
'Ada saatnya dalam hidup ketika kamu harus memilih untuk membalikkan halaman, menulis buku lain, atau hanya menutupnya.' - Shannon L Alder
'Biarlah jiwaku tersenyum melalui hatiku dan hatiku tersenyum melalui mataku agar aku dapat menyebarkan senyuman yang kaya di dalam hati yang sedih." - Paramahansa Yogananda.
'Dibutuhkan hati yang kuat untuk mencintai, tetapi dibutuhkan hati yang lebih kuat untuk terus mencintai setelah terluka.'
🍀🍀🍀🍀🍀
Keesokkan Paginya
Adam membawa pengacara untuk membebaskan Halwa. Karena laporan yang ditujukan kepada Nona nya memang tidak memiliki cukup bukti yang kuat. Hari itu juga Halwa dibebaskan oleh Adam.
Di dalam mobil, Halwa hanya duduk terdiam. Tidak terucap sepatah katapun dari mulutnya. Adam tahu kalau nona nya sedang bersedih.
Sampai di hotel, Adam mengantarkan nona nya ke kamar hotel. Adam sengaja meninggalkan Halwa sendiri di hotel, memberikan waktu untuk menyendiri adalah salah satu cara yang paling baik.
Dengan langkah malas, Halwa masuk ke kamarnya. Wanita malang itu menangis pecah, tidak bisa menahan air mata yang sudah menganak sungai di kantung matanya.
Halwa menangis pilu, mengingat kejadian kemarin yang menimpanya. Hatinya terasa remuk dan sakit seperti ada benda tajam yang menancap persis di jantungnya. Dadanya terasa sangat sesak, dia tidak bisa bernafas. Seperti ada palu godam yang menindih.
"Sakit sekali rasanya," ujarnya sambil menangis. Kemudian dia teringat dengan surat dari Rumah Sakit. Ia membuka amplop itu kembali, dan sedikit mengulas senyum.
"Aku tidak boleh menangis. Aku harus kuat. Ini demi anakku!" ucapnya kepada dirinya sendiri.
Halwa meraba perutnya yang masih rata. Dia berusaha keras untuk tidak menitikkan air mata, tapi matanya tidak mau diajak kerjasama. Air matanya terus saja mengalir membasahi pipi.
Seharian menangis membuat kantung matanya membengkak. Dia berdiri di depan cermin, dia meraba perutnya kembali.
"Maafkan, Mommy! Mommy tidak berhasil membawa Daddy mu!" ucap Halwa.
"Tidak. Aku tidak boleh menangis. Aku harus kuat!" ucapnya sambil menghapus air matanya.
Seharian Halwa tidak keluar dari kamar hotel, bahkan tidak juga menghubungi Adam. Membuat Adam cemas, dia pun mengetuk pintu kamar hotel majikannya. Adam memang sengaja, membooking kamar yang letaknya tidak terlalu jauh dengan kamar miliknya.
Tok ... Tok ... Tok
"Nona?" panggilnya, tidak ada sahutan.
"Nona?" panggilnya lagi.
CEKREEK ...
"Adam. Ada apa?" tanya Halwa.
"Nona tidak apa-apa kan? Dari tadi nona belum makan, Ayo, kita makan dulu!" ajaknya.
"Terima kasih banyak, Adam. Aku sedang tidak enak badan," jawabnya.
"Kenapa? Apakah Anda sakit?" cemas Adam.
"Hanya sedikit tidak enak badan,"
"Kalau begitu. Ayo kita ke Rumah Sakit?" ajak Adam.
"Tidak, Adam. Aku hanya membutuhkan istirahat yang cukup, baru aku akan sembuh," jawabnya lagi.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau Anda tidak mau ke Rumah Sakit, aku akan membawakan Dokter kesini untuk Anda!"
"Tapi, Adam .... !" Halwa menjeda kalimatnya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat pusing. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, Adam menangkapnya.
"Anda baik-baik saja?" tanya Adam cemas.
"Iya, aku baik-baik saja. Kepalaku sangat pusing!"
"Ayo kita ke Rumah Sakit," bujuk Adam. Adam pun memaksa Halwa untuk pergi ke Rumah Sakit.
Selama lima belas menit, Halwa diperiksa oleh Dokter kandungan. Sedangkan Adam dengan setia menunggu di depan ruangan.
"Bagaimana dengan kandungan saya, Dok? Kenapa akhir-akhir ini saya mengalami mual dan pusing?"
"Silahkan duduk dulu!" ucap Dokter mempersilahkan Halwa duduk.
"Itu normal kok, Bu. Kandungan ibu sehat. Namun, sepertinya calon Anak ibu kembar," ujar Dokter.
"Kembar, Dok? Apakah Dokter yakin?"
"Tentu saja. Tapi, belum tahu jenis kelaminnya ya, Bu!" ujarnya lagi, "Saat usia kandungan sudah tiga atau empat bulan, barulah bisa diketahui jenis kelaminnya," jelas Dokter.
"Ini saya berikan obat pusing dan mual. Ibu minum sampai habis ya?"
"Terima kasih banyak, Dok," ucap Halwa, Dokter menganggukkan kepalanya.
