
Keesokkan Paginya
Pernikahan antara Reyhan dan Nurul dipercepat. Karena Nurul sendiri yang meminta agar pernikahannya dipercepat.
Semua orang di rumah sibuk mengatur acara pernikahan. Reyhan dan Nurul juga sibuk kesana kemari untuk melakukan fitting baju, membeli perhiasan, membuat prewedding photo, memilih undangan dan lain sebagainya masih banyak yang harus dipersiapkan.
Cynthia dan Mutia juga sedang sibuk memilih catering makanan untuk acara pernikahan. Yang jelas mereka menginginkan pernikahan putra dan putrinya terlihat glamor dan mewah.
"Ini saja, Jeng! Kelihatannya makanannya sangat enak!" ucap Mutia.
"Apakah nggak yang ini saja? Lihatlah terlihat kekinian dan ini makanan ala Jepang lho?" usul Cynthia.
"Makanan Jepang sedikit orang yang suka, Jeng. Kebanyakan tamu yang diundang kan orang Indonesia, jadi, kita cari makanan Indonesia saja, Jeng!"
"Begitu, ya! Baiklah, kita pilih yang ini saja!" mereka pun sudah menentukan pilihan makanan untuk acara pernikahan nanti.
Reyhan dan Nurul melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Nurul terlihat begitu bahagia, baru masuk saja dia sudah menyunggingkan senyum, menampilkan deretan gigi putihnya. Berbeda dengan Reyhan, dia hanya diam, ada sesuatu yang sedang ia pikirkan, entah itu apa Nurul tidak tahu.
"Mama? Tante?" panggil Nurul kepada Mutia dan Cynthia.
"Eh, Kalian sudah kembali. Kemarilah! Ayo duduk bersama kami! Kami sedang memilih makanan untuk acara pernikahan, coba kalian lihat, Apakah kalian suka?" ucap Mutia.
"Wah, makanannya enak-enak, Ma. Jika kalian yang memilih, Aku dan Mas Reyhan pasti suka. Benarkan, Sayang?" tanya Nurul. Reyhan hanya mengangguk, ekspresi mukanya datar.
"Baguslah kalau kalian suka," ucap Mutia.
"Iya, sudah. Aku capek, aku mau beristirahat di kamar saja," ucap Reyhan.
"Aku antar ke kamar ya, Mas!"
"Tidak usah, kamu temani Mama Mutia saja!" ujar Reyhan.
Reyhan melangkahkan kaki menuju kamarnya di lantai dua. Dia merebahkan tubuhnya di kasur king size yang empuk dan menatap langit-langit kamarnya. Dia tidak tahu kemelut apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Saat ini sama sekali dia tidak merasa bahagiya, Reyhan sendiri merasa sangat aneh dengan perasaannya.
"Kenapa aku terus memikirkan soal pelayan itu?" ucapnya sendiri. Dia mengusap wajahnya kasar.
"Seharusnya aku bahagia dengan pernikahan ini, tapi, kenapa aku tidak bahagia?" batinnya.
"Ah," sewotnya. Reyhan mengacak rambutnya yang gondrong.
__ADS_1
Nurul begitu bahagia, dia baru saja melakukan prewedding photo dengan orang yang sangat dia cintai. Tidak berhenti dia bercerita kepada Mama Mutia dan Mamih mertuanya.
"Mama sangat senang melihat kau bahagia, Nak?" ucap Mama Mutia.
"Iya, Ma. Aku memang sangat bahagia," ujarnya.
🍀🍀🍀🍀🍀
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu. Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu akhirnya akan terjadi hari ini juga.
Semua para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Mereka duduk di kursi tamu ingin menyaksikan acara ijab qobul.
Reyhan sudah duduk manis didepan Pak Penghulu. Didampingi oleh sang Mamih, dan kedua mertuanya. Nurul melangkahkan kakinya di atas karpet merah, dengan diapit oleh Bridesmaids. Dia terlihat sangat cantik dan anggun dengan balutan kebaya warna pink, dipadukan sepatu warna pink juga.
Para Bridesmaids mengantarkan pengantin wanita menuju meja ijab, Reyhan menyambut tangan pengantin wanita dengan bahagia. Mereka duduk bersebelahan, dan acara akan segera dimulai.
