
Mobil Reyhan melaju dengan kecepatan sedang, mengelilingi Kota J yang begitu ramai di malam hari. Mata Nurul tidak berhenti menatap indahnya Kota J di malam hari. Sampai matanya beralih ke Pasar malam dipusat kota, yang nampak sangat ramai. Nurul meminta berhenti, dan mengajak Reyhan untuk melihat-lihat disana.
"Ayolah, Mas Reyhan, aku sudah lama tidak melihat pasar malam. Aku sangat penasaran sekali. Ada apa didalamnya? Apakah masih sama saat kita sering ke pasar malam dulu?" ucapnya. Dengan terpaksa Reyhan menemani Nurul melihat-lihat pasar malam.
"Baiklah, Ayo, kita lihat sebentar! Tapi, sebentar saja ya!" ucap Reyhan.
"Baiklah,"
Saking bahagianya Nurul langsung menggamit lengan Reyhan. Reyhan merasa risih dengan apa yang dilakukan gadis didepannya.
"Lihatlah! Ayo kita naik itu!" tunjuk Nurul.
"Ah, tidak mau. Aku takut ketinggian," ujar Reyhan.
"Ayolah, Mas. Aku belum pernah naik itu. Dulu saat kecil aku terlalu takut, sekarang aku sudah dewasa aku sudah berani menaiki itu!" ucap Nurul.
"Oke, Oke. Tapi sebentar saja!"
"Iya,"
Mereka pun menaiki kereta gantung. Nurul terlihat sangat bahagia. Bukan hanya kereta gantung, Nurul juga meminta Reyhan untuk memenangkan hadiah berupa boneka beruang yang sangat besar. Karena rengekan Nurul yang memekikkan telinga, terpaksa Reyhan menuruti kemauan Nurul.
"Ayo, kita pulang! Ini sudah malam!" ucapnya.
"Baiklah," ucapnya tersenyum bahagia.
Mereka pun memutuskan untuk pulang. Di sepanjang perjalanan Nurul tidak berhenti bercerita, sesekali Reyhan memaksa untuk tersenyum.
"Mas, terima kasih banyak karena Mas sudah mau menemani Nurul berjalan-jalan," ujarnya.
"Iya,"
"Apakah Mas sudah punya kekasih?" tanya Nurul tiba-tiba.
Chiiiiiiiiiiit ....
Tiba-tiba saja Reyhan mengerem mendadak, membuat kepala Nurul teebentur dashboard mobil.
"Auw," pekiknya.
"Kok ngerem mendadak sih?" tanya Nurul manyun.
"Maaf," ucap Reyhan. Seketika dia teringat dengan istrinya di negeri sana.
"Kita jalan lagi!"
Tidak terasa mobil yang Reyhan kemudikan sampai di depan rumah. Reyhan turun dari mobil meninggalkan Nurul yang masih di mobil.
"Ish, kok aku ditinggal. Jahat banget tuh orang!" manyunnya.
Reyhan bergegas ke kamarnya, hatinya begitu rindu dengan wanita yang sudah menjadi istrinya.
"Halwa sedang apa ya?" ujarnya, "Aku telfon saja," ucapnya.
"Sekarang pukul sepuluh malam, berarti di Belanda jam lima sore," ujarnya. Reyhan pun mendial nomor istrinya.
Dret ... Dret .... Dret
__ADS_1
"Hallo?"
"Hallo, Sayang?" jawab Reyhan.
"Kok nggak ada kabarnya?" tanya Halwa.
"Maaf, aku sibuk. Jangan marah ya! Kamu kan tahu kesibukan CEO seperti apa?"ujarnya.
"Oh,"
"Kamu sedang apa, Sayang?" tanya Reyhan.
"Menunggu suami telepon. Aku pikir suamiku sudah lupa kalau dia punya istri disini!" sindir Halwa.
"Aku merindukanmu, Sayang,"
"Ah, gombal! Bohong! Kalau kamu rindu, pasti kamu akan segera pulang ke sini!" ujar istrinya.
"Iya, sabar. Aku pasti pulang. Setelah menyelesaikan pekerjaan aku akan pulang. Kita bisa bersama lagi!" ujarnya.
"Dari tadi kemana saja? Aku hubungi, tapi, tidak aktif!" sungut Halwa tiba-tiba.
DEGH ....
"Aku harus menjawab apa?" batin Reyhan.
"Hallo, Sayang. Kok diam saja?"
"Oh, nggak. Aku sedang banyak pekerjaan. Makanya sengaja tidak aku aktifkan!"
"Oh, pekerjaan! Tapi, kamu sedang nggak bohong kan?" selidik Halwa.
Lumayan lama mereka mengobrol hingga tengah malam. Hingga pukul dua pagi di Indonesia, Reyhan memutuskan untuk mengakhiri panggilannya. Karena dia juga terlihat sangat lelah.
