhan.


"Hey, Boy. Apa kabar? Kau semakin tampan saja seperti Om Rey," puji Reyhan.


"Ish, narsis," manyun Halwa. Reyhan hanya terkekeh geli melihat kekasihnya mengerucutkan bibirnya.


"Jangan memajukan bibirmu seperti itu! Itu menggodaku, Sayang," ucapnya.


"Ck, dasar kau mesum!" sungutnya. "Ayo, Sayang. Cepatlah makan! Nanti makanan mu dingin!" suruh Halwa kepada Noah.


"Okey, Ma,"


Mereka menikmati makan malam yang disajikan oleh pelayan. Hari ini Halwa mengundang Reyhan untuk makan malam bersama di rumahnya. Reyhan begitu bahagia mendapatkan undangan makan malam dari kekasihnya.


Selesai makan malam, Reyhan mengajak Noah bermain sebentar, hingga jam menunjukkan pukul sembilan malam, Halwa menyuruh putranya untuk beristirahat. Karena, besok Noah harus bersekolah.


Halwa mengajak Reyhan untuk menikmati kopi di dekat kolam renang sambil mengobrol. Reyhan duduk di sofa besar, dan Halwa duduk bersender di dada bidang kekasihnya.


"Sayang, dua hari lagi aku harus kembali ke Indonesia," ucap Reyhan sambil memainkan ujung rambut kekasihnya. Seketika raut muka Halwa berubah.


"Indonesia? Kenapa?" tanya Halwa. Sebenarnya pertanyaan seperti itu tidak perlu ditanyakan, Halwa tahu apa jawabannya.

__ADS_1


"Perusahaan ku tidak ada yang mengurus. Aku harus pulang ke Indonesia. Setelah ada waktu senggang, aku akan langsung kembali ke sini untuk melamar mu dan menikahimu," jelas Reyhan.


"Jadi, Apakah kita akan menjalani hubungan jarak jauh?" tanya Halwa. Ada rasa tidak rela harus berpisah.


"Sementara, Sayang. Jika, kita sudah menikah, pasti kita akan selalu bersama," ucap Reyhan.


"Tapi .... !"


"Aku berjanji. Aku akan kembali ke sini, dan langsung menikahimu. Setelah menikah, kita akan selalu bersama," jawab Reyhan memotong ucapan Halwa.


"Janji?" ujar Halwa ragu-ragu.


"Janji," jawab Reyhan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Halwa.


Dua hari berlalu, Halwa mengantarkan Reyhan dan Antonio ke Bandara. Pesawat mereka segera akan berangkat, Reyhan berusaha meyakinkan Halwa untuk segera kembali dan menikahinya. Dan mengecup kening kekasihnya dengan sayang.


"Aku akan selalu mencintaimu. Tunggu aku! Aku akan menjadikan dirimu milikku!" ucap Reyhan. Kata-kata Reyhan sangat membuatnya bahagia sekaligus bersedih. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia tidak mau perpisahan ini, walaupun hanya sebentar saja, dia masih tidak rela.


Reyhan dan Antonio masuk ke dalam pesawat. Sedangkan Halwa berdiri mematung, melihat pesawat yang ditumpangi oleh Reyhan lepas landas meninggalkan Bandara Belanda. Baru kali ini, dirinya merasa kehilangan dan hidupnya serasa sepi dan hampa.


Dia berjalan keluar Bandara dengan langkah tidak bersemangat. Adam yang sedari tadi melihat Nona mudanya tidak bersemangat, dia merasa aneh saja. Karena, baru pertama kali dirinya melihat ada sisi rapuh pada Nona nya. Adam tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Hari ini Dimas berencana ingin menemui Anita di penjara. Dengan ditemani oleh sang Mama, dia menemui Anita. Dimas dan Hilda menunggu Anita di ruang kunjungan.


Anita datang dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh petugas Lapas. Dia begitu bahagia melihat suaminya datang menjenguk.


Senyumannya mengembang di bibirnya. Dimas melihat Anita begitu berbeda, tubuhnya kurus, tulang pipinya menonjol, bahkan penampilannya sangat berantakan.


