Hidden Rich Twins

Hidden Rich Twins
Episode 98 : Terlanjur Basah


__ADS_3

Setelah mandi dan berganti baju, wanita itu melongokkan kepalanya di celah pintu, mencari keberadaan suaminya. Reyhan tidak ada dikamar.


"Kemana dia?" gumamnya. Dia melangkahkan kakinya menuju meja rias, dan mematut dirinya di depan cermin.


"Sayang?" panggil suaminya tiba-tiba masuk ke kamar.


"Rey, Dimana anak-anak?" tanya Halwa.


"Mereka sedang bermain sama Mamih," jawabnya. Reyhan mendekat ke arah istrinya. Dia mencium rambut istrinya yang wangi.


"Mmmmm, wangi banget," ujar suaminya.


"Kan habis mandi, Sayang,"


"Aku bahagia banget deh, akhirnya kita bisa berkumpul," ucap Reyhan menyenderkan dagunya di bahu sang istri.


"He'em, Aku juga," sahutnya, "Oya, Sayang, aku lupa menghubungi Mark. Saat itu Kau menculik ku, dan sampai sekarang aku juga tidak bertemu dengan Mark. Pasti dia sangat khawatir saat itu, setelah mengetahui bahwa aku menghilang," ujarnya. Tiba-tiba raut muka suaminya berubah masam.


"Untuk apa kau memberitahunya? Lagipula dia bukan siapa-siapamu!" manyun suaminya.


"Ish, tidak boleh begitu, Sayang. Bagaimanapun juga, dia adalah rekan bisnisku. Aku tidak mau bersikap tidak profesional," manyun Halwa.


"Okey, Okey. Sebaiknya kau hubungi saja dia. Nanti dia khawatir denganmu ," cemberut Reyhan. Halwa bisa melihat kalau suaminya pasti sedang cemburu.


Halwa berdiri dari duduknya, dia mendekat ke arah suaminya dengan tersenyum.


"Sayang?" panggilannya diabaikan oleh Reyhan. Manik suaminya hanya terfokus pada ponsel pintarnya.Halwa tahu kalau Reyhan sedang merajuk. Wanita cantik itu duduk dipangkuan sang suami. Dia memberikan sentuhan lembut di bibir suaminya, dan merebut ponsel pintar itu, kemudian ia letakkan di sampingnya.


"Apakah kau marah denganku?" bisik Halwa tepat ditelinga sang suami.


"Tidak, Siapa yang marah denganmu?"


"Hem, bohong. Aku bisa merasakan kalau suamiku sedang merajuk!" ucapnya.


"Sudah aku bilang, aku tidak bisa marah denganmu," sahutnya lagi.


"Benarkah? Tapi, nadanya kok seperti sedang marah?"


"Jangan menggodaku, Sayang. Dengan pantatmu bergerak-gerak seperti itu, membuat adik kecilku dibawah sana terbangun,"


"Masa?" Halwa semakin menggoyangkan pantatnya, dengan menggelayut di leher suaminya.

__ADS_1


*


*


Perlahan senyuman mulai terbit di bibir Reyhan. Senyuman nakal itu menyeringai lebar. Reyhan menatap wajah ayu istrinya dengan tatapan kekaguman.


Dengan perlahan Reyhan ******* bibir merah itu. Tangan nakalnya tidak berhenti menjelajah tubuh mulus sang istri. Meremat dan menyesap, rasanya begitu nikmat sekali.


Mengapa ini terasa begitu indah?


Mengapa rasanya begitu menyenangkan?


Reyhan menyentuh gundukan kenyal itu dengan lembut, kemudian meremasnya. Membuat Halwa mendesah nikmat, merasakan sensasi yang sudah lama tidak dia rasakan.


"Mmmmmm,"


"Ahhhhhhhhh,"


Seraya menikmati keindahan benda kenyal itu, Reyhan mempermainkan puncaknya yang telah mencuat dengan sempurna. Memelintir kemudian meremasnya kembali.


Dengan segera Reyhan melucuti pakaian istrinya, dan pakainya sendiri. Dia tidak mau menunggu waktu yang lama untuk menikmati keindahan tubuh istrinya. Meskipun sudah memiliki dua anak, namun tubuhnya tanpa cacat sedikitpun.


Reyhan dibuat terpesona melihat tubuh indah istrinya. Pria itu membopong tubuh istrinya ke kasur, dan mengungkung di bawah tubuhnya. Reyhan kembali mencumbui tubuh istrinya, meninggalkan jejak kemerahan di sana.


"Aahhhhhhh," desahnya.


"Mmmmmmm." Halwa mengigit bibir bawahnya. Merasakan sensasi geli yang luar biasa, menjalar ke seluruh tubuh.


Mengapa rasanya sangat menyenangkan?


