
Setelah mendapat alamat, Dimas bergegas pergi ke alamat tersebut untuk menyelamatkan putranya. Gerak-gerik Dimas ternyata sedang dipantau juga oleh Antonio, sahabat sekaligus asisten Reyhan.
Antonio langsung mengabarkan informasi ini kepada Reyhan. Reyhan nampak mengernyitkan alisnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa pria itu nampak gelisah dan terburu-buru?" batin Reyhan. Reyhan menyuruh Antonio untuk membuntuti Dimas. Kemudian Reyhan bergegas menyusul mereka.
Suara baku tembak terdengar, membuat Jack harus melihat keadaan mereka semua. Dia nampak terkejut setelah mengetahui bahwa kedua belas anak buahnya mati bersimbah darah.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" batin Jack. Jack mengeluarkan pistol yang tersimpan di pinggangnya.
"Ternyata wanita itu sangat hebat! Aku tidak boleh menyepelekannya!" ucap Jack berdialog dengan dirinya sendiri.
Jack melangkahkan kakinya, secara perlahan namun pasti, mencari keberadaan Halwa. Dia tidak menemukan Halwa di manapun. Saat hendak kembali ke tempat semula, tiba-tiba saja bogeman keras berhasil mendarat di pipi Jack.
BUGH ... BUGH .... BUGH
"Auw!" pekik Jack, jatuh tersungkur. Pistol yang dipegang oleh Jack, jatuh entah kemana. Halwa sudah berdiri tepat di depannya. Jack membelalakkan matanya, karena Halwa sudah menodongkan pistol di depannya.
"Bukankah kau yang membuat Salwa dan suaminya harus bertengkar? Kau yang sudah memfitnah saudara ku! Kau harus membayarnya!" murka Halwa.
DORR .....
Satu tembakan berhasil mendarat dengan mulus tepat di kaki Jack sebelah kanan.
"Auuuuuuuwwwww!" pekik Jack kesakitan.
"Maafkan aku. Aku hanya disuruh. Aku tidak bermaksud untuk membuat saudaramu celaka," ujarnya.
"Tidak bermaksud?" ucap Halwa tersenyum sinis. "Tapi, kau sudah membantu mereka untuk menghabisi saudara kembarku!" murka Halwa, Halwa kembali menembakkan peluru ke kaki Jack sebelah kiri.
DORR ....
"Auuuuuuuwwwww! Tolong berhenti, Sakit!" pekik Jack lagi.
"Hiks .... Hiks .... Hiks."
"Aku mohon berhenti!" pintanya.
"Gara-gara kau, saudara ku harus menderita! Sekarang dia koma. Sudah aku bilang, kau juga akan merasakan sakit seperti yang Salwa rasakan!"
DORR ....
__ADS_1
Kembali Halwa menembakkan pelurunya ke tangan kanan Jack. Darah segar mengalir dari kaki, dan tangan kanannya.
"Aaaaaaaaaaaaa!" pekik Jack merasakan sakit akibat peluru yang menembus kulit, lalu masuk menembus daging bagian dalam. Keluarlah darah yang sangat segar, di lubang peluru tersebut.
"Dan Kau juga tega memisahkan seorang ibu dari anaknya!"
DORR ....
Halwa kembali menembakkan peluru ke tangan sebelah kiri. Darah kembali mengalir dari tangan kirinya. Sekarang Jack tidak berdaya, dia tidak bisa melakukan apapun. Bahkan yang tadinya tertawa terbahak-bahak mengejek seorang Halwa, kini hanya terdengar suara rintihan kesakitan dari mulut Jack.
"Aaaaaaaaaaaaaaa," pekik Jack kembali mengiang diruangan itu.
"Sekarang dosa-dosamu sudah tidak bisa dimaafkan lagi! Kau harus mati!"
"Jangan, Aku mohon!" mohon Jack.
DORR ....
Halwa menembak tepat di kepala Jack. Membuat Jack mati seketika di tempat itu. Jesslyn penasaran, karena Jack tidak kembali. Dia pun menyusul ke tempat tersebut. Betapa terkejutnya dia, melihat wanita di depannya menembak kepala Jack hingga mati.
"Jack!" Jesslyn begitu terkejut dan ketakutan. Dia menatap Halwa, mata Halwa memerah, hanya ada rasa amarah ditatapannya.
Jesslyn berlari karena ketakutan. Dia memberitahukan kematian Jack kepada Anita. Anita sempat terperanjat, mendengar cerita Mamanya. Kemudian mereka berencana untuk kabur dari ruangan itu.
"Mau kemana kalian?" tanya Halwa.
"Anita, Bagaimana ini?" ucap Jesslyn ketakutan. Anita hanya tersenyum simpul. Anita langsung menarik tangan Noah.
