
Dimas sangat syok melihat dan mendengar bukti-bukti itu. Tiba-tiba kakinya terasa lemas tidak bertenaga, badannya bergetar hebat. Setelah mengetahui kejahatan demi kejahatan yang dilakukan Anita kepada Salwa.
"Maaf, Pak Dimas. Perkenalkan, saya adalah saudara kembar Salwa. Nama saya Halwa Calista. Sesuai dengan janji saya, saya akan memberikan bukti-bukti kejahatan Anita kepada Anda. Dan saya sudah membuktikannya kepada Anda!" ucap Halwa penuh penekanan. Dimas melirik ke arah Halwa.
"Jadi, ini alasanmu masuk ke dalam rumahku dan menyamar sebagai Salwa?" tanya Dimas. Halwa mengangguk pasti.
"Hiks .... Hiks .... Hiks." tangis Dimas tiba-tiba.
"Apa yang telah aku lakukan? Aku sudah
sangat menyakiti istriku sendiri," ucap Dimas terisak. "Sekarang, dia sudah meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku pria paling bodoh, paling bre*******sek, dan aku sangatlah jahat," ucap Dimas merutuki kebodohannya selama ini.
Dret .... Dret .... Dret
Ponsel Halwa bergetar, dia melihat nomor Rumah Sakit yang tertera di layar ponselnya.
"Hallo!"
"Maaf, Nona. Anda di mana?" tanya petugas RS. "Cepatlah datang ke Rumah Sakit, saudara kembar Anda kritis!"
"Apa?" Halwa membulatkan matanya, dia nampak terkejut. "Okey, saya akan langsung ke sana!"
Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, Halwa menatap Dimas. Kemudian dia memberikan kode kepada Asistennya supaya menjauhkan Noah terlebih dahulu. Asisten Adam pun membujuk Noah untuk ikut dengannya.
"Saya akan mengajak kamu ke tempat Salwa," ucap Halwa.
"Apa?" Dimas mendongakkan kepalanya ke arah Halwa. "Apakah dia masih hidup?"
__ADS_1
"He'em," jawab Halwa dengan anggukan.
"Ikutlah denganku!" ajaknya.
Halwa mengajak Dimas untuk menemui istrinya. Semarah apapun hati Halwa, tapi, dia sadar kalau dia tidak berhak melarang Dimas untuk menemui istrinya. Bagaimanapun, Dimas masih sah suami Salwa.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit. Dari seberang jalan, nampak mobil Reyhan berhenti di sana. Ada rasa cemburu saat Reyhan melihat wanita yang selama ini membuatnya nyaman, sekarang mereka sedang pergi berdua entah kemana.
Reyhan yang memiliki rasa penasaran pun mengikuti mobil mereka dari belakang. Kemudian di susul mobil Antonio. Sedangkan Adam membawa Noah bersamanya. Sepertinya Noah terlihat kelelahan. Dia langsung tertidur di mobilnya.
Mobil Halwa dan Dimas berhenti di sebuah Rumah Sakit besar. Halwa buru-buru menuju ruangan ICU, dimana Salwa dirawat. Dimas mengekor di belakangnya.
Mereka berdiri di depan ruangan ICU, menunggu Dokter sedang memeriksa keadaan Salwa yang sempat kritis. Beberapa menit kemudian, Dokter keluar dan menyuruh keluarga pasien untuk menemuinya.
Halwa mempersilahkan Dimas untuk menemui istrinya. Dia harus menahan egonya demi Salwa dan Noah. Dimas masuk ke ruangan tersebut.
Dimas mendekati tempat tidur istrinya. Dia berusaha dengan keras untuk menata hatinya, supaya tidak menangis dan bersedih. Namun saat sampai di depan tempat tidur istrinya, tubuhnya bergetar hebat.
"Hiks ... Hiks .... Hiks." Dimas tidak mampu membendung air matanya. Dia memeluk dan mencium tubuh itu.
"Maafkan aku! Aku suami yang sangat bodoh. Aku tidak menyadari bahwa kau selama ini sangat terluka. Maafkan aku!" ucapnya sambil terisak pilu. Perlahan mata Salwa terbuka. Dia menyentuh muka suaminya, kemudian menyentuh hidung mancung suaminya. Dimas menangkap tangan istrinya dan menciuminya dengan lembut.
"Hiks ... Hiks .... Hiks."
"Ampuni aku. Aku telah bersalah. Aku tidak pernah mempercayaimu. Wanita itu sudah memperdayai ku. Aku berdosa, selama bertahun-tahun telah menyia-nyiakan mu," ucap Dimas sambil menangis sedih.
