Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 96 : Bertemu Mammer ( Mamih Mertua )


__ADS_3

Reyhan begitu bahagia kala melihat kedua putranya sedang tidur dengan pulas. Dengan lucunya mereka tertidur. Gabrino dengan gayanya menghisap ibu jari, hingga mengeluarkan bunyi yang nyaring, sedangkan Gabino sangat suka memeluk bantal guling. Jika dia tidak memeluk bantal guling, semalaman tidak mau menutup matanya.


Reyhan tidak berhenti menatap mereka, sesekali dia tersenyum melihat tingkah lucu kedua buah hatinya yang sedang terlelap tidur. Tangannya tidak berhenti mengelus puncak kepala si kembar.


"Selama enam tahun, aku sudah kehilangan banyak momen berharga dengan kedua buah hatiku," gumamnya.


"Kenapa?" tanya istrinya tiba-tiba masuk ke kamar sambil membawa baju-baju yang sudah dirapihkan.


"Ah, tidak. Aku cuma sedang berfikir saja. Selama ini aku sudah banyak kehilangan momen berharga bersama mereka," ujarnya, "Mamih pasti sangat bahagia melihat cucu-cucunya,"


DEGH ...


Entah kenapa hatinya tidak bahagia mendengar ucapan terakhir suaminya. Halwa nampak terdiam, dia mencerna kata-kata tersebut. Reyhan bisa melihat ada rasa tidak suka di raut muka istrinya kepada sang Mamih. Nampak dengan jelas mukanya tiba-tiba sangat masam.


"Aku tidak akan memaksa jika Kau belum ingin menemui Mamih," ucapnya tiba-tiba, hingga membuat lamunannya buyar.


"Bukan, bukan seperti itu! Aku hanya takut, Mamih tidak senang dengan kedatanganku. Aku takut Mamih akan kembali mengusirku," jawabnya. Reyhan bisa mengerti ketakutan sang istri.


"Kemarilah, Sayang!" Reyhan menepuk tempat kosong disampingnya. Halwa mendekat ke arah sang suami. Reyhan menarik pinggang istrinya agar duduk di pangkuannya.


"Mamih sudah berubah. Dia tidak seperti yang dulu," terangnya, "Saat aku sembuh dari amnesia, aku mengetahui semua rencana Mamih. Salah satunya, rencana Mamih yang ingin memisahkan kita berdua, dan tentu saja aku sangat marah. Selama beberapa tahun, aku tidak pulang ke rumah, tidak melihat ataupun menengoknya. Dan, pelayan mengatakan bahwa Mamih sakit-sakitan. Aku pun datang melihat kondisi Mamih," jelas Reyhan. Reyhan menatap manik istrinya dengan penuh cinta. Dia membenarkan rambut sang istri yang menutupi wajah ayunya.


"Dia sudah berubah, Sayang. Dia meminta maaf atas semua kesalahannya. Dia sangat menyesali perbuatannya. Kamu mau kan bertemu dengannya?" mohon Reyhan kepada istrinya. Halwa tersenyum, dia meletakkan kepalanya di dada bidang sang suami. Meraba lembut dada bidang itu.


"Jika memang begitu, aku mau menemuinya. Selama dia mau menerimaku dan anak-anak kita," ucap Halwa.


"Tentu saja, Sayang. Mamih pasti sangat bahagia, setelah mengetahui bahwa dia memiliki cucu. Apalagi kalau dia tahu kalau cucunya kembar," ucap Reyhan terkekeh.


"Benarkah?" Halwa menengadahkan kepalanya.


"He'em," jawab Reyhan, "Percaya deh sama aku. Mamih pasti akan menyayangimu dan memanjakan anak-anak kita," tutur Reyhan. Halwa hanya menghela nafasnya panjang. Bukannya tidak suka, Halwa masih trauma dengan kejadian enam tahun yang lalu.


🍀🍀🍀🍀🍀


Satu Minggu Berlalu


Semilir angin berhembus kencang menerpa wajah ayu wanita itu. Dari kejauhan dia melihat Reyhan sedang mengajari kedua buah hatinya berenang. Mereka terlihat sangat bersemangat.


Reyhan sudah bisa menggerakkan bahu dan tangannya dengan leluasa. Dan Dokter menyarankan agar suaminya sesering mungkin melakukan gerakan. Itu bertujuan supaya syaraf-syaraf di bagian tangan dan punggung tidak kaku.


Halwa membawa minuman dan cemilan untuk orang-orang yang sangat disayanginya. Melihat kedatangan sang Mommy, mereka langsung keluar dari kolam renang.


"Mommy?" teriak mereka.

__ADS_1


"Ayo, keluarlah dulu! Nih, Mommy bawakan jus jeruk dan cemilan. Kalian pasti suka!" ucap Mommynya.


