Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 93 : Bertemu Daddy


__ADS_3

Sudah setengah jam lamanya mereka mencari, tetapi belum ketemu juga. Bahkan Halwa meminta bantuan security RS untuk mencari kedua buah hatinya. Namun mereka sama sekali belum ditemukan. Halwa terlihat begitu cemas, dan hanya duduk di ruang tunggu menunggu keajaiban.


Lain dengan Reyhan, masih menggunakan baju RS dia masih mencari keberadaan kedua putranya. Hingga kelelahan ia mencari keberadaan bocah itu. Reyhan duduk di bangku sambil mengatur nafasnya.


"Hey, Pak Tua, makanya jangan merokok!" ucap salah satu anak kepada Reyhan. Reyhan menoleh ke arah suara tersebut. Dia nampak mengernyit dahinya.


"Kata Mommy, kalau orang dewasa kebanyakan merokok, dia akan sakit. Nafasnya sesak, dan batuk-batuk. Dan akhirnya ...!" bocah itu menjeda kalimatnya.


"Dan matiiiiii ...!" kekeh keduanya.


"Ck, dasar bocah tengil!" umpatnya.


"Berani-beraninya mengataiku Pak tua!" kesal Reyhan.


"Ha ... Ha ... Ha."


"Dasar Pak tua!" ucap bocah laki-laki itu.


"Hey, Apakah orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun?" marah Reyhan. Sedari tadi kedua anak ini mengatai dirinya Pak tua, benar-benar tidak sopan, batinnya.


"Kami selalu diajarkan sopan santun, terkecuali kepada Pak tua seperti Anda!" ucap satunya, kemudian mereka tertawa lagi. Reyhan benar-benar kesal dibuatnya, seakan-akan dia adalah lelucon yang sangat menggelikan. Seketika dia teringat dengan wajah anak itu, yang tempo hari pernah bertemu di Mall.


"Eh, Kau anak alien itu kan!" ucap Reyhan.


"Kami bukan anak alien, kami anak manusia," jawab Gabrino tidak terima dikatakan anak alien.


"Kau memang anak alien! Lihatlah kelakuan kalian saja seperti alien. Bagaimana bisa kau ada di RS?" tanya Reyhan.


"Bukan urusanmu!" ketus anak itu lagi.


"Ha ... Ha ... Ha. Kau pasti anak yang sangat nakal, makanya ibu dan ayahmu membuangmu ke Rumah Sakit!" ejek Reyhan.


"Sudah kami bilang, kami nggak punya ibu! Kami punyanya Mommy. Dan kami tidak dibuang! Jangan sembarangan!" bentaknya.


"Astaga, galaknya!" kaget Reyhan. Kemudian dia kembali menggoda kedua bocah itu.


"Lalu kalau tidak dibuang, apa namanya?"


"Sudah kami bilang, kami tidak dibuang!" bentaknya.


BUGH ....


Anak itu menendang kaki Reyhan.


"Aduh sakit sekali!" pekik Reyhan sambil memegangi kakinya dengan satu tangan. Kemudian mereka berlari entah kemana.


"Sialan, Awas kau anak alien!" teriaknya.


Mereka tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut. Bisa menendang pria menyebalkan itu merupakan hal yang paling membanggakan bagi mereka. Tidak berhenti mereka tertawa, di depan mereka sudah berdiri Mommynya dengan berkacak pinggang.


"Darimana kalian?" marah Halwa. Mereka hanya tertunduk ketakutan tidak berani menatap manik sang Mommy.


"Kan sudah aku bilang, kita perginya jangan lama-lama!" bisik Gabrino.

__ADS_1


"Kamu juga yang lama," bisik Gabino.


"Kamu sih pakai tendang Pak tua segala!" bisik Gabrino.


"Ini semua gara-gara Pak tua itu! Kita jadi dalam masalah besar!" ujar Gabino.


"Kenapa malah bisik-bisik? Mommy sedang berbicara dengan kalian!" marah Halwa.


"Maaf, Mommy. Kami dari toilet, kami kebelet pipis," jawab Gabino.


"Lalu, kami bingung, kami mau pipis dimana," ucap Gabino lagi.


"Kenapa kalian bingung? Kan toiletnya banyak?" heran Halwa.


"Habisnya, toilet untuk wanita ada, toilet untuk pria juga ada. Kenapa toilet untuk anak tidak ada?" tanya Gabino kepada Halwa.


"Astaga anak ini!" Halwa memegangi kepalanya karena pusing melihat kelakuan bocah bandelnya.


"Tentu saja tidak ada Gabino. Kalau kau mau, nanti buat sendiri di rumah. Iya kan, Mom?" ucap Gabrino. Membuat Halwa tersenyum simpul.


"Ayo, ikuti Mommy! Kalian ingin bertemu dengan Daddy kan?"


"Yes, Mom," jawab mereka serentak.



Di dalam kamar, Reyhan nampak kebingungan. Pasalnya dia sama sekali belum menemukan kedua putranya. Sedari tadi dia berjalan mondar-mandir di kamar, membuat kepala Nurul pusing melihat Reyhan berjalan mondar mandir seperti itu.


"Mas Rey, memangnya anak Mas belum ketemu?" tanya Nurul.


"Memangnya Mas Rey tahu seperti apa mereka?" tanya Nurul lagi. Reyhan nampak berfikir.


