
Beberapa menit kemudian pesanan yang mereka pesan sudah tersaji di meja makan. Mark dan Halwa menikmati makanan yang sudah disajikan di atas meja makan.
Kebetulan Reyhan juga makan siang di Restaurant itu. Dia baru saja selesai meeting dengan klien. Dari tempat duduknya, dia memperhatikan seorang wanita yang sangat dia kenali, sedang menikmati makan siangnya bersama seorang pria yang juga ia kenal.
Sesekali mereka tertawa lepas, tangan sang pria menggenggam wanita tersebut. Entah kenapa, Reyhan merasa tidak suka dengan apa yang dilihatnya. Hatinya bergemuruh. Ada rasa marah, jengkel dan dongkol menjadi satu. Dia meremas sendok dan garpu ditangannya.
Mereka adalah Halwa dan Mark. Mereka nampak sangat bahagia. Reyhan tidak suka dengan kebahagiaan mereka.
Reyhan melihat Mark beranjak dari tempat duduknya, Mark berjalan menuju toilet. Reyhan tersenyum penuh kemenangan, sepertinya takdir sedang berpihak kepadanya.
Reyhan tidak mau mengulur waktu lebih lama lagi, dia takut istrinya akan pergi lagi. Dengan langkah yang pasti, dia mendekat ke arah istrinya. Kedatangan Reyhan, membuat Halwa sangat terkejut. Maniknya menatap sekeliling, mencari keberadaan Mark.
"Reyhan?" lirihnya. Halwa membelalakkan matanya, melihat sang suami sudah berdiri di samping.
"Ikut aku!" Reyhan menarik tangan Halwa untuk mengikutinya. Halwa tidak bisa menolak, karena dia sadar sedang berada di tempat umum. Reyhan menggandeng tangan istrinya sampai parkiran, agak memaksa juga sih.
"Lepaskan aku! Anda jangan bersikap kurang ajar ya!" teriak Halwa sambil menepis kasar tangan Reyhan. Reyhan tidak bisa membawa istrinya dalam keadaan marah, pasti istrinya akan memberontak. Reyhan sedang berfikir.
"Apakah Anda tidak waras, seenaknya saja menarik paksa seseorang yang Anda tidak kenal? Aku bisa melaporkan perbuatan Anda kepada pihak berwajib!" omelnya. Disela Omelan sang istri, tiba-tiba dia mendapatkan ide yang cemerlang, mungkin agak memaksa atau dibilang penganiayaan, tapi ini semua dia lakukan demi keutuhan rumah tangganya.
"Mark, Kau di sini?" ucap Reyhan, mata Reyhan menoleh ke arah belakang istrinya, dan tentu saja pandangan Halwa mengikuti suaminya. Ia pun menoleh ke belakang.
Tiba-tiba pukulan keras mendarat tepat di tengkuk istrinya, membuat wanita cantik itu jatuh tak sadarkan diri. Dengan sigap Reyhan menangkap tubuh sang istri dan memasukannya ke mobil.
"Maafkan aku, Sayang! Aku tidak mau kehilangan kamu lagi. Hanya dengan cara ini kita bisa mengobrol!" ucapnya, sambil mengelus wajah cantik itu. Reyhan membawa istrinya ke Apartemen miliknya.
Lima Jam Berlalu
Halwa mengerjapkan mata mengamati ruangan. Kepalanya terasa sangat pusing, dan tengkuknya terasa sakit. Dia meringis menahan rasa sakit. Ia teringat, kalau Reyhan yang sudah memukulnya.
"Rey?" teriaknya sangat kesal bukan kepalang.
"Kau sudah bangun?" tanya Reyhan dengan santai.
Halwa terkesiap, ternyata Reyhan sedang duduk di sofa. Suaminya memandang dengan tatapan yang sangat intens. Halwa sangat marah dan jengkel, dan dia beranjak dari tempat tidur hendak mencakar-cakar muka suaminya. Betapa terkejutnya ia, saat ini tubuhnya dalam keadaan polos. Dia tidak memakai apapun. Dia agak bingung, kenapa tiba-tiba dia dalam keadaan seperti ini.
