Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 74 : Terlalu Perih


__ADS_3

Setelah menyerahkan tas tersebut, mereka lari terbirit-birit entah kemana. Ternyata sedari tadi Nurul berdiri di sana. Melihat Halwa menghajar penjambret itu dengan brutal. Nurul membelalakkan matanya, dia menutup mulutnya tidak percaya. Dia pikir, Halwa hanyalah wanita biasa. Ternyata, dia sangat jago berkelahi.


"Bagaimana bisa kau melakukan itu?" tanyanya.


"Ini tas, Anda. Lain kali berhati-hati!" ucapnya sambil berlalu pergi.


Di dalam mobil, Halwa menyenderkan kepalanya di kursi mobil. Dia memejamkan matanya, tanpa mempedulikan Nurul dan Pak Sopir disampingnya.


Nurul yang masih syok pun tidak ikut berbicara. Dia hanya diam di kursi belakang. Tidak terasa mereka sudah sampai di depan Mansion. Reyhan dan Cynthia menunggu kedatangan Nurul dengan senyum yang mengembang.


Sakit, sudah sering Halwa rasakan selama satu bulan tinggal di rumah suaminya. Namun mengeluh pun percuma, dia tidak mengenal siapa-siapa di sini.


Mereka menyambut kedatangan Nurul. Bahkan suaminya begitu bahagia dengan kedatangan Nurul, seharusnya dia yang berada diposisi itu.


Halwa membantu Pak sopir menurunkan barang-barang. Dia tidak mungkin langsung masuk ke dalam rumah. Pasti Cynthia akan marah, dan berceramah panjang lebar.


Suaminya menggamit tangan Nurul dengan sayang, hingga masuk ke dalam rumah. Sedangkan Halwa hanya menatap dengan perasaan sedih yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Nurul tidak berhenti bercerita, dia juga menceritakan insiden penjambretan tadi di pasar. Dia juga menceritakan aksi Halwa menyelamatkan tasnya dan bagaimana Halwa menghajar sepuluh penjambret itu dengan tangannya sendiri.


Cynthia tidak percaya dengan cerita Nurul. Dia tertawa terbahak-bahak, dia pikir Nurul hanya mengarang saja.


Halwa mengangkat semua barang-barang belanjaan ke dapur. Ternyata sudah ada Nurul dan Reyhan di sana.


"Ini belanjaannya, Nona!" ucapnya.


"Terima kasih banyak, Halwa,"


Reyhan memperhatikan Halwa, dia melihat ada luka di tangan dan sudut bibirnya. Melihat itu, entah kenapa jantungnya terasa berdesir.


"Perasaan apa ini? Kenapa melihat luka-lukanya, jantungku terasa sangat perih? Apa yang terjadi kepada ku?" batin Reyhan.


"Sayang, katanya mau bantu?" ucap Nurul membuyarkan semua lamunannya.


"Iya, Aku bantu," jawabnya.


Saat Halwa akan meninggalkan mereka, tiba-tiba saja Nurul menahannya untuk pergi.


"Halwa, maukah kau membantuku?"


"Apa? Membantu memasak?" tanya Halwa.


"Iya, Ayo kita memasak bersama!" ajak Nurul.


"Maaf, Nona. Aku tidak bisa memasak," jawabnya.


"Apa? Tidak bisa memasak? Seorang pelayan tidak bisa memasak?" tanya Reyhan terkekeh.


"Rasanya sangat aneh jika seorang pelayan tidak bisa memasak," ucap Reyhan lagi.


"Saya memang tidak bisa memasak. Memasak air saja saya tidak bisa, bagaimana saya bisa memasak makanan?"


"Ha ... Ha ... Ha." tawa Reyhan dan Nurul pecah.


"Kau ini benar-benar pelayan yang unik," ucap Reyhan.


"Kalau begitu aku akan mengajarimu memasak," ucap Nurul.

__ADS_1


"Apa? Mengajariku?"


"Iya, aku akan mengajarimu," ucap Nurul sambil tersenyum.


Dengan telaten Nurul mengajarinya memotong sayuran, mengupas bawang, dan mengulek semua bumbu. Nurul memang hobi memasak, jadi tangannya sangat lihai meracik semua bumbu.


Halwa yang tidak biasa mengupas bawang, tiba-tiba matanya berair. Nurul dan Reyhan terkekeh geli.


"Auw," pekik Nurul. Puas menertawakan Halwa, jarinya terkena pisau.


"Kenapa?" tanya Reyhan. Melihat jari Nurul berdarah, Reyhan langsung menyesapnya. Pemandangan seperti itu membuatnya sangat sakit. Dia pun kembali menitikkan air mata.


"Halwa, matamu masih pedih?" tanya Reyhan. Halwa langsung menghapus air matanya.


"Iya, mataku masih terasa pedih. Baiklah, aku tinggal dulu! Aku mau mencuci muka,"


Halwa masuk ke kamar mandi, dan menyalakan kran air. Dia menangis sedih. Lagi-lagi dia harus mengeluarkan air mata. Dia menepuk dadanya kembali, supaya tidak terasa sesak.


"Aku lelah. Aku capek!" ujarnya, "Setiap hari aku harus melihat mereka bermesraan. Sampai kapan akan seperti ini? Sampai kapan suamiku sembuh? Bahkan dia sama sekali tidak mengingat ku?"


