
..."Perpisahan yang paling menyakitkan adalah di mana hanya aku yang merasa kehilangan."...
..."Senja mengajari kita menerima sebuah perpisahan dengan jaminan pertemuan yang hangat pada esok hari."...
..."Perpisahan semanis apa pun, seindah apa pun, tetaplah perpisahan."...
..."Semua pasti berpisah, ingin tidak ingin....
...Perbaiki apa yang salah dan teruslah melangkah."...
..."Kehidupan akan terus melangkah tanpa bertanya apakah kita siap atau tidak."...
..."Kegagalan bukanlah hukuman, tetapi kegagalan adalah teguran agar kamu berhati-hati melangkah."...
..."Kamu tidak perlu menjauh, aku sudah lebih dulu melangkah mundur."...
🍀🍀🍀🍀🍀
"Setelah Reyhan sembuh kita bisa mengatur ulang pernikahan keduanya," ucap Cynthia kepada Mutia. Cynthia merasa tidak enak dengan sahabat sekaligus calon besan.
"Nggak apa-apa kok, Jeng. Ini bukan salah, Jeng. Siapapun pasti tidak mau kejadian seperti ini terjadi!" tutur Mutia.
"Iya, Cynthia. Kau jangan risau, karena kita bisa mengaturnya lagi setelah Reyhan benar-benar pulih!" ucap Hadi.
"Nurul, Sini, Nak!" panggil Cynthia.
"Iya, Mih!" Nurul memanggil Mamih kepada Cynthia, karena Cynthia lah yang memintanya.
"Jangan bersedih, Nak! Setelah Reyhan sembuh, kamu bisa menikah dengan Reyhan. Kita mulai dari awal lagi. Okey!" ucap Cynthia.
"Iya, Mih" jawab Nurul.
"Kami pamit pulang dulu, Cynthia. Besok kami kembali lagi ke Rumah Sakit!" pamit Hadi kepada Cynthia.
"Terima kasih banyak, Mas Hadi, Mutia! Terima kasih atas perhatiannya!" Hadi dan Mutia mengangguk. Setelah berpamitan, mereka kembali ke hotel. Untuk sementara mereka memilih hotel sebagai tempat tinggal. Cynthia sudah menyuruh mereka untuk tinggal di Mansion, tapi, mereka menolaknya. Mereka memang orang yang tidak suka merepotkan orang lain.
Hujan deras mengguyur bumi, bau khas tanah menyeruak sampai ke indera penciuman. Kilatan cahaya nampak sangat terang di langit, disusul dengan suara petir yang tidak berhenti menggelegar.
Cynthia dan Nurul saling mengeratkan pelukannya, karena takut mendengar petir yang tidak berhenti menggelegar.
"Mih, kenapa petirnya terdengar keras sekali?" ucap Nurul
"Entahlah, Mamih tidak tahu," jawab Cynthia.
"Nurul takut, Mih," ucap Nurul.
"Jangan takut, Sayang. Kan ada Mamih disini!"
Reyhan mengerjapkan matanya, sudah delapan jam lamanya dia tertidur karena pengaruh obat. Rasa sakit kepalanya berangsur menghilang. Dia mengamati setiap sudut ruangan ini, yang dia yakini bahwa dirinya sedang berada di Rumah Sakit. Cynthia dan Nurul yang sedang berpelukan karena merasa takut dengan petir, melihat Reyhan sadar mereka langsung mendekat.
"Reyhan, Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Cynthia sangat bahagia.
"Mas, Kamu sudah sadar?" ucap Nurul. Secara tiba-tiba, dia memeluk tubuh Reyhan. Reyhan langsung mendorongnya dengan kasar.
"Auw," pekik Nurul, dia terjatuh.
"Nurul, Kau tidak apa-apa?" Cynthia membantu Nurul berdiri.
"Rey, Kenapa kau kasar sekali kepada Nurul? Dia calon istrimu, Rey!" ucap Cynthia.
"Apa? Calon istri? Tidak, itu tidak benar. Dia bukan calon istriku," ucap Reyhan. Mereka berdua saling berpandangan.
