
Satu Bulan Berlalu
Hubungan Reyhan dan Nurul semakin romantis dan intim. Bahkan mereka tidak malu mengumbar kemesraan dihadapan orang. Kedua orang tua Nurul yang melihat pemandangan itu, menjadi malu sendiri. Bagaimanapun Nurul seorang wanita. Orang tuanya tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada putrinya.
"Jeng, Bagaimana kelanjutan hubungan anak-anak kita? Mereka terlihat sangat dekat. Saya tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?" ucap Mutia, ibu Nurul.
"Iya, nanti akan saya tanyakan kepada Reyhan," jawab Cynthia.
"Saya tunggu kabar baiknya lho, Jeng!"
"Saya berharap kita akan menjadi besan," ujar Hadi, ayah Nurul.
"Iya, Mas. Saya juga begitu. Saya sangat bahagia kalau Nurul menjadi menantu saya. Dia wanita yang cantik, baik dan keluarga baik-baik," ujarnya.
Halwa yang kebetulan sedang menyajikan minuman untuk para tamu, tidak konsentrasi membuat gelas cangkir yang ada ditangannya terjatuh dan pecah.
PRANGGGGG .....
Tentu saja membuat mereka yang sedang mengobrol terkejut.
"Halwa! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kau tidak pernah becus mengerjakan sesuatu?" marah Cynthia.
"Maaf, Nyonya!" jawabnya sambil terisak.
"Bi Sum?" panggil Cynthia.
"Iya, Nyonya,"
"Bereskan itu semua! Jangan pernah lagi kamu menyuruh pelayan yang tidak becus bekerja!" ucap Cynthia dengan suara yang lantang.
"Bbbbaik, Nyonya,"
"Halwa, masuklah ke dalam. Biar bibi yang membereskan ini semua," ucapnya.
"Baik, Bi. Terima kasih banyak,"
Hadi nampak memperhatikan sosok pelayan wanita itu.
"Sepertinya aku pernah melihatnya? Dimana ya?" gumam ayah Nurul.
"Ada apa, Tan, tadi Nurul dengar ada suara keributan?" tiba-tiba Nurul dan Reyhan mendekat ke arah mereka.
"Pelayan bodoh itu memecahkan gelas," jawab Cynthia, "Ada-ada saja ulahnya. Dia benar-benar membuatku pusing,"
"Nak Reyhan. Sini ikut bergabung dengan kami. Kami sedang membicarakan masalah mu dengan Nurul!" ajak Hadi.
Nurul menggandeng tangan Reyhan agar ikut duduk dengan para orang tua.
"Nak, Apakah kau mencintai Nurul?" tanya Hadi kepada Reyhan.
DEGH ....
Entahlah perasaan apa ini, Reyhan bahkan tidak tahu perasaan yang sedang berkecamuk di dadanya. Terkadang dia merasakan ada sesuatu yang hilang pada dirinya, entah itu apa. Dia berusaha mencari kenyamanan di diri Nurul, tapi Reyhan tidak mendapatkannya. Dia berusaha untuk menjalin hubungan lebih intim lagi, dia juga tidak merasakan apa-apa. Rasanya sangat hambar. Dia sadar ada yang salah disini. Tapi, Reyhan berusaha untuk menepisnya. Karena pada kenyataannya, Nurul adalah tunangannya, menurut pemikiran Reyhan.
__ADS_1
"Rey, kok diam saja?" tanya Hadi membuyarkan lamunannya. Dia menatap ke arah Nurul, Nurul tersenyum. Dia menoleh ke arah Mamihnya, Mamih meyakinkan dirinya bahwa Nurul adalah jodoh yang baik.
"Iya, Om. Saya akan menikahi Nurul," jawabnya. Semua yang mendengarkan merasa sangat bahagia. Apalagi Nurul, dia begitu bahagia. Dia seperti terbang di awan, mendengar kata-kata Reyhan, Pria yang sangat ia cintai.
Dari balik pintu, Halwa menangis sesenggukan. Kali ini hatinya benar-benar hancur. Dia tidak boleh membiarkan itu. Dia harus menggagalkan rencana mereka untuk menikahkan suaminya dengan Nurul.
Keesokkan Paginya
Cynthia menyuruh Halwa untuk menemani Nurul berbelanja ke Pasar. Hari ini Nurul berencana ingin memasakkan makanan istimewa untuk calon suaminya. Cynthia terlalu malas untuk pergi ke pasar. Karena selain tempatnya becek dan kotor, dia paling tidak suka dengan bau sampah disekitar pasar.
Dengan menggunakan mobil mereka berdua ke pasar. Saat Halwa hendak duduk di samping Nurul, Cynthia melarangnya. Dia menyuruh Halwa duduk di depan, dekat dengan Pak Sopir.
"Hati-hati ya, Sayang!" ucapnya kepada Nurul. Halwa sangat malas mendengarkan drama dua wanita itu.
"Halwa, jaga Nurul dengan baik. Jangan sampai lecet!" suruhnya. Halwa hanya diam, dia meremas ujung bajunya.
