
Tok ... Tok ... Tok
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, dan ternyata Reyhan. Pria yang sudah sah menjadi suaminya.
"Rey, kenapa dilemari tidak ada baju?" protes Halwa. Reyhan tersenyum nakal.
"Tempat tidur pengantin kita ada di sebelah, Sayang. Jadi, semua bajumu ada di sana," jawab Reyhan.
"Kenapa tidak di sini? Aku tidak bisa meninggalkan Noah sendirian," jelasnya.
"Aku tahu, makanya aku menyuruh seseorang untuk menjaga Noah," ucap Reyhan.
"Ayolah, kita ke kamar pengantin!" ajak Reyhan.
"Tapi ..... !"
"Sudah jangan tapi-tapian! Noah juga akan mengerti bahwa Mamanya sudah mendapatkan suami lagi," goda Reyhan.
"Ayo!" Reyhan menarik tangan Halwa supaya mengikutinya.
"Tunggu, Rey," ucapnya. Reyhan menarik tangan Halwa ke kamar pengantin.
"Nah, ini kamar kita," ujarnya.
"Wah, indah sekali. Banyak sekali bunga disini, Rey. Apakah kau yang menyiapkan ini semua?" tanya Halwa.
"Tentu saja, aku yang menyiapkan ini semua," jawabnya.
"Bagaimana bisa? Lalu, bagaimana bisa kamu tidak mengatakan kepadaku terlebih dahulu?" tanya Halwa masih belum percaya bahwa dirinya sudah menjadi seorang istri. Tapi, dia sangat bahagia karena Reyhan berinisiatif terlebih dulu.
Reyhan menatap wanitanya dengan intens, dia menarik pinggang Halwa untuk lebih mendekat kepadanya.
"Kamu cantik sekali, Sayang!" ucapnya.
"Terima kasih, Rey. Kau juga terlihat sangat tampan," balas Halwa.
"Sekarang kita sudah menjadi pasangan suami istri, jadi, kita sudah halal," ucap Reyhan. Halwa hanya mengangguk pelan.
"Apakah aku boleh memasuki mu?" lirih Reyhan. Halwa hanya mengangguk, tandanya dia sudah siap, menyerahkan diri sepenuhnya kepada sang suami.
Malam itu juga Reyhan meminta haknya sebagai suami. Halwa tidak menolak, bahkan dia menerima semua sentuhan dan perlakuan Reyhan kepadanya. Reyhan begitu sulit memasuki tubuh istrinya, pasalnya memang Halwa masih menjaga mahkotanya dengan baik.
Selama satu jam lamanya, akhirnya Reyhan berhasil menembus selaput yang sangat tipis itu, namun terasa sulit juga untuk memasukinya.
Selama satu jam, Reyhan mengerjai tubuh istrinya. Hingga mereka sampai titik pelepasan, barulah Reyhan berdiri dari tubuh istrinya.
"Terima kasih, Sayang!" Reyhan mengecup kening istrinya.
"Apakah ini yang dinamakan malam pertama?" batin Halwa, bertanya dalam hati.
"Apakah sakit?" tanya Reyhan.
__ADS_1
"Ck, Apakah tidak ada pertanyaan lain? Tentu saja sakit, Apakah kau tidak bisa melihat ada darah di sprei?" kesal Halwa. Halwa begitu kesal dengan sikap Reyhan. Reyhan berdiri dari tempat tidur, kemudian dia mengambil sprei untuk menutupi aset pribadinya.
"Kamu mau apa?" tanya Halwa tiba-tiba, karena suaminya mendekat ke arahnya.
"Apa dia mau minta nambah lagi?" batin Halwa.
Reyhan membopong tubuh istrinya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Halwa, sambil mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
"Memandikan mu!" ucapnya.
"Turun aku, Rey. Aku malu," ucapnya.
"Kenapa harus malu? Aku suamimu. Ijinkan aku melayani mu seperti Ratu," ujarnya. Seketika pipi Halwa merona.
Dengan telaten, Reyhan memandikan istrinya. Memberikan sabun dan shampo. Setelah selesai, dia melilitkan handuk di tubuh Halwa.
"Terima kasih," ucapnya. Reyhan hanya tersenyum, lalu, dia kembali membopong tubuh Halwa ke kasur.
Reyhan membantu istrinya untuk mengenakan pakaian, barulah dia membantu mengeringkan rambut.
"Tidurlah terlebih dahulu. Karena aku akan mandi," ucapnya.
"Baiklah, aku akan tidur dulu. Tubuhku sangat lelah, dan bagian inti ku terasa sangat sakit dan perih," jujur Halwa. Reyhan hanya terkekeh geli, ternyata istrinya begitu polos.
