Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 65 : Kedatangan Nurul


__ADS_3

Reyhan sedang rebahan di tempat tidur big size miliknya, sambil memainkan jari jemarinya untuk mengirimkan pesan kepada sang istri tercinta. Satu hari tidak bertemu saja, rasanya sangat rindu. Seperti satu tahun tidak bertemu.


"Reyhan?" panggil Mamihnya.


"Iya, Mih. Ada apa?" tanya Reyhan.


"Ada yang ingin Mamih bicarakan sama kamu. Kamu ada waktu kan?" tanya Cynthia.


"Kalau Mamih mau berbicara masalah perjodohan, Maaf, Mih. Reyhan tidak bisa! Reyhan ingin fokus bekerja!"


"Sampai kapan? Sampai kapan kamu akan sendiri terus?" tanya Mamih.


"Rey masih ingin sendiri, Mih. Reyhan masih ingin fokus pada Perusahaan," jawab Reyhan.


"Rey, usia kamu tidak muda lagi. Kamu harus secepatnya menikah. Mamih ingin sekali punya cucu," ujarnya.


"Mih, Tolong dong. Jangan paksa Reyhan terus!" ucapnya.


"Lalu Mamih harus memaksa siapa? Anak Mamih cuma kamu," ucap Cynthia, " Mamih sudah tua, kamu menunggu apa lagi? apakah kamu mau menunggu Mamih mati baru kamu mau menikah?"


"Mih, kok ngomongnya gitu sih?" kesal Reyhan.


"Mamih hanya ingin melihat kamu menikah, dan mami juga iri dengan teman-teman mami yang sudah menggendong cucu bahkan banyak cucu. Apakah kamu tidak merasa kasihan kepada Mamih yang sudah tua ini?"


"Aku tidak bisa terus melawan perkataan Mamih. Jika begini, takutnya Mamih akan emosi," batin Reyhan.


"Nurul adalah gadis yang baik. Dia cantik dan pandai memasak. Mamih yakin, dia bisa mengurus kamu dengan baik," tutur Mamih.


"Tapi Rey tidak cinta sama Nurul, Mih. Pernikahan macam apa yang harus kami lalui tanpa adanya cinta?"


"Cinta akan tumbuh seiringnya waktu. Dulu Mamih sama Papih juga begitu. Sampai sekarang hubungan kami awet, hingga Papih menutup usia," jelas Cynthia, "Kamu sedang tidak menunggu jandanya Salwa kan?"


DEGH ...


"Aku tidak menunggu jandanya Salwa, Mih. Aku justru sudah menikah dengan kembarannya," batin Reyhan.


"Mamih ngomong apaan sih?"


"Besok Nurul dan keluarganya akan kesini. Mereka ingin bersilaturahmi. Mamih harap kamu memperlakukan Nurul dengan baik," ucap Mamihnya.


"Apa? Nurul mau kesini?" kaget Reyhan.


"Iya, kenapa kamu kaget begitu?"


"Mamih ini ada-ada saja," manyun Reyhan.


"Iya, sudah. Sekarang kamu beristirahat. Mamih tahu kamu capek. Selamat beristirahat, Sayang,"


"Iya, Mih. Terima kasih banyak,"


Setelah Cynthia keluar dari kamar Reyhan, Reyhan nampak tidak senang. Sedari tadi dia mondar-mandir tidak jelas.


"Apa yang harus aku lakukan? Apakah ini saatnya aku bercerita kepada Mamih kalau aku sudah menikah?"


"Ah, SHIIT!" Reyhan mengacak-ngacak rambutnya sendiri karena frustasi memikirkan masalah ini.

__ADS_1


"Iya, aku harus mengatakannya. Tapi, lebih baik besok saja!" ujarnya berdialog dengan dirinya sendiri.


Keesokan Paginya


Pukul sembilan pagi, Nurul dan keluarganya datang dari Bandung langsung ke Kota J. Sebenarnya hari ini, Reyhan hendak ke kantor. Tapi dilarang oleh mamihnya, karena Nurul dan keluarganya akan segera tiba di kota J.


Mereka datang dengan menggunakan mobil. Berhenti tepat di depan Mansion milik keluarga Arsenio.


"Selamat datang!" Cynthia sudah menyambut kedatangan Nurul dan keluarganya.


"Jeng Cynthia, Apa kabar?"


"Baik, Jeng Mutia," jawab Cynthia mencium pipi kanan dan kiri sahabatnya.


"Mas Hadi, Bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah kami sekeluarga baik dan sehat," ucap Hadi Wijaya, Ayah Nurul.


"Nurul?"


"Tante, Bagaimana kabar Tante?" tanya Nurul.


"Alhamdulillah Tante baik. Kamu semakin cantik saja, Sayang," puji Cynthia.


"Ah, Tante bisa saja," ucap Nurul tersipu malu. Pipinya merona merah seperti delima merekah.


"Silahkan masuk!" Cynthia mempersilahkan tamunya masuk dan duduk di ruang tamu.


"Reyhan?" panggil Cynthia kepada putranya.


"Masih ingat Reyhan kan?"


