
"Aku harus bertemu dengan Mamihnya Rey," ujar Halwa, "Tolong pertemukan aku dengan Mamihnya Rey!"
"Tapi .... !"
"Aku harus bertemu dengan Mamihnya Rey. Aku akan menjelaskannya. Aku juga ingin bertemu dengan suamiku," ujarnya.
"Baiklah, nanti akan saya atur waktunya bertemu dengan Tante Cynthia," ucap Antonio.
"Cynthia? Jadi, Mamihnya bernama Cynthia?"
"Iya, Nona,"
"Berarti yang membalas email adalah Cynthia, Mamihnya Rey," batin Halwa.
"Sementara Nona bisa tinggal di Apartemen milik Pak Rey," ucap Antonio tiba-tiba.
"Baiklah. Aku memang butuh tempat tinggal," ujar Halwa.
Antonio pun mengantarkan Halwa ke Apartemen milik suaminya.
"Apakah Anda tahu password-nya?" tanya Antonio.
"Iya, Rey pernah mengatakannya kepadaku," jawab Halwa.
"Baiklah, Saya antarkan Anda sampai di sini. Besok saya akan datang lagi. Jika, butuh sesuatu Anda bisa hubungi nomor saya," ucap Antonio.
"Terima kasih banyak, Antoni. Aku berhutang kebaikan kepadamu!"
"Ah, Nona. Ini sudah tugas saya!"
Setelah kepergian Antonio, Halwa pun masuk ke dalam Apartemen. Masih sama seperti dulu, tempat yang sangat nyaman dan bersih juga sangat wangi, bau parfum suaminya. Halwa melihat-lihat seluruh ruangannya. Dua kamar tidur, diatas dan dibawah. Tapi, biasanya Rey selalu tidur di lantai atas.
Halwa penasaran dengan kamar suaminya dilantai atas, ia pun mendatangi kamar suaminya. Satu buah kamar di lantai atas, cukup luas dengan kamar mandi dalam. Cat dindingnya berwarna abu-abu dipadukan dengan warna putih. Ada satu buah tempat tidur dengan ukuran big size, dengan selimut dan sprei katun motif bunga mawar merah dan putih di tengahnya. Satu buah jendela besar di sisi kanan, dengan korden otomatis.
Disamping kiri terdapat meja kecil, dimana diatasnya terdapat sebuah foto. Foto dirinya dan suaminya saat pergi berbulan madu ke Paris. Halwa tersenyum mengingat masa-masa kebahagiaannya bersama sang suami.
"Aku merindukanmu, Sayang. Kenapa takdir begitu kejam? Kita baru menikah tapi sudah dipisahkan. Di pisahkan oleh jarak, sekarang kita dipisahkan oleh keadaan," ucap Halwa sambil memandang foto itu dengan linangan air mata.
Tidak terasa matanya terkantuk, dia merasakan tubuhnya sangat lelah. Turun dari pesawat, dia sama sekali belum beristirahat. Halwa pun tertidur di kamar suaminya.
__ADS_1
Keesokkan Paginya
Reyhan nampak ceria hari ini. Hari-harinya ditemani oleh Nurul. Nurul sedetik pun tidak meninggalkan Reyhan. Membuat hubungan mereka menjadi lebih akrab.
"Kita sudah bertunangan, kenapa kau tidak memakai cincin pertunangan?" tanya Reyhan, dia mengamati cincin yang melingkar di jarinya sendiri, "Aku saja memakainya. Bukankah ini cincin pertunangan kita?"
DEGH .....
Tubuh Nurul membeku, dia bingung harus menjawab apa. Pasalnya, memang tidak pernah ada pertunangan diantara mereka.
"Lalu, cincin apa yang melingkar di jari Mas Reyhan?" tanya Nurul di dalam hatinya.
"Lho, kok diam saja?" tanya Reyhan.
"E .... itu .... cincinnya hilang," dusta Nurul.
"Hilang? Kok bisa sampai hilang? Kau ini bagaimana?" heran Reyhan, "Padahal, aku menjaganya dengan sangat baik. Lihatlah, bahkan sembuh dari kecelakaan, aku masih mengenakannya. Kenapa justru kau menghilangkannya?"
"Maaf," lirih Nurul dengan menundukkan kepalanya.
"Iya, sudahlah. Tidak apa-apa. Nanti kita beli lagi. Tapi, aku ingin cincin kita sama persis dengan yang aku pakai," ucap Reyhan sambil mengamati bentuk cincinnya yang unik. Karena di lingkaran cincin bagian dalam ada inisial huruf R dan H, ada coraknya juga yang membuat Reyhan menyukainya.