"Dengar tidak?"
"Iya, Nyonya, saya dengar!" ucapnya.
"Sudah, Tan. Jangan galak-galak. Halwa pasti akan menjaga Nurul dengan baik, iya kan, Halwa?" Halwa hanya menganggukkan kepalanya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju pasar. Sedari tadi, Halwa hanya diam. Membuat Nurul penasaran dan ingin mengajaknya mengobrol.
"Kau sepertinya bukan orang sini?" tanyanya tiba-tiba.
"Ehm," jawabnya singkat, membuat Nurul semakin penasaran.
"Ayahku orang Indonesia, dan ibuku orang Belanda. Kakek dan nenekku juga orang Belanda. Namun nenekku memiliki darah orang Indonesia. Jadi, aku keturunan Indonesia dan Belanda," jawabnya panjang lebar. Pak Sopir yang mendengar membelalakkan matanya. Ternyata pelayan cantik yang selama ini bekerja di kediaman Arsenio adalah orang bule.
"Apakah kau sudah lama tinggal di Indonesia?"
"Belum,"
"Apa alasanmu datang ke Indonesia? Tidak mungkin kan wanita cantik seperti kamu, datang ke Indonesia hanya ingin menjadi seorang pelayan?"
DEGH ....
Halwa tersenyum simpul.
"Saya memang sedang mencari seseorang. Tapi, orang yang saya cari akan menikah dengan orang lain," ujarnya.
"Maaf. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan kamu!" ucap Nurul.
"Tidak apa-apa. Saya yakin, jika memang kami berjodoh. Kami pasti akan bersatu lagi. Tapi, jika tidak berarti dia bukan jodoh saya," ucapnya terasa sangat kelu untuk mengatakannya.
Tidak terasa sudah sampai di pasar. Mereka turun dari mobil. Ini adalah pertama kalinya Halwa masuk ke pasar. Di Belanda dia tidak pernah melakukan itu. Apa yang diinginkannya sudah disediakan oleh pelayan.
HUFT ....
Halwa menghela nafasnya panjang. Nurul menarik tangannya, dia begitu riang memasuki pasar. Padahal tempatnya sangat kotor, bau dan becek.
Nurul membeli semua bahan-bahan yang diperlukan. Karena hari ini dia akan memasak makanan kesukaan Reyhan.
__ADS_1
Halwa mengekor di belakangnya sambil menenteng kresek belanjaan milik Nurul.
"Akhirnya selesai juga. Semuanya sudah aku beli," ucap Nurul sambil menaruh dompetnya di tas. Namun karena kurang berhati-hati, tiba-tiba dua orang penjambret menarik tasnya.
"Tasku,"
"Tolong! Tolong! Itu tasku!" isak Nurul kaget juga takut.
"Jambret!" teriak Nurul.
"Jambret? Apa itu jambret?" tanya Halwa.
"Dia mengambil tasku. Di dalamnya ada dompet dan HP," terang Nurul.
"Apa?" kaget Halwa.
"Kau tunggu disini, aku akan mengejarnya!" Halwa menyerahkan kantong keresek itu kepada Nurul.
"Halwa, Jangan!" teriaknya.
Halwa mengejar dua penjambret itu, mereka berlari dengan cepat memasuki perkampungan dekat pasar. Saat dua penjambret itu berhenti di sebuah tempat yang sepi. Delapan orang teman-temannya keluar dari sarang mereka.
"Wah, ada cewek cantik rupanya datang ke sarang penyamun,"
"Ha ... Ha ... Ha." mereka terkekeh.
"Kembalikan tas itu!" teriak Halwa.
"Cantik juga dia. Pasti rasanya sangat nikmat," ucap salah satu orang bertubuh besar dan kekar.
"Sepertinya dia wanita blesteran. Sangat cantik dan sangat menggoda," ujarnya.
"Aku bilang serahkan!"
"Kau mau ini? Ayo ambil, tapi layani kami dulu!"
"Ha ... Ha ... Ha." mereka tertawa terbahak-bahak.
"You will die by my hands, you bastards!”
Halwa menghajar mereka satu persatu. Satu bogeman keras melayang ke wajah dan perut mereka. Tendangan dan pukulan, dia layangkan tepat di perut, dagu dan wajah mereka. Mereka semua babak belur dibuatnya.
"Serahkan, tasnya!" gertak Halwa.
"Ini!"
Setelah menyerahkan tas tersebut, mereka lari terbirit-birit entah kemana. Ternyata sedari tadi Nurul berdiri di sana. Melihat Halwa menghajar penjambret itu dengan brutal. Nurul membelalakkan matanya, dia menutup mulutnya tidak percaya. Dia pikir, Halwa hanyalah wanita biasa. Ternyata, dia sangat jago berkelahi.
"Bagaimana bisa kau melakukan itu?" tanyanya.
"Ini tas, Anda. Lain kali berhati-hati!" ucapnya sambil berlalu pergi.
to be continued......
__ADS_1