Di dalam mobil, Halwa kembali terdiam. Banyak sekali yang sedang ia pikirkan, dia memandang ke arah luar jendela, entah pikirannya menerawang kemana, kemudian dia menghela nafasnya kasar.
"Adam, kita mampir ke Apartemen suamiku dulu!" ucapnya tiba-tiba.
Sampai di depan Apartemen. Halwa menyuruh Adam menunggu di depan, karena dia hanya sebentar di Apartemen suaminya.
Halwa membuka pintu Apartemen suaminya, dia melangkah masuk. Kembali mengenang kebersamaannya bersama sang suami tercinta. Tiba-tiba terlintas bayangan Reyhan yang tega mengusir dan menjebloskannya ke penjara.
"Aku akan pergi, Rey. Aku harap kau akan bahagia dengan pilihanmu!" dia melepas cincin yang ia kenakan, dan ia taruh diatas nakas. Cincin pernikahannya dengan sang suami.
Hatinya tidak kuat untuk berlama-lama di sana. Dia pun keluar dari Apartemen suaminya dengan deraian air mata.
"Jalan!" suruhnya kepada Adam.
"Adam, aku ingin menjemput Noah! Aku akan kembali ke Belanda!" ujarnya.
"Siap, Nona!"
Mobil Adam melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah Dimas. Rencananya dia akan kembali ke Belanda besok dengan membawa Noah.
Sampai didepan rumah Dimas, Noah berteriak memanggil namanya, dan berhambur bahagia kepelukannya.
"Mama?" teriaknya.
"Noah, Sayang!" senang Halwa.
"Kenapa baru kesini, Ma?"
"Iya, maaf, Sayang. Mama sibuk," jawabnya.
__ADS_1
"Halwa masuklah!" ajak Dimas.
"Terima kasih, Mas," jawabnya.
"Siapa dia?" tanya Dimas, karena Halwa tidak datang sendiri, dia datang bersama seorang pria.
"Dia adalah Adam. Asistenku, kalian pernah bertemu kan?"
"Oya, Maaf, aku lupa! Silahkan Adam, masuklah ke gubug kami yang kecil ini!" ajak Dimas.
"Saya disini saja, Pak!"
"Baiklah, kalau begitu!" mereka pun masuk ke dalam. Noah duduk di samping Halwa.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Mas Dimas!"
"Ada apa?" tanya Dimas heran.
"Besok, Aku akan membawa Noah kembali ke Belanda," ucap Halwa.
"Apa?" kaget Dimas.
"Noah, besok kita akan pulang ke Belanda. Kau siap kembali kesana kan?" tanya Halwa kepada Noah. Tiba-tiba saja bocah itu tertunduk tidak bersemangat.
"Apakah kita tidak bisa disini saja, Mah?" tanyanya.
"Kenapa?"
"Apakah Noah tidak bisa tinggal disini saja?" lirihnya.
"Noah. Kamu harus kembali ke Belanda. Lagipula Papa nggak akan punya waktu untuk menjagamu!" bohong Dimas. Sejujurnya dia sangat menginginkan Noah untuk tinggal bersamanya. Tapi, mengingat pesan terakhir dari Salwa, membuat dia mengurungkan niat untuk mencegah putranya tinggal di Indonesia.
"Noah ingin disini, Ma. Noah ingin merawat Papa," isaknya.
"Apakah kau tidak mau tinggal dengan Mama?" tanya Halwa sedih.
"Tentu saja aku mau. Tapi, aku ingin tinggal bersama papa kandungku. Sedangkan Mama bukanlah Mama kandungku," jawabnya. Membuat Halwa terlonjak kaget.
"Apa?"
"Noah? Apa yang kau katakan?" bentak Dimas tiba-tiba.
"Darimana kau tahu?" tanya Halwa.
"Sebenarnya aku tahu sudah lama, kalau Mama bukanlah Mama kandungku. Mama saudara kembarnya Mama. Benarkan, Ma?" ucap Noah sambil menangis.
"Semua pelayan di rumah besar itu mengatakan bahwa nama Mama adalah Halwa, bukan Salwa. Noah juga pernah melihat kartu pengenal Mama. Nama Mama Halwa. Benarkah itu, Ma?" isaknnya lagi. Halwa tersenyum, ternyata anak sekecil Noah dengan cepat memahami masalah orang dewasa. Noah memang anak yang sangat cerdas, dengan cepat dia menyerap perkataan orang dewasa.
Halwa juga tidak tega memisahkan Noah dengan Papanya. Bagaimanapun, Dimas lebih berhak daripada dirinya merawat Noah.
"Baiklah jika memang itu keputusanmu, Boy. Aku akan menghargainya. Kamu memang sudah waktunya tahu. Memang benar aku bukanlah Mama kandungmu, Boy. Tapi, aku sangat menyayangimu seperti anak kandungku sendiri. Namun, jika keputusanmu seperti itu. Aku tidak akan memaksamu!" tuturnya.
"Tetaplah menjadi Mamaku!" pinta Noah menangis sedih sambil memeluk erat tubuh Halwa. Halwa juga menangis sedih. Namun dia tidak boleh memaksakan egonya kepada seorang anak seperti Noah.
to be continued......
__ADS_1