Halwa menoleh ke arah Reyhan, pria itu juga hanya memakai jubah mandi. Halwa menyilang kan tangannya di depan dada, karena sang suami terus menatapnya sambil tersenyum.
Halwa menarik selimut, dan menutupi tubuh polosnya. Dia menatap tajam ke arah sang suami. Tatapan penuh amarah.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" teriaknya, "Kau memperkosaku?" bentaknya.
"Bagaimana bisa dikatakan sebuah pemerkosaan? Kau masih menjadi istriku, dan aku belum pernah menceraikanmu! Dan aku masih sah suamimu. Dan aku sudah meminta hakku sebagai seorang suami," ujarnya tanpa merasa bersalah.
"Kau ini bicara apa sih? Aku nggak ngerti!" teriaknya lagi, "Aku ini Calista, bukan Halwa!" bentaknya lagi. Reyhan tersenyum simpul.
"Sudahlah, Kau jangan berbohong! Kau tidak pandai berbohong!" ucapnya.
"Kau memang pria tidak waras! Aku akan melaporkan kejadian ini kepada Polisi! Kau sudah memperkosaku!" marahnya.
"Oya, Silahkan! Aku tidak takut!" ujarnya, "Silahkan, Kau melaporkan kejadian ini kepada Polisi! Aku akan mengatakan kepada Polisi, kalau Kau adalah istriku. Dan aku yakin Polisi akan percaya kepadaku!" ucapnya sangat menyebalkan.
"Ck, dasar tidak tahu malu!" kesal Halwa, "Bagaimana Kau akan membuktikan kepada Polisi? Hah?" tantang Halwa. Memang semua surat-surat pernikahannya ada ditangan sang istri, tapi Reyhan tidak kehilangan akal. Dia tersenyum penuh arti.
"Tanpa bukti pernikahan, aku memiliki bukti yang lain," ujar Reyhan. Halwa terkejut mendengar kata-kata suaminya.
"Kau ingin tahu?" godanya lagi.
"Aaaapa?" tanya Halwa penasaran.
"Aku akan mengatakan kepada Polisi, bahwa istriku memiliki tanda lahir di bagian pantatnya," kekeh Reyhan, membuat pipi Halwa bersemu merah.
"Kau!" Halwa membulatkan matanya dengan sempurna.
"Apakah kau mau polisi juga memeriksa bagian yang itu untuk memastikan apa yang aku katakan benar atau tidak?" goda Reyhan lagi.
"Dasar kau gila!" kesalnya. Halwa beranjak dari tempat tidurnya. Dia memunguti semua pakaiannya, dan masuk ke dalam kamar mandi. Reyhan terkekeh geli melihat reaksi istrinya.
Halwa menghidupkan kran air, dia mencuci mukanya. Dan membersihkan bagian intinya yang terasa pegal. Sambil sesekali mengumpat sang suami karena telah melakukan pelecehan. Halwa berdiri di depan cermin, banyak sekali ruam merah di bagian sensitifnya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Halwa nampak berfikir, dia berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Sesekali dia menjambak rambutnya sendiri, rasanya ingin marah, dan mencabik-cabik muka suaminya. Tapi, jika dia melakukan itu, dia juga akan berdosa. Pikirnya.
Setelah berpakaian rapih, dan sedikit menyisir rambutnya, dia keluar dari kamar mandi. Dia melihat suaminya juga sudah berpakaian lengkap. Reyhan sedang duduk, dan mengamati pergerakan sang istri. Sedetik Halwa menoleh ke arah suaminya, suaminya tersenyum lebar, kemudian sejurus dia membuang tatapannya.
"Duduklah!" ucapnya sambil menepuk tempat duduk disebelahnya.
"Ck, aku tidak sudi!" marah Halwa. Reyhan hanya terkekeh melihat ekspresi istrinya.