__ADS_1
"Maksud kamu apa sih, Rey? Nurul itu calon istrimu!"
"Tidak. Mamih salah. Aku sudah menikah, Mih," jawabnya.
Seketika kepingan memori melintas di otaknya. Memory masa lalunya dan masa yang sekarang.
Reyhan membelalakkan matanya, lalu dia menjambak rambutnya sendiri. Kala memorinya kembali dengan sempurna. Dia memukul-mukul kepalanya, merutuki kebodohan yang ia lakukan.
"Mas, Kau kenapa?" tanya Nurul cemas. Reyhan menoleh ke arah Nurul, dia menatapnya dengan sangat tajam.
"Semua gara-gara Kau!" bentaknya. Membuat Cynthia terkejut dengan perlakuan kasar Reyhan kepada Nurul.
"Apa yang kau katakan, Rey?" bela Cynthia.
"Jika kau tidak pernah datang dalam kehidupanku. Kejadian ini tidak akan pernah terjadi!" murkanya.
"Apa maksud kamu, Mas? Kenapa kau menyalahkan ku!" isak Nurul. Dia sangat sedih atas kata-kata kasar yang keluar dari mulut Reyhan.
"Ini semua gara-gara Kau!" bentaknya lagi, "Kenapa kau memanfaatkan ketidak berdayaanku?" teriak Reyhan menggema diruang rawat.
"Apa maksudmu, Mas? Aku tidak mengerti!" ujarnya.
Reyhan yang gelap mata, dia turun dari tempat tidurnya. Dia mendekat ke arah Nurul dan berusaha mencekiknya.
"Reyhan, Apa yang kau lakukan, Nak? Lepaskan! Nurul bisa mati! Lepaskan, Rey!" teriak Cynthia berusaha melepaskan tangan putranya
"Ingat, Rey. Dia calon istrimu!" ucap Cynthia lagi.Tatapan tajam Reyhan beralih ke Mamihnya. Dia melepaskan cekikikannya.
"Uhuk ... Uhuk .... Uhuk." Nurul terbatuk-batuk.
"Aku sudah menikah, Mih. Aku sudah memiliki istri," bentak Reyhan, membuat Cynthia terkejut.
"Kau sudah mengingat semuanya?" tanya Cynthia ketakutan.
"Oh, tidak!" Reyhan mencoba untuk mengingat kembali kejadian terakhir.
"Halwa. Aku telah mengusirnya. Aku telah menjebloskannya ke penjara," lirih Reyhan.
"Rey, kamu tidak apa-apa?" tanya Cynthia khawatir.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Mih?" bingung Reyhan, "Dimana Halwa? aku sudah menjebloskannya ke penjara. Apa yang aku lakukan?" isak Reyhan.
Cynthia dan Nurul hanya diam, mereka tidak berani mengatakan apapun.
"Brengsek! Apa yang telah kulakukan?"umpatnya sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Antonio. Iya, hanya dia yang bisa menjelaskan semuanya!" batin Reyhan.
"Mana ponselku?" teriak Reyhan kepada Cynthia.
"Ponselmu sudah hancur, Rey. Ponselmu hancur saat kecelakaan!" jawab Cynthia.
"Aku pinjam ponsel Mamih!" dengan tangan yang bergetar, Cynthia menyerahkan ponselnya kepada Reyhan.
"Kamu mau menghubungi siapa, Rey?" Reyhan tidak perduli dengan pertanyaan Mamihnya.
Reyhan mendial nomor Antonio, dan betapa beruntungnya dia. Antonio langsung menjawab panggilannya.
Reyhan memerintahkan Antonio untuk datang ke Rumah Sakit. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut di otaknya. Reyhan yakin, Antonio akan berkata jujur.
Satu jam lamanya, Reyhan menunggu kedatangan Antonio. Antonio tidak kunjung datang. Reyhan nampak sangat gelisah dan dalam dilema yang besar.
Tok ... Tok ...Tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar.
"Assalamualaikum?"
"Walaikumsalam."
Antonio memasuki ruangan Reyhan, menelisik keadaan sekitar. Antonio melihat Tante Cynthia dan Nurul duduk di sofa sambil menundukkan kepalanya. Antonio yakin pasti ada masalah serius yang terjadi.
