Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 63 : Pulang ke Belanda


__ADS_3

Tidak terasa mereka sudah dua Minggu di Paris. Hari ini mereka akan pulang. Halwa sedang mengemasi pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam koper.


"Sayang, Apakah semuanya sudah dimasukkan ke koper?" tanya Reyhan.


"Sudah, Sayang. Semuanya sudah dimasukkan. Sepertinya sudah tidak ada yang ketinggalan," ucap Halwa.


"Jangan sampai tertinggal oleh-oleh untuk Noah, Pasti Noah sangat senang!" ucap Reyhan.


"Kamu memang suami yang sangat perhatian," puji istrinya. Reyhan tersenyum senang.


"Ayo, Sayang. Kita harus check out dulu!"


"Okey,"


Taksi yang mereka tumpangi berjalan meninggalkan hotel menuju Bandara. Sekitar empat puluh lima menit, mereka sampai di Bandara Paris.


Setelah membayar ongkos taksi, Reyhan mengajak istrinya untuk bergegas masuk. Karena lima belas menit lagi pesawat akan lepas landas. Mereka berlari pelan untuk mengejar waktu. Dan syukurlah mereka bisa sampai di dalam pesawat tepat waktu.


"Capek?" tanya Reyhan.


"Ish, tentu saja capek. Kau ini bagaimana?" dengus istrinya. Reyhan terkekeh geli.


"Kenapa tertawa?" manyunnya.


"Habisnya semakin kamu cemberut, semakin menggemaskan. Dan aku jadi ingin memakanmu!" goda suaminya.


"Ck," Halwa mencubit pelan paha suaminya.


"Auw, sakit, Sayang," pekik suaminya.


"Makanya jangan berpikir mesum! Ini di pesawat!" ucap Halwa memberengut kesal. Rey hanya tertawa geli.


Sekitar satu jam dua puluh menit mereka sampai di Belanda. Reyhan dan Halwa turun dari pesawat dan disambut oleh Adam dan beberapa anak buahnya.


"Selamat datang di Belanda lagi, Nona, Tuan," sapa Adam sambil membungkukkan sedikit badannya.


"Terima kasih, Adam," jawab Reyhan.


"Mari, mobilnya sudah siap!" ucap Adam lagi.


"Terima kasih banyak, Asisten," ucap Halwa kepada Adam.


Mereka pun langsung masuk ke mobil yang sudah disediakan oleh Asisten Adam. Halwa nampak kelelahan, Reyhan menarik kepala istrinya supaya bersender di bahunya.


"Capek?"


"Lumayan," jawab Halwa.


"Sampai di rumah, nanti kamu langsung istirahat ya?"

__ADS_1


"Iya, Sayang," jawabnya.


Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan mansion. Mereka disambut hangat oleh para pelayan dan penjaga di sana. Noah yang baru saja mendengar suara mobil mamahnya berlari keluar.


"Mama?" teriak Noah. Noah berhambur kepelukan mamahnya.


"Noah,"


"Noah kangen Mama. Kenapa lama sekali, Ma?" tanya Noah.


"Maafkan, Om Rey, Boy," jawab Reyhan, "Kami memilih oleh-oleh yang terbaik untuk Noah. Noah mau melihatnya?" Noah yang mendengar kata oleh-oleh langsung senang dan lupa dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut di otak.


"Mana Om?" tanya Noah.


"Tuh di mobil," jawab Reyhan.


Noah berlari ke arah bagasi mobil. Semua barang-barang sedang di turunkan oleh beberapa pelayan.


"Hati-hati, Sayang!" seru Halwa.


Satu buah kotak besar yang masih rapih dengan bungkusnya. Dia menyuruh pelayan agar cepat membawanya masuk. Karena Noah sudah tidak sabar ingin membukanya. Reyhan dan Halwa hanya terkekeh melihat aksi lucu Noah.


Sampai di dalam rumah, Noah menyuruh pelayan untuk segera menurunkan kotak besar itu.


"Ayo turunkan!" suruh Noah kepada pelayan dengan menggunakan bahasa Belanda. Satu bulan mengikuti les Bahasa, Noah cepat mahir menggunakan bahasa tersebut.


"Ini Tuan muda," ucap pelayan.


Noah nampak sangat senang dan terheran-heran. Karena, dulu saat di Indonesia. Dia sangat menginginkan mainan tersebut, akan tetapi dia tidak berani untuk mengatakan kepada sang papa. Dia hanya bisa mendengar cerita dari teman-teman kelasnya yang baru saja membeli mainan tersebut. Dan mainan ini termasuk mainan yang harganya sangat fantastis, di jual sebanyak dua ratus mainan seperti ini. Hanya anak orang konglomerat saja yang bisa memilikinya.


