Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Bab 57 : Yes, I want to marry you


__ADS_3

'Jalan cinta selalu melahirkan perubahan besar dengan cara yang sangat sederhana. Karena ia menjangkau pangkal hati secara langsung darimana segala perubahan dari diri seseorang bermula. Bahkan ketika ia menggunakan kekerasan, cinta selalu mengubah efeknya, dan ia seketika berujung haru'_M Anis Matta


"Bagian tersulit dari mencintai seseorang adalah menunggu dia balas mencintaimu.' _ Cristian Simamora.


Reyhan kembali mengulangi kata-katanya. Menanyakan hal yang sama kepada Halwa.


"Will you marry me?" tanya Reyhan. Kembali Halwa membeku, dia bingung harus mengatakan apa. Ini terlalu mendadak baginya. Tapi, melihat manik Reyhan, dia yakin ada cinta besar untuknya. Cinta untuk dirinya, bukan untuk saudara kembarnya.


"I want to marry you!" jawab Halwa.


Reyhan begitu bahagia mendengar jawaban wanitanya. Dia tidak menyangka, cintanya diterima oleh wanita pujaan hati. Tanpa dia sadari, dia memeluk tubuh Halwa.


"Aku benar-benar bahagia," jawab Reyhan.


"Aku juga. Tapi ..... !" Halwa menjeda kalimatnya.


"Kenapa?" tanya Reyhan.


"Kau tidak menganggap ku sebagai Salwa kan?" tanya Halwa memicingkan matanya. "Karena aku tahu bahwa sejak dulu kau menaruh hati kepada Salwa," imbuhnya lagi. Reyhan tersenyum manis.


"Apakah kau cemburu?" tanya Reyhan.


"Tidak," jawab Halwa, pipinya bersemu merah.


"Jujur, aku memang ada hati dengan saudara kembar mu. Dia adalah sahabatku, saat di sekolah. Namun, dia sama sekali tidak ada perasaan kepadaku. Dan aku tidak bisa memaksakan perasaan ku kepadanya. Saat itu aku sempat sedih dan terluka," jelasnya. "Tapi, saat bertemu dengan mu. Aku kembali jatuh cinta. Kau wanita yang sangat baik, unik, dan berbeda dengan wanita lainnya. Kau sangat tulus dan ikhlas. Itulah yang membuatku jatuh cinta kepadamu," ucap Reyhan panjang lebar, "Jadi, aku mohon. Jangan berfikiran kalau aku menyukaimu, karena wajahmu mirip dengan Salwa," tukasnya.


"Benarkah, apa yang kau katakan?" tanya Halwa kepada Reyhan. Dia ingin mencari kebenaran di mata Reyhan. Kalau cinta Reyhan benar-benar tulus kepadanya.


"Percayalah. Aku, Reyhan Arsenio sangat menyayangimu. Aku sangat mencintaimu. Jadilah istri dan ibu dari anak-anakku. Aku berjanji akan menjaga dan membahagiakanmu!" ucap Reyhan. Halwa tersenyum, kemudian dia mengangguk. Itu tandanya, dia menerima Reyhan sebagai kekasih. Reyhan sangat bahagia, bahkan kebahagiaannya tidak bisa dikatakan dengan kata-kata.


Setelah makan malam selesai, Reyhan mengajak Halwa berdansa, sambil diiringi dengan musik yang romantis. Halwa menyenderkan kepalanya di dada bidang Reyhan. Dia sangat nyaman berada di pelukan kekasihnya. Berkali-kali Rayhan mencium kening wanitanya.


Acara makan malam selesai, Reyhan mengantarkan Halwa pulang ke rumah. Setelah melihat kekasihnya masuk ke dalam rumah, barulah dia meninggalkan tempat tersebut. Di sepanjang perjalanan, dia tersenyum bahagia. Karena, hari ini lamarannya sudah diterima oleh sang kekasih hati.

__ADS_1


INDONESIA


Maya kembali datang ke rumah Dimas. Namun kali ini, dia ingin mengajak Dimas ke sebuah tempat. Setelah berpamitan dengan Hilda, mobil mereka melaju meninggalkan rumah Dimas.


Rencananya Maya ingin mengajak Dimas melakukan psikoterapi bersama salah satu kawan psikolog. Mobil yang dikendarai Maya berhenti di sebuah klinik pribadi.


Mereka turun dari mobil dan disambut hangat oleh Dokter Wayne. Dokter Wayne sendiri adalah seorang psikolog. Dia adalah teman kuliah Maya saat di luar negeri.


"Maya, Apa kabar?" tanya Dokter Wayne menjabat tangan Maya.


