
Reyhan yakin istrinya berhenti di tempat itu. Dia sedikit maju, berdiri di bawah papan reklame yang hampir lepas dari tempatnya. Sekali tertiup angin, tiba-tiba papan reklame tersebut terjatuh. Dan ...
BRUGH ..
BRAKK ..
"Aaaaaaaaaa!" pekik Reyhan memegangi bagian punggung yang terhantam keras papan reklame. Halwa mendengar suara teriakkan itu, dia keluar dari tempatnya bersembunyi. Banyak kerumunan orang yang berteriak meminta tolong. Ada juga yang berusaha untuk memanggil taksi. Halwa mendekat ke arah kerumunan tersebut, dan dia melihat Reyhan jatuh pingsan.
"Rey?" teriak Halwa panik.
"Bapak ini kejatuhan papan reklame, Nona!" ucap salah satu orang yang menyaksikan.
"Apaaaaaa?" kaget Halwa.
"Rey?" panggil Halwa. Halwa mengguncangkan tubuh suaminya. Sambil terisak dia terus memanggil-manggil nama suaminya.
"Rey? Aku mohon bangun!" ucap Halwa cemas.
"Tolong, panggilkan taksi. Saya akan membawanya ke Rumah Sakit!" pinta Halwa kepada orang-orang tersebut.
Beramai-ramai orang menolong wanita cantik itu untuk menaikkan tubuh Reyhan ke taksi. Taksi pun berjalan menuju RS dengan kecepatan tinggi. Halwa tidak berhenti menangis, dia juga terus mengguncangkan tubuh suaminya agar terbangun, namun Reyhan masih saja menutup matanya.
Taksi yang mereka tumpangi sampai di Rumah Sakit. Halwa berteriak meminta tolong, dua petugas membawa brankar dan memindahkan tubuh Reyhan ke brankar tersebut. Mereka membawanya ke ruangan UGD untuk mendapatkan penanganan secara cepat dari Dokter.
Satu Jam Berlalu
Halwa masih berdiri di depan ruang UGD dengan hati yang gelisah. Hati dan pikirannya sedang tidak bersahabat. Ada rasa takut, sedih dan gundah, mereka melebur menjadi satu kesatuan dihatinya.
Halwa menghela nafasnya kasar, dia menoleh ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah jam delapan malam. Pikirannya juga sedang tertuju kepada si kembar. Pasti kedua putranya sedang mencari dirinya. Halwa pun mendial nomor Adam untuk melakukan panggilan video.
"Halo, Adam!" sapa Halwa.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya Adam, pasalnya Adam melihat Halwa dalam keadaan berantakan. Matanya sembab seperti orang yang habis menangis.
"Maafkan aku, aku belum bisa pulang. Aku sedang di Rumah Sakit!" jelas Halwa.
"Rumah Sakit? Nona sedang sakit?" heran Adam.
"Bukan. Bukan aku. Reyhan yang masuk ke Rumah Sakit," jawabnya.
"Kok bisa, Nona?"
"Nanti aku jelaskan!" ujarnya, "Apakah kedua putraku rewel?"
"Tidak, Nona. Setelah makan malam, mereka tertidur," jawab Adam. Adam mengarahkan ponselnya ke Gabrio dan Gabino yang sedang tertidur pulas. Halwa tersenyum bahagia, ternyata kedua putranya tidak rewel saat ditinggal. Mereka tertidur pulas, sangat menggemaskan.
"Baiklah, Adam. Mungkin aku akan bermalam di Rumah Sakit. Pagi-pagi sekali aku pulang," ucap Halwa.
"Baik, Nona!"
__ADS_1
"Terima kasih banyak. Tolong jaga putraku dengan baik!" ucap Halwa. Adam menganggukkan kepalanya.
Tut ... Tut ... Tut
CEKREEK ...
Suster keluar dari ruangan UGD dan memanggil Halwa untuk masuk ke dalam. Halwa yang merasa sangat khawatir, dia pun langsung menerobos masuk ke dalam.
"Dok, Bagaimana dengan keadaannya?" tanya Halwa cemas.
"Anda siapanya?" tanya Dokter.
"Saya, Saya istrinya, Dok!"
"Oh, Anda istrinya!" jawab Dokter.
"Bagaimana keadaan suami saya?" cemas Halwa.
"Pak Reyhan, dia ... ," ucap Dokter menjeda kalimatnya. Halwa berlari dan berhambur ke pelukan sang suami. Dia sangat merasa bersalah. Seharusnya, dia tidak perlu bersembunyi ataupun lari.
"Hiks ... Hiks ... Hiks." tangis Halwa sesenggukan.
"Rey, bangun!" ucapnya, "Jangan tinggalkan aku!" isaknya.
"Rey? Aku mohon bangun!" mohonnya.
"Rey, aku akan mengatakan jujur sama kamu! Aku mohon bangunlah!" isaknya.
"Rey, Kamu tidak boleh meninggalkanku! Aku dan putra kita sangat membutuhkanmu!" isaknya dengan deraian air mata.
