
Tok ... Tok ... Tok
Suara pintu kamarnya diketuk. Halwa membukanya secara perlahan. Ternyata yang mengetuk pintu kamarnya adalah Reyhan.
"Tuan?"
"Aku datang kesini membawa kotak P3K," ucapnya. Dia menyerahkan kotak P3K tersebut kepadanya. Halwa duduk di kasurnya berusaha untuk mengobati lukanya sendiri, sedangkan Reyhan berdiri tepat di pintu.
Halwa merasa agak kesulitan untuk mengobati lukanya sendiri. Reyhan mendekati istrinya, dan membantu untuk mengobati luka tersebut. Halwa mengulas senyum kala sang suami mengobati lukanya.
"Selesai," ucapnya.
"Terima kasih banyak, Tuan!" jawabnya.
Reyhan nampak memperhatikan cincin yang dipakai oleh Halwa. Sangat mirip dengan miliknya, hanya bedanya cincin milik Halwa ada berlian indah di tengahnya.
"Kenapa cincinnya sangat selaras dengan yang aku miliki?" batin Reyhan, namun dia menepis pikiran anehnya.
"Maafkan atas sikap Mamih. Biasanya dia tidak pernah bersikap seperti itu kepada pelayan. Tapi, kali ini sudah sangat keterlaluan!" ucap Reyhan.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya sudah memaafkannya!" ucap Halwa sambil tersenyum. Reyhan menatap manik itu. Ada rasa nyaman jika menatap manik tersebut, entah perasaan apa yang sekarang ini dia rasakan.
"Baiklah, sudah malam. Kau harus beristirahat!"
"Iya." Reyhan pun kembali ke kamarnya.
Keesokan Paginya
"HOEK ... HOEK ... HOEK!" Halwa memuntahkan semua isi perutnya hingga cairan kuning yang rasanya sangat pahit ikut keluar. Halwa melihat tanggalan, sudah empat Minggu lamanya dia telat datang bulan. Dia merasa sangat khawatir.
"Aku harus ke Dokter. Aku merasa perutku tidak nyaman!" ucap Halwa memegangi perutnya sendiri.
Dia pun meminta izin lagi kepada Cynthia untuk pergi ke Dokter. Cynthia melihat kalau wajah Halwa memang terlihat sedikit pucat. Dia tidak mau terjadi sesuatu kepada wanita itu. Cynthia pun memperbolehkannya pergi.
Dengan taksi, Halwa sampai di Rumah Sakit. Dia harus mengantri terlebih dahulu untuk melakukan pemeriksaan. Kini gilirannya diperiksa. Selama lima belas menit, Halwa diperiksa oleh Dokter.
"Selamat ya, Bu. Ibu sedang mengandung. Dan Ibu bisa lihat, janinnya sudah terlihat!" jelas Dokter menunjukkan ke layar monitor.
"Apa? Saya hamil, Dok?" antara senang dan sedih dia berada diantaranya. Senang karena akan mendapatkan seorang anak, dan sedih karena suaminya tidak kunjung sembuh. Apakah anaknya akan terlahir tanpa sosok seorang ayah. Itulah yang sekarang dia pikirkan.
__ADS_1
Halwa melipat surat kehamilannya dari Rumah Sakit. Dia masukan ke dalam tas. Kemudian Halwa kembali ke rumah besar itu.
Suara keributan di Mansion, membuat Halwa harus bergegas masuk ke dalam. Semua pelayan sedang kalang kabut mencari barang majikannya yang hilang. Halwa sempat heran dan terkejut.
"Bi Sum ada apa?" tanya Halwa bingung.
"Kalung berlian milik Nyonya hilang!" ucap Bi Sum.
"Kalung berlian? Memangnya Nyonya menyimpannya di mana?" heran Halwa.
Cynthia menuruni tangga, sedangkan Nurul mengekor di belakangnya. Cynthia menyuruh pelayan untuk berkumpul semua di ruang tamu. Dia menatap tajam ke arah pelayan, terutama kepada Halwa. Cynthia membawa polisi atas kasus kehilangan kalung berliannya. Dan Polisi juga yang menggeledah semua ruangan dan kamar para pelayan.
Di semua ruangan tidak ada, sekarang giliran kamar para pelayan yang digeledah. Satu per satu ruangan tidak ditemukan barang bukti. Hingga tinggal satu kamar lagi yang belum digeledah yaitu kamar milik Halwa.
Polisi menggeledah lemari besar, lemari kecil, koper Halwa, dan terakhir kasur. Polisi menyilakkan selimut yang terlipat rapih di atas tumpukan bantal. Dan betapa terkejutnya Polisi, polisi menemukan satu buah kalung berlian di bawah tumpukan selimut dan bantal.
