Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Bab 48 : Bertemu Keluarga Adam


__ADS_3

Tiga Hari Berlalu


Tiga hari tinggal di Belanda. Tiba-tiba saja Noah merengek ingin bertemu dengan Papanya. Halwa sudah berusaha untuk membujuknya, namun sia-sia. Dia terus merengek dan menangis.


"Kenapa? Apakah kau rindu Papa?" tanya Halwa.


"Iya, Ma. Noah rindu dengan papa," jawabnya.


"Tapi, papa sedang sibuk. Dia bekerja di luar kota, jika Noah ingin bertemu papa, Noah harus belajar sampai pintar. Noah nggak mau kan papah bersedih?"


"Nggak, Ma," jawab Noah.


"Kalau begitu Noah harus rajin belajar. Supaya Noah menjadi anak yang pintar dan membanggakan kedua orang tua. Noah mau?"


"Yes, Ma. Noah akan menjadi anak yang pintar. Noah berjanji, Ma!" ucapnya. Halwa langsung memeluk putranya. Dia masih belum sanggup untuk menceritakan semuanya kepada anak sekecil Noah.


Untuk menghibur hati Noah yang sedang bersedih. Halwa mengajak Noah berjalan-jalan berkeliling kota. Dengan diantar oleh Richard, mereka berkeliling menikmati keindahan kota.


Setelah cukup lama berkeliling, Halwa mengajak Noah ke rumah Adam. Dia ingin mengenalkan Noah kepada keluarga Adam. Sepulang dari Indonesia, Halwa tidak sempat berkunjung ke rumah keluarga Adam. Halwa sudah menganggap keluarga Adam seperti keluarganya sendiri.


"Selamat siang, Bibi Beatrix!" sapa Halwa. Wanita paruh baya itu menoleh ke arah sumber suara.


"Nona Halwa," jawab Beatrix. "Wah, suatu kehormatan Anda datang ke sini!"


"Ah, Bibi bisa saja," ucapnya. "Sayang, Ayo beri hormat kepada Bibi Beatrix," suruh Halwa kepada Noah.


"Bi, perkenalkan. Ini Noah. Dia adalah putra ku," jawab Halwa. Bibi Beatrix tersenyum ke arah Noah. Sebelumnya, Adam sudah bercerita banyak kepada ibunya soal Noah. Sehingga dia tahu siapa Noah sebenarnya.


"Kamu manis sekali, Sayang," ucapnya kepada Noah.


"Terimakasih, Nyonya," jawab Noah.


"Eh, jangan panggil Nyonya. Panggil Oma," suruhnya. Mereka terkekeh bersama.


"Dimana Adam dan Emma?" tanya Halwa. Emma adalah adik perempuan Adam.


"Adam sedang di kebun. Nanti juga kembali, Nona. Sedangkan Emma, dia sedang memberi makan sapi dan domba di belakang rumah," jawab Beatrix.


"Sapi dan domba? Mama, Noah ingin melihat sapi dan domba," pintanya merajuk kepada Halwa.


"Hah, Kamu mau melihat sapi dan domba?" Halwa terkekeh mendengar permintaan aneh Noah.


"Biar Paman yang antar kamu melihat sapi dan domba," ajak Richard kepada Noah.


"Paman mau mengantarkan Noah melihat sapi dan domba?"

__ADS_1


"Tentu saja, Boy! Ayo kita melihat sapi dan domba," ajak Richard menggandeng tangan Noah. Noah begitu senang karena akan melihat sapi dan domba.


"Astaga, padahal Richard hanya akan mengajaknya melihat sapi dan domba, tapi anak itu begitu bahagia! Benar-benar anak yang aneh!" heran Halwa terkekeh geli.


"Namanya saja anak-anak, Nona. Dulu Adam juga begitu. Melihat sapi saja sudah bahagia, apalagi kalau sampai menungganginya," ucap bibi Beatrix sambil menggeleng-geleng kepalanya. Halwa terkekeh geli.


Rumah Adam berada di sebuah desa kecil di Belanda. Desanya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Halwa. Mereka hidup damai dan nyaman di pedesaan. Padahal Halwa sudah pernah mengajak baby Patrick dan keluarganya untuk menempati paviliun di belakang rumahnya. Namun bibi Beatrix menolak karena dia lebih nyaman tinggal di rumahnya sendiri.


Bibi Beatrix adalah seorang petani sayur. Dia memiliki perkebunan sendiri untuk ditanami sayur-sayuran dan buah-buahan. Jika Adam memiliki waktu senggang, dia akan membantu ibunya untuk memanen sayur dan buah-buahan. Di belakang rumah keluarga Adam, ada peternakan kecil, di mana mereka beternak sapi dan domba.