"Bodohnya aku!" Reyhan memegangi kepalanya sendiri, "Aku saja tidak tahu seperti apa mereka. Bagaimana aku bisa menemukannya?" Nurul hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Rey?" teriak Antonio yang baru saja masuk ke dalam ruangan, "Gimana, Lu sudah menemukan mereka?" tanya Antonio. Reyhan menggelengkan kepalanya.


"Hah." Reyhan membuang nafasnya kasar.


"Gue belum nemuin mereka. Gue saja nggak tahu rupa mereka seperti apa?" sedih Reyhan. Memang kesalahannya, sampai ia tidak tahu seperti apa rupa kedua putranya.


"Itu, Rey. Gue muter-muter mencari. Tapi, gue juga tidak tahu mereka seperti apa? Percuma dong kita muter-muter nyari?" timpalnya.


"Gue apalagi. Gue memang ayah yang buruk!" sedihnya, "Ditambah gue ketemu dengan dua alien kecil yang menyebalkan," sungutnya.


"Alien?" Antonio mengerutkan keningnya.


"Iya, Alien. Dua bocah yang pernah kita temukan di Mall. Lu inget nggak?" Antonio manggut-manggut.


"Gue tadi bertemu mereka di RS, dan Lu tahu dia bilang apa ke gue? Tuh bocah ngatain gue ***Pak tua***. Rese banget kan? Pengen banget gue jitak tuh bocah!" sungutnya lagi, "Dan tambah parahnya, mereka nendang kaki gue. Tuh, bocah memang nggak diajarin sopan santun sama orang tua deh! Nyebelin banget pokoknya!" kesal Reyhan. Antonio dan Nurul yang mendengar cerita Reyhan tidak bisa menahan tawanya. Tawanya pecah seketika. Reyhan yang ditertawakan hanya manyun.


Tok ... Tok ... Tok


"Hallo semuanya!" sapa Halwa masuk ke kamar suaminya. Dia merasa heran karena semua orang di kamar itu tertawa lepas.

__ADS_1


"Ada apa sih? Sepertinya kalian bahagia sekali?" tanya Halwa.


"Gimana, Kamu sudah menemukan mereka?" tanya Reyhan, namun seketika dia menundukkan kepalanya, "Maaf, Sayang. Aku belum menemukan mereka," lirih Reyhan merasa sangat bersalah.


"Aku sudah menemukan mereka kok!" jawab Halwa. Seketika mata suaminya berbinar bahagia.


"Benarkah, Sayang?" senang Reyhan.


"He'em," jawab Halwa dengan anggukan kepala.


"Gabrino? Gabino?" panggil Halwa.


Dua bocah kembar masuk ke dalam ruangan. Dan sedang mengamati ruangan tersebut beserta isi-isinya.


Reyhan sangat terkejut dengan kedatangan dua bocah itu, matanya sampai mau keluar, tidak berhenti menatap dua bocah kembar itu. Bukan mirip lagi, bahkan seperti duplikatnya. Reyhan sampai tercengang dan membuka mulutnya sedikit.


Antonio tertawa pecah, membuat Reyhan terkejut, dan memicingkan matanya.


"Ha ... Ha ... Ha." tawa Antonio sangat renyah.


"Sialan Kau!" cemberutnya.


"Sayang, katanya mau bertemu dengan Daddy?" ucap Halwa.


"Mana Daddy, Mom?" tanya Gabrino.


"Tuh!" telunjuk Halwa mengarah pada pria yang sedang berdiri di depan mereka, dengan memakai Arm Sling atau gendongan tangan. Pandangan mereka lurus ke depan memandangi pria yang berdiri di depan mereka.


"Pria tua?" teriak mereka. Sontak yang ada di ruangan tersebut terkejut.


"Itu, Pria tua!" tunjuk mereka. Antonio sudah tidak bisa menahan tawanya. Dia kembali tertawa terbahak-bahak.


"Sialan Kau! Tertawa lagi, akan aku potong gajimu sampai sembilan puluh persen!" tegas Reyhan, membuat Antonio langsung terdiam. Dan memberikan tanda bahwa dia sudah mengunci mulutnya untuk tidak tertawa.


"Sayang, Kok Pria tua?" tanya Halwa, "Itulah adalah Daddy kalian!" ucap Halwa. Mereka saling berpandangan, dan saling berbisik. Seperti mereka sedang melakukan konspirasi terselubung.


"Gabino? Gabrino? Katanya kalian ingin bertemu dengan Daddy?" ujar Halwa.


"Daddy?" panggil Gabrino.


"Daddy?" panggil Gabino. Mereka berdua berhamburan ke pelukan Reyhan.


"Hiks ... Hiks ... Hiks." tangis keduanya.


"Anak-anakku," isak Reyhan. Tak hentinya Reyhan menciumi pipi gembul mereka. Bergantian dari satu pipi, ke pipi yang satunya lagi. Melihat pemandangan itu, Halwa jadi terharu. Seperti halnya dengan Antonio dan istrinya, mereka juga larut dalam kesedihan dan kebahagiaan ayah dan anak itu.


"Maafkan kami, Daddy!" ucap Gabino yang sudah menendang kaki Daddy-nya.


"Daddy memang pantas mendapatkan itu, Boy!" ucapnya, "Bahkan hukuman itu belum cukup untuk Daddy," ujarnya.


"Memangnya apa yang mereka lakukan, Sayang?" tanya Halwa kepada suaminya. Gabino dan Gabrino saling berpandangan. Mereka melempar senyum.


"Nggak apa-apa kok, Sayang. Ini rahasia tiga pria, Sayang!" ucap suaminya.

__ADS_1


"Ck." Halwa mendesis kesal.


to be continued ....


__ADS_2