Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Bab 55 : Belajar Menerima


__ADS_3

Sampai di depan rumah Halwa. Dia menoleh ke arah Noah, ternyata Noah ketiduran di dalam mobil.


"Sudah sampai. Sebaiknya kamu panggil pelayan untuk membopong tubuh Noah. Aku akan langsung pulang naik taksi," ucap Reyhan.


"Kenapa tidak masuk dulu? Kamu kan sudah sampai di sini, mampirlah ke rumahku!" ajak Halwa kepada Reyhan.


"Kamu yakin mengajakku masuk ke dalam?" goda Reyhan.


"Ck, Aku menawari mu sekali saja! Jika tidak mau ya sudah," cebik Halwa berlalu hendak mengangkat tubuh Noah. Namun Reyhan langsung menyerobot tubuh Noah dari gendongan Halwa. Membuat Halwa berdecak kesal melihat kelakuan laki-laki di depannya. Tapi, jauh di lubuk hatinya dia sangat senang karena bisa selalu berdekatan dengan Reyhan.


Reyhan meletakkan tubuh Noah ditempat tidur. Halwa menyuruh seorang pelayan untuk membuatkan minuman untuk tamunya. Tidak menunggu lama, secangkir kopi dengan cemilan disajikan di ruang tamu. Halwa mempersilahkan Reyhan untuk menikmati kopinya.


"Silahkan, Rey! Cicipi minumannya!" ucap Halwa.


"Terima kasih," jawab Reyhan. Reyhan menyeruput secangkir kopi yang disajikan oleh pelayan. Rasanya sangat enak, rasa kopinya sangat khas dengan krim susu yang sangat kental. "Apakah kau sendiri, di rumah sebesar ini?" tanya Reyhan tiba-tiba.


"Iya, Aku sendiri," jawabnya sambil tersenyum. "Setelah ibu meninggal, aku dirawat oleh Kakek dan Nenek. Lalu, Nenekku meninggal. Kemudian Kakek menyusul," sedih Halwa. Reyhan bisa merasakan kesedihan di diri Halwa.


"Tapi, sekarang kau tidak usah bersedih. Karena sudah ada Noah dan Aku," ucap Reyhan. Halwa tersipu malu, pipinya memerah seperti udang rebus.


"Kepedean sekali," cebik Halwa.


"Lho, benarkan? Aku tahu selama ini kau merindukanku. Kau mengharapkan kedatanganku kan?" ucap Reyhan dengan penuh percaya diri.


"Ck, kau ini percaya diri sekali!" cebiknya lagi memberengut kesal.


"Baiklah, sudah malam. Aku akan pulang!" ucapnya.


"Tapi, ini sudah malam. Kau menginap saja disini," ucap Halwa.


"Jadi, kau masih merindukanku?" tanya Reyhan.

__ADS_1


"Ish, kau ini benar-benar pria yang tidak tahu malu. Aku menawarimu menginap, karena hari sudah malam. Lagipula kau juga tidak membawa mobil!" gerutu Halwa. "Sekarang, begini saja! Anggap saja aku membalas kebaikanmu. Karena selama aku tinggal di Indonesia, kau baik kepadaku," seloroh Halwa.


"Ha ... Ha .... Ha."


"Kau ini sangat lucu. Pantas aku benar-benar sangat menyukaimu!" ucap Reyhan.


"Apa?"


"Aku harus pulang. Lagipula, aku sudah mengirimkan pesan kepada kawanku untuk menjemput," ucap Reyhan beranjak dari tempat duduknya.


"Apakah kau yakin ingin pulang?" tanya Halwa memastikan. Jauh di lubuk hatinya, dia memang masih sangat merindukan pria yang berdiri dihadapannya. Reyhan menatap manik Halwa, dia memegang bahu wanita yang berdiri didepannya.


"Aku harus pulang. Tidak baik seorang pria dan wanita yang masih lajang tinggal di satu atap yang sama. Kecuali jika mereka sudah memiliki hubungan yang pasti. Aku hanya ingin menjagamu dari sesuatu yang tidak baik," ujarnya sambil mengusap kepala Halwa. Kata-kata Reyhan menohok dihatinya.


"Apa yang dikatakan Rey memang benar, Apa kata orang jika melihat kami tinggal di atap yang sama tanpa ikatan perkawinan. Bisa-bisa para pelayan dan pekerja berfikiran negatif kepadaku," batin Halwa.


"Ck, jangan berfikiran macam-macam!" ucapnya.


"Makan malam?"


"He'em. Aku tunggu kamu jam tujuh malam," bisik Reyhan tepat ditelinga Halwa.l


"Baiklah. Aku mau," lirihnya.


