
Reyhan mendapatkan tiket dengan penerbangan pagi. Sekarang dia sudah berada di dalam pesawat. Kali ini dia akan pergi sendiri tanpa asistennya.
Reyhan menyenderkan kepalanya di kursi pesawat. Pikirannya menerawang jauh memikirkan istrinya. Dia takut kalau, istrinya akan menolak kehadirannya.
Tidak terasa pesawat yang ditumpanginya sudah sampai di Bandara Belanda. Reyhan turun dari pesawat, dan mencari kedai kopi. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sebentar.
Coffe Latte dengan campuran susu kental tersaji di meja. Reyhan menyeruput kopi tersebut sambil memandang orang berlalu lalang.
Setelah membayar biilnya, dia kembali melanjutkan perjalanan menuju Mansion milik Halwa. Reyhan memberhentikan taksi, dan menaiki taksi tersebut.
Jantungnya berdebar kencang, saat taksi yang ditumpanginya hampir sampai ke tempat tujuan.
"Kenapa jantungku berdetak kencang?" batinnya.
Taksi berhenti tepat di depan gerbang sebuah Mansion yang sangat besar. Di depan pintu gerbang tersebut, berdiri dua penjaga. Reyhan mendekati dua penjaga itu.
"Excuse me!" kedua penjaga itu menoleh ke sumber suara. Mereka mengenali orang yang berdiri di depan gerbang.
"Mr Reyhan!" ucap salah satu penjaga.
"Saya ingin bertemu dengan istri saya. Apakah saya boleh masuk?" tanya Reyhan dengan bahasa Inggris. Kedua penjaga tersebut saling berpandangan.
"Tentu, Tuan. Silahkan!" jawabnya. Mereka menjawab dengan bahasa Inggris juga. Mereka membuka gerbang yang menjulang tinggi.
"Apakah Halwa di rumah?" tanya Reyhan. Mereka saling berpandangan lagi.
"Bukankah, Nona di Indonesia?" jawab salah satu penjaga, justru balik bertanya.
"Dia memang ke Indonesia. Tapi, sudah pergi lagi. Aku pikir dia pulang ke Belanda?"
"Tidak, Tuan. Nona belum kembali dari Indonesia. Dia belum kembali ke Belanda," jawab penjaga tersebut.
"Kemana dia?" Reyhan mengusap wajahnya kasar.
"Boleh saya masuk?"
"Silahkan. Di dalam hanya ada pelayan dan pekerja," jawab penjaga.
"Baiklah, Terima kasih banyak," jawab Reyhan.
Reyhan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Dia disambut ramah oleh para pelayan.
"Silahkan, Tuan!" ucap pelayan mempersilahkan Reyhan masuk ke dalam kamar majikannya.
"Terima kasih," jawab Reyhan.
"Eh, Tunggu! Apakah nona sudah pulang ke sini?" tanya Reyhan kepada pelayan.
"Belum, Tuan. Nona kan di Indonesia?"
"Berarti benar kata penjaga, Halwa belum kembali ke sini!" batinnya.
"Baiklah, kamu boleh pergi!"
"Baik. Permisi, Tuan!" Reyhan menganggukkan kepalanya.
Tempat tidur king size milik istrinya terlihat masih sangat rapih. Seperti tidak terjamah oleh manusia.
Reyhan berjalan ke lemari baju istrinya. Lemari baju itu juga terlihat masih sangat rapih, dan dia beralih ke tempat sepatu dan tas, masih terlihat rapi juga.
Dia merebahkan tubuhnya di kasur. Perjalanan panjang membuat tubuhnya kelelahan. Tidak terasa matanya sangat mengantuk, Reyhan tertidur pulas di kasur milik istrinya.
INDONESIA
Antonio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di tengah jalan yang sepi, dia melihat seorang wanita yang sedang diganggu oleh empat penjahat. Terpaksa, Antonio harus berhenti untuk menolongnya.
__ADS_1
"Berhenti!" teriak Antonio.
"Jangan ikut campur! Ini adalah urusan kami!" bentak pria bermuka codet.
"Antonio. Tolong aku!" teriaknya. Ternyata wanita cantik itu adalah Nurul. Nurul memohon pertolongan kepada Antonio.
"Lepaskan dia!" teriak Antonio.
"Kalau tidak mau, kau mau apa?" bentaknya lagi.
"Ha ... Ha .... Ha." Mereka tertawa senang.
"Aku akan menghajar kalian semua!"
Aksi baku hantam pun terjadi. Mereka saling memukul dan menendang. Antonio dikeroyok oleh empat pemuda, namun nasib baik berpihak kepadanya. Dia mampu mengalahkan empat pemuda tersebut, hingga mereka babak belur. Mereka lari terbirit-birit entah ke mana. Antonio membernarkan bajunya yang berantakan akibat berkelahi tadi.
Dia hendak masuk ke dalam mobil, namun dicegah oleh wanita berparas ayu itu.
"Antonio?" panggilnya.
"Iya, Ada apa?" ketusnya.
"Terima kasih banyak," jawabnya.
"Kau mau kemana? Hingga bisa berurusan dengan para preman itu?" tanya Antonio.
