Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 62 : Memulai Dari Awal


__ADS_3

Dimas mendapat surat dari Bank, bahwa banyak tagihan utang piutang yang harus dia bayarkan dalam waktu dekat ini. Belum juga gaji semua karyawan yang sempat dia tangguhkan, karena masalah dirinya yang sempat depresi. Dimas nampak tidak bersemangat saat memasuki rumah. Hilda bisa melihat itu.


"Ada apa, Nak?" tanya Hilda cemas kepada putranya. Dimas mendudukkan pantatnya di sofa, dia menghela nafasnya berat.


"Aku bangkrut, Ma. Lihatlah ini!" ucap Dimas menyerahkan surat-surat tersebut kepada Hilda, "Belum lagi investor-investor, semuanya mengundurkan diri dari Perusahaan kita. Dimas benar-benar sudah bangkrut!"


"Sebenarnya Mama sudah tahu. Tapi, Mama belum bisa memberitahukan kepada kamu, Nak. Apalagi kamu sempat depresi. Saat kamu baru sembuh pun, Mama nggak tega harus membebani pikiran kamu," jelas Hilda.


"Untuk menggaji para karyawan, Dimas harus menjual rumah Dimas, Ma. Itu pun masih kurang. Dimas harus menggunakan tabungan Dimas juga," ucapnya.


"Jika memang itu harus, lakukanlah, Nak!" ucap Hilda, "Kamu bisa tinggal


di rumah Mama,"


"Terima kasih banyak, Ma," jawabnya.


Terpaksa Dimas harus menjual rumahnya untuk membayar semua gaji para karyawan.


Dimas keluar dari rumahnya dengan menenteng banyak koper. Maya yang baru datang sangat heran melihat itu.


"Mas, mau kemana?" tanya Maya.


"Maya?"


"Mas, mau pergi?" heran Maya.


"Ceritanya panjang," jawabnya. Dimas dinyatakan sembuh oleh psikolog, karena memang keadaan Dimas berangsur membaik.


"Kalau begitu, Ayo aku antarkan!" tawar Maya.


"Terima kasih banyak. Tapi, nanti aku merepotkan mu!" jawab Dimas. Dimas juga sudah menjual semua mobilnya, termasuk mobil yang selama ini dia pakai.


"Tidak, Mas. Aku sama sekali tidak repot!" ucap Maya.


"Ayo!" Maya membuka bagasi mobil untuk menaruh beberapa koper Dimas. Dan separuhnya lagi diletakkan di kursi belakang.


Mobil Maya melaju dengan kecepatan sedang. Ditengah perjalanan, Dimas pun menceritakan semuanya. Maya mendengarkan sambil mengemudikan mobilnya.


"Kamu belok, itu rumah bercat warna putih adalah rumah Mamahku," ucap Dimas.


Maya berhenti tepat di halaman rumah Hilda. Hilda sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum. Mereka berdua keluar dari dalam mobil.


"Tante?" Maya menyalami punggung tangan Hilda.


"Kok kalian bisa bareng?" tanya Hilda merasa heran.


"Iya, Tan. Kebetulan Maya ingin ke rumah Mas Dimas. Maya ingin mengontrol keadaan Mas Dimas. Dan Maya lihat kalau Mas Dimas membawa banyak koper. Maya ajak saja!" ucapnya.

__ADS_1


"Wah, terimakasih banyak, May. Kamu memang wanita yang sangat baik," puji Hilda.


"Dim, kenapa hanya diam di sana! Suruh Maya masuk ke dalam! Ayo, masuk ke rumah Tante yang jelek ini!" ucap Hilda mempersilahkan masuk.


"Tante bisa saja!" Maya tersenyum manis.


"Silahkan masuk, Maya!" ajak Dimas.


Maya nampak mengamati rumah Hilda. Rumahnya sederhana, namun cukup bersih dan rapih. Sebagian besar rumahnya terbuat dari kayu jati yang diplistur warna coklat. Suasananya sangat adem dan nyaman, karena ditumbuhi banyak tanaman di sekitarnya. Berbagai jenis tanaman ada di sana.


"Tante suka bunga?" tanya Maya.


"Suka. Tante suka semua bunga. Dan ini semua yang menanamnya Tante,"


"Wah, Tante hebat. Sangat indah, Tan!" puji Maya, "Maya juga sangat suka bunga. Kalau ada waktu senggang, Maya juga menanamnya di pot-pot kecil,"


"Jadi, kau sangat suka bunga? Kapan-kapan kita bisa menanam bunga bersama-sama,"


"Wah, ide yang bagus, Tan,"


"Mari masuk ke dalam," ajak Hilda kepada Maya.


