
Banyak mata yang memandang mereka, namun mereka tidak berani untuk menghibah atasannya, karena karir mereka yang akan menjadi taruhannya.
Halwa berjalan dengan sangat anggun, dia melewati para karyawan yang menundukkan kepalanya. Halwa menampilkan senyum yang sangat manis, dan beramah-tamah dengan karyawan yang lain.
Sampai di depan kantor, Asisten Adam dan Richard sedang berdiri di sana menyambut kedatangan atasannya.
"Selamat siang, Nona!" sapa Adam dan Richard secara bersamaan.
"Siang!" jawab Halwa memasuki ruangannya. "Sayang, duduklah!" suruh Halwa kepada Noah. "Apakah kau mau minum?"
"Ehm, Noah ingin minum susu, Ma," pinta Noah.
"Baiklah," jawab Halwa.
"Asisten Adam, bisakah aku minta tolong untuk membelikan susu kemasan untuk Noah?"
"Syiap, Nona," jawab Adam sambil berlalu meninggalkan Ruangan.
Sambil menunggu Adam membelikan susu untuk Noah, Halwa menyuruh Noah untuk beristirahat di kamar pribadinya. Karena di kantor ada satu ruangan khusus, yang dia gunakan sebagai ruang pribadi.
"Rich, selama aku pergi, Apakah ada masalah dalam Perusahaan?" tanya Halwa kepada Richard.
"Tidak, Nona. Semuanya terkendali," jawab Richard. "Oya, ini ada email yang baru masuk. Dia menawarkan kerjasama dengan Perusahaan kita," ucap Richard memberitahukan ada email yang masuk.
"Dari Indonesia," gumamnya lirih.
"Iya, Nona. Dari Indonesia," jawab Richard. "Jika Nona setuju, Nona bisa mengatur janji untuk bertemu dengannya,"
"Okey, nanti berkasnya akan aku pelajari terlebih dahulu," ucapnya.
"Baik, Nona," jawab Richard.
"Apakah ada yang lain?"
"Ini ada beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani, Nona." Richard menyerahkan beberapa berkas yang belum sempat Halwa tanda tangani.
__ADS_1
"Terima kasih, Nona," ucap Richard mengambil kembali berkas-berkas yang sudah ditandatangani oleh atasannya. "Saya permisi dulu!" ucapnya, sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan.
"He'em," Halwa menganggukkan kepalanya.
Reyhan dan Antonio sedang mencari informasi mengenai tempat tinggal Halwa. Dengan di temani oleh Def, mereka mencari alamat Perusahaan milik keluarga William. Def melajukan mobilnya ke pusat kota, setelah bertanya dari satu orang ke orang lain akhirnya mereka bisa menemukan alamat tersebut.
Mereka berdiri di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Dimana di sana tertulis nama 'Williams Group'. Reyhan menanyakan sekali lagi kepada orang yang kebetulan berdiri di sana, ternyata benar pemilik Perusahaan tersebut adalah Halwa Callista Williams Vander. Cucu dari Robert Williams Vander.
Reyhan agak ragu untuk masuk ke dalam. Tiba-tiba saja rasa percaya diri yang dia miliki runtuh seketika. Membuat Antonio bingung dengan sikap sahabatnya.
"Kenapa, Bro?" tanya Antonio yang melihat keraguan di mata Reyhan.
"Gue takut. Bagaimana kalau Halwa tidak mau menemui gue?" ucap Reyhan.
"Lo kan belum mencobanya. Bagaimana Lo bisa berpikiran seperti itu?" tanya Antonio. Reyhan nampak berfikir keras. Antonio hanya mengernyitkan alisnya.
"Bagaimana kalau kita menemuinya di rumah?" usul Antonio.
"Apakah dia mau menemui ku?" tanya Reyhan.
"Baiklah,"
Mereka berdua pun menunggu di mobil Def hingga Halwa keluar dari Perusahaan tempat dia bekerja. Beberapa jam menunggu, akhirnya Halwa keluar dari Perusahaan, dengan didampingi oleh Asisten pribadinya. Halwa terlihat sangat cantik, bahkan sekarang dia lebih cantik dari sebelumnya. Reyhan terus memandang ke arah Halwa dan Noah yang sedang memasuki mobilnya.
Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang, sedangkan mobil Reyhan mengekor di belakangnya. Beberapa menit kemudian mobil tersebut memasuki sebuah kawasan elite, di mana di rumah tersebut banyak bodyguard yang menjaganya. Mobil Def hanya berhenti di depan gerbang rumah itu. Reyhan dan Antonio sangat takjub dengan rumah mewah yang dimiliki oleh Halwa.
"Apakah itu rumah Halwa?" tanya Raihan kepada Antonio.
"Mobil mereka berhenti di rumah itu, berarti rumah itu rumah Halwa," jawab Antonio. "Ayo kita mengatakan kepada penjaga untuk menemui Halwa!" ajak Antonio.
"Tunggu! Gue nggak bisa melakukan itu," ucap Reyhan.
" Kenapa, Bro?" heran Antonio.
"Gue takut, dia nggak mau ketemu sama gue," jawab Reyhan.
__ADS_1
"Ck, kau ini!" kesal Antonio. "Mana Reyhan yang gue kenal?"
Antonio menggandeng tangan sahabatnya untuk mendekat ke arah gerbang. Ada dua penjaga di sana dan menanyakan keperluan mereka datang. Antonio hendak mengatakan keperluannya kepada sang penjaga, namun di cegah oleh Reyhan. Reyhan mengajak dia pulang, dan menarik tangan Antonio untuk menjauhi gerbang. Mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil Def.
"Kenapa, Rey?" tanya Antonio kesal.
"Kita balik dulu," suruhnya.
Mobil Def berhenti di sebuah cafe, Reyhan menyuruh mereka berdua untuk beristirahat dulu di Cafe. Antonio mengerti dengan sikap aneh sahabatnya. Mereka duduk di sudut ruangan dekat dengan jendela.
"Lo kenapa sih, Rey? Lo kenapa narik tangan gue?" kesal Antonio.
"Huft," Reyhan menghela nafasnya berat. "Gue belum siap untuk bertemu Halwa," jawabnya.
"Kenapa kamu belum siap bertemu dengannya?" tanya Def heran. Baru kali ini melihat sahabatnya hilang rasa percaya diri. Karena dulu saat kuliah, Reyhan termasuk pria yang memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi.
"Entahlah, gue juga heran," jawabnya. "Gue akan menemuinya jika memang waktunya sudah tepat," ucapnya.
"Dasar Lo aneh! Sudah di depan mata, masih Lo sia-siakan!" sewot sahabatnya. Reyhan hanya terkekeh geli melihat Antonio memajukan bibirnya lima centi. Setelah meminum kopi, mereka pun kembali ke rumah Def. Sebelum mereka kembali ke rumah Def, Reyhan membelanjakan Def banyak keperluan rumah tangga. Def sudah menolak, tapi, Reyhan terus memaksa.
Keesokkan paginya
Seperti biasa, Halwa bangun pagi. Membangunkan Noah untuk bersekolah. Hari ini Noah sudah bisa memakai seragam sekolah. Dia nampak sangat senang dan bersemangat. Halwa menyuruh putranya sarapan terlebih dahulu. Karena menurutnya sarapan sangat penting untuk menunjang kekuatan tubuh dalam melakukan aktivitas.
Selesai sarapan, mobil mereka berangkat. Sebelum ke kantor, Halwa mengantarkan Noah ke sekolah terlebih dahulu, barulah dirinya pergi ke kantor.
"Asisten, Tolong cek email yang baru masuk akhir-akhir ini! Di sana ada beberapa Perusahaan yang menawarkan kontrak kerjasama dengan perusahaan kita. Aku ingin menanyakan pendapatmu, Apakah aku harus menerimanya atau tidak?" ucap Halwa.
"Baik, Nona. Nanti saya akan cek email," jawab Adam.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Adam sampai juga di Perusahaan. Halwa berjalan dengan penuh percaya diri, dan Asisten Adam mengekor di belakangnya.
Adam mengecek semua email yang masuk di laptopnya. Dia membantu Halwa untuk memilih Perusahaan-perusahaan yang bisa di ajak kerjasama. Dan nama "Arsenio Grup" sangatlah asing ditelinganya. Dia cukup penasaran, karena melihat kredibilitas Perusahaan ini cukup bagus. Membuat Adam sedikit tertarik untuk bekerja sama dengan Perusahaan tersebut.
to be continued....
__ADS_1