
"Aku akan beristirahat, jika, Kau temani aku di sini!" pinta suaminya.
"Ehm, tapi ... !" Halwa nampak berfikir. Nanti biar aku pulang besok saja, dia juga sudah mengatakannya kepada Adam. Pikir Halwa.
"Baiklah, aku akan menemanimu disini," ujarnya. Kata-kata istrinya, membuat Reyhan begitu bahagia. Jika dia tidak sedang sakit, ingin rasanya berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil
Malam itu juga Reyhan dipindahkan di ruang rawat VIP, terpaksa Halwa harus menemani suaminya di Rumah Sakit.
"Maafkan aku! Aku sudah membuatmu menderita selama ini!" ucap Reyhan penuh penyesalan.
"Kau sudah mengatakannya ribuan kali! Aku sampai bosan mendengarnya," cebik istrinya. Reyhan terkekeh geli.
"Apakah aku boleh melihat putraku?" tanyanya.
"He'em. Kau boleh menemui kedua putramu," jawab Halwa.
"Apa? Dua putra?" Reyhan nampak terkejut.
"Iya, dua putra," jawabnya, "Aku melahirkan anak kembar yang sangat menggemaskan," jawab Halwa.
"Jadi, putraku kembar?" tanya Reyhan, masih belum percaya. Halwa menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak percaya ini, aku punya putra kembar!" senang Reyhan, "Kau pasti sangat repot mengurus mereka berdua,"
"Tidak juga. Aku dibantu baby sister untuk menjaga dan merawat mereka," jawab Halwa, "Aku juga dibantu oleh asistenku!"
"Adam?" mata Reyhan menatap tajam.
"Iya, Adam. Memangnya siapa lagi?"
"Tapi dia nggak macam-macam sama kamu kan, Yang?" tanya Reyhan penasaran dengan jawaban istrinya. Halwa membulatkan matanya, lalu, dia menepuk bahu suaminya.
"Auw, sakit, Sayang!" pekiknya.
"Jangan berfikiran macam-macam! Kamu pikir aku wanita seperti itu?" kesal Halwa memberengut kesal. Reyhan tergelak.
"Maafkan aku, Sayang!" ucapnya meminta maaf.
"Adam bukanlah pria seperti itu. Dia sangat mencintai istrinya," jelas Halwa.
"Apakah dia sudah menikah?"
"Iya, dia menikah dengan calon istrinya," jelas Halwa.
"Kenapa aku tidak tahu dia menikah?" tanya Reyhan.
"Untuk apa Kau tahu?"
"Tentu saja aku harus tahu. Karena bagaimanapun dia sudah berusaha keras menjagamu dan menjaga anak kita!" ucapnya, "Nanti aku akan berterima kasih kepadanya!" ucapnya menyunggingkan senyum.
"Terserah kamu saja, Rey!"
"Sayang, kamu benar-benar sudah memaafkan ku kan?" tanya Reyhan sekali lagi. Pasalnya, dia masih belum percaya kalau Halwa sudah memaafkannya.
"Iya, aku sudah memaafkan mu," lirihnya.
__ADS_1
"Ah, senangnya," senang Reyhan, "Jadi, kalau aku meminta hak ku lagi bolehkan, Sayang?"
"Astaga, masih sakit saja Kau memikirkan hal yang sangat memalukan! Bagaimana kalau sudah sembuh, bisa-bisa aku tidak bisa berjalan karena mu!" manyun Halwa. Reyhan terkekeh geli melihat tingkah lucu istrinya.
"Sudah, Sayang. Sekarang kau harus banyak beristirahat. Supaya kau cepat pulih!" tutur Halwa. Reyhan sebenarnya masih ingin mengobrol banyak, tapi, sepertinya Halwa terlihat kelelahan. Dia pun mengurungkan niatnya untuk bercerita lagi.
🍀🍀🍀🍀🍀
Keesokkan paginya, Halwa keluar dari kamar mandi, dia sudah mandi, tapi, bajunya masih sama dengan baju yang semalam ia pakai. Dia sedikit berdandan, supaya raut mukanya tidak terlalu pucat. Selesai berdandan dia dikejutkan dengan suara suaminya yang baru bangun.
"Kamu mau kemana?" tanya suaminya. Halwa mendekati tempat tidur suaminya. Dia meraba dada bidang sang suami, dan menyenderkan kepalanya di sana.
"Aku pulang dulu. Pasti si kembar rewel kalau bangun tidur. Dan aku takut, Adam akan kualahan menghadapi mereka!" ucap Halwa.
"Baiklah. Tapi, Kau harus cepat kembali ke sini! Dan jangan berusaha kabur lagi dari ku!" ucap Reyhan penuh penekanan.
"Ck, Asal kau tidak menyebalkan! Aku tidak akan kabur!" kekeh Halwa, membuat Reyhan cemberut.
"Kau tenang saja, Sayang. Aku tidak akan kabur lagi!" jawab Halwa sambil mencium bibir suaminya yang sedang cemberut.
"Bawalah si kembar kemari!" pinta suaminya, "Aku sudah tidak sabar ingin melihat mereka!"
"Ehm, bagaimana ya?" Halwa nampak berfikir, "Apakah anak kecil diperbolehkan masuk ke Rumah Sakit?"
"Tentu saja boleh, Sayang. Penyakitku kan tidak menular!" ujarnya. Halwa tergelak.
"Iya, Iya. Nanti aku bawa kesini!" ucapnya.