Selama enam tahun mereka melupakan caranya bercinta. Membunuh segala rasa, hasrat dan gelora di dada. Dan baru sekarang mereka bercinta, dengan pasangan halalnya tanpa paksaan.


Reyhan menundukkan kepalanya, dan meraih bibir seksi istrinya. Mencium dan menyesap bibir perempuan itu. Diesapnya dengan sepenuh hati, dirasai dengan penuh penghayatan, dan dinikmati seolah tidak pernah puas.


Reyhan tidak mau menunggu lama lagi, dia melakukan penyatuan pada tubuh wanita cantik itu. Menghentakkan pinggulnya agar masuk lebih dalam, membuat wanita dibawahnya mengerang kenikmatan.


Reyhan terus menghentakkan pinggulnya. Mempercepat iramanya, menciptakan bunyi yang sangat indah dari hasil penyatuannya. Kemudian dengan sekali hentakan, namun tertanam cukup dalam, membuat wanita dibawahnya mendesah tidak karuan.


"Ah, Rey, Kamu menyiksaku!" ceracaunya dengan cengkeraman dilengan pria itu dengan sangat kuat.


"Tentu saja, Baby. Hari ini aku akan mengganti waktu kita yang terbuang dengan percuma," bisik Reyhan tepat ditelinga istrinya. Tangannya tidak berhenti bergerilya di benda kenyal dan lembut itu.

__ADS_1


Reyhan melakukannya dengan lembut, berusaha menikmati setiap detiknya dengan baik agar dia bisa melihat ekspresi dan raut wajah istrinya yang menggemaskan itu. Kepala istrinya terus mendongak dan dadanya semakin membusung, membuat puncaknya semakin mencuat. Membuat pria yang sedang berpacu di atasnya menjadi semakin tergoda. Tubuh indahnya menantang agar secepatnya disentuh.


Perlahan ada sesuatu yang sangat menggelitik ingin keluar. Reyhan mencengkeram pinggang istrinya dengan kuat, dan menghentakkan pinggulnya hingga ke bagian paling terdalam. Seperti halnya dengan Halwa, dia mencengkeram erat lengan pria itu. Dadanya membusung indah, saat titik klimaksnya sudah tidak bisa ditahan lagi. Dengan segala usaha, dan peluh yang bercucuran, wanita ini merasa melayang ke awan. Titik klimaksnya datang, dia menghentakkan kakinya kemudian mengaitkan kakinya supaya senjata milik suaminya bisa tertanam lebih dalam.


"Arghhhhhhhh," mereka sama-sama melenguh panjang merasakan sensasi yang sangat luar biasa.


"A-ku ke-lu-ar, Sayang," ujarnya.


"A-ku ju-ga," jawabnya lemah.


Reyhan mengecup kening istrinya dengan sayang. Akhirnya dia bisa melakukan penyatuannya kembali dengan penuh dengan cinta. Dia tidak perlu harus menculik istrinya lagi. Karena mulai sekarang, dia akan meminta haknya sebagai seorang suami kapanpun dia inginkan.


"Hahhhhhhh," Reyhan melepaskan nafasnya panjang. Dia melepaskan diri dari penyatuannya, dan berbaring di samping istrinya.


"Ayo, Kita mandi. Aku takut kalau kedua bocah kembar itu datang kemari," ucap suaminya.


"Ck, Bagaimana aku bisa ke kamar mandi? Tubuhku sangat lemas, Rey!" gerutunya. Reyhan terkekeh geli.


"Okey, Okey. Aku bantu bersih-bersih dikamar mandi ya?"


"Tapi jangan macam-macam! Tubuhku sudah sangat lelah," ancam Halwa.


"Iya, Iya. Aku tidak akan macam-macam. Paling colek sedikit!" goda Reyhan. Halwa membelalakkan matanya. Reyhan hanya terkekeh gemas.


Selesai mandi, Reyhan turun dari lantai dua. Dia masih melihat si kembar sedang asyik dengan mainannya. Sedangkan melirik ke arah sofa, Mamih yang menjaga mereka tertidur pulas di sofa. Reyhan hanya geleng-geleng kepala saja melihat mamihnya tertidur pulas di sofa.


"Daddy, Kemana Mommy? Kenapa mandinya lama sekali?" tanya Gabino penasaran.


"Iya, Sayang. Mommy memang kalau mandi sangat lama,"


"Tapi biasanya tidak selama ini," celetuk Gabrino.


"Eh, itu karena Mommy harus mengeringkan rambutnya yang basah. Kan Mommy habis keramas," cengir Reyhan. Kedua buah hatinya menatapnya dengan tatapan mata yang tajam.


"Daddy nggak bohong. Kenapa kalian menatap Daddy dengan tatapan seperti itu?" sewotnya.


"Awas ya, kalau Daddy berbohong!" ancam keduanya.


to be continued ..


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2