"Apakah Reyhan sudah mengingat semuanya?" batin Antonio. Reyhan baru saja keluar dari kamar mandi. Dia sudah berpakaian rapih.
"Antonio, kau sudah datang?"
"Iya, Rey," jawabnya, "Rey, aku senang ingatanmu kembali!" Antonio memeluk sahabatnya.
"Terima kasih, Bro. Aku sengaja menyuruhmu datang kemari, ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu. Kau adalah sahabatku, aku mohon jujurlah, jangan ada yang di tutup-tutupi!" ucap Reyhan.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Rey?"
"Selama aku kehilangan ingatan, Apakah Halwa datang kemari?" tanya Reyhan. Anthony menghela nafasnya panjang. Kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Iya, Rey. Dia memang datang dari Belanda ke Indonesia untuk menemuimu. Aku yang mengantarkan sendiri ke Apartemenmu!"
"Huft." Reyhan menghela nafasnya berat.
"Antonio. Aku sudah mengingat semuanya," ujarnya. Antonio menatapnya prihatin.
"Apakah kau juga ingat kalau Halwa ditangkap Polisi karena kasus pencurian?" tanya Antonio.
"Iya, aku mengingat semuanya. Aku yang sudah menjebloskannya ke penjara. Suami macam apa aku ini?" isaknya. Reyhan benar-benar sangat menyesal.
"Rey, Dia rela menjadi pelayan di rumahmu. Supaya bisa melihatmu setiap hari. Dia ingin menemuimu. Dia ingin merawatmu!" ucap Antonio sedih.
"Apakah Mamih ku yang menjadikannya seorang pelayan? Apakah dia juga tahu bahwa Halwa adalah istriku?" tanya Reyhan dengan linangan air mata. Antonio menganggukkan kepalanya kembali. Suara Reyhan tercekat, dia tidak percaya Mamihnya tega melakukan itu semua.
"Kenapa, Mih? Kenapa Mamih tega melakukan itu?" marahnya.
"Hiks .... Hiks ... Hiks." tangis Cynthia menyesal.
"Karena Mamih tidak menyetujui kau menikah dengan wanita miskin itu!" teriaknya.
"Apa? Kenapa Mamih berkesimpulan seperti itu? Mamih tidak tahu apa-apa tentang dia!" jawab Reyhan.
"Mamih tahu, karena dia adalah saudara kembar Salwa," ucap Cynthia.
"Jadi, karena itu, Mih," sedihnya. "Halwa berbeda dengan Salwa, Mih."
Reyhan pun menjelaskan siapa Halwa sebenarnya. Tidak ada yang ia tutup-tutupi, Reyhan mengatakan semuanya. Cynthia yang mendengar penjelasan Reyhan, dia sangat terkejut.
"Halwa tidak mungkin mencuri. Untuk apa dia mencuri? Dia sudah memiliki segalanya. Apakah ini juga salah satu trik Mamih untuk memisahkan Halwa dariku?" marah Reyhan. Cynthia tertunduk ketakutan. Iya, Reyhan bisa menebak. Apa yang terjadi kepada istrinya adalah ulah Mamihnya.
"Maafkan, Mamih, Nak! Mamih hanya ingin kau bahagia!" isak Cynthia.
"Betapa bodohnya aku!" Reyhan merutuki kebodohannya. Dia juga memiliki andil atas apa yang terjadi dengan sang istri.
"Asal Mamih tahu. Dia wanita yang spesial di hati Reyhan. Rey sangat mencintainya. Kenapa Mamih tega memisahkan Rey dengan istri Rey? Padahal Mamih sudah tahu kebenarannya?"
"Maafkan Mamih, Nak! Mamih bersalah," isak Cynthia.
"Kamu mau kemana, Rey?" tanya Cynthia.
"Aku akan ke kantor polisi untuk membebaskannya!" jawab Reyhan, "Jangan menunggu kedatangan Reyhan! Reyhan akan kembali ke rumah, jika Reyhan sudah bertemu dengan Halwa," sengitnya.
to be continued.........
__ADS_1