Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 85 : Cynthia Sakit


__ADS_3

Reyhan duduk di kursi kebesarannya, sambil membuka amplop coklat. Amplop yang baru ia dapatkan tadi pagi dari sekertarisnya. Reyhan melihat nama pengirim amplop tersebut, dia kenal betul siapa yang mengirimnya.


"Rony?" gumamnya, "Dia mengirim apa ya?" Reyhan mulai membuka amplop itu secara perlahan. Ternyata isi dari amplop tersebut adalah foto-foto istrinya.


"Halwa?"


Tok ... Tok ... Tok


"Masuk!"


"Rey, Lu lagi sibuk?" tanya Antonio melongok kan kepalanya diantara celah pintu.


"Nggak, Kenapa?" tanya Reyhan. Antonio melangkahkan kakinya dan duduk persis di depan meja Reyhan. Dia menyerahkan sebuah undangan.


"Ini undangan!" ucap Antonio.


"Dari siapa?" tanya Reyhan.


"GL Group," jawab Antonio.


"GL Group? Bukankah ini Perusahaan baru yang sedang naik daun?"


"Iya, Rey. Kita juga ada kerjasama dengan Perusahaan baru ini. Dan mereka mengundang kita di acara ulang tahun Perusahaannya!" ucap Antonio.


"Kau saja yang datang!" Reyhan memberikan undangan tersebut ke Antonio.


"Nggak, Rey. Kali ini, Lu yang harus datang! Nggak enak juga kan, undangan langsung dari pemilik GL Group, tapi Lu sebagai CEO ARSENIO ngga datang?" jawab Antonio.


"Nanti gue pikirkan," jawabanya.


"Itu apa, Rey?" tanya Antonio menunjuk ke arah amplop coklat yang ada di tangan Reyhan.


"Gue dapet dari orang kepercayaan gue. Yang gue tugaskan untuk selalu memantau rumah Halwa di Belanda. Dan gue mendapatkan kiriman ini dari dia," terangnya.


"Apa isinya?"



"Foto," jawab Reyhan, "Tapi, yang aneh di dalam foto itu, Halwa sedang hamil, Bro," jelas Reyhan.


"Hamil? Apakah Halwa di Belanda? Jadi dia sudah menikah lagi? " heran Antonio.


"Tidak mungkin, Bro. Dia tidak mungkin menikah lagi. Karena gue belum menceraikannya," jelas Reyhan, "Dan gue juga belum tahu foto ini diambil kapan? Yang jelas Halwa sempat terlihat di Belanda. Itu berarti dia bolak-balik ke Belanda," ucap Reyhan.


"Jadi, kalau begitu dia hamil anak, Lu?"


"Mungkin," jawabnya, "Dan, jika itu benar, berarti alasan dia nggak mau ketemu gue, dia benar-benar sangat kecewa sama gue, Bro," sedih Reyhan.


"Gue bodoh! Gue sangat bodoh!" sesal Reyhan merutuki kebodohannya sendiri.


"Tenang, Bro, kita harus berfikir tenang. Kita akan mencarinya, bila perlu kita bayar hackers untuk melacaknya,"


"Huft." Reyhan menghela nafasnya berat.


"Gue yakin suatu saat dia kembali dan jujur sama gue," ucap Reyhan.

__ADS_1


"Iya, iya. Lu bener, semoga Halwa balik ke Indonesia bersama anak-anaknya. Dan Lu bisa langsung ketemu sama anak dan istri, Lu,"


🍀🍀🍀🍀🍀


Setelah menyelesaikan semua pekerjaan, Reyhan memutuskan untuk langsung pulang ke Apartemen. Dia memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang lumayan macet.


Ditengah perjalanan, dia mendapatkan notifikasi pesan masuk diponsel. Dia mendapatkan pesan bahwa Mamihnya sedang sakit, dan sudah tiga hari mamihnya sakit.


Reyhan pun merasa khawatir, dia memutar balik mobilnya ke arah Mansion. Dengan kecepatan tinggi dia melajukan kendaraan. Hanya hitungan beberapa menit saja, mobil sampai di depan halaman.


Reyhan bergegas masuk ke dalam untuk melihat kondisi sang Mamih. Dia sangat terkejut karena Mamihnya begitu kurus. Mamihnya terbaring lemah di tempat tidur.


"Mamih?" panggil Reyhan. Memang sekian tahun, Reyhan tidak pulang ke rumah. Itu dia lakukan karena dia begitu marah kepada sang Mamih. Namun melihat keadaan sang Mamih demikian, dia menyesali perbuatannya.


"Mih? Maafkan Reyhan!" ucapnya. Cynthia menoleh ke sumber suara. Dia menitikkan air mata bahagia karena putra semata wayangnya mau pulang ke rumah sekedar melihatnya yang sedang terbaring lemah.


"Rey, panggilkan Dokter," ujarnya.


"Tidak, Rey. Obat Mamih cuma kamu. Tolong Maafkan Mamih! Mamih bersalah sama kamu. Maafkan Mamih, Nak!"


"Iya, Mih. Reyhan sudah memaafkan Mamih. Mamih harus sehat, Mamih harus sembuh!" isak Reyhan.


"Rey, panggilkan Dokter ya?" Cynthia menganggukkan kepalanya.