Halwa juga sangat syok, entah kenapa kalung berlian tersebut ada di bawah bantalnya. Halwa menggeleng dan tidak mau mengakuinya. Karena memang dia tidak merasa mengambilnya.
PLAKK ....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulusnya. Halwa memegangi pipinya yang terasa perih, di sudut bibirnya mengalir darah segar.
"Saya bersumpah, bukan saya yang mencuri kalung berlian tersebut. Tolong percaya dengan saya, Nyonya. Saya bukan pencuri!" isaknya.
"Alah, mana ada maling mengaku! Sudah Pak Polisi bawa dia ke kantor polisi! Sudah jelas-jelas dia yang mencurinya!"
"Saya bersumpah, Nyonya. Bukan saya yang mencurinya! Saya tidak tahu apa-apa!"
"Lalu kenapa kalung saya bisa di kamarmu? Buktinya sudah jelas kau yang mencurinya!" perdebatan panas terjadi diantara mereka, Nurul yang saat itu di sana, masih belum percaya kalau Halwa mencuri kalung berlian tersebut.
"Tante, Maaf, Tan. Mungkin saja ada orang yang hendak memfitnahnya!" bela Nurul.
"Tidak mungkin! Saya yakin dia yang mencurinya!" ucap Cynthia kekeh pada pendiriannya. Halwa yakin ini adalah ulah Cynthia sendiri.
"Anda yang berusaha untuk memfitnah saya. Saya yakin anda yang menaruhnya di kamar saya. Kenapa Anda melakukan hal tersebut?" ucap Halwa balik bertanya.
"Ck, dasar pencuri! Kau malah menuduhku yang bukan bukan!" Cynthia menarik rambut Halwa karena gemas, Halwa juga tidak terima dengan tuduhan tuduhan yang diberikannya. Tanpa sengaja dia mendorong tubuh Cynthia hingga terjatuh.
"Auw," pekik Cynthia.
__ADS_1
"Mamih?" tiba-tiba Reyhan datang bersama Antonio.
"Tante?" pekik Nurul.
"Saya tidak sengaja mendorongnya! Saya benar-benar tidak sengaja!" langkah Halwa mundur ke belakang.
"Reyhan, dia sudah mencuri kalung berlian Mamih. Sekarang dia berusaha untuk menyakiti Mamih!" ucap Cynthia memperlihatkan tangannya yang terluka. Reyhan membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mamihnya sendiri.
"Apa?" marah Reyhan.
"Tidak. Itu tidak benar! Saya tidak mencurinya. Saya bersumpah!"
"Pak Polisi tunggu apa lagi? Bawa pencuri itu dari rumah saya!" bentak Cynthia.
"Reyhan. Aku mohon! Aku tidak mencuri. Aku juga tidak menyakiti Mamih kamu. Kamu harus percaya! Karena aku adalah ...!" belum sempat melanjutkan kalimatnya, Reyhan menatapnya dengan penuh amarah.
"Pak Polisi, Bawa dia! Seorang pencuri harus diadili!" suruh Reyhan kepada para polisi itu.
"Apa?" Halwa tidak percaya suaminya akan melakukan hal tersebut. Dadanya terasa sangat sesak. Hatinya hancur, remuk dan tersayat.
"Aku bersumpah. Aku tidak melakukan itu!" ucapnya melemah.
"Bawa dia, Pak Polisi!" suruh Reyhan lagi. Nurul hanya diam, dia tahu kalau calon suaminya sedang marah.
Polisi membawa Halwa ke mobil, Halwa tidak berhenti menatap suaminya. Kemudian dia menghapus air matanya agar tidak menangis. Dia beralih ke Mamih mertuanya, Cynthia mengulas senyum bahagia karena dia berhasil menyingkirkan Halwa.
Antonio tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh Reyhan.
"Rey, ini salah. Kau telah salah melakukan semua ini. Kau akan sangat menyesal jika kau tahu siapa wanita itu?" ucap Antonio sedih melihat sahabatnya sendiri. Reyhan menatap tajam ke arah sahabatnya.
"Apa maksudmu?" saat Antonio hampir mengatakannya, tiba-tiba saja Cynthia menampar wajah Antonio.
PLAKKK ..
Tamparan keras mendarat di pipi Antonio.
"Pergi kau dari sini! Jangan pernah menampakkan diri lagi. Kau dipecat!" teriak Cynthia kepada Antonio.
"Aku memang akan berhenti! Aku tidak mau bekerja pada orang keji seperti kalian semua!" sedih Antonio, dia menyerahkan semua dokumen-dokumen yang ada ditangannya. Dan menyerahkan fasilitas mobil dari Perusahaan tempatnya bekerja. Karena Perusahaan itu adalah milik keluarga Arsenio.
__ADS_1
to be continued....