
Mereka bertiga menikmati makan malamnya dengan perasaan senang. Apalagi Reyhan, berkali-kali dia mengulas senyum melihat wanita di depannya.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apakah ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Halwa, dengan makanan penuh di mulutnya. Reyhan terkekeh geli.
"Tidak, Aku senang bisa melihatmu ceria kembali," ucapnya.
"Hah, kau sangat senang hanya melihat wajahku?" heran Halwa.
"Iya. Tapi, bukan itu saja. Aku senang karena kau sangat cantik," pujinya. Halwa tersipu malu mendengar pujian Reyhan.
"Kau tidak mencoba merayuku kan?" tanya Halwa.
"Apakah aku seperti orang yang sedang merayu?" goda Reyhan. Halwa terkekeh geli.
Selesai makan malam, tiba-tiba saja Noah tertidur di sofa. Seharian bermain dengan Reyhan, dia terlihat kelelahan.
"Aduh, Kenapa Noah harus tertidur sekarang sih?" gerutunya.
"Bermalam saja disini!" suruh Reyhan. Halwa mengernyitkan alisnya.
"Kau tenang saja, Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku juga tidak akan memakan dirimu. Karena aku bukan kanibal," ujarnya sambil terkekeh. "Kau bisa gunakan kamarku di sana. Dan aku akan tidur di kamar atas," ucapnya sambil menunjuk kamar paling ujung. Halwa nampak berfikir. "Apakah kau tidak merasa kasihan. Noah terlihat kelelahan," imbuhnya lagi.
"Baiklah. Tapi, kau tidak akan macam-macam kan?" ucap Halwa menatap tajam ke arah Reyhan.
"Tidak, Aku janji. Paling aku hanya akan mencium mu," ucapnya sambil terkekeh. Halwa membulatkan matanya.
Reyhan membantu Halwa memindahkan tubuh Noah ke tempat tidur. Setelah makan malam, Noah tertidur dengan pulas. Bahkan saat dipindahkan saja, dia masih terpejam pulas.
"Huft," Halwa menghela nafasnya kasar.
"Aku akan membawa Noah ke Belanda," ucap Halwa tiba-tiba.
DEGH .....
"Kenapa?" tanya Reyhan.
"Karena tempatku di sana. Rumahku juga di sana. Aku harus kembali ke sana," ujarnya. "Aku sudah terlalu lama berada di Indonesia. Dan waktunya aku harus kembali ke sana," imbuhnya lagi.
"Apa tidak bisakah kau disini? Dan menetap di sini?" tanya Reyhan.
"Tidak," Halwa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Memang Halwa harus kembali ke Belanda. Karena sudah terlalu lama dia meninggalkan bisnisnya di sana. Masih banyak nasib para karyawannya bergantung kepada-nya.
Reyhan nampak tidak suka mendengar penjelasan dari Halwa. Karena memang hatinya sudah condong kepada wanita di depannya.
Keesokan paginya
Halwa pulang pagi-pagi sekali. Dia berpamitan kepada Reyhan dan mengucapkan banyak terimakasih.
"Jangan lupa nanti malam dandan yang cantik," bisiknya tepat di telinga Halwa.
"Ish, Kau ini," cebiknya. "Baiklah, aku akan keluar dari rumah jam tujuh malam," ucapnya.
"Aku akan menjemputmu!" ucapnya lagi.
Halwa pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Apartemennya. Dia menyuruh Noah untuk bersiap-siap ke Sekolah. Sebelum ke Sekolah, dia menyiapkan sarapan Noah terlebih dahulu. Biasanya, Noah akan sarapan dengan sereal dan susu.
Halwa meminta tolong kepada Adam untuk mengantarkan Noah ke Sekolah, dan menunggunya sampai selesai belajar.
Sedangkan dirinya akan pergi ke butik untuk membeli baju. Dia sudah bersiap-siap akan pergi ke butik. Dia menjalankan mobilnya meninggalkan Apartemen.
Sampai di butik, dia disambut baik oleh pemilik butik. Sebagian besar baju-baju di sini harganya sangat fantastik. Hanya orang-orang kaya saja yang mampu membelinya.
Halwa memilih-milih baju yang sesuai dengan seleranya. Banyak sekali baju yang sangat bagus dan indah. Namun dia harus memilih satu diantaranya.
Pukul tujuh tepat, Reyhan sudah menunggu di depan Apartemennya. Sedangkan Noah, sengaja dia titipkan kepada Asisten Adam. Dia keluar dari Apartemen, Reyhan nampak tertegun melihat penampilan Halwa yang sangat berbeda.
