
Ting Tong ...
"Assalamualaikum?"
"Walaikumsalam," jawab Bi Sum.
"Tuan Rey," senang Bi Sum melihat Tuannya datang.
"Apa kabar, Bi?"
"Bbbbaik, Tuan," jawabnya. Tatapan Bi Sum beralih ke arah wanita dan dua anak kembar disamping majikannya. Dia sedikit terkejut, ternyata wanita disampingnya adalah Halwa. Wanita berparas cantik yang pernah bekerja di rumah itu. Lalu, siapa dua anak kecil disampingnya. Bi Sum nampak menerka-nerka.
"Jangan melamun, Bi. Nanti kesambet!" ucap Reyhan tiba-tiba.
"Ah, Tuan Reyhan. Bisa saja!" kekeh Bi Sum.
"Apa kabar, Bi?" tanya Halwa sangat ramah.
"Bbbbbbaik," ucap Bi Sum masih heran. Reyhan bisa melihat keterkejutan Bi Sum menatap istrinya. Matanya tidak berkedip, sangat lucu menurut Reyhan.
"Sebenarnya Halwa adalah istri Reyhan, Bi," jelas Reyhan kepada Bi Sum. Reyhan berusaha menjelaskan semuanya secara detail hingga Bi Sum mengerti dari kebingungannya. Agak terkejut memang, tapi, itu adalah kenyataannya. Bi Sum hanya manggut-manggut saja mendengarkan penjelasan Tuannya.
"Mmmmmaaf!" ucap Bi Sum terkesiap setelah mendengar penjelasan Reyhan. "Senang bisa bertemu dengan Nyonya lagi!" senang Bi Sum.
"Saya juga senang bisa melihat Bibi lagi," ucap Halwa dengan tersenyum.
"Maaf, Nyonya, Bibi tidak tahu kalau Nyonya adalah istrinya Tuan," ucap Bi Sum tergagap.
"Nggak apa-apa, Bi. Panggil seperti biasanya,"
"Jangan Nyonya, kurang sopan," jawab Bi Sum merasa nggak enak, "Bibi panggil Nyonya muda saja, Bagus kan? Kedengarannya juga enak di dengar!" senang Bi Sum.
"Terserah Bibi saja deh. Senyaman nya Bi Sum!' ucap Halwa. Halwa memang tidak pernah memandang seseorang dari status sosialnya.
"Siapa anak-anak ganteng ini?" tanya Bi Sum. Matanya beralih ke arah si kembar.
"Ini anak-anak saya, Bi. Ini Gabino, dan yang satunya Gabrino," jelas Halwa memperkenalkan kedua putranya.
"Wah, muka mereka sangat mirip!" ucap Bi Sum berusaha membedakan mana yang Gabrino dan mana yang Gabino. Kedua anak itu malah menjahili Bi Sum.
"Gabrino? Gabino?" mereka berdua mendapatkan tatapan tajam dari sang Mommy.
"Mana Mamih?" tanya Reyhan kepada Bi Sum.
"Nyonya ada dikamar, Tuan," jawab Bi Sum.
"Ayo, Sayang!" ajak Reyhan.
Reyhan mengajak istrinya ke kamar sang Mamih. Agak ragu dibenaknya, namun sang suami berusaha untuk meyakinkannya. Halwa mengangguk dengan pasti.
"Mamih?" panggil Reyhan.
"Rey, Kamu pulang, Nak?" tanya Cynthia senang. Reyhan memeluk tubuh wanita tua itu. Tidak seperti dulu, semenjak Cynthia sakit-sakitan, tubuhnya semakin kurus, tulang pipinya terlihat menonjol. Banyak garis-garis kerutan di sana.
__ADS_1
"Mamih, Apa kabar?" tanya Reyhan seraya mencium punggung tangan Mamihnya.
"Mamih sehat," elaknya. Sebenarnya dia tidak baik-baik saja. Dadanya seringkali sakit, nafasnya sesak. Namun, Cynthia melarang para pelayan memberitahukan kondisinya kepada sang putra, karena dia tidak mau membebani pikirannya.
"Mih, ada seseorang yang ingin bertemu Mamih," ujarnya.
"Siapa?" tanya Cynthia heran.
"Lihatlah!" Reyhan menunjuk ke arah pintu. Halwa dan kedua buah hatinya sedang berdiri di ambang pintu.
"Sayang, Kemarilah!" panggil Reyhan memberikan kode kepada istrinya untuk mendekat. Cynthia yang penglihatannya sudah agak kabur, dia tidak terlalu jelas melihat wanita yang berjalan ke arahnya. Dia meraba meja untuk mencari kacamata. Reyhan mengambilkannya, dan membantu memasangkannya.
"Halwa?" panggilnya lirih. Halwa memandangi tubuh renta itu. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Cynthia begitu kurus, dan terlihat sangat pucat dan tua. Berbeda dengan enam tahun yang lalu. Meskipun sudah berumur, penampilannya sangat menarik. Tubuh yang sehat, bersih bahkan sangat terawat. Namun sekarang, jauh diluar ekspektasi.
"Tante?" panggilnya lirih, "Bagaimana kabar, Tante?" tanya Halwa. Cynthia menarik Halwa untuk duduk disampingnya. Dia melihat ke arah Halwa, kemudian ke arah dua bocah kembar dibelakang Reyhan. Mungkin mereka ketakutan dengan orang asing di depannya.
"Panggil Mamih," ujarnya, "Mamih sehat," jawabnya. Cynthia menyentuh lembut pipi Halwa.