Reyhan mandi dan bersih-bersih. Selama satu jam dia di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, ternyata istrinya sudah terlelap. Reyhan tersenyum melihat cara tidur istrinya.
Setelah mengeringkan rambutnya yang sedikit gondrong, barulah dia berbaring di samping sang istri. Reyhan bertelanjang dada saat tidur, itu sudah menjadi kebiasaannya kalau tidur.
Keesokkan Paginya
Halwa mengerjapkan matanya saat sinar matahari menelisik lewat celah korden. Dia tersenyum bahagia. Sekarang hal pertama saat membuka mata, yang dia lihat adalah suaminya.
Halwa menyentuh hidung suaminya yang mancung. Kemudian alis, dan beralih ke bibir. Dengan jahil, Reyhan sengaja menggigit pelan jari Halwa. Membuat Halwa terkejut dan sangat malu dengan tindakannya.
"Kenapa? Apakah kau sedang mengagumi ketampanan ku?" tanya Reyhan kepada istrinya.
"Ish, kepedean. Sudah siang, aku mau mandi," ucapnya.
"Tunggu! Bagaimana kalau kita mandi bersama?" ucap Reyhan. Dia beranjak dari tempat tidurnya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Halwa.
"Memandikan kamu lah!" goda Reyhan.
"No, punyaku sudah sangat sakit gara-gara ulah mu," cebik Halwa. Namun Reyhan tidak memperdulikan ucapan istrinya. Dia begitu saja membopong tubuh Halwa. Mereka pun mandi bersama, tanpa melakukan apapun.
Selesai mandi dan berganti baju, semua orang sudah menunggu mereka di Restaurant dekat dengan Villa.
"Itu pengantin barunya!" tunjuk Richard. Reyhan dan Halwa menghampiri mereka semua.
__ADS_1
"Selamat Pagi!" sapa Reyhan dan Halwa.
"Pagi!" jawab mereka serempak.
"Mama?" panggil Noah.
"Noah, Sayang. Maaf Mama terlambat," ucap Halwa.
"It's oke, Ma. Ada uncle Adam dan uncle Richard, juga aunty Emma," ucapnya.
"Terima kasih banyak, Adam, Richard dan Emma, sudah menjaga Noah," ucapnya.
"Dengan senang hati, Nona. Kami tidak pernah merasa keberatan," jawab Richard.
"Apakah semua tamu sudah pulang?" tanya Reyhan.
"Sudah, Pak. Termasuk teman-teman Anda," jawab Adam.
"Oke, kalau begitu. Baiklah kita sarapan pagi dulu," suruh Reyhan.
"Silahkan!" Halwa mempersilahkan mereka semua untuk menikmati sarapan.
Sepulangnya dari Villa, Reyhan berencana ingin mengajak Halwa untuk berbulan madu. Namun istrinya nampak sangat bingung. Dia tidak bisa meninggalkan Noah sendiri di rumah.
"Nona?" panggil Emma.
"Pergilah berbulan madu dengan Tuan Reyhan. Masalah Noah, Anda tidak perlu khawatir! Saya akan menjaganya seperti adik saya sendiri. Dengan sepenuh jiwa dan raga saya," ucap Emma meyakinkan Halwa.
"Benarkah Emma? Apakah tidak merepotkan kamu?" tanya Halwa.
"Tidak, Nona. Saya justru sangat bahagia," jawabnya.
"Terima kasih banyak, Emma. Kamu memang bisa diandalkan!" ucapnya.
Hari itu juga, mereka berdua pergi berbulan madu ke Paris. Tentunya berpamitan terlebih dahulu kepada Noah.
Hanya membutuhkan waktu satu jam dua puluh menit untuk sampai di sana. Mereka berdua keluar dari Bandara Paris, dan mencari taksi menuju hotel. Di sepanjang perjalanan, Halwa melihat ke arah jendela. Dia menikmati keindahan kota Paris. Tidak berhenti di dalam hati, dia mengagumi keindahan kota Paris.
"Indahnya," lirihnya.
"Kau suka?" tanya Reyhan.
"Iya, aku sangat senang bisa berada disini. Kenapa kau memilih kota Paris untuk acara bulan madu kita?" tanya Halwa.
"Agar lebih dekat saja. Jadi, saat kita kembali, Noah tidak akan terlalu lama menunggu," jawabnya.
"Oh, begitu,"
Reyhan mencari informasi di Google map, mencari penginapan yang sesuai untuk honeymoon. Matanya tertarik dengan sebuah hotel yang memberikan pelayanan bagi tamu yang sedang berbulan madu. Dia pun menyuruh sopir taksi untuk menuju alamat tersebut.
to be continued....
__ADS_1