Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 61 :Jalan jalan ke Menara Eiffel


__ADS_3

Reyhan memilih hotel Le Reserve sebagai tempat untuk honeymoon yang sangat romantis. Terletak di Avenue Montaigne, Paris. Rey memilih kamar yang jendelanya langsung menghadap ke Menara Eiffel, Grand Palaris, dan Monumen ikonik yang bersejarah.


Di kamarnya terdapat minibar, internet nirkabel dan teras yang berdampingan. Beberapa kamar memberikan pemandangan yang spektakuler ke arah kota. Kamarnya juga dilengkapi dengan fasilitas ketel listrik, mesin cuci piring, dan fasilitas pembuat kopi/teh secara otomatis.


"Wah, indah sekali, Rey," puji Halwa, "Lihat, dari sini kita bisa langsung melihat menara Eiffel," senang Halwa.


"Kau suka tempat ini?"


"Hem, aku suka. Apapun yang kau berikan, aku suka," ujarnya.


"Aku senang jika kau suka. Aku harap apapun yang nantinya akan aku berikan kepadamu kau mau menerimanya," tutur Reyhan. Karena Reyhan berfikir kalau istrinya adalah seorang pemilik Perusahaan besar di Belanda, pastinya apapun yang diinginkan oleh istrinya pasti ada dan juga tersedia.


"Kau terlalu merendah, Rey. Aku memang seorang yang berkuasa di Perusahaan, tapi, di dalam rumah tangga justru aku yang harus tunduk kepada penguasaku, yaitu kau. Suamiku, tulang rusukku," ujarnya tersenyum.


"Sayang, Aku bukan yang terbaik namun aku akan selalu belajar memberikan yang terbaik dan untuk jadi yang terbaik untukmu," ucap Reyhan sambil mengecup kening istrinya. Reyhan menatap manik istrinya lekat, dia mencium bibir istrinya yang berwarna merah delima.


"Sungguh sangat cantik," pujinya, membuat Halwa malu, membuat pipinya merah merona.


"Mandilah dulu, Sayang. Nanti setelah mandi, aku akan mengajakmu jalan-jalan," suruh Reyhan.


"Oke," jawab Halwa beranjak dari tempat duduknya. Namun pinggangnya ditarik oleh Reyhan, membuat dia jatuh tepat di pangkuan suaminya.


"Panggil Sayang. Aku sekarang suamimu!" protes Reyhan.


"Tapi ,,,,, !"


"Baiklah, Sayang," ucap Halwa menahan malu, "Sekarang, bisakah kau melepaskan pelukanmu, Sayang!"


"He'em. Begitu dong, rasanya lebih enak didengarnya," cakap suaminya.


"Aku mandi dulu!" ucap Halwa agak canggung.


Setelah mandi, seperti yang Reyhan janjikan, dia mengajak istrinya berjalan-jalan sore menikmati keindahan menara Eiffel lebih dekat. Halwa begitu bahagia, sesekali dia memotret dirinya dengan ikon menara Eiffel, dia juga menarik tangan suaminya agar mau berfoto dengannya.


"Ayo, kita ke lantai atas!" ajak Reyhan.


"Eh, Tunggu, Sayang. Kita berfoto dulu disini, baru kita ke atas," pinta Halwa manja.


"Baiklah. Ambilah foto sebanyak yang kau suka!" ujar suaminya. Halwa hanya tersenyum geli. Setelah puas berfoto ria, barulah sang istri mengajak naik ke lantai atas. Pasalnya, dia begitu penasaran dengan puncak Eiffel yang tersohor itu.

__ADS_1


Reyhan menggandeng tangan istrinya menaiki lift. Di setiap lift, ada petugas yang menjaga. Dan mereka harus merogoh kocek untuk bisa sampai ke atas.


Sekarang mereka berdiri di atas menara yang paling atas. Tak henti-hentinya Halwa mengagumi keindahan kota dari atas menara.


"Sayang, Ayo kita berfoto!" ajak Halwa lagi.


"Astaga, ternyata istriku ini narsis juga yah?" goda Reyhan.


"Narsis? Apa itu narsis?" tanya Halwa.


"Apa yah? Pokoknya seperti kamu lah. Susah dijelaskan!" ucap Reyhan.


"Ayo, Sayang, kita foto di sana! Kamu belum berfoto di sana kan?"


"Okey, Sayang!"


CEKREEK ....


CEKREEK ....


Banyak gambar yang Halwa ambil, dia begitu bahagia. Ini adalah pertama kalinya dia datang ke Paris. Bukannya dia tidak mampu membayar biaya transportasi ke Paris, tapi, dia terlalu sibuk sekedar untuk berjalan-jalan.


"Capek?" tanya Reyhan.


