Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 83 : Keputusan Untuk Pulang


__ADS_3

BELANDA


Satu Minggu lamanya Reyhan tinggal di Mansion milik istrinya. Namun tidak ada tanda-tanda sang istri kembali ke Mansion. Reyhan sempat mendatangi Perusahaan milik sang istri, para karyawan yang bekerja di sana juga tidak mengetahui keberadaan Ceo-nya. Usaha untuk mencari keberadaan sang istri tidak berhenti sampai di situ, Reyhan juga mencari alamat rumah Adam. Karena hanya dia yang tahu keberadaan sang istri.


Setelah mendapatkan alamat Adam, tanpa membuang waktu, Reyhan langsung pergi ke alamat tersebut, dengan menggunakan taksi. Rumah Adam terletak di suatu desa, dimana pemandangannya masih sangat asri dan indah. Taksi yang Reyhan tumpangi berhenti di tepi jalan. Setelah membayar ongkos taksi, dia sedikit berjalan untuk sampai ke rumah Adam. Dia berdiri di depan rumah Adam, dan memastikan alamat rumah yang ada di kertas itu benar.


"Alamatnya benar," lirih Reyhan.


Tok ... Tok ... Tok


Reyhan mengetuk pintu rumah tersebut, dan seorang wanita muda membuka pintu itu.


"Tuan Reyhan?" Emma masih ingat betul wajah suami majikannya. Karena pada saat mereka menikah, dia juga hadir di pernikahan keduanya.


"Kamu, Emma kan?" dengan menggunakan bahasa Inggris.


"Iya!" jawab Emma juga menggunakan bahasa Inggris.


"Emma, Tolong saya! Katakan kepada saya, dimana Halwa?" tanya Reyhan. Emma nampak mengernyitkan alisnya.


"Saya tidak tahu, Tuan," jawabnya.


"Saya yakin kakak kamu tahu. Dimana Adam?"


"Kak Adam juga belum kembali. Bukankah mereka semua berada di Indonesia?"


"Tidak, Emma. Mereka sudah tidak di Indonesia. Tolong kamu jangan berbohong!"


"Tuan, Saya benar-benar tidak tahu. Kenapa Anda tidak percaya?"


Reyhan menyenderkan tubuhnya di kursi kayu, yang berada di teras rumah Emma. Dia menghela nafasnya panjang. Reyhan beranjak dari tempat duduknya. Sepertinya dia memang harus menyerah mencari keberadaan istrinya. Hatinya benar-benar sedang tidak baik-baik saja.


"Maafkan, Saya. Terima kasih atas informasinya. Jika mengetahui sesuatu tentang istri saya, Tolong hubungi nomor saya!" Reyhan menyerahkan kartu namanya kepada Emma.


"Baik, Tuan. Jika saya mengetahui sesuatu, saya akan langsung menghubungi Anda!" ujarnya.


"Baiklah, permisi!" Reyhan meninggalkan rumah Adam. Dia kembali melangkahkan kakinya ke jalan tadi, dan menunggu taksi yang melintas di jalan tersebut.


Sebuah mobil berhenti di depannya. Seorang pria membuka jendela mobil.


"Tuan Rey?" panggilnya. Reyhan mengingat-ingat siapa pria yang sudah memanggilnya.


"Richard!" senang Reyhan. Richard keluar dari mobil.

__ADS_1


"Kenapa Anda berdiri di sini? Anda mau kemana?" tanya Richard.


"Saya baru saja dari rumah Adam. Tapi, dia tidak ada di rumah," jawab Reyhan nampak lesu.


"Adam belum kembali, Tuan," jawab Richard, "Bukankah dia di Indonesia?"


"Nona pergi ke Indonesia dengan putranya. Kemudian Adam menyusul karena ada urusan bisnis dengan Perusahaan Anda. Dan sampai sekarang mereka belum kembali," terang Richard.


"Apakah kau tidak bohong?"


"Untuk apa saya berbohong? Mereka memang belum kembali. Jika, mereka kembali pastilah saya akan memberitahukan kepada Anda!" jelas Richard.


"Kemana kamu, Sayang?" sesal Reyhan. Sudah sekian kalinya orang mengatakan bahwa Halwa dan Adam belum kembali dari Indonesia.


"Ini benar-benar gila!" Reyhan mengacak rambutnya karena frustasi.


"Kemana mereka?" batinnya.


"Apakah kalian ada masalah?" tanya Richard tiba-tiba.


"Huft," Reyhan menghela nafasnya panjang. Reyhan pun menceritakan masalahnya kepada Richard. Richard mendengarkannya dengan seksama. Richard merasa prihatin dengan kisah cinta majikannya.