"Baiklah. Hati-hati, Sayang!" Reyhan mencium kening istrinya.
Dengan menggunakan taksi, Halwa kembali ke hotel. Sebelum kembali ke hotel, dia mampir ke Supermarket sebentar. Membeli susu dan cemilan untuk putranya. Karena dia tahu betul sifat kedua putranya, jika sedang merajuk, Halwa harus mempersiapkan telinga yang tebal. Dan paling utama adalah makan kesukaan putranya. Yaitu, ice Cream dan susu.
Taksi berhenti di depan hotel, setelah membayar ongkos taksi, Halwa berjalan cepat menuju kamarnya. Dia yakin putra-putranya sudah bangun, dan sedang membuat kekacauan.
Ting ... Tong
CEKREEK ...
Adam membuka pintunya, dan dia melihat penampilan Adam benar-benar sangat kacau. Halwa hanya bisa menggigit jarinya. Apa yang terjadi pada Adam pasti kelakuan kedua buah hatinya.
"Kau tidak apa-apa, Adam?" tanya Halwa.
"Aku minta cuti selama dua Minggu, Nona!" jawabnya. Halwa hampir tertawa terbahak-bahak, namun, melihat kondisi Adam yang sangat memperihatinkan, dia mengurungkan niatnya untuk tertawa.
"Iya, Kau boleh cuti selama dua Minggu," jawab Halwa. Tentu saja Adam sangat bahagia. Dia akan kembali ke Belanda bertemu dengan istri tercinta.
"Tapi ingat, hanya dua Minggu!" tegas Halwa.
"Satu bulan, Nona!" pintanya dengan wajah memelas. Halwa menahan tawanya.
"Baiklah," jawab Halwa, "Sekarang, Kau boleh kembali ke kamarmu dan beristirahatlah!" suruhnya.
"Siap, Nona!"
Halwa masuk ke dalam, kamarnya nampak sangat berantakan. Banyak tisu berserakan. Dan baju-baju juga berserakan dimana-mana. Halwa hanya menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Sayang?" panggil Halwa kepada kedua buah hatinya, yang sedang menonton acara kesukaannya, Teletubbies. Halwa memanggilnya, sengaja mereka menutup kedua telinganya. Hampir saja Halwa terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan putranya.
"Kok nggak dijawab sih?"
"Gabino sedang marah!" kesalnya.
"Gabrino juga sedang marah!" tiru adiknya.
"Ehm, padahal Mommy habis membeli ice Cream yang enak banget!" goda Halwa. Namun mereka masih bersikeras tidak mau membuka telinganya. Halwa pun tidak kehilangan akal. Dia membuka satu ice Cream, dan memakannya di depan si kembar. Gabrino nampak memperhatikan Mommynya makan ice Cream. Kemudian menelan ludahnya sendiri.
"Heum, enaknya ice Cream ini?" goda Mommynya lagi. Gabrino menatapnya terus, lalu, dia menjulurkan lidahnya hendak menjilati ice Cream tersebut.
"Jangan! Kita kan sedang marah sama Mommy!" bisik Gabino pelan, namun masih bisa didengar oleh Mommy nya.
"Tapi aku mau, sepertinya kalau aku meminta sedikit kepada Mommy, Mommy tidak akan keberatan," jawab Gabrino.
"Aku bilang tidak!" Gabino bersikeras menahan kembarannya agar tidak terpancing.
"Heum, padahal ini enak sekali. Di sana stok ice Cream seperti ini sudah habis. Kalau mencair sayangkan?" ujar Mommynya.
"Gabrino mau, Mom!" ucap Gabrino akhirnya.
"Gabrino mau?" tawar Halwa. Gabrino menganggukkan kepalanya.
"Ini?" Gabrino langsung menerima ice Cream itu, dan langsung memakannya.
"Gabrino?" bentak Gabino jengkel.
"Enakkan?" tanya Halwa.
"Enak, Mommy!" jawabnya senang.
"Gabino memangnya nggak mau, padahal ini enak banget lho?" goda Halwa.
"Gabino sedang marah sama Mommy," kesalnya.
"Kenapa marah?"
"Kenapa Mommy nggak pulang-pulang? Mommy kemana saja?" marahnya.
"Iya, Sayang, Maaf," jawabnya. Halwa nampak berfikir.
"Ehm, Mommy pergi karena Mommy cari Daddy kalian! Bukankah kalian ingin bertemu dengan Daddy?" ucap Halwa, membuat matanya menoleh ke arah sang Mommy.
"Daddy?" Halwa tahu kalau Gabino sejak dulu menginginkan seorang Daddy. Tapi, Halwa selalu mengatakan kalau Daddy-nya bekerja jauh, dan belum bisa pulang.
"Gabino dan Gabrino mau nggak ketemu Daddy?" tanya Halwa. Gabrino langsung tertarik, setelah menghabiskan ice Creamnya, dia langsung duduk di pangkuan sang Mommy.
"Gabrino mau, Mom," jawabnya.
"Kalau Gabino?"
"Gabino juga mau," lirihnya.
"Kalau begitu, Ayo makan ice creamnya dulu!" ucap Halwa, "Setelah Mommy mandi, kita bertemu Daddy!" ujar Halwa. Nampak mereka menyeringai bahagia. Saking bahagianya, mereka memilih pakaian terbaik yang mereka miliki untuk bertemu sang Daddy.
__ADS_1
to be continued....