"Duduklah, Tante buatkan kamu kopi yang enak banget!"


"Terima kasih banyak, Tan," ucap Maya sambil tersenyum. Dimas yang baru keluar dari kamarnya, langsung duduk di ruang tamu menemani Maya.


"Bagaimana keadaan Mas Dimas? Apa ada keluhan sejauh ini?"


"Itu sudah tugas aku, Mas," jawab Maya.


"Nak Maya! Nih Tante buatin kamu kopi, Silahkan di minum dulu!" ucap Hilda yang baru keluar dari dapur.


"Wah, jadi ngerepotin," ujar Maya.


"Nggak, Kok. Ini cuma kopi saja. Silahkan di minum, Nak!" suruh Hilda.


"Terima kasih banyak, Tan," jawab Maya. Maya pun menyeruput kopi yang dibuatkan Hilda untuknya.


"Ehm, enak, Tan,"


"Nanti makan siang disini ya, Nak. Itung-itung ucapan rasa terima kasih kami,"


"Tante, itu sudah menjadi tugas saya,"


"Oya, ngomong-ngomong Nak Maya sudah menikah?" tanya Hilda terus terang.


"Belum, Tan. Saya belum memikirkan hal yang lebih jauh,"

__ADS_1


"Lho, kenapa? Nak Maya cantik, baik dan pintar. Setiap pria yang dekat dengan Nak Maya, pasti langsung jatuh cinta," ujar Hilda. Maya jadi tersipu-sipu malu mendengar pujian Hilda.


"Ah, Tante bisa saja! Banyak yang mengejar-ngejar Maya. Tapi, belum ada yang cocok di hati Maya, Tan," jawabnya.


"Memang kriteria Nak Maya seperti apa?" tanya Hilda.


"Apa ya?" Maya nampak berfikir, "Saya menginginkan pria yang mandiri, dewasa dan tentunya baik, Tan," ujar Maya.


"Apakah anak Tante salah satu kriteria, Nak Maya?" pertanyaan Hilda membuat Dimas membelalakkan matanya.


"Mama apaan sih? Kok Dimas dibawa-bawa?" cemberut Dimas.


"Lho emangnya kenapa? Toh kamu sudah bercerai dengan istri kamu. Jadi, kamu bisa melanjutkan hidup secara normal lagi," tutur Hilda.


"Tapi, Dimas masih belum memikirkan sejauh itu, Ma. Dimas ingin memulai usaha lagi dari Nol. Setelah Dimas sukses barulah Dimas mencari istri!" terangnya.


"Memangnya, Mas Dimas ingin usaha apa?" tanya Maya.


"Saya ingin membuka Cafe kecil-kecilan dulu. Modalnya tidak terlalu besar, karena memang modal saya terbatas!"


"Wah, Mas Dimas hebat dan sangat jujur. Saya benar-benar salut dengan pemikiran Mas,"


"Terimakasih, May. Jika kamu mau, kamu bisa membantu saya!" ajak Dimas.


"Membantu? Membantu dalam hal apa nih, Mas?"


"Tenang, gampang kok. Mencarikan tempat yang strategis untuk tempat tongkrongan anak muda zaman sekarang! Kamu bisa?"


"Wah, itu keahlian Maya, Mas. Mas tenang saja, Nanti Maya akan bantu Mas mencari tempat yang bagus untuk membuat Cafe," ujarnya.


"Terima kasih banyak, May,"


Ternyata lumayan lama Maya bertamu di rumah Hilda. Dan kebetulan, Maya tidak ada tugas hari ini. Banyak sekali yang diobrolkan antara Dimas dan Maya. Terutama masalah Cafe, tempat yang akan Dimas buka untuk mencari rezeki.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Maya pun berpamitan kepada Tante Hilda dan Dimas.


"Maya pulang dulu, Tan! Terima kasih sekali lagi atas suguhannya!"


"Sama-sama, Nak. Semoga usaha yang akan kalian rencanakan bisa berjalan dengan lancar,"


"Amin," ucap mereka serentak.


Maya pun masuk ke dalam mobilnya, dan mulai menjalankan mesin mobil. Setelah mobil Maya tidak terlihat, Hilda dan Dimas masuk ke dalam rumah.


"Dim, Mamah lihat Maya perempuan yang baik. Mamah suka sama dia!"


"Apaan sih, Ma! Dimas belum ingin memikirkan masalah pernikahan. Dimas ingin fokus membuka usaha dari awal. Dan Dimas yakin pasti bisa. Do'akan Dimas ya, Ma!"

__ADS_1


"Tentu saja, Nak. Mama selalu mendo'akan untuk kebahagiaan mu!" ujar Hilda.


To be continued.....


__ADS_2