Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 99 : Berburu Hadiah


__ADS_3

Semilir angin menyapa kemuning diujung cakrawala. Seorang wanita cantik, yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk dikepala, berjalan dengan anggun menyibak korden jendela. Sinar mentari memaksa masuk dan langsung mengenai wajah tampan suaminya. Wanita cantik itu hanya terkekeh geli kala sang suami, mengerjapkan mata dan menutupi sebagian wajahnya dengan selimut tebal.


"Sayang, Ayo bangun!" suruh Halwa kepada suaminya.


"Ehm, masih ngantuk, Sayang!" ujarnya.


"Ayo bangun!" suruh Halwa menarik tangan suaminya, "Katanya mau ke Mall mencari hadiah untuk Noah," ucap istrinya.


"Memangnya harus sekarang?" ucapnya. Suaranya khas orang bangun tidur.


"Iya dong, Sayang! Harus sekarang. Ulang tahunnya kan nanti sore?" manyun Halwa.


"Hoam,"


"Baiklah, aku mandi dulu! Apakah anak-anak sudah bangun?"


"Belum, Sayang. Kamu mandi dulu, nanti biar aku yang membangunkan anak-anak," ujar Halwa.


"Mumpung anak-anak belum bangun, kita olahraga pagi, Yuk!" pinta sang suami. Tentu saja Halwa membelalakkan matanya.


"Astaga. Apakah tadi malam tidak cukup? Kau hampir saja membunuhku dengan belalaimu itu!" protes Halwa.


"Membunuh bagaimana? Orang kamu merem melek Kok!" sahut Reyhan terkekeh.


"Tapi, seluruh tubuhku remuk. Tulang-tulangku seperti mau lepas," gerutu istrinya.


"He ... He ... He." gelak suaminya.


"Maafkan aku, Sayang. Kamu kan tahu, enam tahun aku tidak melakukan olahraga diatas ranjang. Dan, sekarang aku sedang bersemangat sekali!" ucapnya tanpa merasa malu.


"Ish, dasar mesum! Sudah sana mandi, sebelum anak-anak bangun!" Halwa mendorong tubuh suaminya masuk ke kamar mandi.


BRAKK ...


"Hhhhhh, leganya. Aku harus cepat-cepat keluar dari kamar. Bisa-bisa dia minta jatah lagi," monolognya sendiri, "Sudah berapa kali ronde masih saja kurang," sungut Halwa.


Halwa keluar dari kamar menuju kamar putranya. Ternyata sang buah hati sudah mandi dan tampan.


"Wah, anak Mommy sudah mandi dan ganteng. Siapa yang mandiin kalian?" tanya Halwa.

__ADS_1


"Oma," jawab mereka serentak. Mamih mertuanya keluar dari kamar mandi membawa handuk yang basah.


"Maaf ya, Sayang. Bukannya Mamih ingin mengambil alih tugasmu sebagai seorang ibu. Tapi, Mamih hanya ingin mencurahkan segala kasih sayang Mamih kepada kedua cucu Mamih yang menggemaskan ini," gelaknya seraya mencubit pipi gembul cucunya.


"Nggak apa-apa kok, Mih. Mereka kan cucu-cucu Mamih. Halwa nggak merasa kalau Mamih sudah merebut tugas Halwa sebagai seorang ibu," ujarnya.


"Terima kasih banyak ya, Sayang. Melihat mereka, Mamih sangat bahagia. Semua penyakit Mamih, hilang. Tubuh Mamih terasa sangat sehat, kuat dan seperti muda kembali," ujarnya terkekeh. Halwa juga ikut tergelak. Memang semenjak mertuanya bertemu kedua cucunya, kesehatan Mamih mertuanya berangsur membaik. Halwa sangat bahagia melihat perubahan itu.



Setelah berpamitan kepada sang Mamih, mereka berangkat menuju mall. Si kembar begitu antusias, saling bercanda dan menjahili satu sama lain. Mereka yang super aktif, tidak bisa duduk tenang di dalam mobil. Sesekali sang Mommy memberikan tatapan tajam ke arah mereka.


"Gabino? Gabrino? Hentikan!" teriak Halwa. Kedua bocah itu langsung terdiam, mereka menutup mulutnya masing-masing. Menampilkan ekspresi wajah yang sangat menggemaskan, membuat Reyhan tergelak.


"Sudah, Sayang. Biarkan saja mereka. Namanya juga anak-anak. Apalagi mereka anak laki-laki, pastinya sangat aktif seperti Daddy-nya," seloroh suaminya. Halwa melirik malas ke arah suaminya. Jika maniknya berkedip nakal, pasti dia akan berbicara menjurus ke arah yang mesum. Gegas Halwa mengalihkan pembicaraan yang menurutnya akan merugikan dirinya sendiri.