Reyhan pun menelfon Dokter keluarga untuk memeriksa Mamihnya. Satu jam kemudian Dokter datang, Reyhan mempersilahkan Dokter untuk memeriksa, sedangkan dirinya menunggu di depan kamar.


"Bagaimana keadaan Mamih saya, Dok?" Dokter itu baru saja keluar dari kamar Mamihnya.


"Tensinya saja yang rendah, makanya Ibu Cynthia terlihat sangat lemas. Mungkin dia banyak pikiran dan nafsu makannya juga tidak teratur. Tidur yang tidak teratur juga bisa menyebabkan tensi menurun. Saya kasih vitamin penambah darah. Tolong nanti diminum rutin ya, Pak!"


Tiga hari berlalu, kondisi sang Mamih semakin baik. Cynthia sudah bisa makan sambil duduk. Reyhan menyuapi makan Mamihnya dengan telaten.


"Rey, Maafkan Mamih. Selama ini Mamih tidak pernah mementingkan perasaanmu. Mulai sekarang, Mamih akan menerima semua pilihanmu," ucap Mamihnya.


"Benarkah, Mih?"


"Iya, Nak. Mamih menyesal karena sudah memisahkan kamu dengan istrimu," isaknya.


"Sudah, Mih. Jangan menangis! Reyhan nggak mau melihat Mamih menangis," ujarnya sambil menghapus air mata Cynthia.


"Apakah Halwa belum ketemu juga?" tanya Cynthia, Reyhan menggelengkan kepalanya.


"Maafkan, Mamih!" isaknya lagi.


"Doakan Reyhan, Mih! Reyhan pasti bisa menemukannya!"


"Iya, Nak. Mamih selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu! Semoga kalian berdua bisa berkumpul kembali!" ucap Cynthia.


"Terima kasih banyak ya, Mih!"


🍀🍀🍀🍀🍀


Halwa, Adam dan si kembar keluar dari Bandara Internasional Indonesia. Halwa menggandeng tangan Gabino, sedangkan Adam menggandeng tangan Gabrio. Mereka nampak sangat senang, berlari kesana-kemari. Membuat Adam pusing, karena dia harus mengejar-ngejarnya.


Dimas dan Noah sudah berdiri di depan pintu keluar. Noah mengembangkan senyum menyambut kedatangan Mama dan kedua adik kembarnya.

__ADS_1


"Mama?" panggil Noah.


"Noah," senang Halwa. Dia memeluk putranya dengan sayang. Hampir saja air matanya terjatuh, namun sebisa mungkin dia tidak meneteskan air matanya.


"Kau semakin tinggi saja!" puji Halwa.


"Ah, Mama, bisa saja!" senang Noah bisa bertemu kembali dengan Mamanya. Gabrio dan Gabino nampak takut, mereka bersembunyi di belakang Mommy nya.


"Apakah itu Gabrio dan Gabino?" tanya Noah.


"Iya, Sayang," jawab Halwa, "Gabrio? Gabino? Apakah kalian tidak mau memeluk Kakak Noah?" tanya Mommnya.


"Mau," mereka menganggukkan kepalanya. Kemudian dua bocah itu memeluk Noah dengan erat. Tentu saja Noah sangat bahagia.


"Halwa, Apa kabar?" tanya Dimas.


"Aku baik. Mas sendiri?"


"Aku juga baik," jawabnya.


"Katanya Mas menikah lagi? Benarkah?"


"Iya," jawabnya malu-malu.


"Selamat ya, Mas! Aku turut senang, Apalagi setelah tahu, kalau ibu sambung Noah orangnya sangat baik. Itu Noah sendiri lho yang mengatakannya!"


"Ish, Mama, kok bilang sama papa sih?"


"Lho emangnya kenapa? Kan kamu sendiri yang ngomong kayak gitu?"


"Tapi, nggak juga harus diomongin, Mah!" manyun Noah.


"Ups, Maaf, Mama keceplosan!" Halwa menutup mulutnya sendiri.


"Gabrio? Gabino? Ayo Salim sama uncle Dimas!" suruh Halwa. Dengan malu-malu, mereka mencium punggung tangan Dimas.


"Anak pintar!" ucap Dimas mengacak-ngacak rambut si kembar.


"Stop! Jangan mengacak-acak rambutku! Nanti tampananku hilang!" manyun Gabino. Semua yang mendengar celotehan Gabino terkekeh geli.


"Hei, Adam, Apa kabar?" tanya Dimas menyapa asisten Halwa.


"Saya baik. Anda sendiri?" ucap ada malah justru balik bertanya.


"Iya seperti yang kamu lihat," ujarnya, "Oya, kalian mau tidur di mana? Kalau berkenan tidurlah di rumahku. Rumahku terbuka lebar untuk kalian!" suruh Dimas.


"Tidak usah. Kami di hotel saja untuk sementara waktu. Kami tidak mau menyusahkanmu, Mas!"


"Menyusahkan apa? Aku tidak pernah merasa disusahkan?" ucapnya.


"Tidak. Terima kasih banyak atas tawarannya! Kami menginap di hotel saja," jawab Halwa.


"Baiklah, kalau tidak mau. Saya antarkan ke hotel!"


"Baiklah. Terima kasih sekali lagi, Mas!" ujar Halwa.

__ADS_1


to be continued......


__ADS_2