
Satu Minggu Berlalu
Biasanya Halwa menikmati makan malam hanya berdua dengan Noah, sekarang dia makan malam bersama suaminya. Terlihat bahwa Reyhan begitu memanjakan istrinya.
"Oya, Sayang, lusa mungkin aku akan balik ke Indonesia. Aku tinggal nggak apa-apa kan?" tanya Reyhan.
"Berapa hari?" Halwa malah justru balik bertanya.
"Ehm, mungkin dua Minggu atau juga bisa lebih!" jawab suaminya.
"Itu sangat lama, Sayang,"
"Iya, aku tahu. Tapi, kau kan tahu kalau aku juga punya Perusahaan yang harus ku kelola di sana!" ujarnya. Iya, memang Halwa tidak boleh egois. Bagaimanapun suaminya harus mengurus Perusahaannya di Indonesia.
"Baiklah, tapi satu Minggu!" protes Halwa.
"Dua Minggu," jawab Reyhan.
"Tapi ... !"
"Aku janji, dua Minggu aku akan kembali ke sini!" ucap Reyhan.
"Baiklah." Mereka pun meneruskan makan malamnya.
Hubungan mereka semakin romantis. Apalagi Reyhan sebagai seorang suami, dia sangat perhatian kepada Halwa membuat Halwa semakin manja kepada suaminya. Sebenarnya manja bukanlah sifat asli Halwa.
Hari-hari mereka dihiasi dengan cinta dan kasih sayang. Membuat para pelayan iri melihat kemesraan dan keromantisan pasangan tersebut.
Hari yang ditunggu-tunggu Reyhan tiba juga, dia terpaksa harus berpisah dengan istrinya untuk sementara. Halwa mengantarkan suaminya sampai Bandara Belanda. Sebenarnya dia masih enggan untuk berpisah. Namun apa daya, dia harus merelakan kepergian suami tercinta karena tugasnya sebagai CEO Perusahaan.
Setelah mencium dan memeluk istrinya berkali-kali, Reyhan bersiap-siap untuk masuk ke pesawat. Namun tangannya di tahan oleh sang istri. Seakan-akan, istrinya tidak menginginkan kepergian suaminya.
"Aku akan kembali!" ucapnya. Kemudian Reyhan memberikan sebuah kalung kepada istrinya. Dan mengalungkan di lehernya.
"Janji!"
"Janji!" Mereka saling menautkan jari kelingking.
Setelah suaminya tidak terlihat di pintu masuk, Halwa berlari ke lantai paling atas untuk melihat pesawat suaminya lepas landas.
"Aku harap, kau menepati janji!" batin Halwa.
Pulang dari Bandara, dia langsung ke Perusahaan. Dia ingin mengecek laporan-laporan keuangan, selama satu bulan belakangan ini. Karena terlalu sibuk, dia harus menyerahkan urusan Perusahaan kepada Asisten Adam dan Richard.
Halwa duduk di kursi kebesarannya. Baru duduk di kursi, berkas-berkas yang harus dia tanda tangani sudah menumpuk di mejanya.
"Huft." Halwa menghela nafasnya.
Mau tidak mau, dia harus menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk itu. Dalam waktu tiga jam, akhirnya selesai juga. Halwa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata sudah sore. Dia pun memutuskan untuk pulang.
Halwa melangkahkan kakinya menaiki lift khusus. Keluar dari lift, karyawan-karyawan yang bekerja menyapanya dengan ramah. Halwa tidak kalah ramahnya menyapa mereka. Dia tidak pernah membedakan antara miskin dan kaya. Baginya, semua orang itu sama.
__ADS_1
Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hari ini dia ingin berkeliling ke pusat kota untuk menghilangkan rasa kegundahannya. Hampir dua jam dia berada diluar. Hingga langit mulai petang, barulah dia memutuskan untuk pulang ke Mansion.
Ternyata Noah sudah menunggu di depan pintu. Halwa lupa kalau masih ada Noah yang sedang menunggunya.
"Noah, Kok diluar?" tanya Halwa.
"Noah menunggu Mama," jawabnya.
"Kenapa?"
"Tidak biasanya Mama pulang petang. Ada apa, Ma?" tanyanya.
"Betapa egoisnya aku. Bahkan aku lupa ada Noah yang selalu menunggu ku!" batin Halwa.
"Maafkan Mama, Sayang. Mama banyak pekerjaan," elaknya. Lalu dia memeluk Noah dengan sayang. Ternyata belum pulang beberapa jam saja, Noah begitu rindu kepadanya.
"Mama janji tidak akan pulang telat!" ucapnya.
"Janji?"
"Yes, I'M Promise," ucap Halwa, menautkan jari kelingkingnya.
Mereka pun masuk ke dalam Mansion bersama.