"Aku ada urusan dan sekarang aku mau pulang. Entah sejak kapan, mereka mengikutiku. Lalu mereka memberhentikan taksi yang aku tumpangi. Pemilik taksi sampai ketakutan, dan dia lari meninggalkanku dengan mereka di sini," isak Nurul ketakutan. Antonio melepaskan jasnya, dan memakaikannya di tubuh Nurul.
"Apa ini?"
"Bajumu robek. Kau tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti itu kan?" Nurul baru menyadari bahwa bajunya terkoyak di bagian bahu.
"Aku akan mengantarmu pulang," ujarnya.
"Benarkah?" Antonio menganggukkan kepalanya.
Nurul masuk ke dalam mobil Antonio. Dia menunjukkan alamat tujuannya, dan Antonio sempat mengernyitkan alisnya.
Sampai di depan rumah yang cukup sederhana, Nurul turun dari mobil Antonio.
"Terima kasih banyak," ucap Nurul.
"Ini rumah siapa?" tanya Antonio. Setahu Antonio, Nurul tinggal bersama dengan Tante Cynthia.
"Ini rumah bude ku,"
"Oh,"
"Mau masuk?"
"Tidak, sudah sore. Sebaiknya aku langsung pulang!" Antonio kembali menaiki mobilnya. Dan melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke Apartemen.
"Eh, Tunggu. Jasnya tertinggal!" teriak Nurul, namun mobil Antonio sudah terlalu jauh.
"Aduh, Bagaimana aku mengembalikannya?" bingung Nurul.
"Bodo, ah. Aku pikirkan nanti!" ucapnya, kemudian dia masuk ke dalam rumah.
🍀🍀🍀🍀🍀
Nurul menunggu di lobby Apartemen. Dia berencana ingin mengembalikan jas milik Antonio. Dia mendapatkan alamat Antonio dari Tante Cynthia.
Orang yang ditunggunya nampak terlihat di pintu masuk. Nurul melambaikan tangannya ke arah Antonio sambil tersenyum manis.
"Mas Antoni?" panggilnya. Antonio nampak mengernyitkan dahinya. Kemudian dia menghampiri Nurul.
__ADS_1
"Sedang Apa Nona disini?" tanya Antonio.
"Saya mau mengembalikan jas ini," jawabnya.
"Oh,"
"Kenapa saya tidak ditawari kopi atau teh?"
"Apa?" heran Antonio.
"Terima kasih banyak," senyumnya sangat manis.
"Ck, belum juga ditawari sudah mengucapkan terima kasih," cebiknya. Dengan berlenggak lenggok, Nurul mengekor di belakang Antonio. Antonio juga heran melihat tingkah centil wanita didepannya.
Mereka memasuki lift bersama menuju lantai lima, Apartemen milik Antonio yang dibeli dengan hasil keringatnya sendiri.
"Silahkan masuk!" ucap Antonio.
"Wah, keren sekali!" ujarnya.
"Kau mau minum apa?" tanya Antonio.
"Ehm, susu ada nggak?"
"Ck, merepotkan banget sih? Aku tidak punya susu! Yang ada kopi dan teh!" sungutnya.
"Jangan marah dong, Mas! Nanti cepet tua!" ujarnya, "Iya, sudah, aku minum teh saja,"
"Ish, mengesalkan sekali," sungutnya.
Mau tidak mau, Antonio terpaksa harus membuatnya juga.
"Nih, aku sudah membuatkannya. Setelah habis kau bisa langsung pergi dari Apartemenku!" ucap Antonio meletakkan teh hangat di meja.
"Mas nggak membuat minuman? Kenapa hanya aku yang minum?"
"Ish, jangan cerewet!" cebiknya.
"Bukan begitu, Mas. Kan tidak enak juga kalau seorang tamu menikmati tehnya sendiri. Biasanya Tuan rumah akan menemaninya minum," tutur Nurul.
"Aku sedang malas!"
"Oh, malas. Bagaimana kalau aku yang membuatkan?" tanya Nurul. Belum juga Antonio menjawab, Nurul sudah berlalu pergi ke dapur.
Satu cangkir kopi hitam selesai dibuat. Nurul memberikannya kepada Antonio.
"Minumlah kopi buatanku! Anggap saja ini sebagai balas budi karena Mas Antoni sudah menolongku!" ucapnya.
"Balas budi kok nggak modal!" cibirnya.
to be continued......
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Aku kasih Visualnya Antonio dan Nurul ya........
Nurul
Wanita cantik asli keturunan Indonesia. Sifatnya periang. Dia juga pandai memasak, jika sudah mengenal sebenarnya Nurul itu baik, gampang akrab dengan orang, supel. Namun karena obsesinya kepada Reyhan, dia harus menyakiti hati wanita lain. Dia lupa kalau dirinya itu baik.
Antonio
Asisten sekaligus sahabat Reyhan. Mereka bersahabat sudah cukup lama. Antonio selalu ada dalam suka maupun duka. Itu kenapa Reyhan begitu percaya dengan sahabatnya ini.
__ADS_1
Author sudah memberikan Visualnya, yang tidak suka silahkan menghalu sendiri.....😘😘