"Ayo, kita ke lantai satu! Sepertinya ada Restaurant di sana. Aku sangat lapar," ujarnya, menunjuk sebuah Restoran.


"Baiklah," jawab Halwa.


Setelah menaiki lift, tibalah di Restaurant bercat pink dari depan. Namun jika sudah masuk ke dalam, catnya berwarna kecoklatan. Karena ruangan berwarna gelap dengan lampu berwarna kuning nan indah.


Saat memasuki Restaurant kesan mewah terlihat. Puluhan pengunjung datang menunggu pesanan makanan datang. Sambil menunggu pesanan datang, seorang fotografer datang untuk mendokumentasikan foto. Reyhan mengajak istrinya untuk berfoto sambil berpelukan mesra. Kemudian mereka menyimpan foto tersebut untuk di bawa pulang sebagai kenangan.


Sesaat kemudian seorang pelayan datang dengan membawa nampan berisi makanan, yaitu appetizer hati sapi berbentuk persegi panjang dan salmon panggang dengan bumbu keju meleleh dengan daun bawang. Daun bawang disajikan dalam bentuk seperti telur dadar kecil. Semua menu itu disajikan dengan roti kering. Dan untuk dessert ada cheese cake yang lembut di mulut dengan secangkir kopi hitam. Reyhan dan istrinya sangat menikmati makanan tersebut.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, Halwa terlihat sangat kelelahan, dia pun meminta kepada suaminya untuk kembali ke hotel.


Sampai di rumah, Halwa langsung membersihkan tubuhnya, dan karena ini adalah malam honey moon pertama buat mereka, Halwa ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk sang suami.


Dia memakai pakaian tidur yang sangat seksi berwarna hitam. Menampilkan seluruh bagian lekuk tubuhnya, membuat lelaki manapun pasti akan tergoda dengan melihat keindahan tubuh istrinya.

__ADS_1


"Sayang, kau cantik sekali," puji suaminya.


"Cepatlah bersih-bersih! Aku tunggu di tempat tidur," ucap Halwa.


"Oke, Sayang," ucap Reyhan dengan bersemangat.


Malam yang panjang mereka lalui bersama di kamar hotel dengan suasana yang berbeda dan sangat romantis. Reyhan memperlakukan istrinya dengan sangat lembut dan hati-hati, membuat Halwa merasa sangat nyaman dan nikmat.


Setiap sentuhan yang diberikan Reyhan, membuat tubuhnya bergetar hebat. Sudah tidak ada rasa canggung di antara mereka, yang ada hanya rasa kenikmatan yang luar biasa.


Dalam melakukan penyatuan, Reyhan juga sangat berhati-hati. Dia tidak mau sampai menyakiti sang istri. Hingga pagi hari mereka melakukan aktivitas panasnya. Tubuh Reyhan seakan-akan menuntut lebih dan lebih. Suaminya terus berpacu tanpa lelah. Walaupun lelah Halwa sangat menikmatinya.


Keesokkan paginya, Reyhan sudah bangun. Dia sudah memesan makanan untuk mereka berdua. Dengan lembut Rey, membangunkan sang istri untuk sarapan. Halwa yang merasa tubuhnya pegal-pegal, dia pun enggan untuk beranjak. Reyhan tersenyum geli, ia pun membantu istrinya untuk membersihkan tubuhnya.


"Sudah selesai!" Rey baru saja memakaikan baju di tubuh istrinya.


"Terima kasih, Sayang!" ucap Halwa.


"Ayo, kita sarapan!" ajaknya.


"Sayang, kamu sudah memesan makanan? Kok nggak bangunin aku?" tanya Halwa.


"Habisnya, kamu tidurnya pulas benget!" ujarnya.


"Ini kan.juga gara-gara kamu!" manyun nya, "Seluruh tubuhku sakit dan pegal-pegal," jawabnya.


"Tapi, enakkan?" tanyanya.


"Ih, Apaan sih? Mesum?" cemberut istrinya. Reyhan tertawa terbahak-bahak. Halwa mengamati dada bidang dan perut kotak-kotak Reyhan. Karena sekarang ini, suaminya bertelanjang dada, hanya memakai celana boxer nya.


"Kenapa tidak memakai baju?"


"Aku mau mandi. Kenapa? Mau minta lagi?" goda Reyhan.


"Jangan mesum deh! Tubuhku sangat lelah, Sayang. Beri aku waktu!" ucapnya.


"Oke. Aku berikan waktu setengah hari untuk beristirahat. Nanti malam kita lanjut lagi!" ucap Reyhan terkekeh.


"Ish, itu mau kamu, Sayang! Ogah!" manyunnya.

__ADS_1


"He .... He .... He."


to be continued.....


__ADS_2