
Nurul mendekat ke arah Reyhan setelah selesai berenang. Dia memberikan handuk dan jus jeruk, Reyhan menerimanya dengan senang hati. Bahkan dia mencium bibir Nurul, dan mengatakan kata-kata mesra. Membuat pipi Nurul memerah karena menahan rasa malu.
"Kau cantik sekali, Nurul," pujinya.
"Terima kasih. Kamu juga sangat tampan. Apalagi dalam keadaan seperti ini!" Nurul membelai dada bidang Reyhan, yang ditumbuhi bulu-bulu halus, membuat wanita manapun yang melihatnya merinding.
Reyhan mencium bibir Nurul karena merasa sangat gemas, bibirnya merah dengan rasa strawberry. Awalnya hanya ciuman biasa, namun Reyhan lebih memperdalam ciumannya. ******* dan menyesap bibir gadis itu. Mereka sangat menikmati ciuman itu, hingga mereka tidak sadar dengan kedatangan Halwa.
Sakit? itulah yang sekarang Halwa rasakan. Dadanya begitu sesak, perih seperti di tusuk sembuli.
"Ehm ... Ehm .... Ehm." suara Halwa berdehem membuat keduanya saling melepaskan tautan lidah mereka.
"Maaf, saya mengganggu! Saya disuruh Nyonya untuk memberikan cemilan ini!" ucap Halwa. Reyhan dan Nurul saling berpandangan. Nurul merasa sangat malu karena kegiatannya di ketahui oleh pelayan. Membuatnya tertunduk malu. Sedangkan Reyhan, justru dia tidak malu, dia bersikap tenang. Seolah-olah
tidak terjadi apa-apa.
"Letakkan saja di sana!" suruh Reyhan.
"Baik, Tuan," jawabnya.
Kemudian Halwa berlalu pergi dari sana. Tidak terasa air matanya menetes, dia menghela nafasnya berat. Memukul pelan dadanya.
"Hey, kau kenapa?" ketus Lastri melihat Halwa di sudut ruangan. Halwa langsung menghapus air matanya.
"Nggak apa-apa, Mba!"
"Masih banyak pekerjaan tuh! Malah diem disini!" ucapnya.
"Iya,"
"Tuh cuci semua piring-piring kotor!" suruh Lastri kepada Halwa.
"Lastri, biar Bi Sum saja!" pinta Bi Sum.
"Hari ini, Bi Sum disuruh Nyonya bersih-bersih di kamarnya. Biar cuci piring jatahnya anak baru," ucap Lastri, "Buruan Bi Sum ke kamar Nyonya! Nanti nyonya besar marah lho!" Bi Sum yang takut dipecat, dia pun bergegas ke kamar nyonya besarnya.
Halwa mencuci semua piring-piring yang kotor. Bukan hanya mencuci, dia juga mengepel dan membersihkan debu-debu di seluruh ruangan.
"Lelahnya!" Halwa berdiri sambil mengibaskan tangannya, keringat menetes di dahinya. Dia seka dengan tangannya.
"Dasar nenek sihir! Dia pikir dia itu siapa? Memberikan begitu banyak pekerjaan. Dan sekarang aku disuruh mengepel rumah sebesar ini. Dasar nenek sihir!" umpatnya kepada Lastri. Tidak henti-hentinya Halwa mengumpat Lastri, hingga dia tidak sadar sedari tadi diperhatikan oleh Reyhan.
"Apakah kau sedang marah dengan seseorang?" suara bariton Reyhan menghentikan umpatannya.
__ADS_1
"Ups." Halwa menutup mulutnya sendiri. Dia menoleh ke sumber suara, betapa terkejutnya dia.
"Maaf, Saya harus pergi!" jawabnya menunduk. Halwa membenahi semua peralatan pel. Dia hendak pergi meninggalkan Reyhan, namun tangannya dicekal oleh suaminya.
"Tunggu! Katakan kepadaku! Apakah kita pernah bertemu?"
Halwa menatap ke arah suaminya. Memandang manik itu, berharap suaminya mengingat dirinya.
"Pandang mataku! Apakah kau mengingat sesuatu?" tanya Halwa kepada Reyhan. Reyhan berusaha untuk mengingatnya, terus mengingat, hingga membuat kepalanya terasa sangat sakit.
"Auw," pekiknya. Reyhan memegangi kepalanya sendiri.
"Sakit,"
"Anda tidak apa-apa?" cemas Halwa.