"Baiklah, Kalau tidak mau!" ucapnya, "Aku hanya ingin penjelasan darimu!" Reyhan meletakkan amplop coklat itu diatas meja, Halwa memandangnya, kemudian mengambil amplop tersebut. Halwa membuka amplop itu, dan dia sedikit terkejut. Amplop itu berisi foto-foto dirinya yang sedang hamil.
__ADS_1
"Bisa Kau jelaskan semua ini?" tanya Reyhan.
"Kau ini bicara apa sih?" kesal Halwa.
"Bukankah itu fotomu! Dan difoto itu, memperlihatkan Kau sedang hamil. Apakah itu anakku?" tanya Reyhan penuh selidik.
"Apaaaaa? Kau jangan bicara sembarangan, mana mungkin aku hamil," kekeh Halwa, dia pikir suaminya sedang membuat lelucon. Namun dia menoleh ke arah Reyhan, sepertinya Reyhan sedang serius. Dia berhenti tertawa.
"Sudah tertawanya?" tanya Reyhan, "Aku mohon, katakanlah sejujurnya!" Reyhan mendekat ke arah istrinya, ia memegang bahu istrinya, menatap manik itu sangat dalam, meminta sebuah kejujuran.
"Halwa? Aku tahu, aku bersalah. Tapi, saat itu aku tidak ingat apapun. Apakah kau masih menyalahkan ku atas apa yang terjadi di antara kita? Aku masih sangat mencintaimu!" ujarnya. Halwa menghela nafasnya panjang. Saat ini dia masih terlalu sakit mengingat kejadian itu. Dia masih belum bisa menerima semua kenyataan. Butuh waktu lama untuk melupakan semuanya. Dan tidak mudah baginya, hidup sendiri dalam keadaan hamil.Tidak terasa air mata mengalir begitu saja.
Reyhan menatap manik istrinya, dia melihat Halwa meneteskan air mata. Reyhan berusaha untuk menghapusnya dengan lembut.
"Tidak, aku tidak bisa!" batinnya. Halwa harus mencari cara untuk pergi dari Apartemen suaminya. Dia akan membawa kedua buah hatinya untuk meninggalkan Indonesia. Yang jelas dia harus secepatnya pergi dari Indonesia. Halwa menggigit tangan Reyhan, dan dia mendorong tubuh tinggi tegap itu.
"Halwa!" pekik Reyhan kesakitan memegangi tangannya.
Halwa bergegas meninggalkan Apartemen tersebut, tidak susah baginya untuk keluar dari Apartemen sang suami. Karena dia tahu password untuk membuka pintu Apartemen suaminya.
Dengan mengangkat sedikit roknya, Halwa berlari ke jalan. Dia menoleh ke belakang, Reyhan masih mengejarnya. Dia tidak mau tertangkap, Halwa masih berlari kencang. Hingga berhenti di sebuah jalan, dia melihat ada lorong yang gelap. Halwa masuk ke lorong tersebut, dan bersembunyi di sana. Jika Reyhan sudah tidak mengejarnya barulah dia akan keluar.
Reyhan berhenti di jalan yang telah dilewati istrinya, dari tempat persembunyiannya Halwa bisa melihat dengan jelas tubuh Reyhan yang sedang mencarinya.
Reyhan yakin istrinya berhenti di tempat itu. Dia sedikit maju, berdiri di bawah papan reklame yang hampir lepas dari tempatnya. Sekali tertiup angin, tiba-tiba papan reklame tersebut terjatuh. Dan ...
BRUGH ..
BRAKK ..
"Aaaaaaaaaa!" pekik Reyhan memegangi bagian punggung yang terhantam keras papan reklame. Halwa mendengar suara teriakkan itu, dia keluar dari tempatnya bersembunyi. Banyak kerumunan orang yang berteriak meminta tolong. Ada juga yang berusaha untuk memanggil taksi. Halwa mendekat ke arah kerumunan tersebut, dan dia melihat Reyhan jatuh pingsan.
"Rey?" teriak Halwa panik.
"Bapak ini kejatuhan papan reklame, Nona!" ucap salah satu orang yang menyaksikan.
"Apaaaaaa?" kaget Halwa.
to be continued........
__ADS_1