
Dengan langkah jenakanya, kedua bocah kembar itu berjalan. Gabino memegang tangan kanan Mommynya dan Gabrino memegang tangan kiri Mommy nya. Mereka berjalan di lorong Rumah Sakit dengan riang, mereka menjadi pusat perhatian banyak orang di Rumah Sakit. Sampai di depan ruangan suaminya, Halwa menyuruh si kembar untuk duduk di bangku depan. Dengan lucunya mereka saling menjahili satu sama lain.
"Sepertinya ada tamu? Siapa ya?" batin Halwa.
"Tunggu Mommy disini! Mommy mau masuk ke dalam dulu! Jangan nakal-nakal!" ucap Mommynya. Gabrino hanya manggut-manggut saja tanda mengerti, sedangkan kakaknya Gabino sibuk dengan ponsel ditangannya.
Halwa mengintip di pintu, kebetulan bagian atas pintu tersebut terbuat dari kaca.
DEGH ....
Nampak seorang perempuan dikamar suaminya, dan sangat tidak asing. Halwa sangat mengenali perempuan itu.
"Nurul?" gumamnya, "Sedang apa dia disini?" Halwa meremas tangannya sendiri.
Hati Halwa sangat panas dan bergemuruh, melihat Reyhan dan perempuan itu tertawa terbahak-bahak. Ingin rasanya Halwa memaki-maki suaminya. Ingin pula dia mencabik-cabik suaminya dan perempuan itu.
"Tapi, tunggu, Nurul sedang hamil! Apakah dia sedang mengandung anak Reyhan? Ini nggak bisa ditolerir dan nggak bisa diampuni!" marah Halwa.
CEKREEK .....
Wanita cantik itu mendorong pintu dengan keras, dia menatap Reyhan dengan tatapan yang tajam. Reyhan sampai terkejut dan juga senang dengan kedatangan istrinya. Namun, sang istri juga menatap ke arah Nurul dengan tatapan tidak suka.
"Sayang?" panggil suaminya.
Belum juga mengatakan apapun, Reyhan bergidik ngeri melihat tatapan mata isterinya, sangat tidak bersahabat, batin Reyhan. Pria itu tahu jelas, istrinya pasti sangat marah dengan adanya Nurul di kamarnya. Reyhan beringsut dari tidurnya, berusaha untuk duduk dengan tegak.
"Jadi wanita ini hamil anak kamu!" marah Halwa. Reyhan menggelengkan kepalanya. Sedangkan Nurul yang belum siap dengan tuduhan Halwa, dia hanya menunduk saja tanpa mengatakan apapun. Nurul berdiam diri seperti patung.
"Tidak, Sayang. Kamu salah paham!" ujar Reyhan.
"Apanya yang salah paham? Jelas-jelas dia sedang hamil, dan dia pasti sedang hamil anak kamu kan, Rey?" tuduh Halwa.
"Kamu sangat jahat, kamu bilang kalau kamu sangat mencintaiku, tapi apa sekarang?" isak Halwa.
"Dengarkan aku dulu! Kau salah paham, Sayang!" bela Reyhan.
"Antonio!" panggil Reyhan dengan suara agak meninggi. Antonio yang sedang ada dikamar mandi, membantu putra pertamanya sedang buang air kecil, dia buru-buru keluar.
"Ada apa sih? Lu kayak di hutan saja, teriak-teriak!" sungut Antonio. Antonio mengarahkan pandangannya ke sisi lain. Ternyata di sana ada Halwa sedang menangis dan juga terlihat sangat marah.
"Eh, Nona," ucapnya cengengesan.
__ADS_1
"Antonio, Jelaskan semuanya! Siapa Nurul? Dan katakan anak siapa yang ada dikandungan Nurul!" suruh Reyhan dengan tegas. Antonio baru menyadari kalau dia mengajak Nurul dan anaknya ke Rumah Sakit untuk menjenguk Reyhan.
"Apa sih yang ingin kalian jelaskan?" kesal Halwa.
"Halwa, kamu jangan marah dulu! Sebenarnya aku datang ke sini itu bersama suamiku," ucap Nurul, tentu saja perempuan cantik itu membulatkan matanya.
"Apa?" bingung Halwa.
"Iya, Aku datang ke sini dengan Antonio," jelas Nurul.
"Antonio?"
"Iya. Aku dan Antonio sudah menikah. Dan ini anak kami," ucap Nurul menunjuk ke arah putranya yang sedang digendong Antonio.
"Maksudnya apa sih ini?" bingung Halwa.
"Antonio dan Nurul adalah suami istri. Mereka sudah menikah, Sayang!" jelas Reyhan.