"Tentu saja kami ingat. Ini Reyhan teman kecil Nurul kan? Yang selalu melindungi Nurul kalau dia diganggu sama anak-anak nakal itu?" ucap Mutia mengingatkan masa kecil anak-anaknya yang sangat menggemaskan. Nurul merasa sangat malu, pasalnya kedua orang tuanya mengingatkan masa-masa kecil mereka. Sedangkan Reyhan hanya tersenyum simpul saja.


"Mama, sudah dong. Nurul malu tahu?" lirihnya, karena Mamanya tidak berhenti bercerita.


"Kenapa harus malu? Toh, sebentar lagi kalian akan menjadi suami istri!" celetuk Mutia.


"Apa?" kaget Reyhan. Reyhan melirik ke arah Mamihnya. Karena Mamihnya bilang, ini hanya acara silahturahmi biasa.


"Ah, Jeng bisa saja," sahut Cynthia.


"Oya, Rey, ajak Nurul melihat-lihat Mension kita!" suruh Cynthia.


"Huft," Reyhan menghela nafasnya berat.


"Ayo!" ajaknya. Nurul mengekor di belakang Reyhan.


Reyhan mengajak berkeliling Mansion milik keluarga Arsenio. Walaupun dirinya sedang berjalan dengan Nurul, namun hatinya memikirkan Halwa di sana.


"Ya Tuhan, Apa yang harus kulakukan? Disini aku sedang bersama wanita lain, Bagaimana perasaan Halwa kalau dia sampai tahu?" batin Reyhan.


"Mas Rey? Mas Rey?" panggil Nurul tiba-tiba.


"Eh, iya, Ada apa?" tanya Reyhan tergagap. Karena barusan pikirannya sedang traveling ke Belanda.

__ADS_1


"Apakah kamu ingat saat kita masih kecil?" tanya Nurul.


"Tentu saja, Aku ingat. Kenapa memangnya?"


"Masa-masa itu sangat indah bukan? Aku ingin mengulangnya lagi," ucap Nurul sambil tersenyum.


"Tapi, Sayangnya aku sudah tidak ingin mengulanginya?"


"Lho kenapa?"


"Jika kita mengulanginya berarti kita harus menjadi anak kecil lagi," gurau Reyhan, membuat Nurul terkekeh.


"Ah, Mas Reyhan bisa saja!" ucapnya tersipu malu.


Lumayan lama mereka bercakap-cakap, Mamih Cynthia memanggil putra dan Nurul untuk makan siang bersama.


Mereka berlima duduk di ruang makan. Makanan sudah terhidang di meja makan.


"Silahkan, Jeng, Mas Hadi, Cicipi masakan di rumah kami!" ucap Cynthia.


"Wah, sepertinya sangat enak!" puji Mutia.


Mereka makan bersama, menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh para pelayan.


"Jeng Mutia, Mas Hadi, menginaplah di sini! Nanti kalau pulang, biar Reyhan yang mengantarkan kalian ke Bandung," ucap Chyntia.


"Tapi, nanti kami merepotkan!" ucap Hadi.


"Tidak sama sekali. Iya kan Rey?" tanya Cynthia kepada putranya. Reyhan hanya mengangguk saja. Nurul begitu bahagia, karena malam ini dia akan menginap di rumah seseorang yang selama dia suka.


"Kamu mau kan, Nurul?" tanya Cynthia kepada Nurul.


"Terserah mamah dan papah saja," jawab Nurul menoleh ke arah papah dan mamahnya.


"Iya, Sayang, kita akan menginap di sini selama tidak merepotkan tante Cynthia dan Nak Reyhan," ucap Mutia.


"Tentu saja kalian tidak merepotkan!" jawab Cynthia.


Pelayan membersihkan dua kamar tamu di Mansion. Setelah bersih, para pelayan membantu membawakan barang-barang ke kamar mereka masing-masing.


"Wah, kamarnya sangat besar," senang Nurul.


"Kau suka?" tanya Cynthia.


"Suka, Tante," jawab Nurul.


"Kalau kau sudah menjadi menantuku, kamar Reyhan akan menjadi kamarmu. Dan kamar Reyhan dua kali lipat lebih besar dari kamar ini," jelas Cynthia.


"Ah, Tante bisa saja!"


Malam itu Cynthia menyuruh putranya untuk mengajak Nurul berjalan-jalan mengelilingi Kota J. Nurul begitu bahagia. Dia berdandan sangat cantik sekali.


Mobil Reyhan melaju dengan kecepatan sedang, mengelilingi Kota J yang begitu ramai di malam hari. Mata Nurul tidak berhenti menatap indahnya Kota J di malam hari. Sampai matanya beralih ke Pasar malam dipusat kota, yang nampak sangat ramai. Nurul meminta berhenti, dan mengajak Reyhan untuk melihat-lihat disana.


"Ayolah, Mas Reyhan, aku sudah lama tidak melihat pasar malam. Aku sangat penasaran sekali. Ada apa didalamnya? Apakah masih sama saat kita sering ke pasar malam dulu?" ucapnya. Dengan terpaksa Reyhan menemani Nurul melihat-lihat pasar malam.

__ADS_1


to be continued.......


__ADS_2