
Keesokkan paginya
Halwa membantu Noah memakai seragam sekolahnya. Mereka berdua menuruni tangga menuju meja makan. Ternyata di sana sudah ada Dimas menunggu mereka sarapan.
"Selamat pagi, Sayang!" sapa Dimas kepada Noah.
"Pagi, Pah," jawab Noah.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Dimas kepada istri pertamanya.
"Pagi, Mas," jawab Salwa tersenyum.
"Bagaimana tidurmu, Sayang?" tanya Dimas kepada putranya.
"Hari ini Noah tidur sangat nyenyak, Pah," jawab Noah.
"Mulai hari ini Papa akan mengantar jemput kamu sekolah, Sayang. Jadi, kamu tidak perlu lagi meminta antar oleh Mama," ucap Dimas tiba-tiba.
"Loh, kenapa, Pah?" tanya Noah heran. Halwa tidak kalah heran dengan sikap Dimas.
"Papa hanya ingin memperbaiki semuanya, jadi, Papa ingin lebih meluangkan waktu denganmu, Sayang," ujar Dimas.
"Ehm, Baiklah Papa,"
Dimas menyuruh putranya untuk menunggu di mobil. Setelah berpamitan dengan istri pertamanya dan mengecup kening sang istri. Dimas pun pergi meninggalkan rumah. Mobil keluar melewati pintu gerbang, tiba-tiba seorang security memberhentikan mobil tuannya.
"Permisi, Pak, tadi ada seorang kurir mengantarkan amplop ini kepada Bapak," ucap Security.
"Amplop?" heran Dimas. "Baiklah, terima kasih banyak Pak Maman," jawab Dimas.
Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebelum ke Perusahaan, dia mengantarkan putranya ke Sekolah terlebih dahulu. Disepanjang perjalanan Noah terus bercerita, bahkan dia juga bercerita saat-saat perjalanan wisatanya ke kebun binatang bersama sang Mama. Noah sangat berantusias menceritakan pengalamannya bersama sang Mama. Apalagi dia bersemangat menceritakan pengalamannya yang menegangkan bersama sang Mama saat di mall dulu. Ditambah pengalaman yang menegangkan yang dilakukan sang Mama saat berkarya wisata ke kebun binatang.
Noah menceritakan kepada sang Papa, bahwa Mamanya sangat hebat dalam misi menyelamatkan anak tersebut. Dimas mengernyitkan alisnya mendengarkan cerita sang buah hati.
__ADS_1
"Bagaimana Mama bisa melakukannya?" tanya Dimas kepada putranya.
"Iya begitu, Pah, Mama sangat hebat. Dia juga jago beladiri," jujur Noah.
"Jago beladiri?" heran Dimas.
Sampai di Sekolah, Noah menyalami punggung Papanya. Dan melambaikan tangannya kepada sang Papa. Hingga mobilnya tidak terlihat lagi, barulah Noah masuk ke dalam kelas.
Mobil Dimas berhenti di parkiran Perusahaan. Dia melangkahkan kakinya ke Kantor. Masuk ke kantor, dia langsung mendudukkan pantatnya di kursi kebesarannya. Dimas masih terngiang-ngiang dengan kata-kata putranya.
"Apakah benar yang dikatakan oleh Noah?"gumam Dimas. Dia pun teringat dengan amplop yang diberikan security rumahnya. Dimas membuka amplop tersebut. Dia begitu terkejut setelah mengetahui isinya sebuah flashdisk.
"Ini," Dimas membuka flashdisk tersebut dengan laptopnya. Dia begitu terkejut dengan isi flashdisk tersebut.
Dimas langsung menyambar kunci mobilnya. Ia berjalan lebih cepat daripada biasanya keluar kantor. Bahkan karyawannya sangat heran melihat kelakuan bos-nya.
Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kali ini dia benar-benar sangat marah dan butuh penjelasan. Berkali-kali dia meremas stir mobilnya.
Sampai di rumah, dia berteriak kepada security untuk membuka gerbang. Security dibuat terbengong, karena baru saja majikannya keluar untuk bekerja, sekarang tiba-tiba saja dia kembali dalam keadaan marah.
"Auw, sakit," pekik Halwa. "Kamu kenapa, Mas?"
"Katakan kepadaku! Siapa kau?" bentaknya sekaligus menyelidik.
