
Sampai di Indonesia, pertama kali yang akan dilakukan Halwa adalah mempertemukan Noah dengan Dimas. Karena Noah nampak ingin sekali bertemu dengan sang papa.
Dengan taksi Halwa mendatangi rumah Dimas. Namun sampai di sana, rumah Dimas kosong. Rumah itu sudah disita oleh Bank. 0Ada tulisan besar yang menempel tepat di depan gerbang rumahnya.
"Rumah Dimas menjadi sitaan Bank! Apa yang sebenarnya terjadi?" Halwa mengernyitkan alisnya.
"Mama kenapa ada tulisan besar di depan rumah?" tanya Noah.
"Entahlah, Mama tidak tahu," jawabnya, "Sebentar, Mama mau telepon Papa!"
Halwa mendial nomor Dimas, dan menghubunginya. Dia ingin memberitahukan bahwa Noah sudah di Indonesia, dan dia ingin bertemu dengan papahnya. Dimas pun memberikan alamat kepada Halwa untuk datang ke rumahnya yang sekarang.
Dengan taksi pula, mereka berdua berangkat menuju rumah Dimas. Dalam waktu lima belas menit mereka sampai di depan rumah Dimas. Setelah membayar ongkos taksi, mereka pun turun.
Halwa nampak mengamati rumah yang sekarang dihuni oleh Dimas. Rumah yang sangat sederhana, dengan dinding kayu, namun nampak nyaman dan asri. Halamannya luas, karena banyak ditumbuhi tanaman-tanaman. Hilda dan Dimas sudah menunggu kedatangan mereka.
"Noah?" teriak Hilda dari kejauhan.
"Nenek," teriak Noah, berlari menghambur ke pelukan neneknya.
"Nenek kangen sama Noah," ucapnya.
"Noah juga kangen," jawab Noah. Matanya beralih ke sang Papa. Ada sedikit yang berbeda dari sang papa, papahnya terlihat agak kurusan. Matanya tidak sebening dulu, penampilannya juga berbeda jauh dengan yang dulu. Sekarang papanya begitu kucel, dan terlihat agak menua.
"Papa," ucap Noah. Dimas merentangkan tangannya, ingin memeluk Noah. Noah langsung berhambur ke pelukan sang papa.
"Noah rindu Papa,"
"Papa juga, Sayang," jawabnya.
"Halwa," panggil Hilda. Sekarang Hilda lebih lembut dan ramah. Dia tidak terlihat sombong seperti yang dulu pernah dia lakukan kepadanya.
"Tante, Apa kabar?"
"Kami baik," jawabnya.
"Dan Mas Dimas, Apa kabar?"
"Aku juga baik," jawabnya, "Terima kasih sudah merawat Noah dengan baik," ucap Dimas.
"Sama-sama,"
"Silahkan masuk! Maaf rumahnya kecil," ucap Hilda mempersilahkan Halwa masuk ke dalam rumah.
"Terima kasih banyak, Tan," jawab Halwa tersenyum.
Hilda mengajak Noah untuk melihat-lihat rumahnya, sedangkan Dimas menemani Halwa duduk di ruang tamu.
"Sepertinya kamu sudah sembuh, Mas. Aku senang jika kamu sudah sembuh," ucap Halwa.
"Iya, aku sembuh," lirihnya, "Halwa, aku minta maaf. Aku banyak bersalah sama kamu dan Salwa. Aku sangat malu," ucap Dimas.
"Aku sudah memaafkan kamu, Mas. Yang sudah, biarlah berlalu. Jangan diungkit-ungkit lagi!" tutur Halwa.
"Oya, Mas. Kenapa rumah kamu di sita oleh Bank?" tanya Halwa.
"Huft." Dimas menghela nafasnya kasar.
"Aku sudah bangkrut. Sekarang beginilah hidupku. Mungkin ini semua adalah karma atas semua dosa dan kesalahanku dulu!" ucapnya.
"Yang sabar ya, Mas. Aku yakin kamu pasti bisa bangkit lagi!" ucap Halwa memberi semangat. Dimas tersenyum.
"Aku sekarang membuka usaha kecil-kecilan. Aku akan membuka cafe di pusat kota,"
"Wah, itu juga bagus, Mas. Lain kali aku mampir ya?"
"Terima kasih banyak," jawab Dimas.
__ADS_1
"Oya, Mas, aku mau menitipkan Noah disini. Aku ada urusan penting, maukah kamu menjaga Noah sebentar?"
"Tentu, dia putraku. Aku akan menjaganya dengan sangat baik," ucapnya.
"Terima kasih, Mas,"
Halwa mencoba mendial nomor Antonio. Hanya dia yang bisa membantunya sekarang ini.
"Mudah-mudahan nomor Antonio aktif," batin Halwa.
Dret .... Dret ... Dret
"Syukurlah, nomornya bisa dihubungi. Benar-benar menyebalkan, kenapa mereka begitu kompak sekali!" kesal Halwa.
"Hallo?" ucap Antonio.
"Hallo, Antoni. Ini aku Halwa,"
"Hallo?"
"Antonio, aku Halwa," ucap Halwa.
"Halwa? Maksudnya Nona Halwa? Iya ini aku, Antonio," jawabnya.
"Kenapa nomormu tidak aktif? Dari kemarin aku menghubungimu!" kesal Halwa.
"Maaf, Nona. Ponsel saya rusak. Dan ini baru selesai di benerin," jelas Antonio.
