Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 70 : Pengakuan Halwa


__ADS_3

Wanita itu adalah Halwa. Halwa sangat penasaran dengan apa yang dilihatnya, untuk memastikannya dia berniat untuk turun dari taksi. Namun lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, hingga dia mengurungkan niatnya untuk turun.


"Apakah itu tadi suamiku?" batinnya.


Halwa terus mengamati mobil yang sudah tidak nampak lagi. Hatinya terasa sangat kacau, pikirannya sedang tidak sejalan.


"Pak, cepat sedikit!" ucap Halwa.


"Baik, Nona," ucap sopir taksi.


Hari ini dia akan datang ke Perusahaan Arsenio Group untuk bertemu dengan Cynthia. Antonio lah yang mengatur pertemuannya dengan Cynthia.


"Nona, sudah sampai!" ucap Pak Sopir.


"Eh, iya, Pak," Seketika lamunannya buyar, karena panggilan Pak sopir.


"Terima kasih banyak, Pak," jawabnya.


Setelah membayar ongkos taksi, Halwa masuk ke Perusahaan Arsenio Group. Jantungnya berdetak lebih cepat, karena hari ini dia akan bertemu dengan ibu mertuanya.


Antonio sudah menunggu di lobi. Dia menyambut kedatangan Halwa dengan ramah. Dia juga yang mengantarkan Halwa ke ruangan CEO.


Tok ... Tok ... Tok


"Masuk!" ucap Cynthia dari dalam ruangan.


"Selamat pagi, Bu. Anda kedatangan tamu. Seseorang yang ingin sekali bertemu dengan Ibu," ucap Antonio.


"Siapa?" tanya Cynthia nampak mengernyitkan alisnya.


Antonio mempersilahkan Halwa masuk ke ruangan Cynthia. Betapa terkejutnya Cynthia karena dia mengenal wanita yang sedang berdiri di depannya.


"Salwa?" ucapnya. Raut muka Cynthia berubah, dia nampak tidak senang dengan kedatangan wanita itu.


"Antonio, kenapa kau membiarkan orang yang tidak berkepentingan masuk ke ruangan ku!" ketusnya. Antonio tidak percaya dengan reaksi Tante Cynthia setelah melihat Halwa.


"Tapi, Bu. Dia ingin sekali bertemu dengan Ibu. Karena dia ingin membicarakan masalah yang sangat penting," jelas Antonio.


"Masalah apa? Apakah masalah hubunganmu dengan Reyhan? Bukankah aku sudah pernah mengatakan kepadamu kalau aku menentang hubungan kalian!" tegas Cynthia tanpa memberikan Halwa kesempatan untuk menjelaskan.


"Tapi, dia bukan Salwa, Bu! Dia adalah saudara kembarnya," ucap Antonio menyela pembicaraan.


"Apa? Bukan Salwa? Lalu, siapa kamu? Kenapa wajahmu sangat mirip dengan wanita miskin itu?"

__ADS_1


DEGH .....


Halwa meremas ujung bajunya sendiri. Hatinya terasa terbakar mendengar kata-kata pedas yang dilontarkan Cynthia.


"Saya adalah Halwa. Saya saudara kembar dari Salwa. Dan Salwa sendiri sudah meninggal," jawab Halwa. Cynthia tersenyum mengejek.


"Ternyata sama saja! Sama-sama wanita miskin!" ejeknya.


"Kedatangan saya kemari, saya ingin menanyakan keberadaan suami saya,"


"Apa? Suami?" kaget Cynthia, namun setelah keterkejutannya tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak, "Lelucon apa ini? Kenapa kamu mengaku-ngaku istri anak saya? Apakah kau sengaja mengaku, supaya saya merasa iba dan menerima orang miskin menjadi menantu saya?" ejeknya.


"Tante?" Antonio hendak menjelaskan namun dicegah oleh Halwa.


"Apa? Kau ingin membelanya Antonio?" ketus Cynthia.


Halwa mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia memberikan foto pernikahannya kepada Cynthia. Cynthia nampak tercengang, dia meremas foto tersebut.


"Ini tidak membuktikan apa-apa!" ujarnya.


"Kami sudah menikah. Dan kami menikah sah," terang Halwa, "Jadi, aku mohon pertemukan aku dengan Reyhan, Tante!" mohon Halwa.


"Aku tidak membawa dokumen resmi pernikahan kami. Tapi, Jika Anda masih belum percaya. Anda bisa bertanya kepada Antonio," ujarnya. Cynthia menatap tajam ke arah Antonio.


"Iya, Tante. Mereka menikah satu bulan yang lalu," jawab Antonio.


"Apa-apaan ini? Kenapa Reyhan menikah tapi tidak meminta restu dari ku?" marah Cynthia.