"Apa maksudmu, Mas? Tentu saja aku adalah Salwa," jawabnya.
"Bohong!" bentaknya lagi. Dimas mengambil laptop yang ada di ruang kerjanya. Kemudian kembali lagi ke kamar istrinya, dia memperlihatkan sebuah rekaman, dimana istrinya sedang membabat habis musuh-musuhnya.
"Noah juga bercerita, kalau kau sangat pandai berkelahi!" ucapnya. "Salwa tidak pernah bisa melakukan itu, Lalu, siapa kau?" tanya Dimas penuh selidik.
Halwa memundurkan langkahnya, Dimas terus mendesaknya. Dengan gerakan sigap, dia mendorong tubuh Halwa, lalu, mencekik leher Halwa.
"Aku tahu betul siapa Salwa. Dia tidak memiliki kemampuan hebat seperti itu. Dia wanita yang sangat lembut. Dia juga tidak bisa mengendarai mobil. Lalu, siapa kau sebenarnya?" teriak Dimas.
__ADS_1
Dengan kekuatan penuh, Halwa mendorong tubuh Dimas hingga terdorong. Kemudian dia menghajar Dimas dengan kepalan tangannya hingga tersungkur. Halwa mengambil pistol yang dia simpan di laci mejanya dan menodongkannya tepat ke arah Dimas.
"Kau pria yang sangat bodoh!" ucap Salwa tersenyum sinis. "Aku memang bukan Salwa. Aku adalah saudara kembarnya. Aku datang kesini untuk menuntut balas atas kecelakaan yang terjadi kepada kembaranku!" teriak Salwa.
"Apa maksudmu?" tanya Dimas bingung.
"Cih, kau laki-laki tidak berguna! Kau pria bre******sek. Andai saja kau tidak membawa ular berbisa ke dalam rumah tangga kalian. Pasti saudaraku tidak sampai terbaring koma. Kau adalah penyebab malapetaka ini. Kau laki-laki serakah. Tidak puaskah hanya dengan satu istri? Hah?" murka Halwa.
"Apa?" Dimas hanya terpaku tidak percaya dengan pengakuan Halwa.
"Jika saudaraku sampai kenapa-napa, aku akan membunuhmu dan wanita itu!" hardiknya. "Aku tidak akan melepaskan kalian semua!"
Kemudian Halwa pergi dari rumah Dimas. Dia menelfon asistennya untuk menjemputnya di depan gerbang rumah Dimas. Dari jendela kamar, Dimas bisa melihat kepergian wanita itu.
Dimas mengusap wajahnya kasar. Dia tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Ternyata wanita yang selama ini tinggal bersamanya, bukanlah istrinya Salwa.
Dia juga sangat terkejut dengan penjelasan wanita itu, yang mengatakan bahwa istri pertamanya koma di Rumah Sakit. Namun Dimas belum sempat untuk menanyakan dimana Salwa di rawat.
Ditambah pengakuan Halwa mengenai Anita yang sudah mencelakai Salwa. Otaknya dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Hatinya begitu gelisah, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dia berusaha untuk menelfon Anita. Namun ponsel Anita tidak aktif. Hatinya benar-benar merasa jengkel dan dongkol.
"Apakah benar Salwa kecelakaan? Bukankah Salwa pergi dengan Jack? Aku harus menghubungi Jack!" ucapnya. Dimas berdialog dengan dirinya sendiri.
Dimas mencoba untuk menghubungi Jack, namun ponsel Jack juga tidak aktif.
"Sial!" kesalnya. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Dimas mengacak-acak rambutnya sendiri, dia sangat frustasi.
Di rumah sakit, Halwa mendekati ranjang dimana saudara kembarnya terbaring. Dia mengelus lembut pipi saudaranya. Tidak terasa air matanya mengalir begitu saja.
"Maafkan aku. Aku belum bisa memenuhi keinginanmu!" ucapnya. "Tapi, setidaknya suamimu tahu kalau kau terbaring koma di Rumah Sakit. Biarlah dia mencari keberadaan mu sendiri," ucapnya kepada Salwa yang masih terbaring. "Yang penting wanita itu sudah pergi dari rumah Dimas. Noah akan aman," ucapnya lagi. "Aku berjanji akan mencari bukti, supaya orang-orang itu menerima hukuman yang pantas!"
__ADS_1
to be continued....