"Tuan, mungkin Nona ingin menyendiri. Makanya dia memilih untuk pergi tanpa mengatakan apapun," jelas Richard.


"Tuan, tenang saja! Mereka tidak mungkin memiliki hubungan. Saya tahu betul siapa mereka," terang Richard.


"Kenapa kau sangat yakin bahwa mereka tidak akan memiliki hubungan?"


"Adam itu orang yang sangat


setia. Dia mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk keluarga Vander Williams. Lagipula, Adam sudah memiliki wanita yang sangat ia cintai. Dan rencananya, mereka akan menikah. Jadi, Anda tenang saja!"


"Kau tahu rumah calon istri Adam?" tanya Reyhan.


"Namanya Lara Leandher. Dia seorang sukarelawan. Pekerjaanya mengharuskan dia harus ke daerah terpencil," terang Richard.


"Jadi dia tidak di rumah?"


"Tidak ada. Dia jarang di rumah. Adapun di rumah pasti dia akan tinggal di rumah Adam. Karena dia gadis sebatang kara, tidak memiliki keluarga. Dan menganggap Ibu Adam seperti ibunya sendiri," jelas Richard.


Reyhan merasa sangat lemas. Dia tidak tahu kepada siapa lagi dia harus bertanya dan mengorek informasi.


"Bisakah kau antarkan aku ke Mansion?"

__ADS_1


"Bisa. Silahkan, Tuan!" Richard mengantar Reyhan ke Mansion milik Halwa.


🍀🍀🍀🍀🍀


Satu bulan lamanya Reyhan tinggal di rumah istrinya. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia.


Reyhan sudah berada di pesawat. Dia memasrahkan semuanya kepada sang Pencipta jika memang itu yang terbaik untuknya dan untuk istrinya. Sesekali dia memejamkan matanya mengingat masa-masa indah bersama sang istri. Meskipun singkat, namun sangat berarti dalam hidupnya.


Reyhan mengerjapkan matanya, saat seorang pramugari dengan lembut membangunkannya. Ternyata dia tidur cukup lama di pesawat. Beberapa hari belakangan ini tidurnya kurang nyenyak, makan pun tidak berselera. Mungkin karena dia selalu memikirkan keberadaan sang istri. Reyhan nampak terlihat kurus, tulang pipinya menonjol dengan jelas dengan kantung mata yang menghitam. Meskipun begitu tidak mengurangi ketampanannya.


Pesawat sudah landing di Bandara Internasional Indonesia. Reyhan keluar dari pesawat dan mencari Coffe shop. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


Reyhan memesan Coffe Capuccino sebagai teman istirahatnya. Dia mendial nomor Antonio untuk menjemputnya di Bandara. Ternyata Antonio sudah menunggu lama diparkiran Bandara. Setelah membayar kopi, Reyhan bergegas ke parkiran.


"Bro?" panggil Reyhan.


"Rey, Aku senang kau kembali ke Indonesia!" ucap Antonio memeluk sahabatnya. Antonio nampak mencari seseorang.


"Kemana Halwa?" tanya Antonio. Raut muka Reyhan terlihat sangat sedih, Antonio bisa melihat itu.


"Okey, Kita cerita di rumah saja! Sekarang, Ayo kita pulang!" ajak Antonio.


Di dalam mobil, Reyhan hanya terdiam. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


"Lu, nggak apa-apa, Bro?"


"Gue belum menemukan keberadaan Halwa," ucapnya, "Sepertinya dia sangat marah!"


"Sabar, Bro. Jika Lu berjodoh, gue yakin Lu akan bertemu lagi dengannya!" tutur Antonio.


"Iya, Lu bener,"


"Biarlah waktu yang menjawab semuanya!" ucap Antonio lagi.


"Huft." Reyhan menghela nafasnya panjang.


"Gue memang nggak berguna. Gua memang bodoh!" sesalnya.


"Dia nggak akan marah sama Lu, Bro. Dia hanya butuh waktu!" tutur Antonio lagi.


Sampai di Apartemen, Reyhan menyuruh sahabatnya untuk pulang. Karena dia butuh mengistirahatkan tubuh dan otaknya sebentar. Reyhan kembali memandangi cincin kawin yang ditinggalkan istrinya. Dia sangat menyesal atas apa yang dilakukannya kepada sang istri.


"Aku mohon kembalilah. Aku akan meminta maaf kepadamu, Sayang. Bila perlu aku akan bersujud di kakimu," ucap Reyhan.

__ADS_1


to be continued.....


__ADS_2