
Dimas memandang kepergian Maya dari jendela. Kemudian dia tersenyum bahagia. Saat hendak membalikkan badannya, tiba-tiba dia tersentak karena mamanya sudah berdiri dibelakang.
"Mama?" kaget Dimas.
"Syukurlah, Dimas sudah mengingat bahwa aku ibunya," batin Hilda. "Apa yang kamu lakukan di jendela, Sayang?" tanya Hilda sambil tersenyum senang.
"Ah, tidak. Aku hanya melihat pemandangan," jawab Dimas.
"Pemandangan?" Hilda menoleh ke arah jendela, tidak ada siapapun di sana. Tapi, hatinya sangat yakin bahwa putranya sedang memandang kepergian Maya. Hilda tersenyum. Kali ini dia tidak ingin mengekang keinginan putranya. Dia tidak mau melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya.
"Sudah waktunya beristirahat. Mandilah terlebih dahulu, setelah itu kamu beristirahat! Sebentar lagi jam makan malam!" suruh Hilda.
"Baik, Ma," jawabnya. Dimas melangkahkan kakinya menuju kamar. Dia langsung menyambar handuk yang berada di gantungan baju, lalu, dia langsung merendamkan tubuhnya di bathtub.
Dalam waktu satu jam, Dimas menyelesaikan mandinya. Tiba-tiba dia teringat dengan Noah. Dia begitu merindukan wajah putranya. Dia membuka dompetnya, dan mengeluarkan foto Noah yang terpasang di sana. Dia tersenyum saat memandang foto itu.
"Papa kangen, Nak! Bagaimana kabarmu? Apakah kau bahagia bersama aunty Halwa?" tanya Dimas. Dia berdialog dengan dirinya sendiri.
Matanya beralih ke sebuah foto wanita. Dia langsung meremas foto itu. Dia sangat membenci wanita yang ada di foto itu. Wanita yang sudah membuat keluarganya hancur berantakan. Bahkan dia harus kehilangan orang yang sangat penting di dalam hidupnya.
Tok .... Tok ..... Tok
"Dimas, kamu tidur?" tanya Hilda, mengetuk pintu kamar putranya. Ketukan pintu dari luar membuat lamunannya buyar seketika.
"Masuk, Ma!" jawabnya.
"Apakah kamu tertidur?" tanya Hilda.
"Tidak, Ma. Kenapa memang?"
"Ayo, kita makan malam terlebih dahulu. Para pelayan sudah menyiapkan semuanya. Dan mereka memasak makanan kesukaanmu!" jawab Hilda.
"Baiklah, Ayo kita makan malam," ujarnya.
Ibu dan anak itu melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Hilda menarik kursi untuk anaknya duduk. Barulah dirinya mendudukkan pantatnya di kursi.
Hilda menyendokkan nasi ke piring putranya, sekaligus dengan lauk pauknya. Mereka menikmati makanannya dalam diam. Hilda nampak putranya makan dengan lahap.
"Mau tambah lagi nasinya? Atau lauknya?" tawar Hilda.
__ADS_1
"Dimas sudah kenyang, Ma!" jawab Dimas.
"Ehm, Bagaimana aku mengatakan kepada Dimas? Dia belum sembuh benar. Jika aku mengatakan Perusahaan dalam masalah besar, aku takut akan menjadi beban pikiran buatnya," batin Hilda terus memandangi putranya yang sangat lahap menikmati makanan.
"Mama tidak makan?" tanya Dimas, karena dia merasa dirinya diperhatikan oleh sang Mama.
"Iya, ini Mama makan kok," jawab Dimas. "Kamu mau nambah lagi?" tanya Hilda.
"Nggak, Ma, sudah cukup. Dimas sudah kenyang," jawabnya. "Oya, Ma. Bagaimana kabar Anita?" tanya Dimas tiba-tiba, membuat Hilda tersentak.
"Sudah, tidak perlu kau tanyakan wanita jahat itu!" ucap Hilda, dia sangat tidak senang jika ada yang menyebutkan nama wanita jahat itu.
"Setelah aku benar-benar sembuh. Aku ingin menemuinya, Ma!" ucap Dimas.
"Buat apa, Nak? Dia wanita yang sangat jahat!"
"Aku tahu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya," jawab Dimas.
"Tunggu sampai kamu sembuh. Barulah kamu bisa menemuinya. Nanti biar Mama yang akan mengantarkan mu ke sana!" ucap Hilda.