Reyhan berpamitan kepada Halwa, karena Def sudah menunggu di depan gerbang. Halwa pun mengantarkan Reyhan sampai di depan pintu.


"Bye!" Halwa melambaikan tangannya, menatap kepergian Reyhan. Sampai Reyhan masuk ke dalam mobil Def dan tidak terlihat lagi, barulah dia masuk ke dalam rumah.


Indonesia


Dimas duduk di depan Maya. Maya memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mudah untuk Dimas. Dia sengaja memberikan pertanyaan yang mudah, supaya Dimas tidak kesulitan dalam menjawab. Maya melakukan itu, agar otak Dimas bisa merangsang pertanyaan yang dilontarkannya.

__ADS_1


"Bagaimana perasaan Mas Dimas sekarang? Apakah senang, sedih, atau sedang tidak mood?" tanya Maya kepada Dimas.


"Ehm, saya sedang sedih. Saya merasa bersalah. Saya ingin bertemu dengan istri saya, dan meminta maaf," ujarnya.


"Sedih ya? Bagaimana kalau kita melakukan senam wajah? Supaya Mas Dimas bisa merasakan sedikit rasa bahagia dan lebih rileks!" tutur Maya.


"Bagaimana caranya?" tanya Dimas penasaran.


"Lakukan, Apa yang saya suruh!" Maya meletakkan buku dan pulpennya. Dia memberikan aba-aba kepada Dimas, untuk menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Kemudian, Maya kembali menyuruh Dimas melakukan hal yang sama, hingga berkali-kali. Setelah itu, Maya menyuruh Dimas untuk melakukan gerakan di wajahnya. Seperti memicingkan mata, mengedipkan mata, menyerukan huruf-huruf vokal, dan terakhir tersenyum selebar mungkin.


Selesai dengan itu, Maya menyuruh pasiennya untuk mencoba mengingat hal-hal yang menyenangkan, hal-hal yang menurutnya berkesan, dan hal-hal yang lucu, yang sering kita lakukan bersama orang-orang tercinta.


Dimas menutup matanya, Dia mengingat hal-hal yang menurutnya sangat berkesan baginya. Saat-saat dirinya melamar istri pertamanya, dan memakaikan cincin bunga yang dia petik sendiri di jalanan, dan merangkainya hingga menjadi sebuah cincin yang sangat cantik. Kemudian dia melamar Salwa dengan cincin tersebut untuk menjadi istrinya.


Dimas tersenyum mengingat hal-hal tersebut. Kemudian pikirannya beralih, kesebuah peristiwa terpenting di dalam hidupnya. Pertama kali dia mendapatkan hadiah ulang tahun dari sang istri berupa testpack. Betapa bahagianya saat itu. Bahkan dia merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.


Dimas kembali mengingat hal yang sangat luar biasa baginya. Kelahiran Noah membuat dunianya berubah. Lebih berwarna dan lebih ceria lagi. Hari-harinya dia isi dengan kebersamaan dengan keluarga kecilnya.


Tiba-tiba raut muka Dimas berubah, ketika dia mengingat pengkhianatan yang dilakukannya kepada istri pertama. Dia mengingat dengan jelas bahwa dirinyalah yang membuat istri pertamanya terluka dan pergi. Dimas membuka matanya. Tanpa terasa dia meneteskan air matanya. Maya memberikan tisu kepada pasiennya.


"Mas Dimas bisa sedikit membagi bebannya kepada orang lain. Seperti keluarga, teman, kerabat atau kepada saya. Saya siap mendengarkan semuanya," tutur Maya dengan sangat lembut. Dimas menatap Maya, dia bisa melihat kalau Maya bisa menjadi teman yang baik.


"Apakah kamu mau mendengarkan curhatan ku?" tanya Dimas.


"Tentu saja. Sekarang kita kan teman," jawab Maya.


Dimas memulai ceritanya, dia mengeluarkan semua beban berat yang ada dipikirannya. Maya mendengarkannya dengan seksama, kemudian dia memberikan nasehat yang bijak, yang bisa Dimas ambil hikmahnya. Dimas nampak mengerti dan manggut-manggut saja mendengar penjelasan Maya.


"Baiklah, Mas Dimas. Untuk hari ini cukup sekian. Besok kita lanjutkan lagi! Semoga apa yang kita pelajari hari ini, bisa membuat perubahan besar dalam hidup kita. Yang pasti kita harus selalu bersemangat menjalani hidup. Jangan biarkan diri kita berlarut-larut dalam kesedihan," tutur Maya. Dimas mengangguk mengerti dengan ucapan Maya.


Setelah tugasnya hari ini selesai, Maya memutuskan untuk pulang. Dia berpamitan kepada Dimas dan Tante Hilda.

__ADS_1


to be continued......


__ADS_2