
Anita dan Jack sudah menunggu Noah di depan Sekolahnya. Noah yang baru keluar dari kelas, dia duduk di kursi taman untuk menunggu jemputan. Anita melihat Noah sedang duduk sendiri di bangku taman. Dia mendekat ke arah Noah.
"Noah, Sayang!" panggil Anita kepada Noah.
"Mama Anita," heran Noah. Karena baru pertama kalinya Noah melihat Mama tirinya datang ke Sekolah. Anita langsung memeluk tubuh Noah.
"Sayang, Mama kangen banget sama kamu," ucapnya.
"Kok Mama tumben ke Sekolah Noah?" tanyanya merasa heran.
"Jangan begitu dong, Sayang. Apakah kamu nggak kangen sama Mama? Mama sangat kangen sama kamu lho!" ucapnya. "Oya, Sayang, Mama diperintahkan Papa kamu untuk menjemput kamu pulang. Sebaiknya, cepat kita pulang. Papa menunggu kamu di rumah. Karena Papa ingin memberikan kejutan buat kamu!" ucap Anita.
"Kejutan? Kan Noah nggak berulang tahun?" tanya Noah.
"Ehm, namanya saja kejutan. Kejutan tidak harus diberikan disaat berulang tahun. Ayo, kita pulang. Kita ambil kejutannya!" ajak Anita.
"Baiklah," jawab Noah. Noah merasa senang karena sebentar lagi akan diberikan kejutan oleh papanya. Noah menuruti ajakan Anita untuk ikut dengannya.
"Kira-kira apa ya kejutannya?" batin Noah.
Mobil Anita melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Sekolah Noah. Baru saja mobil Anita pergi, mobil Dimas baru saja datang. Dimas mencari keberadaan putranya, biasanya Noah akan menunggu di bangku taman. Namun kali ini, Dimas tidak melihat putranya di sana. Dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam, mencari putranya di dalam kelas.
"Permisi, Bu. Apakah anak-anak sudah keluar semua?" tanya Dimas kepada salah satu guru di Sekolah tersebut.
"Sudah, Pak. Semuanya sudah keluar. Apakah Bapak mencari Noah?" tanya Bu Ririn, guru kelas putranya.
"Iya, Bu," jawab Dimas.
"Noah sudah keluar, Pak. Saya lihat tadi dia sedang duduk di bangku taman menunggu Anda," jawab Bu Ririn.
"Tapi, di taman tidak ada, Bu," jawab Dimas. Seketika Dimas merasa sangat panik. Dia mencari keberadaan putranya disekitar taman, dan area sekolah. Para Guru juga membantu Dimas mencarinya. Namun di lingkungan Sekolah, mereka tidak menemukan keberadaan Noah.
Kemudian Dimas menanyakannya kepada security Sekolah, dan kebetulan security melihat bahwa Noah sudah dijemput oleh Mamanya.
"Maksud Bapak, wanita ini?" Dimas memperlihatkan foto Salwa kepada security. Security menggeleng, dia mengatakan bahwa wanita yang membawa Noah berambut pirang. Karena memang rambut Anita disemir warna pirang.
"Apakah yang ini?" Dimas memperlihatkan foto Anita.
__ADS_1
"Iya, benar sekali. Wanita ini yang tadi membawanya," ucap Pak Security.
"Baiklah, terima kasih banyak," ucap Dimas. "Anita, Apa rencana kamu?" batinnya.
Dimas pun langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Anita. Tidak menunggu lama mobil yang dikendarai Dimas sampai di depan halaman rumah Anita. Dimas mengetuk pintu rumah Anita dengan sangat keras. Namun tidak ada satupun orang yang membuka pintu rumah tersebut.
Dimas merasa marah dan jengkel dengan kelakuan Anita. Dia pun mendial nomor Anita, hanya operator telepon yang menjawab. Dimas bertambah sangat kesal.
Dimas pulang dengan tangan kosong. Dia berusaha untuk menghubungi teman-teman Anita, tidak satupun dari temannya yang tahu dimana Anita. Dia juga berkali-kali menghubungi Anita, masih tetap sama, ponselnya tidak aktif.
**********
Kabar bahwa Noah tidak pulang ke rumah, sudah sampai di telinga Hilda. Hilda pun langsung mendatangi rumah putranya.