"Jangan mendekat, atau aku akan menyakiti putramu!" ancam Anita.
"Lepaskan dia! Dia tidak bersalah," ucap Halwa.
"Mundur! Jika kau mendekat Aku akan menyakiti Noah!"
"Mama! Noah takut!" rengek Noah. Melihat Noah ketakutan, Halwa membuang pistol yang ada di tangannya.
"Lepaskan dia!" bentak Halwa kepada Anita. Anita yang ketakutan, mendorong tubuh Noah hingga terjerembab jatuh ke lantai. Halwa buru-buru menangkap tubuh Noah dan berusaha untuk menenangkan hati Noah.
"Jangan takut, Sayang! Kamu jagoan mama!" ucapnya.
"He'em,"
__ADS_1
"Noah tunggu disini!" perintah Halwa. Halwa mengejar Anita dan Jesslyn. Saat mereka berdua hendak masuk ke mobil, Halwa menarik rambut Jesslyn hingga jatuh tersungkur.
"Auw," pekik Jesslyn. Halwa membalas tamparan demi tamparan, yang dilakukan mereka terhadap dirinya. Melihat Mamanya diperlakukan seperti itu, Anita langsung mengambil sebilah kayu, yang kebetulan ada disana. Dia memukulkan di tubuh Halwa, membuat Halwa jatuh tersungkur. Darah segar mengalir di pelipisnya. Namun dia masih sanggup berdiri, menghajar Anita.
Hantaman keras mendarat di perut Anita, Anita mengaduh kesakitan dengan memegangi perutnya.
Halwa juga melakukan hal yang sama. Menampar pipi mulus Anita, hingga terlihat kemerahan di pipi putih mulus itu.
"Sakit," pekiknya, sambil memegangi pipinya.
"Sakit bukan! Itulah yang dirasakan saudaraku!" ucapnya. Halwa mencari sebilah kayu, dan memukulkannya ke kaki Anita yang sebelah kanan.
"Sakit!" pekiknya lagi.
"Aku mohon, jangan lakukan itu!"
"Salwa, Tolong maafkan kami!" mohon Jesslyn. "Kami memang bersalah, Tolong maafkan Tante dan Anita," ucapnya.
"Maaf? Setelah yang kau lakukan kepada saudaraku, hanya kata maaf!" Halwa tersenyum sinis. "Kau juga harus merasakan sakit!" Halwa kembali memukulkan kayu ke kaki Anita sebelah kirinya.
"Aaaaaaaaaa, sakit!" pekik Anita.
"Hiks ... Hiks ... Hiks." tangis Anita dan Jesslyn.
"Salwa, kami mohon maafkan kami!" pinta Jesslyn. Jesslyn bersujud dikaki Halwa.
"Baiklah, aku akan memaafkan anakmu! Pegang senjata ini! Katakan kepada polisi kau yang membunuh mereka semua!" bentak Halwa.
"Baiklah," ucap Jesslyn. "Baik, kami akan melakukan semua perintahmu!" Jesslyn yang begitu ketakutan, dia pun menuruti semua perintah Halwa.
Sebuah mobil datang, dan membawa rombongan polisi. Ternyata Asisten Adam datang tepat waktu. Sebelumnya Halwa sudah memerintahkan Adam untuk melaporkan Anita kepada Polisi. Dan ini merupakan salah satu rencana Halwa, membuat Anita dan Mamanya membusuk di penjara.
"Angkat tangan!" Polisi meringkus Anita dan Ibunya. Halwa memberikan semua bukti kejahatan Anita dan ibunya.
Beberapa menit kemudian, Dimas datang. Dia juga melihat Anita dan ibunya ditangkap polisi. Sedangkan Jack dan anak buahnya mati bersimbah darah. Jesslyn mengakui semua perbuatannya kepada polisi bahwa dia yang melakukan penembakan itu. Dari kejauhan Halwa hanya tersenyum tipis.
"Pak, Dimana putra saya?" tanya Dimas kepada Polisi. Polisi menunjukkan dimana putranya berada. Ternyata Noah berada di dekapan Halwa. Dimas sangat khawatir dan menghampiri mereka berdua.
"Noah?" panggilnya. Noah menoleh dan berhambur kepelukan sang Papa.
"Papa," jawabnya. Noah terisak, dan menceritakannya semuanya kepada sang Papa. Halwa dan Adam mendekat ke arah Dimas. Halwa menyuruh Adam untuk memberikan bukti-bukti kekejaman Anita, Jack dan Ibunya kepada Dimas.
__ADS_1
Dimas sangat syok melihat dan mendengar bukti-bukti itu. Tiba-tiba kakinya terasa lemas tidak bertenaga, badannya bergetar hebat. Setelah mengetahui kejahatan demi kejahatan yang dilakukan Anita kepada Salwa.
to be continued.....