"Selamat malam, Rey. Maaf, Apakah aku terlambat?" tanya Halwa kepada Reyhan. Reyhan masih menatapnya tanpa berkedip.
"Rey, Apakah aku terlambat?" tanyanya sambil mencubit kecil tangan Reyhan.
"Auw," pekik Reyhan.
"Tiiiidak. Kau cantik sekali," puji Raihan.
"Terima kasih banyak atas pujianmu," jawab Halwa.
Mereka pun berangkat menuju tempat yang sudah disiapkan Reyhan untuk wanita di depannya. Tidak menunggu waktu yang lama, mereka sudah sampai di tempat yang sangat indah. Reyhan memilih meja di dekat kolam renang. Dengan banyak bunga dan lilin, juga sebuah panggung kecil, dimana di sana ada seorang pianis yang sedang memainkan lagu yang sangat romantis. Menambah keromantisan tempat tersebut.
Reyhan mempersilahkan wanitanya untuk duduk, kemudian barulah dirinya duduk tepat di depan wanita pujaan hatinya.
__ADS_1
Dua orang pelayan menyajikan menu istimewa, menu unggulan dari Restaurant tersebut. Pelayan yang satu lagi menyiapkan dua orange juice dan desert yang sangat lezat.
Mereka menikmati makanannya dengan didampingi alunan musik romantis. Kemudian seorang pemain biola menggesekkan biolanya, memainkan lagu romantis.
Reyhan mengajak Halwa untuk berdansa dengannya. Awalnya Halwa menolak karena tidak bisa berdansa. Namun, Reyhan memaksanya. Akhirnya Halwa menurut juga.
Mereka berdansa, menikmati alunan musik. Tubuh mereka semakin dekat, Halwa bisa merasakan hembusan nafas Reyhan. Didalam hati, dia mengagumi ketampanan pria yang berdiri di depannya. Tiba-tiba saja detak jantungnya berdegup dengan kencang. Seakan-akan jantungnya akan melompat dari tempatnya.
"Apakah kau lelah?" tanya Reyhan di telinga Halwa. Halwa mengangguk, kakinya memang lelah. Kemudian Reyhan kembali mengajak Halwa duduk.
"Rey, Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Apakah kau mau menjawab pertanyaanku?" tanya Halwa.
"Mau bertanya apa?"
"Apakah kau menyukai Salwa?"
"Kenapa kau menanyakan itu?"
"Karena aku bisa melihatnya di matamu?" ucap Halwa. "Kau begitu peduli dengan Salwa dan Noah,"
"Kau ingin mendengarkan penjelasanku?" tanya Reyhan.
"He'em," Halwa menganggukkan kepalanya.
"Salwa adalah cinta pertamaku. Namun, aku tidak berani untuk mengungkapkannya," jelasnya. "Hingga tiba-tiba saja dia menghilang, Aku merasa kehilangan dirinya. Dan aku sangat bahagia dia kembali. Dan aku pikir kau adalah dia," jelasnya lagi.
"Apakah di hatimu masih ada perasaan untuknya?"
"Dia akan selalu ada di hatiku. Tetapi sebagai seorang sahabat. Karena, dihatinya, sejak dulu hanya ada Dimas, bukan aku," jawabnya lagi. "Dan aku tidak bisa memaksakan kemauanku kepadanya. Karena cinta tidak bisa dipaksakan,"
Halwa tersenyum mendengar kata-kata Reyhan. Ternyata Reyhan adalah pria yang tidak suka memaksakan kehendaknya. Dia sangat lembut dalam memperlakukan wanita.
"Apakah kau jadi kembali ke Belanda?" tanya Reyhan tiba-tiba.
"Tentu saja. Aku sedang mempersiapkannya," ujarnya. Tiba-tiba saja, mood Reyhan berubah. Dia menjadi lebih pendiam dari biasanya. Halwa merasa sangat aneh dibuatnya.
"Kenapa? Kok diam?" tanya Halwa.
"Tidak apa-apa," jawab Reyhan. "Kapan kau akan pulang?"
"Mungkin satu Minggu lagi," jawabnya.
__ADS_1
Hari semakin larut, Reyhan pun mengajak Halwa untuk pulang. Di sepanjang perjalanan Reyhan hanya terdiam. Dia tidak mengatakan apapun, dan bertanya apapun kepada Halwa.
to be continued....