Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Bab 50 : Reyhan tiba di Belanda


__ADS_3

Dua orang pria bertubuh tegap, tinggi, tampan dan macho melangkahkan kakinya keluar dari Bandara. Mereka menunggu jemputan, dan mereka menunggu sebentar di Cafetaria dekat Bandara.


Mereka adalah Reyhan dan Antonio. Sambil menunggu, Reyhan memesan dua cangkir Coffe Verkeerd. Coffe Verkeerd adalah kopi latte khas negeri Belanda. Kopi ini di buat dengan berbagai campuran seperti kopi espresso, secangkir susu panas dan juga susu hangat. Takaran kopi dan susu pada Coffe Verkeerd yaitu 50:50. Cita rasa kopi ini sangat kuat pada susunya. Reyhan sangat menikmati kopi ini, karena pada dasarnya dia juga sangat menyukai susu.


Jemputan yang mereka tunggu sudah datang. Reyhan di jemput oleh teman kuliahnya dulu, mereka sama-sama belajar di kampus yang sama, dia orang asli Belanda. Dia bernama Defras, dipanggil Def. Setelah Reyhan memberitahukan kedatangannya kepada Def, Def sangat bahagia. Dia langsung menawarkan diri untuk membantunya selama di Belanda. Dengan senang hati Reyhan menerima tawaran Def.


"How are you, Def?"tanya Reyhan kepada Def.


"I am fine. how are you?"tanya Def.


"I'm fine too, thank you!"


"Please follow me! While in the Netherlands, allow me to serve you!" said Def.


"Thank you very much, Def!"


Mobil yang mereka tumpangi pun melaju ke sebuah perumahan dengan gaya unik, perumahan asli orang Belanda. Tidak terlalu besar tapi sangat nyaman. Mereka berdua diperkenalkan kepada keluarga Def.


"Perkenalkan, ini istri saya bernama Aleta," ucap Def memperkenalkan istrinya kepada Reyhan dan Antonio. Mereka saling memperkenalkan diri.


"Saya Reyhan, dan ini Antonio," ucap Raihan kepada Aleta.


"Senang berkenalan dengan kalian," jawab Aleta.


"Oya, Rey, ini anak saya bernama Lara," ucap Def, memperkenalkan anaknya kepada Reyhan dan Antonio. Anak Def masih berusia satu tahun, jadi dia tidak mengerti dengan apa yang bicarakan oleh orang dewasa.


"Silahkan, Rey! Ikuti saya. Saya akan tunjukkan kamar kalian!" Def menunjukkan dua kamar tamu yang tidak terlalu besar, namun sangat bersih dan rapi.


"Ini kamar kamu, Rey! Dan yang sebelahnya kamar untuk temanmu!" ucap Def.


"Terima kasih banyak, kawan!" Reyhan menjabat tangan Def.

__ADS_1


Reyhan dan Antonio masuk ke kamarnya masing-masing. Mereka ditempatkan di kamar yang berbeda, karena tidak mungkin mereka ditempatkan pada satu kamar, pasalnya rumah Def kecil dan sederhana, namun ada beberapa kamar yang kosong. Itupun kamarnya tidak seluas kamar Apartemen Reyhan. Namun Reyhan menghargai pemberian Def.


Reyhan langsung mandi dan bersih-bersih. Tubuhnya sudah terlalu lengket dan gerah. Kamar mandinya juga tidak besar seperti di Apartemennya. Namun cukup nyaman dan bersih. Selesai mereka membersihkan badan, mereka di jamu dengan makan malam oleh istri Def. Istri Def terlihat sangat ramah. Dia memaksa mereka untuk menikmati makan malam yang ia masak sendiri.


Rasanya lumayan, tidak terlalu buruk. Namun bagi lidah orang Indonesia, rasanya cukup aneh dan unik. Masakan tersebut dikenal dengan nama Hutspot. Yaitu campuran daging sapi yang diiris dadu, lalu dicampur dengan sayuran yang dihaluskan seperti wortel, kentang, brokoli, buncis dan bawang bombay. Def menyajikan makanan ini dengan jenever atau bir Belanda. Namun Reyhan tidak meminum itu. Dia sudah lama meninggalkan minuman memabukkan. Berbeda dengan Antonio, dia langsung menenggak satu gelas bir di hadapannya. Membuat kepalanya agak pusing, dan sedikit mabuk.


Sambil menikmati makan malam, mereka mengobrol banyak. Hampir lima tahun, Reyhan dan Def tidak bertemu. Mereka ceritakan pengalamannya masing-masing. Terkadang mereka serius, terkadang pula mereka tertawa terbahak-bahak, mengingat kejadian lucu yang terjadi pada saat masa-masa kuliah.


