Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Bab 42 : Depresi 1


__ADS_3

Dokter keluar dari ruangan tersebut dan memberitahukan kabar duka kepada Halwa dan Dimas. Membuat Halwa menangis histeris. Hatinya begitu sedih, hingga rasa sedihnya membuat tubuhnya bergetar, kepalanya terasa berat karena terlalu lama dia menangis membuat tubuhnya oleng dan hendak terjatuh. Dari kejauhan Reyhan nampak memperhatikan garak-gerik Halwa, sampai tubuh Halwa oleng, dia langsung menangkap tubuh itu. Reyhan membantu Halwa duduk di kursi.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Reyhan. Halwa menoleh ke arah Reyhan, ternyata yang menangkap tubuhnya adalah Reyhan. Reyhan membantunya duduk di kursi.


"Reyhan," ucapnya. Reyhan memberikan bahunya untuk bersandar. Awalnya Halwa menolak, tapi, Reyhan terus memaksa hingga Halwa mau menyandarkan kepalanya di bahu Reyhan.


Sedangkan di sudut ruangan, Dimas duduk dilantai dengan menekuk lututnya. Dia terus saja menangis dan merutuki semua kebodohan-kebodohannya selama ini. Hingga tiba-tiba dia menangis histeris, dan tiba-tiba tertawa sendiri. Dimas membuat keributan di Rumah Sakit. Semua orang-orang yang menyaksikan berusaha untuk menenangkannya.


Saat melihat jenazah Salwa hendak dimandikan, Dimas berlari dan menarik tangan istrinya. Dia berteriak-teriak memanggil nama istrinya, hingga para pengunjung lain merasa iba dengan apa yang dilakukan oleh Dimas. Reyhan dan Antonio yang melihat itu, membantu petugas untuk menenangkannya. Petugas menyuntikkan obat penenang di tubuh Dimas. Itu dilakukan supaya Dimas lebih tenang dan rileks. Beberapa menit kemudian, Dimas jatuh tidak sadarkan diri.


Setelah jenazah Salwa di mandikan dan dikafani. Jenazah Salwa dibawa pulang ke rumah Dimas. Semua biaya Rumah Sakit sudah diselesaikan oleh Reyhan. Reyhan tidak tega jika Halwa harus mengurusinya sendiri.


Mobil jenazah yang membawa jenazah Salwa sudah sampai di depan rumah besar Dimas. Sebelumnya Halwa sudah memberitahukan perihal kematian majikannya kepada Mimin. Sehingga semua orang di rumah itu mengetahuinya dan menyiapkan segala sesuatu untuk acara pemakaman majikannya. Awalnya Mimin terkejut, karena melihat dua Salwa di rumah ini. Kemudian Halwa menjelaskan semuanya kepada Mimin, bahwa dia adalah saudara kembar majikannya.


Sedangkan Hilda, ibu dari Dimas, menyusul putranya yang masih berteriak-teriak memanggil nama Salwa. Kemudian Dimas kembali di suntik oleh petugas RS. Dimas tertidur pulas karena pengaruh obat penenang yang suster suntikan.


Jenazah Salwa dimakamkan tepat pukul empat sore. Semua pelayat yang hadir satu persatu meninggalkan tempat pemakaman umum. Tinggal Halwa, Reyhan dan Antonio yang tersisa. Reyhan dengan setia menemani Halwa yang masih terisak di sana. Hingga tiba-tiba langit mendung, pertanda akan segera turun hujan yang sangat lebat, barulah Reyhan mengajak Halwa untuk pulang.


Halwa teringat dengan Noah yang sekarang masih bersama dengan Adam. Dia pun memutuskan untuk pulang ke Apartemen miliknya. Reyhan mengantarkan Halwa sampai di depan Apartemen.


Sampai di depan Apartemen, Reyhan menyuruh Halwa untuk beristirahat. Dia tahu kalau Halwa masih sangat bersedih dan sedang tidak baik-baik saja.


"Beristirahatlah!" suruh Reyhan. Halwa menatap manik itu. Sebenarnya dia masih ingin bersama Reyhan. Namun, tidak mungkin dia menyuruh Reyhan untuk menemaninya malam ini.


"Terima kasih banyak, Rey. Kamu sudah banyak membantu," ujarnya. "Aku masuk dulu!" Halwa hendak melangkahkan kakinya menuju Apartemen, tiba-tiba saja pinggang Halwa ditarik oleh Reyhan. Reyhan memeluk tubuh Halwa dengan erat. Halwa menangis sesenggukan. Rey mengajak Halwa untuk duduk di bangku taman dekat dengan Rumah Sakit. Entah kenapa Halwa hanya menurut saja.