"Dim, Apakah benar Noah diculik? Siapa yang tega menculik cucuku?" tanya Hilda.
"Anita, Ma," jawab Dimas tidak bersemangat.
"Kejamnya wanita itu. Bagaimana bisa, Dim? Apakah kau sudah menelfon polisi?" tanya Hilda lagi.
"Sebenarnya, Apa maunya wanita itu?"
"Entahlah, Dimas tidak tahu!" jawab Dimas.
Beberapa jam kemudian, ponsel Dimas kembali bergetar. Dimas menoleh ke arah ponselnya. Nama Anita yang tertera di layar kontak panggilan.
"Hallo, Anita. Dimana putraku? Kenapa kau melibatkan Noah di dalam masalah kita?" ketus Dimas kepada istri keduanya.
"Sayang, kenapa kau galak sekali?" goda Anita.
"Apa sebenarnya mau kamu, Anita?" galak Dimas.
"Datanglah ke alamat yang akan aku kirimkan kepadamu. Dan jangan lupa buatkan surat-surat penyerahan saham tujuh puluh lima persen atas namaku," ujarnya.
"Kau sudah gila apa?" marah Dimas.
"Ha ... Ha .... Ha. Dimas, Dimas!" ejek Anita. "Kamu memang terlalu naif. Turuti kemauanku, jika tidak aku akan menyakiti Noah."
__ADS_1
Tut .... Tut ..... Tut
Anita memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Sial!" umpat Dimas. "Dia wanita yang sangat licik."
"Ada apa, Dim?" tanya Hilda yang sedari tadi mendengarkan percakapan singkat keduanya lewat telepon.
"Anita, Ma. Dia meminta Dimas memberikan tujuh puluh lima persen saham Perusahaan sebagai harta Gono gini," ujarnya.
"Dia memang sudah gila!" marah Hilda. "Mama benar-benar menyesal telah menikahkan dia denganmu, Dim. Mama minta maaf, karena sudah memaksa kamu untuk menikahinya,"
"Nasi sudah menjadi bubur, Ma. Sekarang Dimas harus fokus untuk menyelamatkan Noah," ucap Dimas. Saat itu juga, Dimas menemui sekertarisnya untuk membuatkan surat-surat yang diminta oleh Anita.
Dengan ponsel Noah, Anita mengirimkan sebuah pesan supaya Salwa datang ke alamat yang dia kirim. Salwa sangat curiga, karena dia tahu betul bahwa Noah tidak mungkin mengirimkan pesan seperti itu. Dia pun menyuruh Asisten pribadinya untuk menyelidiki kediaman Dimas.
Halwa adalah wanita yang sangat cerdas, dia tidak bisa dikelabui dengan pesan seperti itu. Dia memiliki industri teknologi sendiri di Belanda, tentu saja dengan mudah mengakses internet dan perangkat seluler dari laptopnya.
Asisten Adam datang membawa kabar yang sangat mencengangkan. Dia mendapatkan informasi dari anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengintai rumah Dimas.
"Ada apa, Asisten?" tanya Halwa.
"Noah diculik oleh Anita," jawabnya.
"Aku sempat curiga dengan pesan yang masuk ke ponselku," jawab Halwa. "Baiklah, sepertinya dia ingin sedikit bermain-main denganku. Aku akan menuruti semua keinginannya,"
"Apa rencana Nona?" tanya Adam. Halwa membisikkan sesuatu di telinga Adam. Adam hanya manggut-manggut saja mendengar rencana Nona nya.
Halwa memenuhi permintaan Anita untuk datang ke alamat yang tertera di pesan ponselnya. Dia datang sendiri ke tempat itu. Adam yang hendak menemaninya, ditolak mentah-mentah oleh Halwa.
Sampai di tempat tujuan, Halwa hanya melihat semak belukar dan sebuah gudang kosong. Dia semakin yakin bahwa Anita adalah dalang dibalik semua kejadian ini.
BUGH ....
Tiba-tiba dari arah belakang, ada seseorang yang memukulnya dengan sebilah kayu. Kepala Halwa merasa pusing, dan dia jatuh tidak sadarkan diri.
to be continued....
__ADS_1