Hari semakin malam, tubuh Reyhan juga terlihat sangat lelah. Menoleh ke arah Antonio, ternyata sahabatnya sudah terlalu mabuk. Dia pun berpamitan ke kamar untuk beristirahat. Reyhan memapah tubuh Antonio, dan membawa ke kamarnya sendiri.


BUGH ....


Reyhan melempar tubuh Antonio ke tempat tidur.


"Ah, bisa-bisanya kau mabuk dirumah orang," kesal Reyhan.


Reyhan pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Tubuhnya sudah terlalu lelah dan letih akibat menempuh perjalanan yang jauh.


Halwa sudah berdandan rapi dan sangat


cantik. Hari ini dia akan pergi ke kantor. Sudah lama juga dia meninggalkan perusahaannya. Sebelum ke kantor dia ingin mendaftarkan Noah ke Sekolah.


Mobil mereka tiba di sebuah sekolah elite, yang dikhususkan hanya untuk orang-orang kaya atau anak-anak pejabat saja.


"Mama, Apakah Noah harus bersekolah?" tanya Noah.


"Tentu saja, Sayang. Kamu harus bersekolah dan menjadi anak yang pintar. Buat papah mu bangga!" ucap Halwa.


"Baiklah," jawabnya lesu. Halwa tidak tega juga karena ini adalah pertama kalinya Noah masuk ke sekolah yang baru. Tentu saja lingkungan dan teman-temannya baru semua. Dia pun memutuskan untuk menunggu sampai Noah selesai belajar.


Setelah mendaftar, Noah dipersilahkan untuk memperkenalkan diri kepada teman-teman sekelasnya. Dia memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Inggris. Kebetulan di Sekolahan lamanya, Noah sudah belajar menggunakan bahasa tersebut. Jadi dengan mudah dia bisa berkomunikasi dengan teman-teman barunya. Anak-anak di Sekolahan tersebut juga sangat fasih menggunakan bahasa Inggris. Karena sebagian besar orang Belanda, menggunakan bahasa Inggris sebagai komunikasi, dengan tidak menghilangkan bahasa asli mereka sendiri yaitu bahasa Belanda.

__ADS_1


Noah masih belum menggunakan seragam sekolah, karena dia adalah murid baru. Setelah berkenalan, Noah di suruh duduk di kursi yang kosong. Noah anak yang sangat pintar, dia mudah berbaur dengan anak-anak yang lain.


Tidak banyak pelajaran yang dia ikuti, karena memang hari pertama hanyalah perkenalan saja. Selesai belajar, para murid berhamburan keluar kelasnya masing-masing. Noah langsung akrab dengan anak bernama Emmely dan Zidan.


"Bye, Noah!" ucap Emmely melambaikan tangan kepada Noha.


"Bye, Noah!" ucap Zidan, juga melambaikan tangannya.


"Bye, Bye," jawab Noah senang karena mendapatkan teman baru.


"Wah, yang sudah mendapatkan teman baru," ucap Halwa kepada Noah. Noah hanya tersenyum senang.


Mobil mereka meninggalkan Sekolah tersebut. Hari ini Halwa langsung menuju ke Perusahaan. Kali ini dia tidak sendirian. Dia mengajak Noah bersamanya. Tidak mungkin juga dia meninggalkan Noah sendiri di rumah, meskipun banyak pelayan, dia tidak tega.


Dalam waktu empat puluh menit mobil sampai di parkiran Perusahaan. Perusahaan yang besar, dengan papan nama 'Williams Group'. Noah sampai terheran-heran melihat Perusahaan yang ada di depannya.


"Mah, gedungnya besar sekali," heran Noah.


"Benarkah?"


"Ini gedung apa, Mah?" tanya Noah.


"Tempat Mama bekerja," jawab Halwa tersenyum. "Ayo kita masuk!" ajak Halwa.


Saat memasuki perusahaan tersebut, semua karyawan menundukkan kepalanya, sebagai tanda hormat kepada atasannya. Noah sampai bertanya-tanya, kenapa semua orang menunduk hormat kepada Mamanya, padahal Mamanya juga bekerja di Perusahaan ini. Karena Noah memang tidak tahu bahwa pemilik Perusahaan besar ini adalah Mamanya sendiri.


Banyak mata yang memandang mereka, namun mereka tidak berani untuk menghibah atasannya, karena karir mereka yang akan menjadi taruhannya.


Halwa berjalan dengan sangat anggun, dia melewati para karyawan yang menundukkan kepalanya. Halwa menampilkan senyum yang sangat manis, dan beramah-tamah dengan karyawan yang lain.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2