"Sakit," ucapnya. Reyhan terus saja memegangi kepalanya.
"Reyhan?" teriak Cynthia. Cynthia dan Nurul baru saja pulang dari shopping, mereka terkejut kala melihat Reyhan memegangi kepalanya. Cynthia berlari, diikuti oleh Nurul dibelakangnya.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Cynthia. Dia mendorong tubuh Halwa agar menjauhi putranya.
"Minggir kau!" bentaknya lagi, "Kau tidak apa-apa, Rey? Ini Mamih, Sayang!"
"Nurul, bawa dia masuk ke kamar!" suruh Cynthia.
Cynthia menatap tajam ke arah Halwa dengan mata nyalang.
"Sudah aku katakan. Jangan memaksa Reyhan untuk mengingat masa lalunya! Karena kau akan menyakitinya!" bentak Cynthia.
"Aku hanya ingin dia mengingat kalau aku adalah istrinya!" sahut Halwa.
PLAKK .....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulusnya. Halwa terjatuh dan memegangi pipinya yang terasa panas seperti terbakar. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
"Tante?" teriak Antonio yang baru datang, dan menyaksikan perbuatan keji yang dilakukan oleh ibu sahabatnya. Dia membantu Halwa berdiri.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Antonio. Halwa menggelengkan kepalanya.
"Kau berdarah," ucap Antonio.
"Tidak apa-apa. Terima kasih, Antoni," ucapnya berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Tante! Dia adalah istri Reyhan, dan itu berarti, Halwa adalah menantu Tante. Bagaimana bisa Tante melakukan hal itu kepadanya?" kesal Antonio.
"Memangnya kenapa? Apakah kau keberatan? Kau mau aku pecat!" geram Cynthia.
"Bukan begitu, Tan. Cuma kalau Reyhan tahu, pasti dia akan sangat marah!" jelas Antonio.
"Reyhan hilang ingatan. Dia tidak akan tahu. Lagipula, sebelum Reyhan sembuh, aku akan membuat perempuan itu pergi jauh dari putraku!" ujarnya.
"Astaga, kenapa dia sangat kejam!" batin Antonio bergidik ngeri.
"Ada keperluan apa kamu datang kemari?"
"Oya, ini Tan. Ada berkas yang harus Tante tanda tangani!" ucap Antonio menyerahkan berkas-berkas tersebut.
"Ayo kita bahas ini di ruang kerja!" ajak Cynthia kepada Antonio.
Beberapa berkas harus Cynthia cek kembali. Ada sebuah berkas yang membuat dirinya tertarik.
"Williams Technologi. Perusahaan siapa ini? Aku baru tahu kalau kita memiliki kerjasama dengan Perusahaan ini?" tanya Cynthia.
"Tante bisa melihat nama pemiliknya," jawab Antonio dengan malas.
"Callista Vander Williams? Apakah dia seorang wanita?" tanya Cynthia penasaran.
"Iya, dia seorang wanita yang hebat. Dia seorang wanita yang sukses. Pemilik Williams Technologi. Dan dia pengusaha yang cantik dari Belanda!"
"Apakah kau pernah menemuinya?"
"Dia adalah menantumu, Tan. Tapi, aku sudah berjanji kepada Halwa untuk merahasiakan ini semua. Jika saja aku tidak terlanjur berjanji, aku akan memberitahukan kepadamu semuanya. Dan aku yakin kau akan sangat menyesal!" batin Antonio gemas dengan wanita separuh baya di depannya.
"Kenapa kau diam saja?" kesal Cynthia.
"Ditanya malah diam saja!" gerutu Cynthia.
"Nih sudah aku tanda tangani semua. Apakah ada yang lain?"
"Tidak, Tan. Sebaiknya aku langsung ke kantor lagi. Aku lupa hari ini ada meeting dengan CV Nusantara," jawabnya.
"Baiklah. Kabari aku jika ada yang penting,"
"Okey, Tan. Permisi!" Antonio bergegas pergi meninggalkan Mansion.
Halwa berdiri di balkon kamar tamu. Lagi-lagi dia harus mengeluarkan air mata. Dia menepuk dadanya supaya tidak sesak dan perih. Namun tetap saja terasa sangat perih.
__ADS_1
"Apakah rasanya sesakit ini, saat kau dihina dan dikhianati Dimas, Salwa?" ucapnya sambil menengadah ke langit.
To be continued.......