
"Asal Mamih tahu. Dia wanita yang spesial di hati Reyhan. Rey sangat mencintainya. Kenapa Mamih tega memisahkan Rey dengan istri Rey? Padahal Mamih sudah tahu kebenarannya?"
"Maafkan Mamih, Nak! Mamih bersalah," isak Cynthia.
"Kamu mau kemana, Rey?" tanya Cynthia.
"Aku akan ke kantor polisi untuk membebaskannya!" jawab Reyhan, "Jangan menunggu kedatangan Reyhan! Rey akan kembali ke rumah, jika Rey berhasil bertemu dengan Halwa," sengitnya.
Dengan menggunakan mobil Antonio, mereka datang ke kantor Polisi. Namun, sayang seribu sayang, Halwa sudah dibebaskan beberapa Minggu yang lalu.
Dua hari setelah kejadian, Halwa dibebaskan tanpa syarat oleh Kepolisian. Karena memang tidak ada bukti yang memberatkannya. Tidak ada sidik jarinya, pada kalung tersebut. Dan dari Kepolisian menyatakan bahwa kasus ini murni sebuah fitnah belaka.
Kepolisian sendiri memberikan saran agar Halwa menuntut balik kepada sang pelapor atas dasar pencemaran nama baik. Namun Halwa enggan melaporkannya. Dia mengatakan kepada polisi, bahwa yang melaporkannya adalah Mama mertuanya sendiri. Tidak mungkin juga dia melaporkan balik.
Reyhan sangat menyesali perbuatannya. Tidak hentinya dia menyalahkan dirinya sendiri. Antonio sangat prihatin melihat keadaan Reyhan.
"Ayo, kita pulang, Rey!" ajak Antonio.
"Apakah dia sudah kembali ke Belanda?" tanya Reyhan.
"Aku tidak tahu," jawab Antonio, "Ini sudah sore, sebentar lagi hujan. Ayo kita pulang!" ajak Antonio.
"Antarkan aku ke Apartemen!" ucapnya tiba-tiba.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu ke Apartemen!"jawab Antonio.
Mobil Antonio melaju dengan kecepatan tinggi menerobos derasnya air hujan yang turun mengguyur kota. Reyhan nampak terdiam, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Antonio bisa memahami perasaan sahabatnya. Dia yakin, sekarang Reyhan dalam keadaan menyesal.
Sampai di depan Apartemen, Antonio memarkirkan mobilnya. Dia menemani Reyhan masuk ke dalam Apartemen.
"Istirahatlah, Bro! Kau baru pulih. Kau harus menenangkan dirimu. Setelah kau tenang, barulah kita mencari tahu keberadaan istrimu!" tutur Antonio.
Reyhan tidak mengatakan apapun, dia melangkahkan kakinya menuju lantai dua, kamarnya. Hujan semakin deras, terpaksa Antonio harus bermalam di rumah sahabatnya. Dia juga tidak mungkin tega meninggalkannya sendirian di Apartemen dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Reyhan duduk termenung di atas kasur. Dia masih menyalahkan dirinya sendiri. Kepergian istrinya adalah pukulan terbesar di dalam hidupnya.
Reyhan hendak bangkit dari duduknya, tiba-tiba maniknya menoleh ke arah nakas disebelah tempat tidur. Dia melihat cincin kawin yang ia berikan saat menikahi Halwa.
"Halwa?" Reyhan menangis sesenggukan, "Maafkan aku!"
🍀🍀🍀🍀🍀
Satu Minggu berlalu, keadaan Reyhan semakin memprihatinkan. Dia terus mengurung dirinya di kamar, Antonio yang memperhatikan semua keperluan makan dan mandinya. Jika Antonio tidak datang ke Apartemen, seharian dia tidak makan ataupun sekedar mandi. Dia hanya berbaring dan melamun saja.
Seperti hari ini, Antonio melihat Reyhan masih tidur dan ogah-ogahan untuk bangun. Seharian ia tidak menyentuh air. Kamar tidurnya, ia biarkan berantakan. Banyak sampah kertas dan baju kotor berserakan. Dia juga membiarkan korden kamarnya tertutup rapat, membuat ruangan di dalam gelap dan tercium aroma yang tidak sedap.
Antonio tidak tega melihat sahabatnya semakin terpuruk. Dia masuk ke dalam kamar Reyhan yang gelap, dan membuka korden jendela. Sinar matahari masuk lewat jendela kamar dan sinarnya menyilaukan mata pemilik kamar tersebut. Membuat Reyhan mengerjapkan mata.
"Rey, Bangun!" teriak Antonio.
"Hem!" Reyhan menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya. Antonio menarik paksa selimut itu.