"Aaaaaaku ssssseeeenang, akhirnya semuanya terungkap. Aaaaaaku juga senang akhirnya kau sadar. Aku minta maaf, selama menjadi istrimu, Aku tidak bisa membahagiakanmu. Aaaaaaaku sadar, aku bukanlah orang yang punya. Aku tidak pantas bersanding denganmu. Tapi, Aaaaaaaku tulus mencintaimu, menyayangimu tanpa syarat apapun. Aku sudah memaafkan mu atas semua yang kau lakukan kepadaku," ucap Salwa terbata. "Biarkan Noah mendapatkan kasih sayang dari saudaraku. Aku sangat tenang jika ada yang melindungi Noah," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Sayang? Kita akan merawat Noah bersama-sama," jawab Dimas.
"Aaaaaaaku tidak punya waktu lagi," jawabnya. "Aaaaaaaku iiiiiiiiingin bertemu dengan saudaraku," ujarnya dengan terbata.
Dimas pun memanggil Halwa untuk menemui istrinya. Halwa masuk ke ruangan tersebut. Hatinya begitu sedih dan miris melihat keadaan saudara kembarnya.
"Salwa?" panggilnya. Halwa menggenggam tangan Salwa. "Aku akan membawamu ke Belanda. Rumah Sakit di sana sangat canggih. Aku yakin kau akan sembuh. Kita bertiga bisa hidup bahagiya di Belanda. Aku, Kau dan Noah. Kita akan bersama-sama merawat Noah. Noah pasti sangat bahagia, karena memiliki Mama kembar seperti kita. Apakah dia bisa membedakan mana mamanya yang asli?" kelakar Halwa berusaha untuk menahan air matanya supaya tidak terjatuh. Salwa tersenyum mendengar celoteh saudaranya. "Kau harus sembuh. Kau harus melihat Noah yang sekarang. Dia bukan lagi anak yang penakut, walau terkadang dia sangat manja," ucap Halwa sambil terkekeh.
"Aku mohon sembuhlah demi Noah," ucapnya penuh berharap. Salwa hanya tersenyum, senyumnya sangat manis sekali.
"Aaaaaaaku titip Noah. Aaaaaku tidak bisa menemani Noah sampai dewasa. Jaga dia seperti putra kamu. Sayangilah dia seperti putra kamu. Bawalah dia selalu bersamamu. Aku akan sangat tenang, jika Noah bersamamu. Karena aku yakin kau akan menjaganya dengan sangat baik," ucapnya.
"Tidak. Aku tidak mau. Kita akan merawat Noah bersama-sama," ujar Halwa sambil terisak.
"To-lo-ng ja-ga No-ah de-ngan ba-ik se-per-ti a-nak ka-mu sen-di-ri," ucap Salwa untuk terakhir kalinya. Kemudian Salwa menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya. Halwa menangis pilu, dia tidak bisa membendung lagi air matanya. Hatinya terasa sangat sedih dan pedih.
"Salwa, Bangunlah! Aku mohon," pinta Halwa.
"Hiks ..... Hiks .... Hiks."
"Hiks ..... Hiks .... Hiks."
"Dokter?" panggil Halwa kepada Dokter.
"Dokter?" panggilnya lagi lebih keras. Seorang Dokter dan suster masuk ke ruangan tersebut, memeriksa kondisi Salwa yang sudah tidak bernafas. Sementara itu, seorang suster menyuruh keluarga pasien untuk keluar ruangan.
Di dalam ruangan itu, Dokter memberikan gelombang kejut listrik ke jantung pasien supaya jantung bisa bekerja lagi, namun Salwa masih saja tidak bergeming. Layar monitor juga menunjukkan garis lurus, menandakan bahwa pasien sudah meninggal. Dokter hanya memberikan kode kepada suster untuk menutupi seluruh tubuh pasien dengan kain putih.
__ADS_1
Dokter keluar dari ruangan tersebut dan memberitahukan kabar duka kepada Halwa dan Dimas. Membuat Halwa menangis histeris. Hatinya begitu sedih, hingga rasa sedihnya membuat tubuhnya bergetar, kepalanya terasa berat karena terlalu lama dia menangis membuat tubuhnya oleng dan hendak terjatuh. Dari kejauhan Reyhan nampak memperhatikan garak-gerik Halwa, sampai tubuh Halwa oleng, dia langsung menangkap tubuh itu. Reyhan membantu Halwa duduk di kursi.
to be continued.....