"Hiks ... Hiks ... Hiks." tangisnya.


Pukul Sepuluh Malam


Hari ini Adam datang dari Belanda ke Indonesia. Karena memang hari ini, Perusahaan Williams Technologi dan Perusahaan Arsenio Group akan mengadakan event yang tempatnya sudah disepakati yaitu Indonesia. Dan dia sebagai wakil yang ditunjuk oleh Halwa, untuk mendatangi event tersebut.


Adam memesan satu buah kamar VIP, dari hotel yang cukup ternama di kota J. Beberapa jam duduk di dalam pesawat membuatnya kelelahan. Dia pun membaringkan tubuhnya di kasur hotel yang empuk.


Dret ... Dret .... Dret


"Hallo, Adam?" bisik Halwa sambil mencari tempat yang aman untuk menelfon.


"Hallo, Nona, Saya sudah sampai di Indonesia. Sekarang saya berada di hotel X. Bisakah kita bertemu?" tanya Adam.


"Kau sudah di Indonesia. Baiklah, kita bertemu di tempat biasa saja!" ucapnya. "Oya, Kapan eventnya diadakan?" tanya Halwa.


"Besok, Nona," jawab Adam, "Sekarang Nona tinggal di mana?" tanya Adam.


"Di rumah Suamiku. Tapi, Reyhan tidak mengenaliku, Adam," jawabnya sedih.


"Tidak mengenali, Nona? Kok bisa?"


"Nanti aku ceritakan," ujarnya.


"Baiklah, kita bertemu besok pagi. Bye!"


Tut ... Tut .... Tut


Halwa duduk di bangku sambil melamun. Dia sedang memikirkan caranya membatalkan pernikahan Reyhan dengan Nurul.


"Bagaimana caranya aku membatalkan pernikahan mereka?" gumamnya.


"Halwa?" panggil Nurul membuatnya terkejut.


"Nona," ucapnya berdiri, namun Nurul justru menyuruhnya duduk.

__ADS_1


"Kenapa belum tidur? Ini sudah malam!" tanya Nurul.


"Saya belum mengantuk, Nona," jawabnya.


"Halwa, aku belum mengucapkan terima kasih kepadamu. Terimakasih sudah menolongku kemarin," ucap Nurul berterima kasih.


"Iya, Nona. Sama-sama!"


"Aku lihat, kau sangat jago bela diri. Sejak kapan kau belajar?" tanya Nurul.


"Sejak kecil, Nona,"


"Sejak kecil. Bagaimana bisa? Apakah kedua orang tuamu yang mengajarimu?"


"Tidak. Ibuku meninggal saat aku masih kecil. Dan ayahku juga sudah meninggal. Kakek yang menyekolahkan ku disekolah khusus. Dia juga selalu mengatakan kepadaku, seorang wanita itu harus kuat, mandiri dan hebat," ucapnya.


"Wah, Kakekmu pasti orang hebat!"


"Iya, begitulah. Dia orang yang sangat hebat bagiku," ujar Halwa.


"Melihat dari wajahmu yang sangat bersih, cantik dan menarik. Kau tidak seharusnya menjadi seorang pelayan. Kau pantas menjadi seorang wanita kantoran," ucapnya terkekeh. Halwa berusaha untuk tersenyum simpul.


"Anda bisa saja. Saya hanya seorang anak petani miskin. Mana mungkin saya menjadi wanita kantoran. Anda juga cantik dan baik. Kenapa tidak bekerja di kantor saja? Kenapa justru merawat orang yang kehilangan ingatan?" tanya Halwa sambil terkekeh.


"Bagaimana kau tahu kalau Reyhan itu hilang ingatan? Aku tidak pernah mengatakan kalau Reyhan hilang ingatan?"


DEGH ....


"Aduh, Aku keceplosan!" batin Halwa sambil menutup mulutnya.


"Eh, aku tahu dari para pelayan. Iya dari pelayan!" jawabnya sambil nyengir kuda.


"Oh, dari pelayan,"


"Apakah Anda mencintai Tuan Reyhan?" tanya Halwa tiba-tiba.


"Iya. Aku sangat mencintainya. Aku menyukainya sejak kecil. Tapi untuk menaklukkan hatinya sangatlah butuh perjuangan," jawabnya.


"Namun takdir berpihak kepadaku," senangnya. Mata Halwa memutar ke arah Nurul merasa tidak senang.


"Oya, maukah kau berteman denganku! Di sini aku tidak memiliki teman, jadi, maukah kau menjadi temanku!" Nurul mengulurkan tangannya.


"Apa-apaan ini? Padahal aku akan membuat pernikahanmu hancur, kenapa justru kau ingin berteman denganku? Ah, aku bisa gila kalau seperti ini!" batinnya.


"Bagaimana? Mau tidak?"


"Iya." Halwa memaksa untuk tersenyum.


Mereka mengobrol cukup lama, hingga tidak disengaja, Nurul melihat cincin yang Halwa kenakan.


"Cincinnya?" batin Nurul.


"Tidak, ini hanya perasaan ku saja!" Nurul menepis pikiran negatifnya kepada Halwa.


to be continued.........

__ADS_1


__ADS_2