"Baik, Kak. Kabar kakak bagaimana?" tanya Maya.


"Aku juga baik. Siapa pria yang bersamamu?" tanyanya.


"Ini yang aku ceritakan tempo hari. Dia adalah salah satu pasienku," ucap Maya memperkenalkan Dimas kepada Wayne.


"Kak, ini Dimas. Dan Mas Dimas ini adalah Dokter Wayne. Dia seorang psikolog," ucap Maya kepada Dimas. Dimas menjabat tangan Dokter Wayne dengan tersenyum.


Dokter Wayne melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Mereka berdua mengekor di belakangnya. Nampak sebuah ruangan yang luas dan rapih. Dokter Wayne mempersilahkan tamunya duduk di sofa di ruangan itu.


"Bagaimana? Apa keluhannya?" Maya menceritakan semuanya kepada Dokter Wayne. Wayne hanya manggut-manggut saja mendengar cerita Maya.


" Bagaimana perasaan Anda saat ini Pak Dimas?" tanya Dokter Wayne.


"Baik," jawabnya singkat.


Hari itu juga Dokter Wayne memberikan terapi interpersonal. Terapi interpersonal adalah terapi psikologis yang bertujuan meningkatkan hubungan interpersonal yang terganggu akibat depresi atas kehilangan seseorang yang sangat dicintainya, dan pasien merasa sangat bersalah hingga secara tidak langsung dia terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.


Selama satu jam terapi selesai. Dimas dan Maya berpamitan kepada Dokter Wayne. Mereka meninggalkan klinik Dokter Wayne. Sebelum pulang, Maya mengajak Dimas untuk makan siang bersama. Dimas hanya mengangguk dan menuruti kemauan Maya.


Mobil Maya berhenti di sebuah rumah makan. Maya memesan dua porsi nasi dan lauk pauknya beserta dua gelas lemon tea. Dimas menikmati makanannya dalam diam. Sekilas Maya melirik ke arah Dimas, secara diam-diam dia mengagumi ketampanan pria di depannya.


"Tampan juga," gumamnya. "Ish, Apa yang aku pikirkan. Kenapa tiba-tiba aku mengangumi pasienku sendiri?" batin Maya, menepis pikiran anehnya.

__ADS_1


Selesai makan siang, Maya melanjutkan kembali perjalannya pulang ke rumah. Sampai di depan rumah Dimas, Maya langsung berpamitan kepada Dimas.


"Mas, sampaikan salam ku kepada Tante Hilda. Aku langsung pulang saja!" ucap Maya.


"Terimakasih banyak, Dok. Hati-hati di jalan," ucap Dimas dingin tanpa ekspresi. Kemudian dia berlalu masuk ke dalam rumah tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Astaga. Dia benar-benar sangat dingin. Padahal menurutku dia itu sudah sembuh. Kenapa sifatnya sangat dingin sekali?" tanya Maya berdialog dengan dirinya sendiri. Kemudian Maya melajukan mobilnya meninggalkan rumah Dimas.


Melihat putranya pulang, Hilda sangat senang.


"Kamu sudah pulang, Dim?" tanya Hilda.


"Iya, Mah," jawabnya.


"Bagaimana terapi nya dengan psikolog?"


"Bagus. Dimas bisa menjawab semua pertanyaan dari Dokter Wayne," jawab Dimas.


"Benarkah. Itu sangat bagus, Dim. Kamu sudah ada kemajuan yang sangat besar. Mama selalu berdoa untuk kesembuhan mu," ucap Hilda.


"Terima kasih, Ma. Maaf, tubuh Dimas sangat lelah. Dimas ingin beristirahat dulu!"


"Iya, Sayang. Beristirahatlah! Kamu harus banyak beristirahat, supaya tubuhmu cepat pulih dan sehat!"


Masuk ke dalam kamarnya, Dimas langsung mandi dan bersih-bersih. Selesai mandi, dia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dia memandangi langit-langit kamarnya, sejurus dia mengingat masa-masa yang sangat membahagiakan di dalam hidupnya.


"Noah, dimana sekarang kamu, Sayang?" tanya Dimas, tiba-tiba dia teringat dengan Noah. Dia pun mengambil ponselnya untuk melakukan panggilan video dengan putra yang sangat dirindukannya.


Dret .... Dret .... Dret


Noah menerima panggilan video tersebut. Ternyata dari sang Papa. Dia sangat bahagia bisa melihat Dimas dilayar ponselnya. Halwa sengaja membelikan satu buah ponsel untuk Noah. Karena sewaktu-waktu, pasti dia ingin menghubungi Papanya.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2