"Sayang?" panggil Anita, menghentakkan kaki supaya petugas Lapas mendekatkan kursi rodanya kepada sang suami.


"Stop disitu, Anita," ucap Dimas.


"Aku datang ke sini, hanya ingin menyerahkan surat ini kepadamu," ucap Dimas. Dimas menyerahkan surat dari pengadilan kepada Anita. Anita membolak-balik surat itu.


"Surat apa ini, Sayang?" tanya Anita. "Apakah ini surat pembebasan ku?" senang Anita.


"Bukan!" ucapnya. "Itu adalah surat perceraian. Kita sudah bukan suami istri lagi. Jadi, kau sudah bukan tanggung jawab ku!" ujarnya.

__ADS_1


"Hiks .... Hiks .... Hiks." tangis Anita.


"Kejamnya dirimu, Sayang! Kau tahu bahwa diriku sekarang hanyalah wanita cacat. Kenapa kau tega menceraikan ku? Kau tidak boleh menceriakan ku, Sayang!" teriaknya.


"Ck, kau sama sekali tidak berubah ya! Harusnya dengan kejadian ini, kau sadar. Kau bertobat dan meminta ampun kepada Tuhan. Tapi, wanita tidak tahu diri seperti dirimu, memang pantas membusuk di dalam penjara!"


"Sayang?" Isak Anita.


"Ma, Ayo kita pergi dari sini!" ajak Dimas.


"Jangan tinggalkan aku, Sayang. Tolong bawa aku bersamamu! Aku tidak mau mendekam di penjara! Tolong keluarkan aku dari sini!" teriak Anita sekeras mungkin. Namun, Dimas dan Hilda pergi meninggalkannya begitu saja. Dia sudah tidak mau mendengarkan ucapan Anita.


Anita kembali ke selnya dalam keadaan menangis. Jesslyn yang melihat putrinya menangis, tentu saja dia merasa cemas.


"Ada apa, Nak?" tanya Jesslyn khawatir.


"Dimas menceraikan Anita, Ma," jawab Anita.


"Apa?" Jesslyn sangat terkejut. Anita menyerahkan surat itu kepada mamahnya. Jesslyn membuka surat tersebut, dan perlahan membacanya. Dan benar juga, surat itu adalah surat perceraian yang sah dari pengadilan. Dia menoleh ke arah Anita yang masih terus menangis. Ia pun memeluk tubuh Anita.


"Sabarlah, Sayang! Maafkan Mama yang tidak bisa membantu banyak," ucap Jesslyn.


Di dalam mobil, Dimas masih dipenuhi dengan rasa jengkel dan dongkol. Hilda bisa merasakan itu. Dia menggenggam tangan putranya untuk lebih tenang dan rileks.


"Jangan dipikirkan! Keadaan mu baru membaik, jadi, kau tidak boleh memikirkan hal-hal yang berat dulu!" tutur Hilda.


"Nggak, Mah," jawab Dimas. "Dimas hanya kesal melihat Anita. Apalagi mengingat perlakuan kejinya kepada Salwa dan Noah."


"Iya, Nak. Sikap kamu menceraikan Anita memang sudah benar!"


"Sebenarnya, Dimas sudah mengajukan gugatan perceraian sudah lama. Setelah melihat perselingkuhan Anita dengan Jack terungkap, saat itu juga, Dimas mengajukan gugatan cerai kepada pengadilan," jawab Dimas.


"Selingkuh?" heran Hilda.


"Iya, Ma. Dimas memergoki Anita berselingkuh. Dia sudah menghancurkan pernikahannya sendiri. Dimas sudah malas membicarakannya lagi," jelas Dimas panjang lebar.


"Huft. Iya sudah. Keputusan kamu bercerai dengannya memang sudah tepat. Mulai sekarang Mama akan mendukung semua keputusan kamu. Mama tidak akan melarang kamu ataupun menjodohkan kamu. Mama hanya ingin kamu bahagia," ucap Hilda.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Ma,"


to be continued....


__ADS_2