"Hadiah apa yang cocok untuk Noah?" tanya Halwa kepada suaminya.


"Robot, Mom," cetus Gabino.


"Mobil-mobilan saja, Mom," cetus satunya lagi.


"Itu sih maunya kalian!" decak Halwa. Mereka semua tertawa terbahak-bahak.


"Sayang, kita beli apa untuk kado ulang tahun Noah?" tanya Halwa bingung. Karena hampir setiap bulan pasti Halwa mengirimkan paket dari Swiss untuk Noah. Entah itu jam tangan, sepatu, baju, celana, dan masih banyak barang lagi yang ia kirim untuk putra dari saudara kembarnya. Dan semua barang yang ia belikan adalah barang branded.


"Bagaimana kalau jam tangan?" tanya Reyhan.


"Dia sudah punya banyak. Hampir setiap bulan aku mengiriminya jam tangan, sepatu, baju, celana, dan lain-lain," jawab Halwa.


"Aduh, susah juga ya!" ujar suaminya.


"Apa yang tidak ia punya? Dan barang apa yang sedang ia inginkan?" tanya Reyhan. Halwa nampak berfikir keras.


"Dulu ia ingin sekali sepeda. Namun, dia takut mengutarakan keinginannya kepada sang papa," ucap Halwa.


"Iya, sudah, kita belikan sepeda saja,"


"Gabino mau!"

__ADS_1


"Gabrino juga, Dad!" pinta mereka. Sayup-sayup mereka mendengar kata sepeda. Mereka pun mengacungkan jari telunjuknya, meminta sepeda juga. Halwa hanya terkekeh geli melihat aksi kedua jagoannya.


"Baiklah. Ayo kita pilih sepeda dulu untuk kakak Noah. Nanti baru kita pilih sepeda untuk kalian," ucap Reyhan kepada si kembar.


"Hore, hore," teriak mereka senang.


Tiga sepeda ukuran berbeda sudah Reyhan pesan. Dan sepeda untuk Noah sudah di bungkus rapi, untuk kado ulangtahunnya. Dan pemilik toko siap akan mengirimkan ke alamat yang sudah Reyhan berikan.


"Jangan lupa, waktunya sore. Harus tepat, jangan sampai telat ya, Pak!" ucap Reyhan.


"Beres, Pak. Saya akan mengirimkan sesuai dengan alamat dan waktunya," jawab pemilik toko.


"Dan yang kedua sepeda kecil ini, Bapak kirimkan ke alamat rumah saya. Jangan sampai salah!"


"Siap, Pak. Bapak bisa mengandalkan kemampuan pegawai kami mengirimkan barang ke pelanggan. Jika terjadi kerusakan atau kesalahan. Saya sebagai pemilik toko yang akan menggantinya seratus persen," ucap Pemilik toko.


"Okey, terimakasih banyak," ucap Reyhan, "Kami permisi dulu," pamitnya.


Keluar dari toko sepeda, kedua buah hatinya ingin bermain dulu di mall. Reyhan tidak bisa menolak keinginan mereka. Reyhan pun mengajak kedua buah hatinya ke Timezone, guna menyenangkan keduanya.


Mereka bersorak-sorai bahagia, momen yang selama ini belum pernah mereka rasakan bersama sang Daddy.


Halwa duduk di bangku yang kosong menunggui anak dan suaminya bermain di sana. Sambil duduk, dia memainkan ponsel pintarnya mencari informasi mengetahui perkembangan bisnisnya di Belanda.


Tidak ada kendala dan masalah. Semuanya aman terkendali. Tidak sia-sia dia menyuruh Adam untuk kembali ke Belanda. Kecerdasan Adam memang tidak diragukan lagi.


Selesai bermain mereka kembali dalam keadaan berkeringat dan nafas yang tersengal-sengal. Membuat Halwa menggelengkan kepalanya.


"Astaga, kalian bermain atau mandi sih? Kenapa baju kalian bisa basah?" sungut Halwa.


"Kami berkeringat Mommy, lihat nih!" salah satu tangan Gabrino menyeka keringatnya dan menempelkan ke tangan sang Mommy.


"Gabrino, jorok!" kesal Halwa, mengelap tangannya dengan tisu. Suaminya terkekeh geli melihat wajah cemberut istrinya.


"Sayang, kenapa kau malah tertawa? Kau senang ya kalau aku menderita?" manyunnya.


"Habisnya kau sangat menggemaskan jika manyun seperti itu," gelaknya.


"Ish, anak sama ayah sama saja!" sungutnya. Mereka bertiga malah tertawa terbahak bahak. Sengaja memeluk Mommy nya dengan tubuh penuh dengan keringat.

__ADS_1


"Euh, menjijikkan,"


to be continued.....


__ADS_2