Reyhan baru sampai di Indonesia. Di Bandara dia sudah disambut oleh Antonio dengan senyuman mengembang.
"Selamat datang, Bos ku. Selamat datang sahabat ku. Selamat datang di Indonesia," ucap Antonio kepada Reyhan.
"Hem, yang baru bulan madu!" goda Antonio.
"Kenapa? Mau aku potong gajimu!"
"Ish, Kejam sekali kau, Bro!" ucap Antonio cemberut, "Oya, kau menikah dengan Halwa, Apakah kau belum memberitahukan kepada Tante Cynthia?" tanya Antonio tiba-tiba. Reyhan membelalakkan matanya.
"Ayo kita cerita di mobil!" ajak Reyhan.
Antonio membantu Reyhan membawakan kopernya. Mereka pun masuk ke mobil dengan Antonio sebagai sopirnya.
"Gue memang belum cerita ke Nyokap," ucap Reyhan membuka pembicaraan saat Antonio menjalankan mobilnya.
"Kenapa?"
"Lu kan tahu, bahwa sejak kecil gue sudah dijodohin. Pasti jika gue ijin ke Mamih, dia tidak akan setuju gue nikah sama Halwa!" ujar Reyhan.
"Tapi lu kan belum pernah mencoba, Bro!"
"Dulu gue pernah mengutarakan perasaan gue ke Mamih, bahwa gue menyukai Salwa. Lu tahu apa jawabnya?" tanya Reyhan, Antonio menggelengkan kepalanya, "Dia menolak mentah-mentah apa yang gue mau. Gue di suruh untuk melupakan perasaan gue kepada Salwa. Lalu, dia menyuruh orang untuk mencari tahu siapa Salwa. Dengan keras dia menolak keinginan gue, karena Mamih tahu kalau Salwa hanyalah anak seorang pekerja serabutan saja," jelas Reyhan.
"Jika Mamih tahu kalau Halwa sangat mirip dengan Salwa. Pasti Mamih mengira bahwa gue masih menyukai wanita yang sama. Makanya gue nikahin Halwa dulu, setelah itu gue baru cerita ke Mamih. Gue yakin, Mamih pasti tidak akan meminta gue untuk ninggalin Halwa," jelas Reyhan panjang lebar.
"Ternyata rumit juga kisah percintaan Lu, Bro! Ngenes banget!" ejek Antonio.
__ADS_1
"Sialan, Lu!"
"Oya, ngomong-ngomong lu mau dijodohin sama siapa sih?" tanya Antonio.
"Hah," Reyhan menghela nafasnya panjang.
"Teman kecil gue. Anak sahabat nyokap di Bandung!" jawabnya.
"Wah, lu beruntung banget! Nggak kaya gue, sudah tua kayak gini belum juga dapet jodoh!" manyun Antonio.
"Makanya dong lu mandi kembang tujuh rupa!"
"Ah, sialan!"
Tidak terasa mereka sampai di rumah. Kali ini Reyhan langsung pulang ke rumah, bukan ke Apartemen. Cynthia sudah menunggu di depan pintu. Karena sebelumnya sudah tahu, bahwa putra satu-satunya akan pulang hari ini.
"Assalamualaikum!"
"Walaikum salam," jawab Cynthia, "Reyhan anak Mamih." Cynthia memeluk putranya.
"Aduh, Mih. Rey bukan anak kecil lagi!"
"Tapi bagi Mamih kamu adalah Tedy bear kecil Mamih yang sangat imut," ujarnya.
"Hah, Tedy bear. Berarti bos beruang dong?" kekeh Antonio.
"Awas jika kau tertawa. Aku akan memotong gajimu sebesar lima puluh persen!" tegas Reyhan.
"Astaga! Si Bos kejam benget sih?" ucap Antonio memberengut kesal.
"Sudah, Ayo masuk! Mamih sudah masakin masakan kesukaan kamu!" ajak Chyntia.
"Antonio, kamu sekalian saja bergabung dengan kami!" ajak Cynthia kepada Antonio.
"Wah, kebetulan sekali saya lapar, Tan!"
Mereka bertiga pun menikmati masakan yang dimasak sendiri oleh Cynthia.
"Bagaimana perjalanan kamu pulang ke Indonesia?" tanya Cynthia.
"Lancar, Mih!"
"Baguslah, Mamih senang! Banyak sekali yang ingin Mamih bicarakan dengan kamu. Tapi, kamu habiskan makanan kamu dulu!" suruh Cynthia.
"Antonio, kenapa makan mu sedikit sekali? Pantas saja tubuh kamu macam triplek!" ejek Cynthia.
"Astaga, tubuh berotot begini dibilang triplek!" batin Antonio.
to be continued......
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Maaf ya baru bisa update satu hari satu bab. Karena Authornya super sibuk...😂