"Maafkan, Mamih, Sayang! Mamih sudah sangat jahat kepadamu," isaknya dengan deraian air mata.
"Semuanya sudah berlalu. Jangan diungkit-ungkit lagi. Kita buka lembaran baru ya, Mih!" ucap Halwa.
"Maafkan, Mamih!" tangisnya pecah. Halwa juga ikut menangis. Dia benar-benar sangat prihatin melihat kondisi Mamih mertuanya sekarang.
"Aku sudah memaafkan, Mamih! Sudah ya, Mih, Jangan bersedih lagi! Sekarang kita buka lembaran baru," ucap Halwa,
"Mamih bersalah sama kamu. Mamih sangat jahat. Maafkan Mamih, Sayang!" isaknya lagi.
"Iya, Mih. Halwa sudah memaafkan Mamih. Halwa tahu kok, Mamih melakukan itu karena Mamih sangat menyayangi putra Mamih. Iya kan?" isak Halwa. Cynthia menganggukkan kepalanya.
"Iya, Sayang,"
"Oya, Mih. Aku akan mengenalkan Mamih dengan cucu Mamih,"
"Cucu?" ujar Cynthia bingung. Halwa mengangguk senang.
"Sayang, Kemarilah! Ayo, peluk Oma!" ucap Halwa kepada kedua buah hatinya.
"Oma?"
"Iya, Oma," ucap Mommynya.
"Ayo, peluk Oma!" ucap Reyhan.
"Sini, Nak, peluk Oma!" pinta Cynthia melihat dua bocah laki-laki hanya berdiri bingung dibelakang Daddy-nya. Dengan perlahan mereka mendekat.
"Oma!" panggil Gabino.
"Oma!" panggil Gabrino.
"Apakah ini cucuku?" tanya Cynthia. Halwa mengangguk, "Anaknya Reyhan?" Halwa kembali mengangguk.
"Siapa nama kalian?" tanya Cynthia kepada cucunya.
__ADS_1
"Gabrino," jawabnya lantang.
"Gabino," jawabnya tidak kalah lantang.
"Kalian kembar?" tanya Cynthia lagi. Reyhan mendekat ke arah Mamihnya. Dia mencium tangan sang Mamih. Menatapnya dengan lembut.
"Iya, Mih. Mereka kembar. Mamih punya dua cucu sekaligus," ujar Reyhan.
"Ah, cucuku," senang Cynthia.
"Oma?" teriak mereka memeluk Omanya.
"Cucuku," isak Cynthia merasa sangat bersalah, "Betapa berdosanya aku, aku sudah memisahkan kalian dengan Daddy kalian," tangis Cynthia lagi. Reyhan memeluk pundak istrinya. Dia sangat bersyukur, momen yang selama ini ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.
"Kalian menginap disini ya? Temani Oma disini!" ucap Cynthia kepada cucunya.
"Iya, Oma. Kami akan menjaga Oma disini," jawab si kembar. Reyhan dan istrinya terkekeh melihat kelucuan mereka.
Cynthia begitu bahagia melihat kelucuan dan keaktifan dua bocah kembar itu. Kadang mereka berlari kesana-kemari, mereka berlari tanpa lelah. Omanya hanya geleng-geleng kepala saja melihat aksi keduanya. Melihat keluarganya berkumpul, membuat tubuhnya terasa sangat sehat. Ada semangat baru di dalam hidupnya.
Dari arah dapur, Halwa membawa nampan berisi makanan dan minuman. Kue yang tadi dibeli saat akan datang ke Mansion. Dengan cepat si kembar mengambil makanan tersebut, mereka menikmati kue yang dibeli Mommynya.
"Mih, Silahkan! Tadi sebelum kesini, Halwa membeli banana cake dan roll cheese kesukaan, Mamih!" Halwa menyerahkan irisan cake di piring kecil untuk Mamih mertuanya.
"Terima kasih banyak, Sayang," ucap Cynthia kepada menantunya. Kemudian satu piring kecil lagi untuk suaminya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Reyhan mengulas senyum.
"Tinggallah disini, biar Mamih nggak kesepian!" ucap Cynthia kepada Halwa. Halwa menoleh ke arah suaminya, dia bingung harus menjawab apa.
"Iya, Mih. Malam ini kami menginap di sini," jawab Reyhan.
"Ah, Mamih benar-benar sangat bahagia," ujar Cynthia, "Antarkan istrimu ke kamar, Rey! Pasti dia lelah. Biarkan Mamih menemani si kembar disini!" ujar Cynthia.
"Ayo, Sayang," ajak suaminya.
"Aku nggak bawa baju ganti, Rey!" lirih Halwa.
"Kau tenang saja!" ujar Reyhan, sambil menyeringai.
"Ck, Apa sih maksudnya?" decak istrinya.
Reyhan mengajak istrinya ke kamar. Kamar yang cukup luas, dan tempat tidur ukuran besar. Di samping ada sebuah ruangan khusus, sebuah ruang ganti, dan di dalamnya terdapat lemari dorong yang cukup besar. Reyhan mendorong pintu lemari itu.
"Di sebelah kanan, ini adalah bajuku. Dan di sebelah kiri adalah baju-baju mu," ucapnya. Halwa terkesiap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bagaimana Kamu menyiapkan ini semua?" tanya Halwa setengah tidak percaya.
"Kenapa? Kamu terharu, Sayang?" kekeh Reyhan.
"Ck,"
"Aku sudah menyiapkan ini semua jauh hari. Aku yakin suatu saat Kau kembali ke sisiku," ucapnya.
__ADS_1
"Ah, jadi terharu," senang Halwa.
to be continued ....