"Ma, ini kan sangat mahal? Kok Mama membelinya?" tanya Noah.


"Om Rey yang membelinya," ucap Halwa.


"Wah, terima kasih banyak, Om" ucap Noah memeluk Reyhan.


"Sama-sama, Boy. Om tahu kamu sangat menginginkan mainan ini. Dan kebetulan ini tinggal satu-satunya di dunia. Dan Om sengaja membelikannya untuk kamu," jelas Reyhan.


"Terima kasih, Om,"


"Iya," ucap Reyhan sambil mengacak-acak rambut Noah. "Sekarang kamu main sendiri ya? Biar Om Adam yang menemani kamu bermain!" ucap Reyhan. Sebenarnya dia sedang mengerjai Asisten istrinya yang super duper dingin.


"Ayo, Om Adam, temani Noah bermain!"


"Apa?" meskipun sedang dikerjai raut muka Adam masih dingin saja seperti kulkas.


"Ck, kamu sedang tidak mengerjai Adam kan?" selidik istrinya.


"Ha ... Ha ... Ha." tawa suaminya.

__ADS_1


"Dasar usil!" cibir Halwa.


Halwa langsung pergi ke kamarnya, tubuhnya terasa sangat lelah. Dia ingin langsung mandi dan bersih-bersih. Setelah itu merebahkan tubuhnya di kasur big size-nya. Reyhan mengekor di belakang istrinya.


Sembari menunggu Halwa mandi, Reyhan menengok ponselnya, yang beberapa hari ini sengaja tidak di aktifkan. Karena dia tidak mau acara bulan madunya terganggu.


Banyak sekali notifikasi yang masuk di ponselnya berupa panggilan dan pesan masuk. Beberapa panggilan dari kantor, panggilan dari Antonio dan terakhir dari seseorang yang sangat tidak asing baginya.


"Mamih?" ternyata nama Mamihnya yang tertera di notifikasi panggilan.


"Ada apa ya?" batin Reyhan.


"Siapa, Sayang? Sepertinya serius banget?" tanya Halwa yang baru keluar dari kamar mandi.


"Maafkan aku, Sayang. Aku belum bisa cerita sama kamu. Aku punya alasan yang kuat kenapa aku belum bisa cerita," batin Reyhan.


"Kok diam?" tanya Halwa lagi.


"Dari anak buahku di Indonesia. Sepertinya ada sedikit masalah di sana. Nanti setelah mandi aku menelpon balik. Sekarang aku mandi dulu ya!" ucap Reyhan sambil mencium bahu istrinya yang sedikit terbuka.


"Iya sudah, sana mandi!" suruh Halwa.


Halwa mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer. Setelah sudah agak kering, dia merebahkan tubuhnya di kasur.


"Hoam, sepertinya tubuhku sangat lelah. Aku pejamkan mata sebentar," gumamnya. Lambat laun rasa kantuknya sangat mendominasi dirinya. Berkali-kali dia menguap, dan rasa kantuk itu sudah tidak bisa ditahan lagi. Sekali memejamkan matanya, dia sudah berada di alam mimpi.


Satu jam kemudian, Reyhan keluar dari kamar mandi. Dia menoleh ke arah tempat tidur. Ternyata istrinya sudah terlelap. Reyhan tidak mau mengganggu, dia pun dengan perlahan melangkahkan kakinya menuju balkon.


Reyhan hendak menghubungi mamihnya yang berada di Indonesia. Dia ingin menanyakan kabar Mamihnya.


Dret ... Dret .... Dret


"Hallo, Mih?"


"Dasar anak kurang ajar! Kemana saja kamu? Mamih pulang ke rumah malah kamu tidak ada! Kamu ada dimana, Rey?" tanya Cynthia, Mamih Reyhan. Suara mamihnya yang seperti petasan meletus membuatnya harus menjauhkan ponsel dari telinga.


"Mamih apaan sih?" tanya Reyhan, "Berisik tahu, Mih!"


"Kamu ada dimana? Kenapa kamu nggak ada di rumah? Mamih menghubungi Antonio, ponselnya tidak aktif!"


"Iya, Mih. Reyhan sedang ada di luar negeri. Reyhan sedang ada bisnis disini!" jawab Reyhan.


"Kapan pulangnya?"


"Mungkin satu Minggu lagi," jawab Reyhan.


"Oke, Mamih tunggu. Karena ada hal yang sangat penting yang harus Mamih katakan kepadamu, Rey," ucap Chyntia.


"Iya, Mih,"

__ADS_1


Tut .... Tut .... Tut


to be continued.....


__ADS_2