"Terimakasih banyak, Ma. Mama sudah bersabar merawat Dimas," ucap Dimas, membuat Hilda terharu.
BELANDA
Halwa keluar dengan penampilan yang sangat cantik. Reyhan saja sampai termangu dibuatnya. Maniknya tidak berhenti menatap wanita yang sedang berjalan ke arahnya.
Halwa berjalan dengan sangat anggun ke arah Reyhan. Dia tersenyum sangat manis, membuat Reyhan tidak berhenti menatapnya.
"Selamat malam," sapa Halwa kepada Reyhan, membuat fantasinya buyar seketika.
"Eh, selamat malam," jawab Reyhan. "Kamu cantik sekali malam ini," pujinya.
"Terima kasih banyak," jawab Halwa.
"Ternyata kau tampan juga setelah mencukur rambutmu," puji Halwa sambil terkekeh.
"Aku ingin tampil beda," jawabnya.
__ADS_1
Penampilan Reyhan memang berbeda dari yang lain, Karena Reyhan selalu berpenampilan apa adanya. Rambutnya gondrong sebahu. Sekarang dia nampak sangat rapi dan tampan. Sebelum kesini, sepertinya dia baru saja memangkas rambut.
Mereka menaiki mobil yang sengaja Reyhan sewa selama tinggal di Belanda. Mobil melesat dengan kecepatan penuh menuju tempat yang sudah Reyhan booking khusus untuk wanita yang spesial.
Selama lima belas menit, mereka sampai di sebuah dermaga. Reyhan menggamit tangan bidadarinya, mengajak ke sebuah kapal pesiar yang berhenti di dermaga itu. Kapal pesiar yang sangat mewah dan indah. Dengan kelap-kelip lampu yang membuat suasana semakin romantis.
"Wah, indah sekali Rey. Apakah kau yang mempersiapkan ini semua?" tanya Halwa heran.
"Kau suka?"
"Tentu saja aku suka. Ini sangat indah, aku menyukainya," ucap Halwa sangat senang.
"Ayo aku tunjukkan keindahan yang lainnya!" ajak Reyhan menggandeng tangan Halwa.
Mereka berdua memasuki kapal selam itu. Ternyata Reyhan sudah menyiapkan segala sesuatunya. Makan malam romantis di atas kapal. Reyhan mengajak Halwa duduk, dan menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh dua pelayan yang entah datangnya dari mana.
"Silahkan nikmati hidangannya!" ucap Reyhan mempersilahkan Halwa untuk menikmati hidangannya.
"Terimakasih banyak," jawab Halwa sangat manis.
Halwa memotong steak di depannya, dan mencicipinya. Dan rasanya memang sangat enak, dia menikmati makanan itu dengan pemandangan laut yang sangat indah.
"Bagaimana? Enak?" tanya Reyhan kepada Halwa.
"Sangat enak," jawab Halwa tersenyum bahagia. Ini adalah pertama baginya, diperlakukan istimewa oleh seorang pria. Dia tidak pernah sekalipun berhubungan dengan seorang pria. Pasalnya, hari-harinya ia habiskan untuk bekerja dan bekerja. Jadi, dia tidak sempat untuk memikirkan hal-hal seperti itu.
"Sebenarnya aku mengajakmu ke sini karena aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu," ucap Reyhan tiba-tiba.
"Mengatakan apa?" tanya Halwa. Reyhan mengeluarkan sebuah cincin berlian, dan berlutut di depan wanitanya.
"Will you marry me?" ucapnya. Membuat Halwa mematung di tempat duduknya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Ini adalah pertama kalinya dia jatuh cinta, dan ini juga pertama kalinya dia ditembak oleh seorang pria. Tubuhnya membeku, jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Seakan-akan jantungnya akan meloncat keluar. Dia memegangi dadanya, kemudian pipinya.
Reyhan kembali mengulangi kata-katanya. Menanyakan hal yang sama kepadanya.
"Will you marry me?" tanya Reyhan. Kembali dia membeku, dia bingung harus mengatakan apa.
to be continued.....
Kira-kira, Apakah Halwa akan menerima lamaran Reyhan???????
__ADS_1
Baca terus kelanjutannya, dengan memberikan Like, Favorit, rate bintang lima, bunga dan Vote nya. Dukung karya ini dengan memberikan like dan Favorit....