Adam memiliki sepuluh sapi, di mana susu sapinya ia manfaatkan untuk membuat keju. Karena orang Belanda gemar memakan keju, sehingga dia dan ibunya dengan kreatif mengolah susu menjadi keju sendiri dan untuk dikonsumsi sendiri.


Richard melihat Emma yang sedang mengarahkan pekerja untuk memerah susu dengan benar. Dia terlihat sibuk dan berkeringat, tapi, masih tetap cantik. Itu menurut pemikiran Richard.


"Selamat siang, Nona Emma!" sapa Richard.


"Siang," jawab Emma. "Kak Rich."


"Siapa yang kakak bawa?" tanya Emma.


"Ini adalah Noah," jawabnya, memperkenalkan Noah kepada Emma.


"Hello, Selamat siang. Namaku adalah Emma. Siapa nama kamu, Boy?"


"Senang berkenalan denganmu, Noah," ucap Emma sambil menjabat tangan Noah.


"Noah juga," jawabnya. "Apakah Noah boleh melihat-lihat sapi dan domba?" tanya Noah kepada Emma.


"Kau suka binatang?"


"He'em," jawab Noah menganggukkan kepala.


"Kalau begitu ayo kita mendekat!" ajak Emma menggandeng tangan Noah agar mendekat kearah sapi. Noah sangat senang, karena bisa melihat sapi secara dekat. Dia mengelus dan memberikan makan rumput kepada sapi itu.


Selesai melihat-lihat sapi, Emma juga mengajak Noah melihat domba. Noah yang baru pertama kali melihat domba, dia langsung berlari mengejar-ngejar domba tersebut. Emma dan Richard hanya duduk di bangku sambil melihat Noah yang sedang mengejar-ngejar domba.


"Siapa sebenarnya anak itu?" tanya Emma.


"Dia adalah putra angkat nona Halwa. Kata Nona Halwa, dia anak dari saudara kembarnya," jelas Richard.


"Oh, begitu!" jawab Emma. "Oya, Bagaimana kabar Kak Rich? Lumayan lama kita tidak bertemu!"


"Apakah kau merindukanku?" tanya Richard.


"Ish, Kakak kepedean sekali," ucapnya. Richard terkekeh geli.

__ADS_1


"Rindu juga tidak apa-apa," goda Richard.


"Maunya," cibir Emma.


"Aku sibuk. Aku membantu mengurus perusahaan milik nona," jawabnya.


"Oh," ucap Emma ber'oh ria. "Tapi, sedang tidak sibuk dengan wanita kan?" tanya Emma.


"Iya, nggak lah. Aku cuma suka sama satu orang. Dan itu adalah kamu," jujur Richard. Membuat pipi Emma merah merona.


"Ah, kak Rich, pandai sekali berbohong!"


"Aku serius dengan kata-kata ku, Emma. Aku memang hanya suka kepadamu. Dan kau tidak pernah membalas perasaanku," gerutunya.


"Bagaimana aku bisa membalasnya? Sebelum kakakku menikah, aku tidak mau menjalani hubungan dulu," jelasnya.


"Kenapa? Kita bisa menjalaninya dulu," ucapnya.


"Tapi,,,,,,!" belum selesai meneruskan kalimatnya tiba-tiba ada suara orang terbatuk-batuk.


"Ehm ... Ehm .... Ehm." ternyata Adam sudah berdiri di belakang mereka.


"Kakak?" Emma sedikit terkejut. Adam mendekat ke arah mereka. Dia menatap tajam ke arah Richard.


"Aku tidak akan membiarkan adikku jatuh ke tangan orang bre*****sek seperti dirimu!" ucapnya tegas.


"Kenapa? Aku pantas untuknya," bela Richard.


"Ck, Apakah kau tidak malu memuji dirimu sendiri?"


"Kenapa aku harus malu? Aku tidak melakukan kesalahan apapun," jawab Richard.


"Kakak sudah, Jangan bertengkar! Tidak enak dengan Nona," ucap Emma.


"Jika bukan karena Nona, Kau akan ku hajar dengan tanganku sendiri!" ucap Adam.


"Kau pikir aku takut. Selama aku tidak melakukan kesalahan apapun, aku tidak takut kepadamu!" jawab Richard.


BUGH ....


Tiba-tiba saja Adam menghajar wajah Richard. Richard terlalu besar mulut, membuat Adam naik pitam.


"Kakak, hentikan!" teriak Emma.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2