"Dimana suamiku?" tanya Halwa, "Aku tidak bisa menghubungi nomornya. Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian membuatku sangat jengkel?" cecar Halwa dengan banyak pertanyaan.
DEGH ....
Tiba-tiba saja mulutnya terkunci, tubuhnya membeku. Antonio tidak tega menceritakan kejadian sebenarnya kepada Halwa.
"Nanti aku ceritakan," jawabnya.
"Apa? Kau berada di Indonesia? Sejak kapan?"
"Baru saja aku sampai. Ayo kita bertemu!" ajak Halwa.
"Baiklah, aku jemput di mana?"
"Tidak usah. Aku akan menunggumu di Bossa Cafe sekarang juga!"
"Baiklah aku akan segera kesana," jawab Antonio.
"Apa yang harus aku katakan kepada Halwa?" gumamnya, "Ah, sial. Kenapa masalahnya menjadi rumit seperti ini?" Antonio frustasi sendiri menghadapi masalah sahabatnya.
Satu jam kemudian Halwa sudah menunggu di Bossa Cafe, dan duduk manis di sana. Tentunya setelah berpamitan dengan Dimas, Hilda dan juga Noah.
Antonio mencari keberadaan Halwa. Dan benar saja, Halwa sudah berada di Indonesia. Dan sekarang dia sedang menunggu dan duduk sambil menikmati kopi.
"Nona?" panggil Antonio kepada istri sahabat sekaligus bos-nya.
"Antonio, Kemana suamiku? Kenapa kau datang sendiri?" tanya Halwa. Antonio sangat bingung, darimana dia akan memulai bercerita.
"Nona, tenanglah dulu! Ayo kita duduk!" ajak Antonio.
"Apakah kau mau memesan sesuatu?" tanya Halwa.
"Tidak usah, Nona," jawabnya lesu.
"Baiklah kalau begitu," ucapnya.
"Huft." Antonio menghela nafasnya berat.
"Nona ada sesuatu yang perlu Anda ketahui,"
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa kau nampak serius sekali?" ucapnya sambil tersenyum.
"Ada sesuatu yang menimpa Pak Reyhan," ucap Antonio.
"Kenapa dengan suamiku? Apakah dia sakit?" cemas Halwa.
"Bukan sakit, Nona. Tapi, dia kecelakaan," lirih Antonio.
"Apa? Kau bohong kan? Kau pasti bohong!" teriaknya tidak percaya.
"Itu benar, Nona,"
"Lalu dimana suamiku? Aku ingin melihatnya!" isak Halwa.
"Hiks .... Hiks ... Hiks."
"Dimana? Kapan? Aku ingin menemuinya Antoni!" ujarnya.
"Kejadiannya dua Minggu yang lalu. Dan dia sudah sadar dari komanya," jawab Antonio.
"Ah, syukurlah. Apakah dia baik-baik saja? Apakah aku bisa menemuinya?"
Antonio benar-benar tidak tega melihat istri bos-nya yang terlihat sangat cemas dan khawatir.
"Bos Reyhan mengalami amnesia, Nona," jawab Antonio.
"Apa? Bagaimana bisa?" isak Halwa kembali.
"Aku mohon, biarkan aku bertemu dengannya. Aku ingin menemuinya," jawabnya.
"Iya, Nona. Saya mengerti. Tapi, situasinya sangat sulit,"
"Sulit, bagaimana?" tanya Halwa penasaran.
"Masalahnya, Mamihnya Reyhan tidak mengetahui kalau Anda dan Pak Reyhan sudah menikah,"
"Apa? Mamih? Maksud kamu, ibu kandung Reyhan masih hidup? Kenapa dia tidak pernah bercerita kepadaku?" sedih Halwa, "Aku adalah istrinya. Jadi, selama ini Rey membohongi ku?"
"Bukan begitu," lirih Antonio, "Pak Rey melakukan itu karena dia sangat mencintai Anda. Dia tidak mau kehilangan Anda," jelasnya.
"Antonio, saya tidak mengerti apa maksud kamu? Tolong jelaskan lebih spesifik lagi!" pinta Halwa.
"Mamih Rey, tidak tahu kalau kalian sudah menikah. Karena awalnya dia memang sudah tidak menyukai Salwa. Dan Salwa, kembaran Anda adalah wanita yang pernah singgah di hati Reyhan. Mamihnya Rey tidak menyetujui kalau putranya memiliki hubungan dengan Salwa. Karena itulah Rey menyembunyikan pernikahan kalian, dia akan menceritakannya kalau waktunya sudah tepat," jelas Antonio.
"Kenapa dia tega membohongi ku?" isak Halwa, dia benar-benar sangat sedih. Bahkan dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Aku harus bertemu dengan Mamihnya Rey," ujar Halwa, "Tolong pertemukan aku dengan Mamihnya Rey!"
"Tapi .... !"
"Aku harus bertemu dengan Mamihnya Rey. Aku akan menjelaskannya. Aku juga ingin bertemu dengan suamiku," ujarnya.
"Baiklah, nanti akan saya atur waktunya bertemu dengan Tante Cynthia," ucap Antonio.
"Cynthia? Jadi, Mamihnya bernama Cynthia?"
"Iya, Nona,"
"Berarti yang membalas email adalah Cynthia, Mamihnya Rey," batin Halwa.
"Sementara Nona bisa tinggal di Apartemen milik Pak Rey," ucap Antonio tiba-tiba.
"Baiklah. Aku memang butuh tempat tinggal," ujar Halwa.
Antonio pun mengantarkan Halwa ke Apartemen milik suaminya.
to be continued....
__ADS_1