Pak penghulu menanyakan kesiapan kedua mempelai, dan dijawab anggukan oleh keduanya.
"Kita mulai!" ucap Pak penghulu. Reyhan menganggukkan kepalanya.
"Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan Putriku, Ananda Nurul Azmi Zakiyah dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" ucap Pak Penghulu dengan suara yang lantang menggema di seluruh ruangan.
"Aaaaaaahhhhhhh," pekik Reyhan memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Nurul terkejut, tiba-tiba saja Reyhan memegangi kepalanya.
"Aaaaaaaahhhhhh, kepalaku sakit sekali!" teriaknya.
"Reyhan?" teriak Cynthia.
"Reyhan, Ada apa ini?" cemas Hadi.
"Mas, Kamu kenapa?" isak Nurul melihat kondisi Reyhan yang sudah berkeringat dingin.
"SAAAAAAAAAAAKIIIIIIIIIIIT!" teriaknya lagi.
"Rey, Ayo kita ke Rumah Sakit!" ajak Cynthia yang merasa sangat khawatir.
"SAAAAAAAAAAAKIIIIIIIIIIIT!" teriak Reyhan lagi.
__ADS_1
"Ada apa itu?" bisik para tamu.
"Kenapa dengannya?" desas desus dari salah satu tamu undangan.
"Kenapa ya?" tanya tamu yang lain.
"Kasihan sekali!" ucap tamu undangan yang merasa iba.
Cynthia memapah putranya untuk masuk ke mobil. Sedangkan keluarga Nurul mengekor dibelakang mobil mereka. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit. Di dalam mobil, Reyhan terus saja berteriak menahan rasa sakit kepala yang teramat sakit. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Cynthia sangat cemas dengan kondisi putranya.
Sampai di Rumah Sakit, Reyhan langsung dibawa oleh petugas Rumah Sakit agar segera ditangani oleh Dokter.
Sedangkan Cynthia, Nurul, Hadi dan istrinya cemas menunggu di depan ruangan UGD. Selama dua puluh menit, Reyhan mendapatkan penanganan dari Dokter.
"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Cynthia khawatir.
"Kita tunggu dalam waktu dua puluh empat jam ya, Bu! Karena saya sudah memberikannya obat pereda nyeri dan obat tidur," ucap Dokter.
"Baik, Dok, terimakasih banyak!" ucap Cynthia. Terpaksa Cynthia harus membatalkan acara pernikahan putranya, dan membubarkan para tamu undangan.
Kedua orang tua Nurul sangat menyayangkan kejadian buruk ini terjadi, padahal tinggal selangkah lagi anak semata wayangnya menyambut kebahagiaan. Tapi, mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Semua yang terjadi atas kehendak sang Ilahi.
"Setelah Reyhan sembuh kita bisa mengatur ulang pernikahan keduanya," ucap Cynthia kepada Mutia. Cynthia merasa tidak enak dengan sahabat sekaligus calon besan.
"Nggak apa-apa kok, Jeng. Ini bukan salah, Jeng. Siapapun pasti tidak mau kejadian seperti ini terjadi!" tutur Mutia.
"Iya, Cynthia. Kau jangan risau, karena kita bisa mengaturnya lagi setelah Reyhan benar-benar pulih!" ucap Hadi.
"Nurul, Sini, Nak!" panggil Cynthia.
"Iya, Mih!" Nurul memanggil Mamih kepada Cynthia, karena Cynthia lah yang memintanya.
"Jangan bersedih, Nak! Setelah Reyhan sembuh, kamu bisa menikah dengan Reyhan. Kita mulai dari awal lagi. Okey!" ucap Cynthia.
"Iya, Mih" jawab Nurul.
"Kami pamit pulang dulu, Cynthia. Besok kami kembali lagi ke Rumah Sakit!" pamit Hadi kepada Cynthia.
"Terima kasih banyak, Mas Hadi, Mutia! Terima kasih atas perhatiannya!" Hadi dan Mutia mengangguk. Setelah berpamitan, mereka kembali ke hotel. Untuk sementara mereka memilih hotel sebagai tempat tinggal. Cynthia sudah menyuruh mereka untuk tinggal di Mansion, tapi, mereka menolaknya. Mereka memang orang yang tidak suka merepotkan orang lain.
__ADS_1
to be continued......