
"Apa?" Reyhan langsung terburu-buru mengejar pesawat tersebut. Dia bisa melihat pesawat tujuan Belanda sudah lepas landas, dia melihatnya dari kaca jendela yang besar. Reyhan sangat menyesal, dia sudah terlambat untuk mengatakan sesuatu dengan wanita yang selama ini mengisi hari-harinya.
Kembali dari Bandara, Reyhan melangkahkan kakinya dengan malas. Tubuhnya terasa lemas, kakinya lunglai untuk berjalan, dia sama sekali tidak bersemangat. Harusnya, dia mendengarkan kata-kata Antonio. Tapi, karena ego-nya yang tinggi membuat dia kehilangan kesempatan.
Reyhan berjalan memasuki Perusahaan dengan tidak bersemangat. Para karyawan yang melihat tingkah aneh bos-nya, hanya bisa mengghibah bosnya di belakang. Reyhan duduk di kursi kebesarannya, dia menghela nafasnya panjang. Beberapa menit kemudian, Antonio datang. Dia penasaran, Apakah bos-nya berhasil menemui sang pujaan hati.
Tik ... Tok .... Tok
Antonio memasuki ruangan Reyhan. Sepertinya Reyhan sedang melamun, bahkan ketukan pintu saja tidak dia dengar.
"Permisi, ada paket!" goda Antonio. Reyhan menoleh ke arah Antonio dengan malas. "Lesu amat, Bos!" goda Antonio lagi.
"Bagaimana? Lo sudah ketemu sama Halwa?" tanya Antonio yang memiliki jiwa kepo yang tinggi.
"Huft,"
"Nggak," jawab Reyhan menggeleng kepalanya.
"Ko bisa? Lo telat?" tanya Antonio.
"Iya, gue telat. Pesawatnya sudah berangkat," jawabnya lesu. Antonio bisa melihat kesedihan di mata sahabatnya.
"Oya, Bro. Lo harus tahu ini!" ucap Antonio membuka ponselnya dan membuka sebuah artikel. Dia menyerahkan ponselnya kepada Reyhan, supaya Reyhan bisa membacanya.
"Ada apa sih?" Reyhan bingung.
"Lo baca dulu deh berita penting itu, Lo pasti kaget setelah membacanya!" ucap Antonio.
Karena penasaran, Reyhan membaca artikel di ponsel tersebut. Dimana di artikel itu memberitahukan berita mengenai topik yang sedang memanas di kalangan pembisnis.
"Ini ," kata-kata Reyhan tercekat di tenggorokannya, setelah melihat dan membaca sebuah artikel.
"Lo sudah membacanya? Di situ memberitahukan seorang Pengusaha yang sedang naik daun di kalangan Pembisnis dunia. Pembisnis wanita dari Belanda, dengan Perusahaannya di bidang Teknologi. Perusahaannya menempati urutan ke lima. Lo tahu siapa orangnya?" tanya Antonio. Reyhan membaca nama Pengusaha tersebut.
"Halwa Callista William Vander. Cucu dari Robert William Vander," lirih Reyhan terkejut. "Halwa seorang Pengusaha?"
"Iya," jawab Antonio menganggukkan kepalanya. "Ternyata Halwa seorang pengusaha ternama di Belanda. Setelah gue selidiki, ternyata dia datang ke Indonesia untuk menjemput saudara kembarnya. Namun, dia menemukan fakta yang lain dari saudara kembarnya. Dan dia datang sebagai Salwa untuk mengungkapkan semua kebenarannya kepada pihak berwajib," jelas Antonio panjang lebar. Memang Reyhan belum mengetahui siapa Halwa sebenarnya. Dia hanya mengetahui bahwa Halwa adalah saudara kembar Salwa yang datang dari Belanda, untuk menjemput Salwa dan Noah. Dia tidak mengetahui bahwa Halwa adalah seorang Pengusaha yang kompeten di Belanda seperti dirinya.
__ADS_1
"Dan Lo tahu, dia mengungkapkan kasus tersebut dengan tangannya sendiri!" jelas Antonio lagi.
"Huft," Reyhan kembali menghela nafasnya. "Karena itu dia selalu menghindari! Apakah gue bisa mendapatkan hatinya?" ucap Reyhan merasa tidak percaya diri.
"Hey, Come on! Mana Reyhan yang gue kenal! Tunjukkan sama dia, kalau Lo layak untuk dirinya!" ucap Antonio. "Jika memang kalian berjodoh, Nggak ada yang nggak mungkin!" ucap Antonio.
"Thanks, Bro. Lo sudah berusaha memberi gue semangat. Apa yang Lo katakan, semuanya benar. Nggak ada yang nggak mungkin. Jodoh di tangan Tuhan!" ucap Reyhan.