"Sekarang, ceritakan lah! Mungkin bisa membuat beban mu sedikit berkurang," ucap Reyhan.

__ADS_1


"Namaku Halwa. Maaf, selama ini aku tidak jujur denganmu! Tapi, percayalah aku melakukan ini semua ada alasannya. Dan aku belum siap menceritakan semuanya kepada kamu, Rey," terangnya. Reyhan hanya tersenyum, melihat tingkah laku gadis di depannya.


"Tidak apa-apa. Aku bisa ngerti. Semoga suatu saat nanti, kamu bersedia membagi beban mu denganku," ucap Reyhan. Halwa tersenyum, dia sangat nyaman saat bersama dengan Reyhan.


"Baiklah, Aku antarkan kamu pulang ke Apartemen!" ucap Reyhan.


"Baiklah," di jawab anggukan kepala oleh Halwa.


Halwa naik ke lift, hingga sampai tidak terlihat lagi, barulah Reyhan pergi dari sana. Halwa menaiki lift dan melangkah kakinya, menuju kamar Apartemennya. Dia membuka pintu kamar Apartemen itu dengan hati yang sangat sedih.


"Adam?" panggil Halwa.


"Nona sudah pulang," ucapnya.


"Iya, Asisten. Dimana Noah?" tanya Halwa.


"Terima kasih, Asisten. Sudah malam, sebaiknya Asisten pulang!" suruh Halwa.


"Baik, Nona." jawab Adam. "Tapi, Anda baik-baik saja kan, Nona?"


"Iya, Asisten. Saya baik-baik saja," jawab Halwa.


"Bagiamana keadaan Nona Salwa?" tanya Adam, yang memang Adam belum diberitahukan kabar Salwa yang sudah meninggal.


"Dia sudah meninggal, Asisten," sedih Halwa. Adam nampak terkejut, dan dia bisa melihat ada kesedihan besar di mata nona mudanya.


"Saya turut berduka cita, Nona. Semoga Nona Salwa ditempatkan di tempat terbaik disisi-Nya," ucap Adam.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Asisten," jawab Halwa. Adam keluar dari Apartemen nona mudanya.


Halwa mencari keberadaan Noah. Ternyata Noah tertidur di kasur empuknya. Dia mendekat ke arah Noah. Tidak terasa air matanya kembali menetes. Dia tidak bisa menahan air matanya yang sedari tadi sudah menganak sungai di pelupuk mata.


Halwa terus menciumi wajah bocah itu. Dia tidak tahu bagaimana caranya, agar dia bisa menjelaskan segala-galanya kepada bocah sekecil Noah. Noah hanya menggeliatkan tubuhnya, namun matanya masih tetap terpejam.


Halwa memutuskan untuk mandi dan bersih-bersih. Badannya sudah terlalu lengket dan gerah. Berendam di Bathtub adalah salah satu caranya untuk menghilangkan sedikit beban yang terus menggelayut di otaknya.


Selesai mandi, dia langsung memakai piyama untuk langsung tidur. Tubuhnya terasa sangat letih hari ini. Dengan memeluk Noah dari belakang, dia langsung tertidur pulas.



***Keesokan paginya***



Hilda mengerjapkan matanya saat sinar matahari sudah masuk dan mengenai matanya. Hilda melihat ke arah jam yang terpasang di dinding Kamar rawat putranya, ternyata sudah pagi. Dia melihat ke arah tempat tidur, ternyata putranya sudah tidak ada di sana. Hilda pun panik, dia mencari putranya di kamar mandi. Hilda tidak menemukannya. Hilda pun bertanya kepada suster di sana. Suster juga tidak tahu keberadaan Dimas.



Hilda mencari keberadaan putranya di Rumah Sakit, namun tetap saja dia tidak menemukannya. Hingga Hilda memutuskan untuk pulang ke rumah. Karena dia berfikir kalau Dimas pasti pulang ke rumahnya.



Saat hendak keluar dari Rumah Sakit. Kerumunan orang-orang sedang berteriak melihat kejadian yang sangat menakutkan. Ada seorang pria yang berdiri tepat di lantai paling atas di Rumah Sakit ini. Pria itu hendak mengakhiri hidupnya, orang-orang yang melihat itu berteriak meminta bantuan kepada siapapun yang bersedia menolongnya.


__ADS_1


to be continued.......


__ADS_2