"Bukankah kau ingin sebuah jawaban dariku? Ayo, Bangunlah! Jangan tinggalkan aku lagi!" isaknya.
"Reyhan?" panggil Antonio. Sebelum Antonio datang ke sini, Halwa sudah menceritakan keadaan Reyhan kepada Antonio. Antonio sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya, dia pun langsung melajukan kendaraannya secepat kilat.
Sampai di depan ruangan UGD, Antonio mendengar tangisan Halwa, Antonio langsung berlari dan berhambur ke pelukan sahabatnya.
"Reyhan? Jangan mati, Bro!" ucap Antonio menggoyang goyangkan tubuh Reyhan.
"Rey, Ayo, Bangunlah!" isak Antonio. Dokter dan Suster bingung mau mengatakan sesuatu, tapi, keluarga pasien menangis terus. Membuat mereka hanya melihat adegan lucu di depannya.
"Rey, Ayo bangun! Apakah kau tidak ingin melihat anak kita?" ucap Halwa memeluk tubuh suaminya.
"Apakah kau sudah selesai menangis?" tanya Reyhan mengerjapkan matanya karena pusing.
"Apaaaaa?" Halwa menoleh ke arah suaminya yang masih terbaring, "Sayang, Kau baik-baik saja?" tanya Halwa meraba dada bidang suaminya, kemudian tangannya beralih ke wajah tampan sang suami. Halwa begitu bahagia, hingga lupa kalau dia sedang marah.
"Syukurlah, kau baik-baik saja!" senang Halwa.
"Rey, Kau tidak jadi mati!" senang Antonio.
__ADS_1
"Ck, Mati? Kau menyumpahi ku mati?" kesal Reyhan.
"Tidak, bukan begitu. Aku pikir .... !" Semua mata tertuju kepada Dokter.
"Ehm, tadi begini ya, Bu, Pak! Tadi itu saya belum selesai ngomong, tapi Ibu sudah menangis saja!" ucap Dokter.
"Sebenarnya apa yang ingin Dokter katakan?" tanya Halwa tidak sabaran.
"Tadi tuh saya mau mengatakan bahwa Pak Reyhan tidak mengalami luka yang serius. Hanya saja ada sedikit cedera pada bahu dan punggungnya. Dua Minggu beristirahat di rumah, Bapak akan cepat sembuh!" tutur Dokter.
"Jadi, suami saya baik-baik saja?" tanya Halwa. Dokter mengangguk pelan. Halwa menoleh ke arah suaminya, menatapnya senang. Setelah memberitahukan kabar gembira, Dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Huft." Halwa menghela nafasnya lega. Tiba-tiba dia teringat kalau dirinya sedang marah. Dia menoleh ke arah suaminya.
"Sudah ada Asistenmu, sebaiknya aku pulang!" ucapnya dengan cemberut.
"Tunggu!" Reyhan mencekal tangan istrinya, " Apakah kau tidak merasa kasihan denganku?" tanya Reyhan.
"Sudah ada Antonio, jadi, Kau sudah tidak membutuhkan aku lagi!" ujarnya. Reyhan menatap mata Antonio, dan memberikan kode untuk keluar.
"Okey, Okey. Aku keluar sebentar untuk mengurus administrasi!" ujarnya. Antonio keluar dari ruangan tersebut.
"Jadi benar Kau mengandung anakku?" tanya Reyhan. Halwa hanya diam, dia bingung harus mengatakan apa.
"Kau tidak perlu menjawab pertanyaanku, aku sudah mendengar semua yang kau katakan!" ucap Reyhan. Halwa membelalakkan matanya, dia menatap tajam ke arah sang suami.
"Jadi, Kau berpura-pura pingsan?" tanya Halwa.
"Tidak, Sayang, bukan begitu. Aku sudah sadar dari pingsan saat kau berbicara dengan Dokter," jelas Reyhan.
"Ck, Kau menyebalkan sekali!" sungutnya.
"Sudahlah, tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Kau sudah tahu semuanya kan? Aku mau pulang!" ucap Halwa cemberut.
"Tunggu!" Reyhan beranjak dari tempat tidurnya. Dan merasakan sakit di bagian bahu dan punggung.
"Auw," pekiknya.
"Kenapa? Apakah sangat sakit?" cemas halwa. Reyhan begitu bahagia mendapatkan lampu hijau dari istrinya.
"Sakit sekali," ujarnya.
"Aduh, Sakit sekali!" ujarnya.
"Kalau begitu, jangan bergerak dulu! Kau harus beristirahat sampai lukamu sembuh," tutur Halwa.
"Aku akan beristirahat, jika, Kau temani aku di sini!" pinta suaminya.
"Ehm, tapi ... !" Halwa nampak berfikir. Nanti biar aku pulang besok saja, dia juga sudah mengatakannya kepada Adam. Pikir Halwa.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menemanimu disini," ujarnya. Kata-kata istrinya, membuat Reyhan begitu bahagia. Jika dia tidak sedang sakit, ingin rasanya berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil.
to be continued....