"Tolong, Lo persiapkan keberangkatan gue ke Belanda. Dua tiket," ucapnya.
"Kok dua tiket?" heran Antonio.
"Lo ikut gue. Itung-itung gue ngasih liburan gratis buat Lo," ucapnya.
"Beneran nih!" senang Antonio.
"Yups. Cepetan Lo urus semuanya!" suruh Reyhan.
"Okey, Bro. Sekarang juga gue urus," senang Antonio. Karena dia akan liburan ke Belanda tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.
Halwa, Adam dan Noah di jemput dengan mobil mewah, yang dikemudikan oleh sopir pribadi. Sebelumnya Adam sudah memerintahkan orang-orangnya untuk menjemput mereka di Bandara.
Di sepanjang perjalanan Noah tidak berhenti berceloteh. Dia merasa takjub dengan keindahan pemandangan di sepanjang kota.
"Mama, lihatlah! Bunganya cantik sekali," tunjuk Noah melihat bunga tulip.
"Kau suka, Sayang?" tanya Halwa.
"Suka, Mama," jawab Noah dengan mengangguk. "Kita akan kemana lagi, Ma?" tanya Noah penasaran. Karena sedari tadi, memang belum sampai ke tempat tujuan.
"Ke rumah kita," jawab Halwa.
"Kenapa jauh sekali, Ma?" gerutu Noah lagi. Halwa hanya tersenyum melihat tingkah laku putranya.
"Sebentar lagi sampai, Sayang," jawabnya.
Sampailah mobil mereka berhenti di halaman rumah keluarga Williams. Rumah yang cukup besar dan mewah, dengan pemandangan yang masih asri.
__ADS_1
Adam membopong tubuh Noah, karena kelihatannya Noah sudah kelelahan.
Mereka disambut hangat oleh Richard dan beberapa pelayan. Richard adalah sahabat sekaligus kaki tangan Halwa, menggantikan Adam, saat Adam tidak ada di tempat.
"Nona, akhirnya Anda pulang," ucap Richard sangat senang bisa melihat Nona mudanya kembali.
"Iya, Rich. Terima kasih banyak," jawab Halwa.
"Siapa anak kecil yang di gendong Adam?" tanya Richard.
"Dia anakku," bisik Halwa.
"Apa?" Richard nampak terkejut dengan membulatkan matanya.
"He ... He .... He." Halwa terkekeh geli.
"Dia adalah anak dari saudara kembarku. Kau pikir aku benar-benar sudah memiliki anak!" manyunnya.
"Ah, Nona. Sepulang dari Indonesia, ternyata bisa bercanda juga," ucapnya.
"Maksudmu?"
"Ah, tidak apa-apa." Richard langsung terdiam. Setahu Richard, Halwa adalah tipe wanita yang cuek dan dingin kepada semua orang. Setelah kembali dari Indonesia, majikannya terlihat sangat berbeda.
Adam meletakkan tubuh Noah di kasur big size milik Halwa. Setelah itu dia pamit kepada Nona mudanya untuk pulang terlebih dahulu. Halwa pun mempersilahkan asistennya untuk pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya. Adam memang belum menikah, tapi, dia masih memiliki seorang ibu dan adik perempuan yang mungkin usianya satu tahun dibawah dirinya.
Rasa lelah dan letih menggelayut di tubuhnya. Dia pun memutuskan untuk berendam di bathtub miliknya. Lumayan lama juga dia tidak berendam di bathtub miliknya. Aromaterapi menyeruak di kamar mandi.
"Ah, segarnya. Akhirnya aku kembali ke rumahku," ucapnya. "Dia sedang apa ya?" gumamnya sendiri. Tiba-tiba saja pikirannya traveling mengingat Reyhan. "Dia benar-benar tidak peka, masa harus aku yang menyatakan perasaan," gerutunya.
"Ish, kenapa aku tiba-tiba teringat dengan pria menyebalkan itu sih? Jika memang dia mempunyai perasaan denganku, pastilah dia menyatakan cintanya kepadaku. Tapi, apa? Justru dia tidak ada kabarnya, seperti di telan bumi saja," cemberut Halwa. "Aku tahu, dia tidak akan pernah bisa melupakan Salwa," ucapnya lagi. Dia berdialog dengan dirinya sendiri.
"Ish, Kenapa aku harus memikirkannya?" Halwa merutuki dirinya sendiri.
Selesai mandi dan berganti baju. Dia langsung merebahkan tubuhnya di samping Noah. Dia mencium kening putranya. Sepertinya Noah sangat kelelahan setelah menempuh jarak yang cukup jauh.
to be continued......
__ADS_1