"Aku tahu kau masih bingung dengan semua ini. Duduklah! Biar kami jelaskan semuanya!" ajak Nurul menarik tangan Halwa untuk duduk di sofa. Jarak antara sofa dan tempat tidur hanya sekitar satu meter saja.
Halwa benar-benar dibuat tercengang dengan pengakuan semua orang dikamar itu. Nurul menggenggam tangan wanita cantik itu dengan lembut dan penuh penyesalan. Halwa bisa melihat Nurul sangat menyesali perbuatannya selama ini.
"Halwa. Maafkanlah kesalahanku! Aku sudah sangat bersalah kepadamu dan Reyhan. Aku sangat menyesal!" isaknya, "Semuanya adalah salahku. Seandainya saat itu aku tidak egois ingin memiliki Reyhan, pasti selama enam tahun kalian tidak akan berpisah!" isaknya lagi dengan deraian air mata yang sudah membasahi baju hamilnya.
"Kau dan Antonio sudah menikah?" tanya Halwa lagi masih belum percaya. Nurul menganggukkan kepalanya.
"Kami sudah menikah. Dan kami dikaruniai anak laki-laki. Dan yang satunya masih ada di dalam perutku!" ucapnya sambil mengelus-elus perutnya.
Halwa melihat memang perut Nurul terlihat buncit, jika ditaksir mungkin sedang jalan enam bulan. Halwa manggut-manggut mendengarkan penjelasan Nurul.
"Ah, leganya ....!" ucap Reyhan membuang nafasnya kasar.
"Sayang, Kamu tidak marah lagi kan?" tanya Reyhan.
Halwa tersenyum kecut, antara malu dan senang, dia berada di tengah-tengahnya. Hampir saja ia layangkan bogem diwajah tampan sang suami, dan hampir pula ia mencabik-cabik wajah Nurul. Tapi, tenyata semua pemikirannya salah. Wanita cantik itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf, aku berfikiran negatif!" lirihnya.
"Apakah kau mau memaafkanku?" tanya Nurul dengan penuh penyesalan.
"Iya, Aku sudah memaafkan mu!" ucap Halwa dengan tersenyum.
"Syukurlah," ucap Reyhan dan Antonio.
__ADS_1
Melihat kelucuan buah hati Nurul, Halwa baru teringat dengan kedua putranya yang masih diluar. Dia pun bergegas lari ke luar kamar. Membuat semua orang di sana terkejut.
"Sayang, Ada apa?" kaget Reyhan. Halwa tidak memperdulikan panggilan suaminya.
"Gabrino? Gabino?" panggilnya.
"Tidak ada, kemana mereka?" gumamnya.
"Gabrino? Gabino?" panggil Halwa lagi kepada kedua buah hatinya. Pasalnya, diluar mereka sudah tidak ada. Halwa panik, dia pun masuk ke ruangan suaminya kembali.
"Gabino dan Gabrino tidak ada di luar," ucap Halwa.
"Apa?" Reyhan sangat terkejut.
"Kamu membawa mereka berdua? Kenapa tidak disuruh masuk saja?" tanya suaminya.
"Aku menyuruhnya menunggu di luar sebentar," jawab Halwa.
Reyhan turun dari tempat tidurnya. Dia ingin mencari kedua putranya, meskipun masih dalam keadaan sakit.
"Kau mau apa?" tanya Halwa.
"Tentu saja aku akan mencari anak-anakku," jawab Reyhan.
"Tapi Kau kan belum sembuh?" cemas Halwa.
"Aku sudah tidak apa-apa. Kau tenang saja!" jawab suaminya.
"Antonio, Cepat cari putraku di seluruh Rumah Sakit ini! Aku yakin mereka masih berada di Rumah Sakit!"
"Okey, Rey!" jawab Antonio.
"Sayang, Kau dan Fardan tunggu di kamar ini saja. Aku akan mencari anaknya Rey!" perintah Antonio kepada Nurul.
"Iya, Mas. Hati-hati! Semoga cepat ditemukan ya!" ujar Nurul.
Mereka pun memutuskan berpencar mencari si kembar. Antonio ke Utara, dan Reyhan ke Selatan. Sedangkan Halwa mendatangi petugas informasi untuk mengumumkan pencarian anak hilang.
Sudah setengah jam lamanya mereka mencari, tetapi belum ketemu juga. Bahkan Halwa meminta bantuan security RS untuk mencari kedua buah hatinya. Namun mereka sama sekali belum ditemukan. Halwa terlihat begitu cemas, dan hanya duduk di ruang tunggu menunggu keajaiban.
Lain dengan Reyhan, masih menggunakan baju RS dia masih mencari keberadaan kedua putranya. Hingga kelelahan ia mencari keberadaan bocah itu. Reyhan duduk di bangku sambil mengatur nafasnya.
to be continued......
__ADS_1