
"Baiklah jika memang itu keputusanmu, Boy. Aku akan menghargainya. Kamu memang sudah waktunya tahu. Memang benar aku bukanlah Mama kandungmu, Boy. Tapi, aku sangat menyayangimu seperti anak kandungku sendiri. Namun, jika keputusanmu seperti itu. Aku tidak akan memaksamu!" tuturnya.
"Tetaplah menjadi Mamaku!" pinta Noah menangis sedih sambil memeluk erat tubuh Halwa. Halwa juga menangis sedih. Namun dia tidak boleh memaksakan egonya kepada seorang anak seperti Noah.
"Iya, Aku akan terus menjadi Mamamu. Kau adalah putraku, putra kesayanganku," isak Halwa.
"Kau boleh tinggal dengan Papa dan Oma mu disini. Jadilah anak yang baik, dan selalu menurut apa kata Papa dan Oma. Kau mengerti?"
"Hiks .... Hiks .... Hiks."
"Iya, Ma," isak Noah memeluk erat tubuh Halwa.
Hilda yang baru pulang dari belanja, melihat Halwa dan Noah menangis, dia begitu panik. Dia pun berlari dan memeluk keduanya.
"Ada apa ini?" tanya Hilda. Mereka berdua saling berpandang, kemudian tertawa terbahak-bahak melihat raut muka Hilda yang panik juga cemas.
"Tidak apa-apa, Tante," jawab Halwa.
"Sekarang kau bisa tinggal dengan Oma dan Papa. Sekolah yang pintar, jangan kecewakan Mama! Okey, Boy!"
"Yes, Mam!"
"Anak pintar!" ucap Halwa mengacak-acak rambut Noah bahagiya.
"Apakah kamu akan kembali ke Belanda?" tanya Dimas.
"Mungkin," jawabnya, " Oya, aku nitip Noah. Aku harap kau bisa menjaga dan merawat anakmu dengan baik. Ingat dengan pesan terakhir istrimu, Mas! Dia menginginkan Noah mendapatkan kasih sayang yang melimpah. Jangan lagi kau menyakitinya dengan dalih apapun. Dari jauh aku akan memantaumu! Ingat aku bisa melakukan apapun, bahkan aku juga tidak segan-segan akan menyakiti orang yang berusaha menyakiti anak dari saudara kembarku!" tegas Halwa. Dimas hanya bisa menelan ludahnya.
"Kamu jangan khawatir. Aku akan menjaganya dengan sangat baik. Dia adalah putraku!" jawab Dimas.
"Noah?" panggilnya.
"Ini untukmu!" Halwa menyerahkan sebuah ATM berisi uang dan ponsel keluaran terbaru kepada Noah.
"Apa ini, Mah?"
"ATM. Jauh hari Mama sudah membuatkan untukmu. Nomor PIN nya adalah tanggal lahir kamu," terangnya, " Dan ini adalah ponsel untukmu, dengan ini kita bisa saling terhubung!" ucap Halwa, "Di ATM ini ada uang, kamu bisa menggunakannya untuk keperluan kamu. Kamu juga bisa membantu keuangan Papah kamu!" ucapnya.
"Terima kasih banyak, Ma!" tak henti-hentinya Noah memeluk dan mencium Halwa.
"Terima kasih banyak, Halwa. Aku harap kita bisa menjalin silaturahmi yang baik," ucap Dimas.
"Iya, Aku harap begitu!"
"Baiklah. Aku pamit, karena pagi sekali aku harus pergi ke Bandara. Mungkin aku tidak bisa kembali ke sini untuk berpamitan. Jadi, sekarang saja aku pamit!" Halwa memeluk Noah kembali dan menciumi bocah laki-laki itu dengan sayang.
"Mama akan sering menghubungimu!"
__ADS_1
"Iya, Ma," isak Noah menangis sesenggukan.
"Hey, Boy. Ingat apa yang pernah Mama ajarkan kepadamu!" ucap Halwa.
"Anak laki-laki tidak boleh cengeng. Harus bersikap tegas, berani, kuat, mandiri, tidak terkalahkan, dan bertanggung jawab!" sahut Noah.
"Good!" Halwa tersenyum senang.
"Terima kasih banyak, Ma. Mama sudah mengajarkan banyak hal kepada Noah,"
"Yes, honey. Mother will do anything for her child," jawab Halwa.
"Bye!" Halwa melambaikan tangannya kepada Noah. Dimas memegang bahu putranya, agar dia tidak menangis terus.
"Bye, Bye, Ma! Hati-hati di jalan. Sampai ketemu lagi!" isak Noah tidak berhenti melambaikan tangannya. Halwa tersenyum, juga menitikkan air matanya.
"Adam, Ayo jalan!"
"Baik, Nona!"