"Awalnya saya juga tidak tahu, Saya pikir Reyhan sudah tidak memiliki keluarga lagi. Saya juga sama terkejutnya dengan Anda," ujarnya.


"Nggak, nggak akan aku biarkan Reyhan bersama dengan wanita miskin itu!" batin Cynthia.


"Jadi Apa mau kamu?" ketus Cynthia.


"Saya ingin bertemu dengan suami saya, Tan!"


"Apakah kau sudah tahu, kalau Reyhan mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatannya?" tanya Cynthia.


"Saya baru tahu, Tan," jawab Halwa.


"Baiklah, saya jelaskan disini. Reyhan mengalami kecelakaan tragis. Dia telah kehilangan ingatan setelah kejadian tersebut. Dia sama sekali tidak mengingat apapun. Dan jika kamu memaksa Reyhan untuk mengingat semua, sakit kepalanya akan kambuh. Dia akan merasakan sakit di bagian kepalanya!" jelas Cynthia.


"Tapi dia harus tahu kalau saya adalah istrinya. Saya juga ingin merawatnya!" ucap Halwa. Kemudian Cynthia nampak berfikir, memikirkan cara supaya Halwa menyingkir dari kehidupan putranya.

__ADS_1


"Baiklah, kamu boleh datang melihatnya. Tapi, bukan sebagai istrinya. Melainkan sebagai pelayan di rumah kami. Saya tidak mau terjadi sesuatu dengan putra saya," ucapnya.


"Tante, Antonio tidak setuju dengan ide Tante. Jika Rey tahu, dia akan sangat marah, Tan!" ucap Antonio.


"Antonio, kamu diam saja!" bentak Cynthia, "Reyhan sedang sakit. Dia tidak bisa dipaksa untuk mengingat semuanya. Jadi, aku melakukan semua ini juga untuk kesembuhan Reyhan, mengerti kamu!" bentaknya lagi.


"Tapi, Tan ....!"


"Tidak apa-apa. Aku akan menjadi pelayan di rumah Tante. Asalkan aku bisa bertemu dengan suamiku," ujarnya.


"Tapi?" Antonio merasa tidak tega jika harus melihat Halwa menjadi seorang pelayan di rumah suaminya sendiri. Antonio benar-benar kesal dengan sikap Tante Cynthia.


Sore itu juga Halwa dibawa oleh Cynthia ke Mansion nya. Namun bukan sebagai seorang menantu melainkan sebagai seorang pelayan.


Mobil yang ditumpangi Halwa sampai di depan Mansion yang sangat megah, dengan tembok keliling menjulang tinggi. Halwa baru mengetahui, ternyata itu adalah rumah suaminya.


Mobil berhenti di depan rumah yang sangat mewah, bercat putih dengan halaman yang begitu luas. Beberapa orang penjaga berjejer menyambut kedatangan majikannya.


"Selamat datang, Nyonya!" ucap salah satu penjaga. Cynthia hanya menganggukkan kepalanya. Cynthia melangkahkan kakinya masuk ke dalam, dan Halwa mengekor di belakangnya.


Halwa mengamati sekelilingnya. Rumahnya sangat besar dan luas. Banyak pelayan yang bekerja di sana. Mereka menyambut kedatangannya dengan ramah.


"Bi, dia adalah Halwa. Pelayan baru di rumah ini," ucap Cynthia memperkenalkan Halwa kepada pelayan yang lain, "Antarkan dia ke kamar pelayan!" ucapnya.


Hatinya sangat sedih, namun dia sangat ingin bertemu dengan suaminya.


"Jangan menangis Halwa! Ini demi suami kamu! Kau itu wanita yang kuat!" ucapnya di dalam hati. Dia berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri.


"Ini kamar kamu. Mudah-mudahan kamu betah bekerja di rumah ini," jawabnya.


"Terima kasih, Bi! Siapa nama Bibi?" tanya Halwa kepada perempuan separuh baya itu.


"Panggil saja, Bi Sum. Jangan sungkan-sungkan disini! Jika, tidak tahu kamu bisa bertanya," ujarnya. "Oya, Siapa nama kamu?"


"Saya Halwa, Bi,"


"Oh, nama kamu Halwa. Nama yang bagus dan unik. Wajah kamu juga sangat cantik. Saya tidak percaya wanita secantik kamu bekerja sebagai pelayan. Seharusnya kamu itu bekerja di kantor, jadi wanita kerieyer. Apa ya itu?" Bi Sum berusaha mengingat-ingat nya.


"Wanita karir, Bi." Halwa terkekeh geli melihat tingkah lucu Bi Sum.


"Iya, itu maksudnya!" tawa Bi Sum. "Iya, sekarang ganti baju kamu dengan seragam pelayan. Setelah itu bantu Bibi di dapur ya?"


"Iya, Saya ganti baju dulu,"

__ADS_1


to be continued......


__ADS_2