Keesokkan Paginya
Pukul sepuluh siang, Cynthia menyuruh putranya untuk mengantarkan Nurul dan keluarganya pulang ke Bandung. Sopir pribadi keluarga Nurul, sengaja dipulangkan lebih dulu karena anaknya sedang sakit. Terpaksa Reyhan harus mengantarkan Nurul beserta keluarganya.
Mobil Reyhan melaju dengan kecepatan tinggi. Dia sengaja melakukan itu supaya cepat sampai di kota Bandung. Sesekali Nurul menasehati Reyhan, karena cara mengemudi Reyhan terlalu cepat membuatnya ketakutan.
Sampai di Kota Bandung, Nurul dan keluarganya mempersilahkan Reyhan untuk mampir terlebih dahulu. Namun Reyhan menolaknya dengan halus supaya Nurul dan keluarganya tidak tersinggung.
Reyhan langsung berpamitan kepada Nurul beserta keluarganya. Sebelum Reyhan pulang, Nurul memberikan bekal makanan untuk Reyhan dan mengucapkan terima kasih.
"Hati-hati di jalan!" pesan Nurul.
"Terima kasih banyak," jawab Reyhan.
Reyhan mulai memacu kendaraannya dengan kecepatan paling tinggi. Mobilnya membelah keramaian jalan raya, karena dia ingin cepat sampai di rumah.
Saat sampai di belokkan, dia begitu terkejut melihat truk di depannya, hingga dia harus membanting stir. Mobilnya oleng, dan menabrak pembatas jalan.
Chiiiiiiiiiiiiit .....
BRAKK .....
BRAKK....
__ADS_1
BRUGH ......
DUARRRRRRRRRRR .......
Tubuh Reyhan terpental ke aspal, dia sempat berdiri dengan lumuran darah yang menetes di pelipisnya, namun sebuah mobil tidak sengaja menabraknya, hingga tubuhnya kembali terpental dan membentur aspal. Dia tidak sadarkan diri seketika.
PRANG .....
Foto pernikahan yang Halwa pasang di dinding kamarnya tiba-tiba terjatuh. Halwa sangat terkejut, pasalnya tidak ada angin tidak ada hujan foto tersebut jatuh dengan sendirinya.
"Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak?" batin Halwa berbicara dengan dirinya sendiri. Entah kenapa tiba-tiba dia teringat dengan suaminya. Entah kenapa tiba-tiba dia sangat merindukan suaminya.
Tok ... Tok ... Tok
"Mama?" panggil Noah.
"Noah, masuklah!" Noah berjalan melangkahkan kakinya, menaiki tempat tidur Mamahya.
"Mah, Noah merindukan Papa. Apakah boleh Noah bertemu Papa?" tanya Noah polos.
"Ehm, Noah rajin sekolah dulu. Kalau Noah bisa membuktikan kepada Mama kalau Noah pandai, Mama akan mempertemukan Noah dengan Papa," ucap Halwa.
"Benarkah, Ma? Mama tidak berbohong kan?"
"Tentu saja Mama tidak berbohong? Mama berjanji!" ucapnya.
"Hore! Aku sayang Mama," ucap Noah begitu senang.
Noah melihat pecahan kaca figura berserakan di lantai.
"Mah, Kok ada pecahan kaca di sana?"
"Jangan mendekat, Sayang. Nanti kakimu terluka!" seru Halwa.
"Mama akan panggil pelayan untuk membersihkannya,"
Beberapa detik kemudian dua orang pelayan membersihkan pecahan beling tersebut.
"Kenapa bisa terjatuh, Ma?" tanya Noah.
"Entahlah, mungkin angin," jawab.Halwa.
"Oh, angin," ujarnya.
Halwa masih tidak tenang, perasaannya semakin kacau. Dia pun berusaha untuk menelfon suaminya. Namun ponsel suaminya tidak aktif. Dia mencoba lagi, hanya suara operator telepon yang menjawab.
"Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak? Apa yang terjadi?"
"Ayo, dong, Sayang, Kenapa sih ponselmu tidak aktif?" kesal Halwa.
Dua hari berlalu, masih tidak ada kabar dari suaminya. Halwa semakin frustasi karena tidak ada kabar apapun dari suaminya. Dia berusaha mendial nomor suaminya, masih saja operator telepon yang menjawab.
"Kamu kemana, Sayang? Apakah kau tidak merindukanku?" ucap Halwa.
"Antonio," ucapnya, "Iya, aku harus menghubungi Antonio,"
Halwa pun mendial nomor asisten suaminya. Namun, lagi-lagi dia harus menelan pil pahit. Nomor asisten suaminya juga tidak aktif.
__ADS_1
"Ck, benar-benar menyebalkan. Kenapa sih mereka kompak tidak mengaktifkan ponsel!" kesal Halwa.
to be continued....