Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Bab 44 : Menemui Dimas


__ADS_3

Tiga Hari Berlalu


Halwa baru mengetahui bahwa Dimas di bawa Hilda ke Rumah Sakit Jiwa karena depresi. Itupun Adam yang memberitahukannya. Mendengar hal tersebut, Halwa sangat terkejut. Dia pun berniat ingin menjenguk Dimas. Namun, tidak mungkin dia membawa Noah ke Rumah Sakit Jiwa, dan melihat keadaan Papanya yang sekarang.


Halwa pun mendial nomer Reyhan, untuk membantu dirinya menjaga Noah. Reyhan menyuruh Halwa untuk membawa Noah ke Apartemennya. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa sampai ke Apartemen Reyhan. Karena Halwa melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Tok .... Tok ..... Tok


CEKREEK .... Reyhan membuka pintunya sambil tersenyum.


"Masuklah!" suruh Reyhan.


"Om Reyhan," teriak Noah begitu senang melihat Reyhan.


"Reyhan, Tolong, Jaga Noah untukku!" ucap Halwa kepada Reyhan.


"Oke, aku akan menjaganya. Tapi, Kau harus ingat! Hutang yang kemarin saja belum sempat kau bayar!" ucap Reyhan.


"Ck, Kau perhitungan sekali! Sebenarnya, berapa uang yang harus aku bayar untuk jasamu itu?" tanya Halwa memberengut kesal. Reyhan terkekeh geli melihat tingkah wanita cantik di depannya.


"Aku tidak membutuhkan uangmu!" jawabnya pasti.


"Lalu kau mau apa dariku?" tanya Halwa penuh selidik.


"Aku ingin kau membayar dengan waktumu," ucap Reyhan.


"Maksudmu?" tanya Halwa tidak mengerti.


"Aku ingin meminta waktumu, agar Kau mau berjalan berdua denganku," ujar Raihan. Halwa nampak berpikir.


"Apakah dia sudah gila? Aku pikir dia akan meminta uang atau meminta yang lainnya.Ternyata dia hanya ingin meminta waktuku," batin Halwa.


"Ck,"


"Baiklah aku setuju," ucap Halwa. "Kapan kita akan berjalan berdua?" tanya Halwa.


"Bagaimana kalau besok?"

__ADS_1


"Oke, deal!" mereka pun bersalaman.


Setelah berpamitan dengan Noah dan Raihan, Halwa pun berangkat ke Rumah Sakit Jiwa untuk menjenguk Dimas. Dalam waktu empat puluh menit, Halwa sampai. Dia memarkirkan mobilnya di depan Rumah Sakit Jiwa.


Halwa disambut ramah oleh petugas di sana. Mereka menanyakan keperluan Halwa datang ke sana. Dia pun mengatakan maksud dan tujuannya datang ke sana.


"Silahkan, akan saya antarkan ke ruangan Pak Dimas!" kata petugas mempersilahkan keluarga pasien.


"Terima kasih banyak, Pak!"


Halwa berjalan menyusuri lorong demi lorong dari Rumah Sakit itu. Banyak terdapat kamar di sana. Banyak juga pasien yang mengidap penyakit sejenis namun memiliki kadar beban mental yang berbeda-beda.


Hingga sampai di sebuah ruangan paling ujung, petugas mempersilahkan Halwa untuk melihat pasien dari balik jendela. Petugas melarang keluarga pasien untuk menemuinya sementara, karena emosi pasien masih belum stabil.


"Apakah pasien bisa sembuh, Pak?" tanya Halwa kepada petugas.


"Jika pasien masih memiliki semangat untuk sembuh, pasti dia akan sembuh," ucap petugas.


Halwa memandang Dimas dari depan kaca jendela. Hatinya benar-benar sangat miris melihat Dimas seperti itu. Dimas terus memanggil-manggil nama Salwa, mungkin dia merasa sangat bersalah dan terus menerus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi dengan istri pertamanya.


Lumayan lama Halwa memandang ke arah Dimas, hingga tanpa dia sadari, Hilda sudah berdiri di belakangnya.


"Tante?"


Hilda langsung memeluk tubuh Halwa. Berkali-kali dia meminta maaf, atas perlakuannya selama ini. Dia juga menyesali perbuatannya atas apa yang dia lakukan selama ini kepada Salwa.


"Maafkan, Tante! Tante bersalah sama Salwa," ucapnya sambil terisak.


"Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Perlakuan Tante kepada Salwa selama ini sudah tidak bisa dimaafkan. Salwa juga sudah meninggal," tegasnya. "Tante ingat, saat saya datang ke rumah sebagai Salwa. Itulah adalah pertama kalinya kita bertemu. Dan Anda ingat bagaimana perlakuan Anda kepada saya? Anda bukan hanya menyakiti fisik saya, Anda juga menyakiti hati saya. Dengan menghina dan memaki. Apakah selama ini, itu yang Anda lakukan kepada Salwa?" tanya Halwa dengan tatapan tajam. Hilda hanya menunduk, dia tidak bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh Halwa.


"Tante minta maaf. Tante salah. Tante memang tidak setuju Dimas menikahi Salwa. Mungkin itu semua karena keegoisan Tante sebagai orang tua," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.


"Sekarang Tante bisa lihat apa yang terjadi dengan putra Tante satu-satunya. Itu akibat keegoisan Anda sendiri. Secara tidak langsung Anda sudah menyakiti darah daging Anda sendiri," ucapnya sangat tegas dan penuh dengan penekanan. "Maaf, saya harus pergi. Saya masih banyak urusan lain. Jika, Anda ingin menemui Noah, Anda bisa menghubungi nomor ini terlebih dahulu," ucap Halwa sambil menyerahkan kartu namanya kepada Hilda.


Halwa memakai kacamatanya dan pergi meninggalkan Halwa yang masih terpaku di sana. Dia masih mencerna kata-kata yang dilontarkan oleh saudara kembar menantunya. Tegas, singkat dan menyakitkan, itulah yang sekarang ada di benaknya.


Halwa menjalankan mobilnya menuju Apartemen Reyhan. Sebelum datang ke Apartemen Reyhan, dia membeli makanan untuk makan malam. Ada beberapa menu yang dia beli untuk makan malamnya. Selesai membayar makanan tersebut di kasir, dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Sampai di Apartemen Reyhan. Dia mengetuk pintu itu, ada perasaan yang tidak bisa ia lukiskan dengan kata-kata. Yang jelas, jantungnya kembali berdetak sangat kencang.


Ting tong ....


Reyhan membuka pintu itu sambil tersenyum.


"Selamat datang!" ucapnya sangat manis.


"Aku membawakan makanan untuk kalian, Apakah kalian sudah makan?" tanya Halwa tiba-tiba. Dia sengaja melakukan itu supaya untuk menghilangkan segala rasa canggungnya.


"Tentu saja kami belum makan," jawab Reyhan. "Wah, kebetulan sekali kami lapar."


"Mama!" teriak Noah menghambur ke pelukannya.


"Hey, Sayang. Maaf, Mama lama ya?"


"Nggak apa-apa, Ma. Ada Om Rey menemani Noah. Kami bermain seru sekali," ucapnya.


"Wah, ternyata kau sangat akrab dengan Om Rey," puji Halwa.


"Tentu saja, kami kan Besty. Iya kan Om?" Reyhan dan Halwa hanya terkekeh geli melihat tingkah laku Noah.


"Oya, ini Mama membawa makanan untuk kamu, Sayang," ucapnya. Halwa langsung masuk ke Apartemen Reyhan, dan mengacak-acak dapur milik Reyhan. Dan ini adalah pertama kalinya, seorang wanita masuk ke Apartemen sekaligus mengacak-acak dapur miliknya. Dia mencari beberapa piring, gelas dan mangkok. Halwa menata makanannya di meja makan.


"Tara! Makanannya sudah siap! Ayo, kita makan!" ajak Halwa kepada Reyhan dan Noah.


"Hore! Ayo, Om, kita makan bersama!" ajak Noah. Reyhan mengekor di belakangnya.


Mereka bertiga menikmati makan malamnya dengan perasaan senang. Apalagi Reyhan, berkali-kali dia mengulas senyum melihat wanita di depannya.


"Kenapa melihatku seperti itu? Apakah ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Halwa, dengan makanan penuh di mulutnya. Reyhan terkekeh geli.


"Tidak, Aku senang bisa melihatmu ceria kembali," ucapnya.


"Hah, kau sangat senang hanya melihat wajahku?" heran Halwa.


"Iya. Tapi, bukan itu saja. Aku senang karena kau sangat cantik," pujinya. Halwa tersipu malu mendengar pujian Reyhan.

__ADS_1


to be continued.....


__ADS_2