"Hore, Hore!" mereka berebut makanan dan minuman yang dibawakan oleh Mommynya. Reyhan terkekeh geli melihat aksi lucu putranya.


"Sayang, Nih!" Halwa menyerahkan jus jeruk kepada suaminya.


"Heum, seger banget!"


"Mommy mau ke Supermarket, Apakah kalian mau ikut?" tanya Halwa.


"Kami ikut Mommy," jawab mereka secara serentak.


"Kalau begitu, Cepat mandi dan bilas badan kalian!" ucap Mommynya.


"Okey, Mom!" senang mereka berlarian ke kamar mandi.


"Oya, Sayang, Bagaimana kalau sore ini kita ke rumah Mamih?" tanya suaminya.


"Ehm, Bagaimana ya? Apakah harus sore ini?" tanya Halwa.


"Iya, Sayang. Aku ingin secepatnya memberitahukan kabar gembira ini kepada Mamih," ucap Reyhan.


"Baiklah," jawab Halwa, "Nanti aku akan memberitahukan kepada Gabrino dan Gabino!"


Reyhan mencium bibir istrinya dengan lembut, dan ********** gemas. Halwa mendorong tubuh kekar itu.


"Ish, Apa yang kamu lakukan?" marah Halwa, "Kamu membuat bibir seksiku jadi bengkak!" omelnya. Reyhan hanya terkekeh geli.


"Habisnya bibir kamu itu menggemaskan!" goda Reyhan.


"Ck," kesal Halwa.


"Mommy?" teriak si kembar. Mendengar teriakkan keduanya, Halwa langsung buru-buru menyusul kedua buah hatinya.


"Astaga, Sayang. Ada apa ini?" tanya Halwa kepada keduanya. Kamar mandi berantakan, busa shampoo ada dimana-mana.


"Siapa yang melakukan ini?" marah Halwa. Melihat Mommynya marah mereka saling menunjuk tidak mau disalahkan.


"Gabino nggak, Mom!" ucapnya.


"Gabrino juga nggak," elaknya.


"Lalu siapa?" Mereka tetap tidak mau mengakui.

__ADS_1


"Ada apa sih, Sayang?" tanya Reyhan tiba-tiba.


"Lihat tuh!" Halwa menunjuk kamar mandi yang seperti kapal pecah. Reyhan hanya geleng-geleng kepala.


"Sudah, Sayang. Biar aku urus semuanya! Kamu siapkan saja baju-baju mereka. Aku akan memandikan mereka!" ucap suaminya.


"Baiklah, Kalau begitu. Aku akan menyiapkan baju mereka," jawabnya.


"Hey, Boy. Ayo kita mandi!" ajak Reyhan kepada kedua buah hatinya. Reyhan menggelitik tubuh putranya, mereka berteriak kegelian, dan tertawa senang. Dengan telaten Reyhan menyabuni tubuh keduanya.



Mobil Reyhan melaju dengan kecepatan sedang. Hari ini rencananya Reyhan ingin mengajak istri dan kedua anaknya untuk menjenguk Mamihnya di Mansion.


Sebelum ke Mansion, Halwa meminta suaminya untuk mampir dulu ke toko kue. Dia membeli beberapa kue kesukaan Cynthia, itupun rekomendasi dari suaminya sendiri.


Selesai membeli kue, Reyhan kembali melajukan kendaraannya. Di sepanjang perjalanan, ke-dua putranya tidak berhenti bercanda dan menjahili satu sama lain. Membuat Halwa benar-benar pusing tujuh keliling.


Sampailah mobil mereka di depan gerbang, ada rasa takut dan gelisah di hati wanita berparas cantik itu. Reyhan menggenggam tangan istrinya dengan lembut, dan memberikan pengertian kepada sang istri.


"Tenang, Sayang! Semuanya akan baik-baik saja!" ucap suaminya.


"Daddy, ini rumah siapa?" tanya Gabino.


"Rumah Daddy," jawab Reyhan. Reyhan tahu kalau ke-dua putranya bingung.


"Kita akan bertemu Oma. Oma pasti senang bertemu dengan kalian dan Mommy," ucap Reyhan.


"Oma?"


"Apa itu Oma?" tanya Gabrino. Karena sejak mereka lahir, memang tidak pernah mengenal kata Oma, ataupun siapa Omanya.


"Grandmother," timpal Mommy nya.


"Oh, jadi kami punya Oma?" tanya Gabino.


"Iya, Sayang. Kamu senang kan?" tanya Reyhan sambil mengusap kepala mereka satu persatu.


"Iya dong, Dad. Kami punya Oma," senang Gabrino.


"Yeay, Yeay, Asyik, Gabino punya Oma!" senang Gabino. Daddy dan Mommynya tersenyum melihat tingkah menggemaskan mereka.


to be continued ....

__ADS_1


__ADS_2