Dari kejauhan Cynthia begitu bahagia melihat kedekatan putranya dengan Nurul. Apalagi Nurul begitu perhatian dengan putranya. Membuat dirinya yakin, bahwa Nurul bisa membahagiakan Reyhan dan menjadi istri yang baik buat Reyhan.
Keadaan Reyhan berangsur membaik, dia sudah bisa menjalani aktivitasnya di rumah seperti menonton televisi, berenang, membaca buku, dan sedikit menyelesaikan pekerjaannya. Walaupun masih dibantu oleh Antonio. Setiap hari, Antonio harus bolak balik dari kantor ke Mansion milik Reyhan.
Reyhan masih belum bisa beraktivitas di Perusahaan. Karena, kondisinya yang belum memungkinkan untuk bekerja. Terkadang, jika berlama-lama di depan layar laptop, kepalanya masih terasa pusing.
Hari ini juga, dia mengajak Nurul untuk membeli cincin pertunangan. Dengan diantar sopir mereka pergi ke sebuah mall besar di pusat kota.
Mereka berjalan saling bergandeng tangan, mencari toko perhiasan yang menjual cincin yang sama dengan yang dipakai oleh Reyhan. Mereka berdua terlihat begitu mesra.
Dari satu toko perhiasan ke toko perhiasan lainnya, Reyhan sama sekali tidak menemukan yang sama persis dengan miliknya. Rey menghela nafasnya kasar.
"Eh, itu ada satu toko lagi. Ayo, kita kesana!" ajak Nurul kepada Reyhan.
"Oh, iya. Ayo kita kesana!"
Mereka disambut ramah oleh pemilik toko.
__ADS_1
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan, Nona?"
"Iya, saya mencari sebuah cincin yang sama persis dengan cincin yang saya pakai. Saya yakin, jika cincin pertunangan pasti stoknya masih banyak. Saya ingin yang seperti ini?" pinta Reyhan kepada pemilik toko perhiasan.
"Bisa saya lihat?" pemilik toko mengamati cincin milik Reyhan.
"Kalau saya boleh tahu, Anda membelinya dimana?" tanya pemilik toko.
"Entahlah saya lupa," jawab Reyhan. Reyhan menoleh ke arah Nurul.
"Apakah kau mengingatnya, Sayang?" tanya Reyhan.
"E ... itu .... kamu yang membelinya sendiri, Mas. Jadi, aku tidak tahu," jawab Nurul.
"Oh, begitu," jawab Reyhan, "Saya hilang ingatan, Pak. Makanya saya tidak ingat dimana saya membeli cincin ini," ujarnya.
"Menurut saya, cincin ini sepertinya bukan buatan dari Indonesia. Saya yakin ini buatan luar negeri," jawab pemilik toko perhiasan.
"Luar negeri? Apakah aku pernah ke luar negeri? Tapi, kapan? Kemana? Kenapa aku harus pergi ke luar
negeri, sedangkan di Indonesia saja banyak penjual perhiasan? Kenapa aku tidak ingat sama sekali?" lirih Reyhan sambil memegangi kepalanya.
"Kamu nggak apa-apa kan, Mas?" cemas Nurul, karena sepertinya rasa sakit kepala Reyhan kembali kambuh. Reyhan memegangi menjambak rambutnya sendiri.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Nurul lagi.
"Ayo, kita duduk di sana!" Nurul menunjuk kursi. Nurul membeli air mineral dan memberikannya kepada Reyhan.
"Mas, harus tenang ya? Jangan terlalu memaksakan. Jika memang belum mengingat apapun, jangan dipaksakan, Mas! Sekarang minum ini!" Nurul memberikan satu botol air mineral kepada Reyhan.
"Terima kasih banyak," ucap Reyhan. Setelah keadaanya agak membaik, Nurul mengajaknya untuk pulang ke rumah.
Di dalam mobil, Nurul membantu memijat kepala Reyhan yang sakit. Reyhan menyandarkan kepalanya di bahu Nurul.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah. Sebuah taksi dari arah belakang berhenti tepat di samping mobil Reyhan. Seorang penumpang wanita, membuka kaca jendela taksinya. Netranya menoleh ke arah samping. Dia begitu terkejut, karena dia melihat sosok suaminya di mobil bersama dengan seorang wanita cantik.
Wanita itu adalah Halwa. Halwa sangat penasaran dengan apa yang dilihatnya, untuk memastikannya dia berniat untuk turun dari taksi. Namun lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, hingga dia mengurungkan niatnya untuk turun.
"Apakah itu tadi suamiku?" batinnya.
__ADS_1
to be continued.......