"Ayo, Bangun!" teriak Antonio membuat telinganya terasa sakit.
"Lu tuh laki, masa Lu nyerah gitu saja! Mana Reyhan yang gue kenal?" ucap Antonio.
"Percuma gue datang ke sana! Dia nggak akan pernah mau nerima gue lagi. Dia sudah mengembalikan cincin yang gue kasih untuk mas kawinnya," sedih Reyhan.
"Tapi, Lu kan belum mencoba. Kenapa Lu nggak coba dulu mendatanginya ke sana? Meminta maaf dan setelah itu barulah Lu tahu keputusan Halwa bagaimana?" tutur Antonio.
"Dia sudah mengembalikan cincin kawinnya, pastilah dia sangat kecewa dan marah sama gue, Bro!"
"Rey, Bagaimana Halwa bersimpati sama Lu? Kalau Lu nggak ada usaha untuk memperjuangkannya!" tutur Antonio lagi, "Lagipula, Lu melakukan itu juga dalam keadaan hilang ingatan. Lu sedang sakit, Bro. Jadi, gue yakin Halwa bisa mengerti dengan kondisi Lu!" ucap Antonio.
"Kau benar Antonio. Iya, aku akan pergi ke Belanda. Aku akan ke rumahnya. Dan aku akan meminta maaf. Jika perlu, aku akan bersujud dikakinya supaya hatinya luluh. Dan dia akan kembali ke gue," jawabnya.
"Iya, Bro. Lu harus bersemangat. Lu nggak boleh seperti ini terus! Jadilah Reyhan yang percaya diri dan seperti dulu lagi!" tutur Antonio.
__ADS_1
"Thanks, Bro. Gue beruntung mendapatkan sahabat kaya Lu!" senang Reyhan. Kata-kata Antonio membuatnya bersemangat lagi.
Reyhan beranjak dari tempat tidurnya, dia menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Selama satu jam dia di kamar mandi. Sedangkan Antonio membantu membersihkan kamar sahabatnya yang jorok dan banyak sampah.
Dalam waktu beberapa menit saja, Antonio sudah mengantongi dua kresek sampah ukuran jumbo. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Reyhan yang seperti anak kecil. Namun sebagai seorang sahabat dia bisa mengerti.
Setelah semuanya selesai, dan sampah sudah Antonio keluarkan dari dalam Apartemen. Barulah dia memesan makanan untuk sarapan Reyhan.
Reyhan baru saja keluar dari kamar mandi. Dia terlihat sangat segar, Apalagi melihat rambutnya yang basah. Reyhan memakai pakaian santai. Karena memang dia masih belum aktif menjalankan Perusahaan. Dia terlalu malas sekedar untuk bertemu dengan sang Mamih.
Antonio sudah menyiapkan sarapan pagi untuk sahabatnya. Reyhan yang baru keluar kamar, dia langsung duduk ingin menyantap sarapan paginya.
"Sarapan lah dulu! Kau harus banyak makan. Lihatlah dirimu macam tengkorak saja. Kau semakin kurus! Jika Halwa melihat Kau seperti ini, aku yakin dia akan melirik ke pria lain yang lebih macho dan ganteng!" goda Antonio.
"Sialan, Kau!" Antonio terkekeh geli.
"Apakah kau yang menyiapkan ini semua?"
"Tentu saja aku. Siapa lagi? Apakah disini ada inem pelayan seksi yang membersihkan Apartemen dan menyiapkan makanan untukmu?" Cibir Antonio, "Disini hanya ada aku yang setia menemanimu. Jadi, Kau berhutang budi kepadaku!" goda Antonio.
"Ck, ternyata kau sangat perhitungan! Padahal selama ini, Aku selalu membantumu. Aku selalu memberikan fasilitas dan kenyamanan selama kau bekerja denganku. Tapi, Apa balasannya?" sungut Reyhan.
"Ha ... Ha ... Ha. Aku hanya bercanda, Bro! Begitu saja marah!" ucap Antonio.
"Kenapa jam segini Kau tidak ke kantor?" tanya Reyhan tiba-tiba.
"Ck, Apakah kau lupa? Kalau aku sudah dipecat oleh Tante Cynthia!"
"Dipecat?" heran Reyhan.
"Sudahlah, Bro. Tidak apa-apa. Sekarang aku sudah mendapatkan pekerjaan baru. Yah, walaupun gajinya sedikit, tapi, setidaknya masih ada yang mau menerima karyawan seperti aku," jawab Antonio.
"Mamih memang benar-benar keterlaluan!" batin Reyhan mengumpat Mamihnya sendiri.
__ADS_1
to be continued.....