Adam pun menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Dimas menuju hotel. Disepanjang perjalanan Halwa hanya terdiam.
"Adam, pesankan tiket ke Swiss! Aku akan menenangkan diri di sana!"
"Baik, Nona!" Adam tahu betul, kemana tujuan Nona nya pergi. Tanpa banyak bertanya, dia langsung menuruti semua perintah majikannya.
🍀🍀🍀🍀🍀
"Tante?" panggil Nurul.
"Maaf, Tan, Nurul pergi keluar dulu. Ada urusan!" ucap Nurul.
"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Cynthia.
"Ehm, Nurul mau ke Supermarket. Apakah Tante mau nitip?" tanya Nurul.
"Nggak, Sayang. Iya sudah hati-hati ya!" ucap Cynthia.
"Baik, Tan," jawabnya. Nurul mengamati pintu kamar Reyhan.
"Sudah nggak usah berpamitan. Suasana hati Reyhan sedang tidak baik," ucap Cynthia.
"Okey, Nurul pergi ya, Tan!"
Dengan menggunakan taksi online, Nurul pergi ke suatu tempat. Ternyata Nurul menghubungi Antonio untuk bertemu disebuah cafe. Sebelumya Nurul sudah membuat janji dengan Antonio.
Taksi yang Nurul tumpangi berhenti di depan cafe. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam Cafe tersebut. Ia mencari kursi yang kosong untuk duduk. Sembari menunggu kedatangan Antonio, dia memesan coffee latte kesukaannya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Antonio datang dari arah pintu masuk, Nurul melambaikan tangan memberikan tanda kepada Antonio. Antonio pun menghampiri Nurul yang sedang duduk menikmati secangkir kopi.
"Mau pesan apa?" tanya Nurul kepada Antonio.
"Sama seperti nona saja," jawab Antonio.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Nurul memesan kopi yang sama seperti miliknya. Satu cangkir kopi disajikan oleh pelayan untuk Antonio.
"Terima kasih banyak," ucap Antonio kepada pelayan.
"To the point saja. Aku sengaja mengundangmu karena ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan," ucap Nurul.
"Pertanyaan apa yang ingin Anda tanyakan?"
"Apakah benar kau sahabat dari calon suamiku?" tanya Nurul.
"Iya, itu benar. Reyhan adalah sahabatku, dan juga sekaligus bosku," jawab Antonio.
"Berarti kau tahu banyak tentang Reyhan?"
"Iya,"
"Apakah Reyhan sudah memiliki kekasih?" tanya Nurul.
"Tidak," jawab Antonio membuat hati Nurul lega, "Tapi, dia sudah memiliki istri," imbuhnya.
"Apa?" kaget Nurul.
"Iya dia memang sudah memiliki istri, dan kau tahu siapa istrinya?" Nurul menggelengkan kepalanya.
"Halwa," jawab Antonio dengan penuh penekanan. Nurul membelalakkan matanya tidak percaya.
"Aku tidak percaya denganmu!" ketusnya.
"Terserah nona mau percaya atau tidak, yang jelas, Reyhan sudah menikah," jawab Antonio.
"Apa buktinya?" Nurul tidak percaya dengan apa yang dikatakan Anthony. Antonia juga tidak kehilangan akal, dia masih menyimpan foto pernikahan sahabatnya di dalam ponsel dan memperlihatkannya kepada Nurul. Nurul membulatkan matanya dengan
sempurna.
"Bagaimana bisa?"
"Reyhan menikahi istrinya di Belanda. Mereka sudah menikah dengan sah. Reyhan memang menyembunyikan kepada istrinya, kalau dia masih memiliki keluarga. Dia melakukan semua itu karena tidak ingin kehilangan istrinya. Kamu tahu kenapa?" Nurul menggelengkan kepala. Antonio pun menceritakan semuanya kepada Nurul. Semua yang Antonio ketahui iya ceritakan kepada Nurul, Nurul sempat syok mendengar semuanya. Antara kasihan dan sedih dia berada di tengahnya. Dia juga bingung harus melakukan apa.
"Jika memang kau perduli dengan Reyhan, lepaskan dia! Jangan teruskan pernikahan itu! Karena bukan hanya satu orang yang kau sakiti, jika Reyhan sadar dari amnesia nya dia akan sangat marah denganmu. Dia akan sangat marah kepada dirinya sendiri!" tutur Antonio.
Setelah pertemuannya dengan Antonio, Nurul memikirkan apa yang katakan oleh Antonio. Tapi, dia merasa semua ini tidak adil. Karena, dirinyalah yang terlebih dahulu menyukai Reyhan.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan membatalkan pernikahan ini. Aku sudah lama menyukai Reyhan. Aku tidak mau kehilangannya lagi," batin Nurul. Setelah pertemuannya dengan Antonio, ia pun memutuskan untuk pulang.
to be continued.....